
Setengah tubuh Ayana tersadar, sedangkan setengahnya lagi berada dalam pengaruh obat bius, meski tertutup sebuah tirai yang terbentang diatas dadanya ia tahu jika seseorang tengah menyayat lapisan kulit perutnya guna mengeluarkan Ryuu dari dalam peraduannya.
"Rileks Nyonya Ayana, Bayi anda akan segera lahir" Sapa seorang petugas medis dengan pakaian operasi lengkap, ia berdiri disamping kepala Ayana dan bertugas mengawasi tanda Vital wanita Jepang itu selama Operasi berlangsung.
Ayana yang hanya bisa mengatupkan kedua kelopak matanya seakan menjawab Iya.
Beberapa orang dengan pakaian senada dibawah Ayana saling menimpali dengan sedikit berbisik khawatir.
"Beratnya hanya 1.500 gram Dokter"
"Siapkan Semua perlengkapannya di NICU"
Ayana tahu jika Ryuu putranya sudah lahir keduania dengan selamat meskipun tanpa tangisan sedikitpun, tak lama kemudian dokter yang membantu persalinannnya membawa Bayi Ryuu disamping kepala Ayana agar sang ibu melihat bayinya.
Ayana yang merasa sangat mengantuk itu pun hanya bisa melihat sebuah tangan mungil yang masih keriput seakan melambai kearahnya.
"Selamat Datang Bayi kecilku" Batin Ayana, ia sudah tak sanggup lagi berujar karena rasa kantuk yang seakan begitu hebat menyapu wajahnya.
Tut...tut.....salah satu layar monitor terus berbunyi.
"Tekanan darahnya terus menurun!!!" Teriak salah satu petugas medis.
Mereka lalu berupaya semaksimal mungkin agar wanita jepang yang baru saja melahirkan bayi yang langsung dimasukkan kedalam tabung kaca itu tidak berakhir diatas meja operasi.
Sementara didalam mimpinya lagi lagi Ayana bertemu dengan kedua orang tuanya yang ingin membawanya pulang.
Ayana merangkul kedua orang tuanya seraya menumpahkan rindu yang sudah hampir setahun ia pupuk, namun sepasang suami istri itu hanya bergeming dan saling menatap, Mereka lalu berbalik dan perlahan menjauh meninggalkan Ayana yang meraung memanggil kedua orang tuanya yang semakin lama semakin tak terlihat. Ayana hanya bisa diam tanpa bisa melangkahkan kakinya mengejar dua orang yang paling ia cintai itu.
.
.
.
"Cucuku yang malang" Nyonya Bosley hanya bisa menangis menyaksikan cucunya dari balik tabung kaca dengan semua kabel yang menempel pada tubuhnya dan terhubung dengan beberapa layar monitor disamping tabung kaca tersebut.
__ADS_1
Kulit bayi tersebut nampak berkerut dan tipis memperlihatkan hampir semua pembuluh darahnya, ia tak pernah menangis dan bergerak hanya untaian garis dilayar monitor yang bergerak tak pernah lurus menandakan jika bayi tersebut masih bernafas.
"Apa yang kau lakukan pada Ibunya Daren?" Geram Nyonya bosley menatap putra keduanya yang berdiri mematung menatap iba dan penuh rasa bersalah pada Bayi malang yang ia fikir adalah darah dagingnya.
"Maafkan Aku bu" Daren hanya menggeleng pelan.
Tanpa berkata apapun Nyonya Bosley sudah tahu jika terjadi sesuatu antara Daren dan Ayana, ia yang paling tahu tabiat putranya itu.
"Ah tidak...cucuku, pegangi aku Lohan" Nyonya Bosley memegang tengkuknya yang terasa menegang, Lohan segera memapah atasan itu untuk keluar dari ruangan NICU, ada perasaan kesal yang berkecamuk di hati Nyonya Bosley melihat wajah Daren seperti itu. Seakan mengatakan jika ialah yang bertanggung jawab dengan kondisi Ryuu sekarang ini.
.
.
.
Ayana sudah dipindahkan kedalam ruang perawatan dengan selang oksigen yang masih menghiasi wajahnya.
"Bagaimana keadaannnya dokter?"Tanya Daniel tidak sabaran, sambil terus menatap Ayana yang masih terkulai lemah tidak berdaya.
Daniel menghembuskan nafas kasar, lalu mengusap wajahnya gusar ia berjalan mendekati Bed Ayana dan duduk disebuah kursi sambil terus mengusap pipi wanita yang sudah berhasil memberinya seorang putra itu.
