
"Dasar ******!" Hardik Nyonya Bosley yang berjalan cepat menuju Paviliun Daniel, dibelakang Lohan tergopoh gopoh mengikuti langkah kaki Elizabet Bosley yang sangat panjang dan cepat, wanita tua itu tak berhenti, menghardik, mengumpat, dan memlngeluarkan semua isi kebun binatang melalui bibirnya yang biasa bertutur kata anggun dihadapan teman teman sosialitanya.
Emosi Nyonya Bosley sudah sampai pada puncaknya, ia merasa kecolongan dengan kelakuan Lauren yang secara langsung ikut mencoreng nama baik keluarga Bosley yang selama ini ia jaga.
"Jangan sampai media mengeluarkan berita jika putraku impoten dan tak bisa memuaskan istri mandulnya itu!" Nyonya Bosley meramas bergantian kedua tanganya dengan geram dan gigi yang saling bergemertak.
"Catat itu Lohan! minta semua orang kita untuk mencegah berita semacam itu keluar!"
"Baik Nyonya!"
Nyonya Bosley menghembuskan nafas gusar sebelum membuka pintu kamar Daniel, ia tahu pria itu masih ada didalam sana dan belum berangkat kekantor.
Saat tak menemukan Daniel, Nyonya wanita tua itu bergegas menuju walk in closet, dan mendapati Daniel disana tengah dipasangi jas oleh seorang pelayan wanita, dengan Adam Lee yang berdiri mematung disampingnya.
Tak ada gurat khawatir dan tersakiti akibat penghianat istrinya diwajah tegas pria 35 tahun itu.
"Kau sudah membacanya?" tanya Nyonya Bosley dengan nada kesal, ia menghampiri Daniel yang kini tengah merapikan sendiri dasinya.
"Kalian semua keluar!" Titah Nyonya Bosley pada ketiga orang yang bukan bagian dari keluarganya diruangan itu.
"Adam tetap disini!" ujar Daniel, yang seketika menghentikan langkah Adam Lee, sementara Lohan dan pelayan wanita yang membantu Daniel terus keluar.
"Adam Kau juga keluar! ada hal pribadi yang ingin aku diskusikan dengan Daniel"
"Baiklah nyonya" Adam Lee membungkuk memberi hormat, sebelum meninggalkan ibu dan anak itu, Daniel juga sudah tidak menghentikannya, Lagi pula ada hal penting yang ingin dilakukan Adam di paviliun utama.
"Ceraikan Lauren!"
"Baiklah bu" Jawab Daniel santai.
"Kau tidak sakit hati? dia istrimu dan kelakuannya seperti pelacu*"
"Dia istrimu Bu, Lauren menantu pilihanmu!" Tukas Daniel.
"Ah...terserahlah pokoknya ibu tidak mau tahu, kau harus menceraikannya, lagi pula ibu yakin keluarga Pettyfer tidak akan membela kelakuan dakjal anaknya. David dan ayahnya adalah orang dengan harga diri yang tinggi, ibu yakin ia sudah memutuskan hubungan dengan Lauren yang membuat malu keluarganya, sehingga kerja sama dengan Hotel mereka tidak akan berpengaruh bagi Bosley elektronik" Tutur Nyonya Bosley.
"Ibu akan segera mencarikanmu calon istri yang sepadan" Lanjut Nyonya tua itu lagi seraya melipat kedua tangannya didepan dada.
__ADS_1
Daniel menatap nyalang sang ibu yang seakan tak kapok mengulang kesalahan yang sama, padahal dulu ia begitu memuji Lauren karena sangat sepadan dengan keluarga mereka.
"Aku punya pilihan sendiri" ucap Daniel tegas.
"Pilihan sendiri?siapa? jangan bilang......"
"Tebakan ibu benar, dia Ayana!"
"Ah...tidak mungkin" Nyonya Bosley memegang belakang lehernya yang terasa menegang.
Daniel bergeming melihat drama ibunya karena ia tahu wanita itu sama sekali tidak memiliki riwayat tekanan darah tinggi.
"KAU GILA DANIEL!!!!" pekik nyonya Bosley.
"Bukankah ibu yang mengajarkanku menjadi gila! ini rencana ibu kan? Kau seharusnya membantuku"
Plak....sebuah tamparan mendarat sempurna diwajah Daniel, meski cukup keras tapi tidak cukup membuat Daniel berkedip, karena ia sudah siap dengan segala konsekuensi yang akan diterimanya.
"Daniel!! Ayana istri Daren bagaimana mungkin kau menikahi istri adikmu"
"heh...."Daniel tertawa miris ia tak percaya apa yang baru saja didengarnya.
"Kau ingin keluarga ini hancur?"
"Bukan aku bu, tapi ibu yang menginginkannya, maka dari itu jika ibu ingin melihat keluarga ini tetap utuh, ibu harus membantuku mendapatkan Ayana bagaimanapun caranya" Tukas Daniel.
