HIASAN RANJANG KAKAK IPAR

HIASAN RANJANG KAKAK IPAR
Bab 80


__ADS_3


Daniel menatap nanar pemandangan kota Seoul dari sebuah Balkon hotel mewah, malam ini ia tak ingin minum alkohol untuk pelarian, sebungkus rokok kualitas premium cukup untuk menemaninya menelaah kembali setiap perkataan yang terucap dari bibir Adam Lee.


Pria itu benar benar menkadi sangat angkuh, kata Oppa yang disematkan Ayana kepadanya membuatnya bisa berbuat semena mena kepada Daniel.


"Pulanglah ke pusat kota Seoul, aku tau kau sudah menyiapkan hotel disana, ini adalah pedesaan penginapan disini sangat tidak layak untukmu"


Cih...Daniel hanya bisa berdecih mengingat bagaimana Adam Lee mengusirnya secara langsung. Padahal ia setuju untuk tinggal disana dan mengamati kondisi Ayana, namun Adam sama sekali tidak memberinya kesempatan, pria korea itu berdalih keadaan Ayana yang langsung Down akibat kemunculan Dirinya secara tiba tiba.


Daniel tidak bisa memungkirinya, tapi jika harus jauh lagi dari Ayana rasanya ia tidak akan sanggup. Haruskah ia meminta Calvin menyediakan penginapan didesa itu? Mungkin ia bisa melihat Ayana dari jauh tanpa harus menyapanya.


.


.


.


"Oppa!" panggil Ayana lembut pada Adam Lee yang tengah memijat kaki Ayan dengan satu tangan sementara tangan lainnya sibuk mengutak atik ponsel.


"Hemm"


Ayana bangun dari tidurnya lalu menyenderkan punggungnya pada kepala ranjang.


"Apa aku pernah menyakiti Tuan Daniel?" Tanya Ayana takut takut, ia bisa melihat sorot mata tidak suka dari Adam Lee ketika membahas pria yang tiba tiba memeluknya itu.


"Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa Tuan yang tadi memicu sesuatu yang buruk pada tubuhmu? Jika ia, besok kita akan pergi jauh dari sini "Ucap Adam Lee mantap, ia memang tengah merencanakan pelarian diri lagi.


"Bukan Oppa!" Ayana menggelang pelan lalu menunduk seraya memegang dadanya " Ada yang sangat sakit disini begitu melihatnya, tapi itu tidak menyakitkan, hanya saja....."Ayana pun menggantung kalimatnya, ia sebenarnya juga bingung menjelaskan kondisinya saat ini, ia merasa sesak tapi lega secara bersamaan.


"Jangan terlalu memikirkannya, dia hanya pria tua tidak tahu diri yang menyukai adikku yang cantik dan masih muda ini" kesal Adam lalu mengambil selimut dan menutupi sebagian tubuh Ayana.

__ADS_1


"Oppa, dia tidak tua, dia nampak seusia denganmu, mungkin karena ia bule jadi garis wajahnya sedikit lebih tegas saja." Bela Ayana sambil mengingat wajah teduh Daniel saat menatapnya.


"Hah beberapa hari yang lalu kau bahkan mengatakan aku tua, dan harus segera menikah" gerutu Adam Lee, yang sukses membuat Ayana terkekeh.


" Ha Jin aaa...." Adam yang tadi duduk di kursi samping ranjang berpindah ke tepi tempat tidur, ia mengusap pucuk kepala Ayana penuh kasih sayang, sambil mengingat pesan terakhir Tuan Kimura untuk menjaga putrinya hingga ia datang, namun sayangnya pria tua itu tidak akan pernah lagi datang.


"Jangan berusaha mengingat jika itu menyiksamu, tak ada yang perlu kau ingat dari masa lalu, kau ,aku dan Ibu hanya akan fokus kemasa depan, faham?"


Ayana mengangguk dan tersenyum sambil menatap Adam Lee, betapa beruntungnya ia memiliki seorang saudara yang sangat memperdulikannya, maka jika itu adalah keinginan Adam makan Ayana tak akan berusaha mengingat Daniel meski pria itu adalah bagian dari masa lalunya.


.


.


.


Setelah berkonsultasi dengan beberapa orang kosneksinya, akhirnya Calvin menemukan sebuah penginapan yang cocok untuk Daniel di desa tempat Ayana tinggal, itu sebenarnya sebuah gedung tua yang sejajar dengan toko Ayana, namun dalam sekejap Mata Calvin sudah mengubahnya menjadi hunian yang sederhana diluar namun mewah didalam, Daniel memutuskan tinggal disana sambil mengamati keseharian Ayana, ia kini berada di titik pasrah, asal setiap hari bisa melihat Ayana ia sudah puas, sambil menunggu ingatan Ayana pulih entah itu satu, dua, atau bahkan 10 tahun Daniel akan tetap menunggunya disana.


"Kalian pernah melihat ototnya? Akhhhh aku melihatnya kemarin saat ia berdiri dibalik jendela kaca" timpal siswa lainnya.


