HIASAN RANJANG KAKAK IPAR

HIASAN RANJANG KAKAK IPAR
Bab 95


__ADS_3

sudah beberapa hari Ayana dan Daniel kembali tinggal di Paviliun keluarga Bosley tanpa pernah melihat keberadaan Darren.


Nyonya Bosley tak mau ambil pusing ia menganggap kepergian Darren hanya untuk sementara, buktinya Darren selalu pulang dini hari dan pergi dipagi buta hanya untuk mengecek keadaan Istri dan Anaknya, atau lebih tepatnya keadaan Ryuu.


Darren tentu butuh waktu untuk menerima semuanya, Nyonya Bosley tau Darren tak memiliki harga diri walau hanya untuk menatap wajah Ayana.


Seperti malam malam sebelumnya, sepulang dari Mansion pribadinya malam ini Darren juga mengecek kondisi Baby Ryuu, namun putranya itu tak ada didalam boxnya. Hanya Georgina saja yang terlelap dikamarnya.


Darren mengecek kekamar pribadi Ryuu namun anak itu juga tak ada didalam sana, ia akhirnya kembali kekamar dan membangunkan Georgina dengan perasaan khawatir. Darren hanya mengelus betis istrinya itu dan wanita yang memang tak pernah terlelap karena menunggu kepulangan suaminya itu pura pura mengerjapkan mata seakan akan baru bangun dari tidurnya.


"Darren, kau pulang? Mau aku buatkan teh?"tawar Georgina, "Georgi kini sudah menyibak selimutnya dan duduk ditepi ranjang tepat disamping Darren.


"Tidak perlu, kemana Ryuu? Ia juga tak ada dikamarnya"


"Ayana dan kakak Ipar Daniel membawanya ke paviliun timur, Ryuu tidur bersama ibu dan pamannya malam ini, Ibu sudah memberi izin juga" Jelas Geeogina.


"Kenapa?" Darren mengernyitkan dahi, ada rasa takut yang tiba tiba mengganggunya, bagaimana jika Ayana dan Daniel memgambil Ryuu darinya, bukankah Ryuu memang anak kandung Daniel dan Ayana!


"Jangan Khawatir, malam ini saja, Ayana tadi memohon agar Ryuu bisa tidur bersamanya dan ibu juga mengijinkannya"


"Oh, begitu"Jawab Darren singkat dan lesu sebenarnya ia ingin sekali marah pada istrinya karena membiarkan Ryuu tidur ditempat lain ,namun ia juga merasa Ayana Dan Daniel memiliki hak, semenjak kedatangan Ayana Darren merasa kehilangan semua kekuatannya, ia tiba tiba ingin menjadi seorang pria yang berlaku lembut, ia tak ingin Ayana melihat sisi buruknya yang dulu.


"Aku akan tidur di Mansion" Darren sekedar memberi tahu, tapi saat hendak beranjak Georgina menarik tangannya.


"Darren....sampai kapan kau akan seperti ini? kembalilah seperti sediakala, kau harus bisa menghadapi Ayana"


"Tidak Bisa Georgi, bahkan untuk sekedar menatap matanya aku tak sanggup"


"Pengecut" ujar Georgina penuh seringai, ia sebenarnya sudah lelah dengan tingkah Darren yang terkesan terus menghindar dan melarikan diri.

__ADS_1


Darren menoleh dan menatap tajam sang Istri.


"Mengapa kau menghindar padahal Ayana sudah tidak memikirkanmu, ia bahkan tak pernah bertanya mengenai dirimu, ia tak peduli lagi padamu tapi kau?" Georgina kembali tersenyum sinis, ini kali pertama ia memperlihatkan raut wajahnya yang tidak biasa. Ia mengijinkan Darren menyimpan perasaannya tapi tidak mengijinkan Darren menjadi Bodoh karena Ayana.


Akhirnya Darren kembali duduk di tepi ranjang seraya meremat kuat rambut pirangnya, yang istrinya katakan memang benar, tanpa disadari ia memang sudah berubah menjadi Pengecut.


"Kembalilah seperti dulu Darren, kehadiranmu dan Ayana akan membuat Baby Ryuu lebih bahagia" ucap Georgina, kini ia sudah kembali ke mode wanita anggun keturunan bangsawan.


.


.


.


Darren memutuskan untuk kembali ke paviliun dan tidak melarikan diri lagi, Georgina senantiasa memberikan kekuatan bagi Darren agar lebih berani menghadapi kehidupannya yang diselimuti kesalahan dan cinta masa lalunya.


