
Setelah puas melakukan panggilan Video kenegaranya, Ayana merebahkan tubuhnya diatas kasur seraya mengusap usap perutnya yang sudah sangat membuncit, senyumannya tak berhenti merekah tatkala mengingat pesan yang dituliskan Adam Lee disecarik kertas yang disimpannya bersamaan dengan ponsel didalam pot bunga.
Ayana, ponsel ini bisa kau pakai selama 5 hari kedepan, karena Daren sedang tidak bisa mengawasimu, jaga kesehatan bayi dan dirimu.
Itu artinya ia bisa puas berhubungan dengan kedua orang tuanya tanpa menunggu setiap 3 hari.
"Hah...."Ayana mendesah lega, saat sorot matanya terpatri pada Jam dinding yang menunjukkan pukul 9 pagi, ia berlari kecil kearah balkon, mengintip dari balik gorden sebuah pintu kaca geser yang sengaja ditutupnya, ia tak ingin Daniel melihat kehadirannya.
Ayana sudah sejak lama melakukannya, setiap pagi ia akan melihat Mobil Daniel yang hendak berangkat kekantor, entah mengapa pemandangan tersebut membuat mood bosster untuknya selama masa kehamilan, ia akan berdiam diri mentap dalam diam hingga mobil sedan mewah tersebut keluar dari gerbang utama.
Setelah selesai Ayana kembali ke Ponsel milik Adam Lee, pria Korea itu pernah berpesan jika ia boleh mengutak atik ponselnya dan melihat apa saja didalamnya, namun Ayana tak pernah sekalipun melakukannya, sebagai bentuk hormat dan terima kasih kepada Adam Lee Ayana tak ingin mengobrak abrik privasi pria itu.
Sebuah pemberitahuan masuk, itu dari salah satu media online, Ayana sempat membaca sepotong judul yang tertera.
Menanti perceraian Lauren Pettyfer dan Dan.....
"Daniel Bosley?" Gumam Ayana pelan, seakan melanjutkan judul yang terpenggal itu.
Ayana terperanjat, ada rasa penasaran yang negutubbesar didalam dadanya, Lauren Pettyfer? siapa lagi kalau bukan kakak iparnya! Apa mereka akan bercerai?
Tanpa fikir panjang Ayana mengklik tautan tersebut sambil begumam maaf kepada Adam Lee, meski sebenarnya ia sudah mendapat ijin.
Mata bulat Ayana membola sempurna, saat membaca narasi dan puluhan foto yang terdapat disana, tetiba ia teringat akan Daniel, pria itu pasti sangat sedih saat mengetahui hal ini, karena dalam fikiran Ayana Daniel sangat mencintai istrinya itu. Bagi Ayana cinta Daniel hanya untuk Lauren sedangkan dirinya hanyalah sebagai pasangan selingkuh kaka iparnya itu.
Tak lama kemudian terdengar ketukan yang berasal Dari luar, Ayana memang selalu mengunci pintu kamarnya ketika Ponsel Adam sedang ditangannya ia tak ingin siapapun tahu mengenai hal itu.
Wanita Hamil itu beranjak membuka pintu setelah sebelumnya menyembunyikan ponsel Adam di dalam laci Nakas.
__ADS_1
"Ibu.." sapa Ayana kepada Nyonya Bosley yang menyambangi kamarnya, wanita itu terlihat murung dengan wajah yang sendu , ia nampak tak lagi memiliki semangat hidup, Ayana bisa menebak jika hal itu berhubungan dengan artikel yang ia baca.
Nyonya Bosley merukuk dan mengelus perut Ayana, wanita itu memang selalu melakukannya seakan tak sabar menanti kelahiran sang cucu kedua ini.
"Cucuku sayang, grandma mau pergi keluar negeri dulu ya! kamu baik baik disini
grandma pusing menghadapi ayahmu" Ujar Nyonya Bosley yang terdengar tengah curhat dengan calon cucunya.
Ayana hanya tersenyum miring mendengar penuturan sang ibu mertua, ternyata tebakannya salah.
"Ada apa dengan Daren ibu? apakah ia membuat masalah? " tanya Ayana penasaran, meski selama masa kehamilan ia selalu merindukan Daniel namun Ayana berusaha meyakinkan dirinya jika anak yang tengah dikandungnya adalah milik Daren, bagaimanapun ia melakukannya itu lebih sering bersama suaminya.
