HIASAN RANJANG KAKAK IPAR

HIASAN RANJANG KAKAK IPAR
Bab 84


__ADS_3

Daniel memperlihatkan foto Ryuu yang diambil ibunya dulu dan dikirimkan kepada Daniel, karena terus terang sejak mengira Ayana meninggal Daniel tak pernah bisa berdekatan dengan anaknya sendiri, hatinya bagai tercabik saat memandang wajah Ryuu yang sangat mirip dengan Ayana, sehingga Nyonya Bosley rutin mengirimkan foto fotonya kepada Daniel.


Daniel memyerahkan ponselnya kepada Ayana, tak ada niat untuk memancing ingatan Ayana karena Daniel sadar Ryuu bukan bagian dari itu, bayi itu masih terlalu kecil saat Ayana meninggalkannya.


Sejenak Ayana menatap Daniel sebelum akhirnya mengambil ponsel tersebut, dipandangnya bayi mungil dengan senyum yang merekah itu, matanya bulat dengan manik coklat persis seperti milik Daniel, hidungnya kecil dan macung khas orang Jepang, Ayana bisa melihat dirinya didalam diri Ryuu.


Tungkainya melemah, hingga ia hampir ambruk sebelum akhirnya bisa bertahan dengan berpegang pada lengan kekar Daniel.


"Maafkan aku," Ayana menunduk, hingga rambut hitamnya menutupi wajahnya yang kini berubah sendu, ia berusaha menjauhkan tangannya dari Daniel, namun pria itu berhasil mencegahnya, ia menggenggam tangan Ayana dan membawanya untuk duduk ditempat ia duduk tadi.


"Maafkan aku Ha Jin" ucap Daniel penuh penyesalan, mungkin ia salah mengenai Ryuu yang tidak mempengaruhinya, Daniel berusaha mengambil ponsel dari genggaman Ayana namun Ayana menahannya.


"Biarkan aku melihat foto keponakanmu" suara Ayana seakan tercekat, terdengar sekali ia menahan sebuah pilu didadanya. Ia sama sekali belum siap kembali seperti semula, menjadi Ayana Kimura benar benar begitu berat baginya, namun melihat potret putranya ingin rasanya segera berlari dan memeluk bayi mungil itu.


Daniel duduk disamping Ayana, ia menuntun jemari Ayana untuk kembali menggeser layar selanjutnya.


"Siapa namanya?" suara Ayana sedikit bergetar.


Daniel terlihat berfikir sebelum menjawab, tak mungkin ia menyebut nama Ryuu, itu akan menyakiti Ayana, "Jangan melihatnya lebih lama," Daniel meraih ponselnya dan memasukkannya kembali kesalam saku celana.


Ayana faham maksud Daniel, pria itu memang selalu mengerti dan tak ingin menyakitinya. Ayana hanya bisa tersenyum setidaknya sedikit rasa rindu yang membuncah perlahan terkikis, ketika bisa melihat foto putranya.


cup....

__ADS_1


Mata Daniel membola sempurna,yang tiba tiba mendapatkan sebuah kecupan kecil dipipi dari Ayana, wanita itu lantas meyeka air matanya yang tadi sempat menetas saat melihat foto Ryuu.


"Kau menciumku?" Daniel sumringah, ia berharap ini adalah salah satu tanda jika ingatan Ayana perlahan membaik, "Ha Jin, kau ingat siapa diriku?"


Ayana menggeleng pelan sambil berujar maaf di dalam hati.


"Lantas?"


"Itu permintaan maafku , bukankah dulu aku menolakmu" Ayana berusaha tersenyum, meski ia tak ingin kembali sebagai Ayana, tapi ia pun tak ingin kehilangan Daniel, apa lagi Daniel dijadikan idola baru bagi gadis gadis muda di desa ini.


Membuka lembaran kisah cinta Ayana dan Daniel cepat atau lambat akan kembali mengantarkannya kepada Daren dan keluarga Bosley, dan entah kenapa Ayana sama sekali belum siap akan hal itu, ia tak sanggup harus kembali menyayat luka yang belum mengering sempurna, dan meski mengering sekalipun luka itu akan tetap meninggalkan bekas.


Kini ia akan memulai lembaran baru sebagai Ha Jin dan Daniel.


"Apa sekarang kau tak akan menolakku?" Daniel bertanya penuh kehati hatian sambil menelan salivanya kasar. Dan sekali lagi Ayana hanya mengangguk.