"Tuan Anda tak ingin melihat Bayi Nona Ayana? Jika Tuan Daren menemukan anda disini saya takut akan terjadi masalah dan mengganggu Nona Ayana" Adam Lee memberi saran, ia sangat ingin memberi sedikit ketenangan bagi Ayana.
"Tidak Adam Lee biarkan aku disini" Tolak Daniel, membuat Adam memutar mata jengah.
Pria Blasteran Amerika-Korea itu lalu mengambil ponsel dari dalam saku celana bahannya, ia membuka sebuah pesan yang dikirim sejak tiga jam yang lalu, saat Ayana masih berada diruangan Operasi.
Pesawatku sudah berangkat, bantu aku untuk melepaskan Ayana dari jerat Daren Bosley .
Adam Lee hanya bisa mendesah saat membaca pesan Tuan Kimura.
Bukan Hanya Jerat Daren, tapi jauhkan putrimu juga dari belenggu cinta kakak iparnya ! Batin Adam, ingin sekali ia mengetik isi kepalanya itu dan dikirimkannya kepada Tuan Kimura, namun ia masih menyadari posisinya.
Yang bisa ia lakukan hanya membantu Tuan Kimura sebisanya, dan ikut menjaga Ayana meski ia sadar tidak akan pernah bisa melakukan apapun untuk wanita itu selain dengan meminjamkan ponselnya.
__ADS_1
Cucu anda sudah lahir dengan selamat Tuan!
Adam Lee akhirnya hanya mengetik kalimat itu dan mengirimkannya pada Tuan Kimura.
pesan itu hanya bercentang satu yang artinya Tuan Kimura sudah menonaktifkan Ponselnya karena sudah berada ditengah perjalanan.
Daren masuk dengan wajah emosi yang mulai memudar, namun ia tak bisa menghilangkan raut kesalnya tatkala melihat Daniel duduk di samping tubuh istrinya.
"Apa kau perlu melakukannya sampai seperti ini? Kau ingin menunjukkan kepada semua orang dirumah sakit ini betapa kau mencintainya?" Tukas Daren lalu menarik bahu Daniel, hingga kursi beroda yang dipakainya ikut berputar.
Daniel menghempaskan tangan Daren dengan kasar.
"Kapan kau melepasnya?"
Mendengar pertanyaan Daniel yang sudah berulang kali itu membuat Daren geram, ia lalu mencengkram kerah baju Daniel yang sudah berdiri pasrah dihadapannya.
"Tawaranku masih berlaku Daren, aku akan menyerahkan semuanya kepadamu" ucap Daniel tenang, sementara Daren sudah menggebu gebu.
Adam Lee yang melihat itu hanya bisa melerai keduanya dengan sebuah permohonan.
"Tuan Daren ,tenanglah kita sedang dirumah sakit bahkan nona Ayanapun belum sadar" Ujar Adam yang hanya dianggap angin lalu oleh dua bersaudara itu.
"Aku ingat pernah mengatakan kepadamu, jika aku bahkan bisa menukar semua kekayaan Bosley hanya demi seorang Ayana!!" Balas Daren.
Daniel yang mendengarnya hanya bisa menelan saliva, ia berusaha mengurai cengkraman Daren perlahan, ia sadar tak akan mendapatkan Ayana dengan cara memaksa adiknya itu.
Daniel lalu meluruhkan tubuhnya hingga berlutut dihadapan Daren sambil menunduk dalam menatap ubin yang tak akan pernah bisa memberikan apa yang diinginkannya.
"Tuan...apa yang anda lakukan?" tegur Adam, ia tidak menyangka melihat atasan itu merendahkan dirinya sendiri, seseorang yang bahkan tidak akan menundukkan kepalanya didepan presiden Amerika sekalipun, dan kini berlutut demi cintanya kepada seorang wanita yang tidak seharusnya ia miliki.
"Berdiri!" Bentak Daren.
"Aku tidak tahu seberapa besar cintamu pada Ayana, tapi aku bahkan sanggup memberikan nyawaku untuk kebebasannya, Lepaskan ia Daren" tutur Daniel.
"Heh" Daren tertawa mencemooh, pria dingin dengan segudang prestasi yang membanggakan keluarga dan perusahaan, seorang saudara yang ia kagumi dan hormati sejak ia masih kecil, kini berlutut hanya demi istrinya.
__ADS_1
"Meski aku harus mati sekalipun! Ayana tidak akan pernah ku lepaskan" ucap Daren mantap.