"Daren? ada apa dengan Daren? bukankah dia pergi ke India?" Nyonya Bosley heran dengan pertanyaan Ayana, ayana pun saling menautkan alis bingung. Namun setelah sepersekian detik wanita tua itu baru sadar dengan mulut embernya, ingin sekali rasanya menarik bibir itu hingga dower.
"Eh...ia Daren! ayahnya Daren! astaga...ia Daren membuat ibu kesal, harusnya ia membangun pabrik di Jepang agar kalian bisa sering kesana, Daren malah membuka pabrik di India huh..." Nyonya Bosley pura pura kesal, hampir saja fiuh...
"Ayana Ibu akan pergi ke Hawai untuk berlibur, semua keperluanmu akan diurus kepala pelayan" Ucap Nyonya Bosley sambil mencium pipi kanan dan kiri Ayana bergantian, wanita itu terlihat buru buru berlalu dari hadapan Ayana meski begitu ia masih sempat berbalik dan melambaikan tangan kearah Ayana.
"Ada apa dengan ibu?" gumam Ayana, namun tak ingin ambil pusing, ia segera menutup kembali pintu kamarnya.
.
.
.
Ayana menggeliat, ia merasa ada sebuh tangan besar dan berbulu yang melingkar di perutnya, ia membalikkakan badan meraba sosok yang kini terlelap disampingnya, ia tak bisa memastikan karena tak ada penerangan sama sekali.
__ADS_1
"Daren?? bukannya kau?" Dua bola mata Ayana membulat, rasa kantuk yang dirasakannya seketika lenyap karena teringat ponsel Adam Lee yang masih berada didalam nakas, bagaimana jika suaminya menemukannya?
Ayana hendak bangkit namun tangan besar itu menahannya, membuatnya kembali berbaring dibawah ceruk leher yang kini bergerak naik turun.
Ayana berusaha membaui tubuh pria yang ia fikir Daren, hingga ia menemukan bau Maskulin pria macho yang selama ini dirindukannya.
"Da-niel?"
"Apa kau kecewa bukan Daren yang disini?" Bariton Daniel terdengar begitu menenagkan dirungu Ayana.
Ayana menutup mata, dan merangkul tubuh pria disampingnya, sial! umpatnya padahal ia sudah menahannya selama ini, tapi mengapa ia kembali terjebak dengan situasi seperti ini?
Daniel mengangkat wajah Ayana dengan menaikkan Dagunya, ia merasa tak puas hanya memandangi wanita pujaannya itu dalam kegelapan sehingga tangannya bergerak mencari remot kecil untuk menyalakan lampu, ia ingat menaruhnya diatas kepala Ayana saat masuk tadi secara diam diam.
Lampu menyala, kini ia bisa melihat wajah itu tanpa jarak.
"Kenapa kau semakin cantik saat hamil heem" puji Daniel, sedangkan Ayana hanya mengulum sebuah senyuman.
Daniel menelusupkan tangannya kedalam lingerie tipis yang dikenakan Ayana, mencari dua aset berharga milik wanita itu, namun saat ia hendak meremasnya Ayana memekik kesakitan.
"Akh..."
"Kenapa baby?" Daniel panik dan segera mengeluarkan jemari besarnya dari dalam sana.
"Dia sudah mengeras, kata dokter aku sudah menghasilkan sedikit asi" Jawab Ayana, Setiap dua bulan sekali dokter ahli kandungan yang dibayar Daren akan datang memeriksa kandungan Ayana, Daren bahkan menyulap salah satu ruangan dilantai 3 itu layaknya ruangan bersalin dengan segala alat kelengkapan didalamnya.
Daniel lalu mengecup dahi Ayana dalam, ia tak menyangka Ayana akan melalui penderitaan ini demi mengandung Anaknya.
__ADS_1
"Bagaimana jika disini?" Daniel meletakkan telunjuknya di bibir Ayana yang mungil dan berisi.
Ayana mengangguk setuju, tak butuh waktu lama Daniel segera meluma* dan menyesa* bibir Ayana dengan gusar dan penuh nafsu, malam ini ia bertekad meninggalkan jejak kepemilikan disetiap inci tubuh Ayana karena ia tahu Daren tak akan pulang cepat meski nantinya ia harus berakhir menyelesaikannya sendiri didalam kamar mandi karena tak ingin menyakiti Ayana dengan kondisinya yang tengah mengandung.