"Kau dengar sayang? Dia memanggilku mama" Ayana begitu bahagia, usahanya beberapa hari ini berhasil.


Ia tak ingin di panggil MoMmy karena bagi Ayana Georgina adalah Mommy Ryuu.


"Anak pintar" Puji Daniel ia lalu mengecup pucuk kepala Ayana dan Ryuu bergantian.


"Ryuu, sekarang panggil Daddy" titah Ayana pada Ryuu namun Ryuu menatap Daniel dengan bingung, meski baru berumur dua tahun Ryuu sudah mengenali siapa Daddynya yaitu Darren.


"Ayana, jangan ajarkan ia memanggilku Daddy, ia akan bingung, biarkan ia memanggilku Uncle Niel"


"Tapi kau Daddynya bukan....."Ayana menjeda ucapannya, bahkan untuk sekedar menyebut nama Darren ia enggan melakukannya.


"Bagaimana kalau papa?" lanjut Ayana lagi.

__ADS_1


"Papa...papa..." Ayana mengulang kata kata itu, didepan Ryuu.


"Ayana,...."Daniel kini mengambil Ryuu dari pangkuan Ayana lalu mengusap wajah Ayana penuh rasa cinta, "orang orang tahu jika Ryuu adalah putramu, mereka tidak tahu jika Ryuu adalah darah dagingku, aku tidak ingin dimasa depan mereka memandang aneh status Ryuu, Georgina bahkan tidak tahu" Jelas Daniel, yang membuat Ayana tertunduk lemas.


Sekelibat rasa bersalah kembali menyelimuti hati Ayana. Apa yang ia lakukan dengan Daniel dimasa lalu memang akan sangat berdampak buruk bagi Ryuu yang tercatat sebagai putranya dan Darren.


"Jangan merasa bersalah sayang" Daniel seakan tahu apa yang difikirkan istrinya itu, Ia lalu meletakkan Ryuu kedalam Boxnya dan kembali duduk di sofa sebelah Ayana.


"Sini..."Panggil Daniel seraya menepuk pangkuannya, Namun karena tak bergeming ia sedikit menarik pergelangan Ayana agar berpindah keatas pahanya.


"Itu bukan kesalahan, Jika kita tidak melakukannya saat itu maka tak mungkin ada Ryuu sekarang" bisik Daniel seraya menggigit Daun telinga Ayana.


"Sayang!" Pekik Ayana lalu mencubit dada Daniel, namun karena dada bidang itu begitu kokoh Daniel sampai tak bisa merasakannya. Ia malah memggendong tubuh istrinya itu lalu menghempaskannya diatas trmpat tidur, mengungkung tubuhnya dan meluma* bibir mungil istrinya dengan lahap, hingga ciuman itu berubah menjadi ajang berpagut dan saling membelit lidah dan terdengar bunyi decapan yang menggema didalam kamar, dan Ryuu hanya menatap pemandangan dihadapannya sambil tertawa dan bertepuk tangan.


Selesai dengan morning hot kissnya Daniel dan Ayana yang tengah menggendong Ryuu memutuskan kepaviliun utama untuk sarapan bersama.


Namun langkah kaki Ayana tiba tiba terhenti saat dari kejauhan ia melihat Darren sudah duduk di meja makan. Ayana hendak membalik tubuhnya ketika Daniel sudah terlebih dahulu menahannya.


Daniel menggenggam erat tangan Ayana yang terasa sangat dingin dan basah, ia mengambil alih Ryuu karena merasa tubuh ayana bergetar hebat.


"Ada aku disini, jangan takut tak ada yang akan menyakitimu, aku akan memastikan ia bahkan tak akan berani melirik kearahmu hemm"


Ayana sebenarnya tak takut, ia hanya benci jika harus menghirup udara yang sama dengan orang yang sudah menyebabkan kematian kedua orang tuanya.


"Selama pagi" Sapa Daniel lalu menarik kursi untuk Ayana dan dirinya, ia terlebih dahulu memanggil baby sitter Ryuu agar mengambil Anak itu dari gendongannya.


"Selamat pagi" sapa Nyonya Bosley dan Georgina bersamaan, mereka lalu melirik Ayana dan Darren secara bergantian, dua orang itu terus tertunduk tanpa kata.


Tak ada kata lagi yang terdengar dimeja makan, hanya suara dentingan sendok dan piring yang saling beradu. Para pelayan yang berjejer juga tak berani mengangkat pandangan, sedikit saja kata atau gerak mereka yang salah maka akan berakibat fatal bagi pekerjaan mereka.

__ADS_1


__ADS_2