HIASAN RANJANG KAKAK IPAR

HIASAN RANJANG KAKAK IPAR
Bab 62


__ADS_3

"Bagaimana? Sudah bisa?" seorang wanita tua nampak sangat gugup sambil meremas jari jemarinya, menatap sang suami yang berjalan mondar mandir dihadapannya dengan sebuah ponsel yang terus menempel dikupingnya


Sudah hampir seminggu ini Ayana sudah tidak bisa dihubungi lagi, membuat kedua orang tuanya sangat cemas.


"Sampai kapan kita akan menunggu seperti ini? Sebaiknya kita segera menjemput Ayana dan membawanya pulang, aku sudah tidak peduli lagi mau itu keluarga Bosley atau presiden Amerika sekalipun, Ayana putri kita satu satunya mereka tidak bisa memonopolinya hanya karena tengah mengandung keturunannya" berang Nyonya kimura ibunda Ayana, suaminya memang tidak pernah memberitahukan mengenai kecelakaan Daren dan Barbara dan hubungannya dengan Ayana.


"Tenanglah istriku" Tuan Kimura mengelus kepala sang istri, ia berusaha menenangkan wanita itu agar asam lambungnya tidak kembali kumat dan membuatnya harus masuk rumah sakit, "Aku janji secepatnya akan membawa Ayana kembali ke Jepang, entah statusnya sebagai istri Daren ataupun Janda Daren" ujar Tuan Kimura terdengar tegas.


.


.


.


Daren menghempaskas segala apa yang ada diatas meja kerjanya, termasuk beberapa bukti yang baru saja diserahkan oleh orang suruhannya, ia kini mengetahui jika Ayana dan Daniel menghabiskan dua malam di kamar yang sama di salah satu Villa yang terdapat di Maldives.


Daren memgepalkan tangan lalu menghantam mejanya keras, ingin sekali ia meremukkan tulang belulang wanita yang telah menghianatinya itu,namun setiap ia melihat wajah sendu Ayana yang seakan sudah tak memiliki gairah hidup itu ia akan luluh, ia selalu merutuki dirinya sendiri, yang tak berhasil membalas dendam dengan menyiksa keluarga Kimura, justru malah sebaliknya putri keluarga tersebut berhasil menyengsarakan hidupnya.


Jika saja tidak mengingat kesehatan sang ibu maka hari ini juga ia ingin mengambil nyawa Daniel dengan tangannya sendiri! Geram batin Daren dengan gigi yang saling bergemertak kuat


.


.


.


"Salju pertama tahun ini" lirih Ayana saat melihat dari balik jendela kaca butiran halus berwarna putih itu yang nampak saling berlomba untuk sampai kebumi.


Ayana menoleh kesisi sebelah dan mendapati dua orang pelayan berpakaian senada masih dalam posisi siaga, Daren memang memberi penjagaan ekstra didalam kamar Ayana, bukan hanya cctv namun dua pelayan dan dua orang bodyguard yang menjaga didepan pintu masuk yang akan menghalangi siapapun untuk masuk, terutama Daniel.

__ADS_1


"Bisa aku..."Ayana mengulurkan tangannya, sang pelayan mengerti ia segera membantu Ayana untuk berpindah dari tempat tidur keatas kursi roda, setelah seminggu sejak pelariannya Ayana memang masih belum bisa berjalan akibat luka dikedua telapak kakinya.


" Anda ingin kekamar mandi Nyonya?" tanya salah satu pelayan yang sudah nampak berumur.


Ayana menggeleng, ia menggerakkan sendiri kursi roda elektrik itu menuju puntu kaca yang terkunci rapat, Daren bahkan tak mengijinkan Ayana keluar kamar meski hanya sekedar menikmati udara segar diatas balkon.


Ayana mengusap perutnya sambil berucap lirih,


"Lihatlah Ryuu, itu salju pertama tahun ini"


Ayana tak menghiraukan pergerakan yang terjadi dibelakangnya saat Daren untuk pertama kalinya mengunjunginya disaat ia tidak terlelap dalam tidur.


Dua pelayan segera keluar setelah diberi isyarat oleh Daren yang kini berjalan mendekati Ayana dengan rasa Amarah yang berusaha ia redam.


Daren mencengkram kedua bahu Ayana dan mendekatkan wajahnya dikuping sebelah kiri Ayana, "Ryuu...Daddy penasaran apa Mommymu begitu menikmati liburannya saat di Maldives?" Bisik Daren dengan nada jahatnya.