"Pria bule memang lebih macho"


Ayana hanya bisa nyengir kuda mendengar pembicaraan anak anak yang usianya masih 17 tahun itu, ia bisa menebak pria yang dimaksud pasti Daniel, Ayana juga sudah melihatnya sendiri pria itu sudah pindah didesa ini beberapa hari yang lalu, untuk itu Adam Lee selalu mewanti wanti agar Ayana tidak terlalu dekat dengannya, bahkan Adam Lee akan melakukan VidCall setiap jam dari kantornya hanya untuk memastikan tidak ada Daniel disekitar Ayana.


Tak lama kemudian yang dibicarakan muncul, yah Daniel memutuskan menyapa Ayana dengan kedok membeli beberapa botol Soju alkohol khas negeri gingseng itu, ia nampak santai saat berjalan masuk kedalam mini market.


"Selamat...datang" sapa Ayana pelan, saat melihat Daniel masuk, wanita itu menelan saliva mengamati setiap yang melekat pada tubuh pria itu.


Tampan! Gumamnya dalam hati, ia tak habis fikir bagaimana dimasa lalu ia menolak pria dengan sejuta pesona itu. Setidaknya itulah yang dikatakan Adam kakaknya.


Melihat Daniel berjalan ke rak minuman sontak ketiga siswi perempuan itu berteriak histeris dan mendekati Daniel.

__ADS_1


"Oppa ani ahjussi chinhaejil su issda? " (kakak ah bukan paman, boleh berkenalan) ujar salah satu siswi genit sambil mengulurkan tangannya. tak ingin mengcewakan Daniel terpaksa menyambut uluran tangan gadis itu meski tak paham apa yang gadis itu katakan, namun sebelumnya ia sempat menoleh kearah Ayana yang menatapnya tidak suka dengan senyum miring.


"Ahjussi dangsin-eun imi yeoja chinguga issseubnida" (Paman apa kau sudah punya pacar?) salah satu siwa kembali menimpali pertanyaan, yang membuat Daniel menggaruk tengkuknya yang tidak gatal ia bingung harus menjawab apa, mana ia tidak membawa ponsel untuk menggunakan Google translate.


Ketiga siswi itu pun frustasi, mereka lalu menarik tangan Daniel kehadapan Ayana.


tiga orang siswi yang sudah menjadi langganan Ayana itupun memintanya untuk menerjemahkan apa yang mereka katakan kedalam bahasa inggris, Ayana terpaksa menuruti keinginan mereka, namun ketiganya harus menelan kekecewaan lantaran daniel mengatakan jika ia sudah memiliki seorang wanita yang begitu ia cintai, namun meski kecewa mereka tetap memgambil foto dengan Daniel dengan beberapa pose gadis itu bahkan tidak sungkan saat menggandeng mesra tangan Daniel, membuat Ayana hanya bisa mendesah pasrah saat diminta menjadi juru foto.


"Apa kau menikmatinya?" tanya Ayana jengah, sambil menghitung beberapa botol soju belanjaan Daniel.


"Kau cemburu?" Daniel berusaha mengulum senyuman, meski ingatan Ayana belum pulih, namun Daniel bisa melihat jika Ayana tengah cemburu, ia tahu betul bagaiamana tabiat wanita itu.


"Cemburu? Aku bahkan menolakmu dimasa lalu Tuan" Tukas Ayana, ia tidak terima dengan tudingan Daniel,wanita itu mengerucutkan bibir pinknya dengan perasaan kesal. Membuat Daniel menelan salivanya, gemas melihat bibir yang sudah setahun ini menyiksanya, ah entah sampai kapan ia harus menahan gejolak ini.


"Kau menolakku?" Daniel memicingkan matanya, ia tahu itu semua pasti karangan Adam Lee.


"Iya itu yang dikatakan Oppaku, tapi maaf aku tidak bisa mengingatnya, 23 tahun memoryku terhapus tak bersisa, mungkin......" Ayana menjeda kalimatnya, lalu kembali mengusap dadanya yang terasa sesak, " Mungkin aku pernah menyakitimu maafkan aku" Ayana mnundukkan kepala dalam, entah mengapa perasaannya berubah sendu dengan dada semakin sesak.


"Kau tidak mengingatnya pernah menyakitiku atau tidak?"


Ayana hanya mengangguk, ia lalu memberikan belanjaan Daniel. Pria itu bergeming lalu memutar masuk kedalam meja kasir.


"Apa kau ingin memastikannya?" sorot Mata Daniel begitu dalam.


"Apa?" tanya Ayana bingung.


"Ingatanmu!"


"Dengan cara apa?" Ayana kembali memegang dadanya, kali ini bukan hanya terasa penuh namun ada gemuruh kuat didalam sana.


Tanpa aba aba Daniel lalu menarik tengkuk Ayana dan mendaratkan sebuah ciuman lembut pada bibir pink Ayana.

__ADS_1


Seketika mata Ayana membola sempurna, namun anehnya ia tidak bisa menghindarinya. Ia justru membiarkan Daniel melakukan lumata* kecil nan lembutnya disana sampai akhirnya Ayana menutup mata dan larut dalam permainan bibir Daniel.


__ADS_2