Ia mulai membelai rambut sebahu Ayana dan memyelipkan sebagian kedaun telinga Ayana yang kedepannya akan ia panggil dengan sebutan Ha Jin.


"Ha Jin..anggap ini sebagai pernyataan cinta, dan kita sama sama menerimanya, tapi aku bukan lagi pemuda abege yang akan melompat gembira saat cintaku diterima seorang wanita" Sorot mata Daniel terlihat berbeda, ia nampak seperti seekor srigala yang baru menemukan mangsanya.


Ayana menautkan kedua alisnya bingung, " Apa kau tidak senang dengan yang barusan kukatakan ?kau ingin menolaknya?" Ayana mulai berfikiran buruk, mungkinkah kadar cinta Daniel kepadanya sudah mulai berkurang? Mengapa ia tak ingin melompat gembira? itu sama saja ia tidak senang!


"Siapa bilang aku ingin menolaknya, aku begitu menggilaimu saat di Amerika dan kau terus menolakku" Daniel tidak percaya akhirnya ia mengikuti skenario yang ditulis oleh Adam Lee mantan Asistennyaa.

__ADS_1


"Dan Kini, kau---" Daniel menarik lalu memgangkat tubuh Ayana hingga berakhir dipangkuannya, membelai lembut wajah Ayana yang sudah mulai memerah, ia seakan tahu apa yang akan dilakukan Daniel.


Ayana menoleh kearah luar, menghindari sorot mata Daniel yang dipenuhi birahi.


Dasar pria ini memang selalu saja mesum jika bertemu denganku! Gerutu Ayana didalam hati, namun ia tak bisa menyembunyikan rona bahagiannya.


Meski diluar dirundung hujan salju yang cukup lebat bukan berarti tak akan ada yang datang dan menyaksikan posisi tidak biasanya ini, Ayana berusaha turun dari pangkuan Daniel dengan mendorong dada bidang pria itu, namun Daniel segera menagkap dua pergelangan tangan Ayana yang memang kecil dengan satu tangan, sementara satu tangannya lagi mengusap bibir Ayana yang ia gigit.


"Kau menggodaku hemm? sengaja menggigit bibirmu?" tuduh Daniel, Ayana segera menormalkan kembali bentuk bibirnya.


"Aku ingin turun, bagaimana jika ada yang melihat?" Ayana berusaha melepaskan pergelangan tangannya, akan tetapi Daniel sama sekali tidak melonggarkannya.


"Tak akan ada yang datang lagi pula apa yang salah dengan posisi ini? Kita kan sepasang kekasih sekarang" Daniel mulai melancarkan serangannya ia menggigit kecil daun telinga Ayana hingga wanita itu sedikit meringis.


"Kau gila! Ini bukan Amerika! Ini Korea!apa yang akan difikirkan orang lain jika melihat kita?" Ayana berusaha protes namun sia sia karena Daniel semakin bringas, kini ia menjelajahi leher Ayana dengan kecupan kecupan lembut namun tidak sampai meninggalkan jejak kepemilikan disana, Daniel menghindari perdebatan dengan Adam Lee, jika pria korea itu melihatnya sudah tentu akan membuat hubungannya dengan Adam Lee merenggang, padahal beberapa hari Ini Adam sudah mulai bisa menerima kehadirannya disekitar Ayana.


Ah Sial! Mengapa kini aku justru takut dengan mantan Asistenku!! Batin Daniel.


"Baby Hush" tegur Daniel, yang membuat Ayana terdiam.


Bibir Daniel kini mulai berpindah pada bibir Ayana yang nampak ranum dengan warna pinknya, perlahan ia mulai ******* nya pelan, hingga Ayana yang terbuai dan mulai membuka mulutnya sedikit.


tak ingin kehilangan kesempatan Daniel segera memasukkan lidah tak bertulangnya untuk mengabsen setiap inci bagian dalam mulut Ayana hingga terdengan bunyi decapan yang saling bersahutan. Tak ada lagi protes yang dilayangkan Ayana, lagi pula ia juga juga menikmati pelepasan rindu kepada pria yang sangat ia cintai itu. Cukup lama mereka bertukar saliva hingga Daniel melepaskan pagutannya dan memberikan sedikit ruang bagi Ayana untuk bernafas.

__ADS_1




__ADS_2