HIASAN RANJANG KAKAK IPAR

HIASAN RANJANG KAKAK IPAR
Bab 96


__ADS_3

"Ayana, Ibu dan Georgi ingin mengajakmu ke galery" Nyonya Bosley memecah keheningan diujung sarapan yang sudah hampir selesai.


"Ah.." Ayana seketika gelagapan.


"Ayana belum bisa keluar Bu, ia masih dalam masa penyembuhan" Ujar Daniel, ia menggenggam tangan Ayana dibawah meja.


"Oh...baiklah kalau begitu" Nyonya Bosley memasukkan potongan sandwich terakhirnya, lalu terlihat berbicara dengan Lohan yang sedari tadi berdiri disampingnya.


Sementara Georgina juga ingin memecah suasana mencekam di hadapannya, dimana Darren dan Ayana yang terus menunduk sambil menghabiskan sisa sarapannya.


"Bagaimana Ryuu? Dia tidak menangis semalam?" sebuah senyum hanyat mengembang di wajah Georgina.


"Ah...tidak, dia tidur sangat nyenyak" timpal Ayana.


Perbincangan mengenai Ryuu selalu membuat Ayana bersemangat, Georgina mulai menceritakan kebiasaan Ryuu saat tidur, makan, mainan favoritnya, kata kata pertama yang ia ucapkan. Senyum terlihat mengembang dibibir Ayana mendengar lantunan kata bagaikan menonton film yang sudah ia lewatkan, yah! Ayana memang melewatkan tumbuh kembang sang anak.


Darren tidak tahan dan terus melihat kearah Ayana, darahnya berdesir menyaksikan senyum indah Ayana, sebuah senyuman yang tak pernah tersinggung dikala ia masih menyandang status sebagai Nyonya Darren Bosley. Tentu Georginia tak melihat Darren karena duduk di sampingnya.


Namun berbeda dengan Daniel, ia melihat tatapan berbinar Darren dengan senyuman tipis yang hampir tak terlihat diwajahnya, tangannya mengepal dibawah meja, ia tak terima ada pria lain menatap intens kearah istrinya.


Daniel merasakan De javu, dulu ia pernah berada diposisi Darren, tak bisa mengalihkah mata dan fikirannya dari Ayana yang berstatus adik iparnya, untuk itu kali ini ia berfikir akan menanggapinya lebih dewasa, tak perlu lagi ada kilatan emosi diantara mereka.


"Ehem...." Daniel berdehem agar semua perhatian tertuju padanya, Ayana menoleh dan memberikan segelas air pada suaminya itu.


"Minum " tawar Ayana.


"Terima kasih sayang" Lagi lagi Daniel mengusap pucuk kepala Ayana, dan meminum air itu hingga tandas.


Georgina dan Darren melihat pemandangan dihadapannya dengan perasaan yang entah.


Kali ini giliran Darren yang mengepalkan tangannya dibawa meja, namun setelah sepersekian detik Daren menyadari melalui ekor matanya, jika istrinya disamping menatapnya dengan tatapan sendu.


Setelah Sarapan, Georgi , Lohan dan Nyonya Bosley sudah berangkat terlebih dahulu ke Galery, mereka juga mengajak Ryuu pergi bersama.

__ADS_1


Sedangkan Darren menikmati secangkir kopinya di ruang keluarga, ia baru saja menitip pesan kepada salah satu pelayan agar memanggil Daniel, ada hal penting yang ingin ia sampaikan. Darren memang belum pernah berbicara banyak dengan Daniel sejak pria itu datang dari Maldives.


"Ada apa?" suara Bariton Daniel terdengar datar menyapa rungu Darren yang memutuskan untuk berangkat lebih siang kekantor hari ini.


Tak ada pekerjaan yang mendesak ia hanya perlu menghadiri sebuah rapat pemegang saham.


Kini Daniel, sudah duduk di sofa yang berhadapan dengan Darren, mereka diantarai sebuah meja marmer yang mewah.


Daniel menolak dengan gerakan tangan saat salah seorang pelayan menawarkan secangkir kopi, ia meminta semua pelayan yang ada disana untuk meninggalkan mereka berdua.


"Apa Calvin tak menghubungimu mengenai rapat pemegang saham?" Darren to the point, ia tak mungkin bertanya mengenai kabar pernikahan dan bulan madu kakaknya itu.


"Dia tau aku sudah tidak ada hubungan dengan perusahaan, semua sahamku sudah kuwakilkan padanya" Daniel memang sangat percaya dengan Calvin.


