
"Ibu jangan bertindak bodoh" Pinta Daniel yang perlahan mulai mendekati tubuh sang ibu, ia adalah orang yang paling tahu ketika ibunya melakukan sandiwara, namun kali ini ia bisa melihat gurat serius dan putus asa diwajah wanita yang telah melahirkannya itu.
"Ibu itu bisa melukaimu" ucap Daren, yang mengikuti langkah Daniel.
"Berhenti disitu!!!" Tukas Nyonya Bosley, yang berhasil membuat kedua putranya mematung, saat ia semakin mendekatkan pecahan botol kelehernya.
"IBU!!!" Pekik Daniel dan Daniel bersamaan.
"Kalian masih ingat rupanya jika memiliki ibu yang sama!! Cih...."Ucap Nyonya Bosley, "Lantas kalian masih ingin saling membunuh?"
"Ibu bukan seperti itu" Daren berusaha mengelak, sekilas matanya menatap benci kearah punggung Daniel, lalu kembali menatap sendu sang ibu, ia tidak mungkin memberi tahu ibunya jika pria brengsek dengan nama belakang yang sama dengan dirinya menyukai Istrinya, meski sebenarnya wanita tua itu sudah tahu semuanya dan bahkan Dalang dari segalanya.
"Ibu aku akan pergi kepaviliun ku" Daniel mencoba mengalah,"Anggap yang ibu lihat hanyalah pertengkaran kecil diantara saudara" lanjutnya Lagi dan kini berhasil meraih pecahan botol dari tangan ibunya dan menaruhnya kembali diatas meja.
Daniel meraih tubuh Nyonya Bosley dan membawanya kedalam pelukannya.
"Maafkan aku ibu" Bisiknya lirih didekat telinga ibunya.
Tangis wanita tua itu pecah dengan punggung yang bergetar, Ibu mana yang tega melihat putranya bertikai hanya karena seorang wanita,ditambah lagi ia merasa ini semua adalah kesalahannya, Penyesalan memang selalu datang belakangan.
"Sudahlah Bu...." Daniel mengusap punggung sang ibu dan membawanya keluar dari kamar, meninggalkan Daren yang meraup gusar wajahnya seraya meramas kuat rambut pirangnya.
.
.
.
Daniel membaringkan sang ibu dan menyelimutinya sebatas dada, namun saat pria 35 tahun itu hendak beranjak Nyonya Bosley menarik tangannya, dengan tubuh yang seakan ingin Ambruk wanita itu mencoba bersandar pada kepala ranjang.
"Maafkan ibu Daniel" lirih Nyonya Bosley.
Daniel hanya bisa mendesah dan kembali duduk ditepi ranjang king size yang nampak sangat mahal itu.
"Mengapa ibu minta maaf, aku bahkan sudah mencintai Ayana jauh sebelum mengetahui rencana Ibu, ini kesalahanku sepenuhnya" jelas Daniel mengusap punggung tangan ibunya.
"Kau masih memiliki masa depan yang cerah, kau masih bisa punya keturunan dari wanita manapun yang kau mau, tapi adikmu?...." Nyonya Bosley menjeda kata katanya lalu menyeka air matanya "Dia tidak akan bisa memiliki keturunan, jadi mari mengubur semua ini hemmm ibu berjanji akan memperlakukan Ayana dengan Baik" Lanjut Nyonya Bosley lagi.
__ADS_1
Daniel menudukkan pandangannya, didalam benaknya ia seperti mencemooh dirinya sendiri. Rasanya tidak mungkin ia bisa merasa kebahagiaan selain bersama Ayana. Wanita bertubuh mungil yang bahkan sudah terlebih dahulu dijamah oleh adiknya sendiri.
Daniel memutar kembali ingatannya ia bahkan tak pernah pernah dekat dengan seseorang yang tidak tahu latar belakangnya, namun bersama Ayana ia bisa melupakan jika dirinya seorang pewaris sebuah perusahaan raksasa.
"Daniel...." panggil Nyonya Bosley lembut.
"Apakah yang tertua memang harus selalu mengalah bu?"
"Bisakan?"
"Hufhtt......Berikan aku waktu ibu." ucap Daniel lemah dan segera beranjak setelah sebelumnya memberikan ciuman selamat tidur di kening ibundanya.
.
.
.
Prang!!
Setelah meneguk hingga setengah botol Vodka miliknya Darren membuangnya begitu saja dilantai hingga pecah berkeping keping, ia masih menarik rambutnya kuat dengan kedua tangan sambil mengingat setiap kalimat yang keluar dari mulut Daniel tadi.
Daren sama sekali tidak pernah menyangka Daniel sosok kakak yang begitu dihormati dan dikaguminya menginginkan seauatu yang mutlak miliknya, Istrinya! Geram Daren seraya mengepalkan kepalang tangannya kuat, tatapannya Nyalang kearah Ayana yang kini terbaring diatas tempat tidur.