Seketika Tubuh Ayana beringsut dan gemetar, deru nafas Daren membuat semua pori porinya seakan terbuka, ia tak berani untuk menengok kebelakang, apalagi Daren sudah tahu mengenai pertemuannya dengan Daniel Di Maldives.


"Dar-en....." cicit Ayana gugup.


"Heem....." Daren memutar kursi roda Ayana, sehingga mereka saling berhadapan, pria itu berlutut dihadapan Ayana sambil menyeka air mata istrinya yang sudah mulai mengalir sambil tersenyum miris.


"Kau tahu aku sangat mencintaimu? Hemm"


"A-aku Ta-hu" Ayana menelan saliva kasar, ia merasa kematianya adalah satu satunya jalan keluar dari masalah yang mereka hadapi.


Dengan tangan yang gemetar dan dipenuhi peluh dingin Ayana meraih tangan Daren dan menggenggamnya diatas pangkuannya.


"Ryuu.....Ryuu....," Ayana ingin mengatakan jaga Ryuu untukku namun Daren segera menghempaskan dengan kasar tangannya lalu berdiri, ia meraih ponsel didalam saku celananya dan menghubungi seseorang.

__ADS_1


"Bawa dia masuk kekamarku!" Titah Daren disambungan teleponya, tak lama kemudian seorang wanita berpenampilan se xi masuk, dia adalah wanita yang dilihat Ayana pada video mesum Daren.


Mata sembab Ayana membola melihat Wanita dengan tinggi semampai itu mulai membuka mantel bulu bermotif macan dan membuangnya diatas sofa. udara diluar memang mulai dingin hingga orang orang harus menggunakan mantel.


mau apa mereka?


Batin Ayana bergejolak, ia memicingkan mata mengamati tatapan menggoda wanita itu yang mulai menghampiri Daren dan meliuk liuk dihadapannya layaknya seorang penari stript*s.


Daren menatap dan tersenyum mencemooh kepada Ayana lalu kembali membuka satu persatu kancing baju wanita yang sudah ia bayar dengan sebuah kesepakatan.


Ayana yang sudah bisa menebak apa yang hendak mereka lakukan menggerakkan kursi rodanya menuju pintu keluar, ia sudah tidak tahan lagi, Ayana tahu Daren adalah pria pendendam, dan sekarang dengan mengundang wanita itu kedalam kamarnya membuatnya tersadar Daren ingin membalas dendamnya.


"Berhenti!!!" Tukas Daren, pria itu menghampiri istrinya dan mendorong kursi rodanya kembali kesisi tempat tidur, ia mengunci rodanya agar Ayana tak lagi bisa bergerak bebas.


"Buka matamu baik baik Ayana, karena kau akan mendapatkan tontonan menarik" ucap Daren penuh dendam.


Ayana hanya bisa terisak dalam sambil mengepalkan tangan kuat, sehingga kuku kukunya yang panjang melukai telapak tangannya sendiri. Ia tak membenci Daren, ia benci dengan dirinya sendiri yang sudah terlebih dahulu bergemul haram bersama kakak iparnya diruangan ini, dan Daren hanya mencoba membalas apa yang ia lakukan.


Ayana menundukkan pandangannya saat dua orang tanpa busana dihadapannya memulai aksi gilanya dengan suara rintihan dan desaha* yang terdengar menjijikkan.


Ia menatap perut buncitnya dimana sebuah nyawa bersemayam disana, setidaknya ia harus memberikan kehidupan dan sebagian nyawanya untuk anak tidak bersalah didalam perutnya.


"Apa kau melakukannya seperti ini Ayana?ugh...." racau Daren yang kini mengungkuh wanita dengan wajah tak tahu malu dibawahnya, Ayana tak berani mengangkat wajahnya tubuhnya bergetar manahan gejolak amarah dan sedih yang berpadu menjadi satu hingga darah yang membasahi telapak tangannya sudah tak ia pedulikan lagi.


"AYANA LIHAT AKU!!!!" Geram Daniel.


"maafkan Aku Daren...aku memang pantas mendapatkannya"


"Arghh......" Akhirnya erangan Daren tanda mencapai klimas menggema di seluruh ruangan, bersaamaan dengan isakan tangis Ayana yang mulai terdengar lirih.

__ADS_1


Daren membuang tubuhnya tepat disamping wanita bayarannya yang kini menyamping dan mengusap usap dada bidang Daren seraya menatap Ayana dengan tatapan mencibir.


__ADS_2