"Setidaknya sebagai salah satu pemegang saham terbesar, kau masih berkewajiban hadir dalam rapat" Tukas Darren, ia sempat menghela nafas kasar sebelum melanjutkan kata katanya.


"Kau masih punya tanggung jawab atas perusahaan, jangan jadi pengecut yang meninggalkan tanggung jawabnya hanya demi seorang wanita"


"Aku akan mengembalikan kursi Chairman padamu, kau juga punya Calvin disisimu, dan lagi perusahaan ku harus menjadi prioritasku saat ini" Darren berusaha menghasut Daniel, ia tahu Alasan Daniel kembali hanya untuk sementara, itu artinya suatu saat ia akan membawa Ayana kembali ketempat yang tidak bisa ia temukan.Dan Darren tidak ingin itu, ia mau melihat Ayana terus menerus di dalam kehidupannya meski tak bisa lagi memilikinya, yah hanya dengan melihatnya ia sudah merasa bahagia. Bukankah terkadang cinta memang tidak harus memiliki.


"Kau tahu persis aku hanya sementara disini, Ayana tidak bisa tinggal lebih lama lagi"


"Dulu perusahaan adalah hidupmu....heh" Darren tertawa miris diakhir kalimatnya, ia miris dengan dirinya sendiri yang tak bisa mencintai sedalam Daniel.


"Apa kau takut aku merebut Ayana darimu?" Sorot mata Darren terlihat menghunus, namun Daniel hanya menyeringai.


"Kau tidak bosan mengulang cerita yang sama?"


"Bukankah dulu kau juga merebut istriku? Apa bedanya aku sekarang dengan dirimu dulu"


"Darren kau sudah memiliki Georgina!" Sentak Daniel.


"Dulu kau juga memiliki Lauren?"

__ADS_1


Daniel diam membisu.


Darren menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa sambil melipat tangan didada.


"Tapi kau tenang saja, aku tahu Ayana sangat membenciku, aku tidak serendah dirimu yang berjuang demi istri saudaranya, Aku sadar sudah memiliki Georgina dan Ryuu, tapi sampai sekarang rasa cintaku pada Ayana masih begitu besar, dan aku akan terus memupuknya agar ia tumbuh semakin subur hingga menyiksaku sampai mati" Darren tersenyum Getir.


Kata kata Darren terasa begitu menohok, pria itu seakan mempertegas jika Daniel adalah pihak yang paling salah dalam hal ini.


"Baiklah hanya rapat!" Akhirnya Daniel memutuskan untuk hadir dalam rapat, ia tak ingin memperpanjang pembahasan dari perusahaan dan ujung ujungnya berakhir pada Ayana.


.


.


.


"Kau ingin ke perusahaan?" Ayana menatap Daniel yang baru keluar dari dalam Walk in closet, pria 36 tahun itu nampak semakin gagah dengan setelan jas yang membalut tubuhnya.


"Iya sayang, ini yang terakhir kita akan segera kembali ke Maldives setelah ini hemm" Daniel mendaratkan kecupan hangat pada kening istrinya.


"Apa kita akan mengajak Ryuu?"


Pertanyaan Ayana membuat Daniel tersentak, itu tidak mungkin mereka lakukan secara hukum Darren lebih berhak mengasuh Ryuu, bukan karena tidak mencintai darah dagingnya sendiri namun Daniel tak tega jika harus memisahkan Ryuu dengan Darren apalagi dengan Nyonya Bosley ibunya. Wanita tua itu sangat mencintai cucu tunggalnya itu.


"Ayana, "Daniel mengangkat tubuh mungil Ayana hingga kedua kaki wanita itu melingkar di pinggang Daniel.


"Pakaianmu akan kusut jika seperti ini sayang" Ayana berusaha turun, namun Daniel semakin mempererat pelukannya pada punggung Ayana. Ia membawa Ayana menuju balkon lalu menjatuhkan bobotnya pada sebuah kursi king size, dengan Ayana tetap brada di pangkuanya, posisi Ayana terlihat sangat vulgar.


Mereka lupa jika tak berada di Maldives, disana pelayan Daniel sudah terbiasa dengan kelakuan dua orang itu yang kerap kali bercumbu ditempat terbuka.


Pagar pembatas tak cukup melindungi tubuh mereka dari sebuah tatapan tajam sepasang mata yang kini tengah menunggu Asisten pribadinya mengeluarkan salah satu mobil koleksinya dari dalam garasi dibawah sana.


"Apa kalian memang harus melakukannya ditempat itu" lirih Darren yang kini sudah tidak lagi mendongak keatas, tangannya terkepal sempurna saat memutuskan untuk akhirnya masuk kedalam mobil.

__ADS_1


__ADS_2