Daren bisa melihat jika tubuh dibalik selimut itu tengah bergetar hebat.
Betul! Ayana sudah sepenuhnya sadar saat mendengar suara gaduh pertikaian Daniel dan Darren, kini ia semakin takut dan berusaha meredam gejolak dingin yang semakin mnjalar didalam darahnya hingga menimbulkan getaran kecil disekujur tubuhnya.
"Hah..."Daren mendesah tidak percaya, Ia tahu Daniel tidak mungkin bermain solo, ia yakin Ayana ada andil dalam hal ini.
Perlahan Daren mendekati tubuh Ayana, wajahnya masih nampak pucat pasi dengan mata yang masih dipejam.
Daniel duduk di tepi ranjang lalu mengurung tubuh mungil Ayana diantara kedua tangannya yang bertumpu pada kasur.
"Katakan Ayana ! Sejauh apa hubunganmu dengan Pria brengsek itu" Cerca Daren tepat diatas wajah istrinya, ia bahkan sudah tak sudi menyebut Daniel sebagai saudaranya.
Tubuh Ayana semakin bergetar, Bagaimana jika Daren sampai tahu semuanya dan membunuh ia dan bayinya? Saat ini Ayana tak bisa berfikir rasional baginya semua orang dirumah keluarga Bosley tak lebih dari Monster yang siap melu*atnya Hidup hidup.
__ADS_1
"Ayana!!!" Daren mengguncang kedua bahu Ayana.
Seketika tubuh yang tadinya menggigil itu mendadam dipenuhi peluh, Ayana perlahan membuka mata bulatnya menatap nanar ketakutan pada Daren, bibirnya seakan kelu melihat mata merah saga yang menatapnya bringas.
"Ma-maafkan Ak-u" ujar Ayana terbata, disusul deraian air mata, ia benci kepada dirinya sendiri mengapa harus kembali ketempat ini lagi dan masih tetap lemah.
Mendengar permintaan maaf istrinya, sontak Daren menarik tubuhnya lalu tertawa terbahak bahak seperti orang yang telah kehilangan kewarasannya, beberapa kali ia terlihat meraup wajahnya gusar seraya menarik rambutnya kuat.
"Haha...Ayana mengapa kau meminta maaf?" tanya Daren yang kini menatap lantai dengan perasaan entah, meski sebenarnya ia sudah tau arti dari maaf Ayana.
Mendengar gema tawa Daren yang membahana Ayana semakin takut, sekuat tenaga ia berusaha duduk dan menarik kedua kakinya, ia duduk dengan memeluk lutut dibalik selimut tebalnya.
"Ma-af...." ucap wanita itu gugup.
"Ternyata seperti ini rasanya dihianati" gumam Daren yang didengar Ayana, ia ingat bagaimana ia yang sempat melakukan ONS dan Videonya dilihat Ayana.
"Apa kau juga sesakit ini?" Daren memukul dadanya pelan, rasanya ada bongkahan es abadi yang terpatri didalam sana, Sesak!
Sekelumit bayangan wajah Ayana tatkala melihat video mesumnya itu seakan terpatri dikepalanya, namun pada akhirnya istrinya itu memaafkannya.
Daren menoleh dan menatap tajam Ayana, "Kau? Sudah berapa kali kalian melakukannya? Apa karena itu kau memaklumi perselingkuhanku?" Daren memajukan tubuhnya, ia kembali mengungkung Ayana lalu membelai lembut wajah cantik istri yang sudah menghianatinya itu.
Tubuh Ayana semakin bergetar, seluruh ketakukan dimuka bumi rasanya masuk kedalam tubuhnya.
"Ma...."
"BERHENTI MINTA MAAF!!" Hardik Daren geram, sontak Ayana menutup kedua telinganya dan menangis tanpa suara.
Kini tangan Daren mencengkram kuat rahang Ayana, hingga membuat wanita Jepang itu meringis kesakitan.
"Kenapa harus Daniel? Kenapa harus...." Daren menggantung kata katanya, bulir kristal lolos begitu saja dari dua sudut matanya.
Kenapa harus saudaraku?? Daren membatin.
"Kau wanita polos Ayana, aku tahu itu, aku adalah pria pertamamu, katakan padaku baby apa ia memaksamu???" Daren kembali bersikap lembut dan mengusap kedua bahu Ayana yang bergetar karena tangisan.
Ayana menggeleng pelan.
__ADS_1
Daren yang melihat Ayana bagai dihujam tombak tajam tepat pada jantungnya, istrinya itu bahkan mengakuinya sendiri, dan tidak melakukannya dalam keadaan terpaksa.