.
.
.
"Anakku,...Daddy berangkat dulu ya..ingat jangan menyusahkan mommy ya" Daren berbicara dengan perut Ayana yang mulai nampak membesar diusia kehamilan enam bulan, yah sejak enam bulan ini Daren memperlakukan Ayana layaknya seorang ratu ia tak lagi menyinggung Barbara atau tidur dengan wanita lain, meski terkadang Dongkol karena Ayana menolak untuk melayaninya, tapi Daren masih bisa mengerti mengingat kondisi sang istri.
Ayana juga berusaha menikmati kehidupannya, walaupun Daren masih belum membolehkannya memberi kabar ke negara Asalnya, namun Ayana tidak terlalu memikirkannya, Toh dia dan Adam Lee sudah punya kode tersendiri. setiap 3 hari sekali Ayana akan meletakkan sapu tangan Adam Lee di sebuah pot bunga yang sangat rimbun di pojok tangga lantai 2 dan saat menemukan sapu tangannya Adam akan menyimpan ponselnya disana, saat sore dia mengantar Daniel ia akan kembali menemukan ponselnya ditempat semula itu artinya Ayana sudah selesai menggunakannya, begitu terus selama 6 bulan ini dan tak ada yang menyadari kelakuan mereka, meski Daren sedikit curiga dengan begitu patuhnya Ayana dengan larangannya yang hanya boleh berkeliaran di lantai dua keatas.Tapi karena pekerjaan yang begitu banyak ia tak sempat mengintrogasi sang istri mengapa ia begitu patuh.
Hari ini juga seperti itu, Ayana sudah menyimpan sapu tangan sebagai tanda agar Adam kembali menaruh ponselnya disana.
__ADS_1
"Kau akan kemana Daren?" tanya Ayana melihat asisten Daren mengeluarkan sebuah koper berukuran besar dari dalam walk in closet.
"Aku akan ke India selama beberapa hari, ada peresmian Bosley Ponsel disana sayangku" jawab Daren sambil mengecup pucuk kepala Ayana lembut, yang dibalas senyum sejuta arti dari istrinya itu.
Daren tiba dimeja makan duluan, tidak seperti biasanya ia tidak melihat sosok ibu yang biasanya mendahuluinya.
"Siapkan sarapan terbaik untuk istriku dikamarnya seperti biasa" titah Daren, pada seorang pelayan yang bergegas melaksanakan perintahnya, yah Ayana memang masih dalam kungkungan Daren dan tidak boleh ikut sarapan bersama keluarga.
"Oh iya dimana ibuku?"
"Nyonya sedang di paviliun Tuan Daniel" jawab salah seoarang pelayan yang berbaris rapi disisi meja makan.
Heh..Daren hanya tertawa kecil, ia yakin ibunya pasti sudah melihat kelakuan sang menantu pilihannya diartikel yang menggemparkan seluruh dunia itu.
"Bagaimana Ayana? apa dia pernah menggunakan telepon rumah?"tanya Daren seraya mengunyah sarapannya dengan tangan yang masih memotong daging diatas piring, pada kepala pelayan yang berdiri dihadapannya. Daren memang memberi tugas kepada setiap pelayan untuk mengawasi gerak gerik Ayana, karena ia sudah tidak menarus cctv lagi dikamar ia tak ingin Ayana tertekan dan berpengaruh pada bayi yang dikandungnya.
"Tidak Tuan, Nona ayana lebih banyak berdiam diri dikamarnya"
mendengar jawaban kepala pelayan Daren hanya mengangguk puas.
Selang beberapa waktu Daniel dan Adam Lee muncul, Daniel duduk dimeja makan sedangkan Adam Lee berdiri sejajar kepala Pelayan.
Pria 35 tahun itu tak lagi mencari keberadaan sang ibu yang tidak nampak dimeja makan karena ia tahu begitu keluar dari kamarnya tadi ibunya nampak sangat marah padanya, ia yakin butuh beberapa hari bagi ibunya untuk menenangkan diri.
"Kau akan menceraikan Lauren?" Tanya Daren penasaran.
"Heem"
"Aku dengar kau akan ke India, mengapa Asia selatan? padahal pasar di Asia Timur sedang bagus bagusnya!" Daniel mengalihkan pembicaraan, ia memang sedang malas membahas Istrinya itu.
Sebelum menjawab Daren terlebih dahulu menyudahi sarapannya lalu menyeka bibirnya dengan selembar serbet.
"Pasar Asia timur adalah pusat ponsel merk China dan Samsun*, akan susah bagi Bosley ponsel masuk kesana"
Daniel mengangguk setuju, dibawah kepemimpinan Daren, Bosley ponsel yang dulu dipandang sebelah mata kini bergerak menjadi salah satu perusahaan raksasa yang reputasinya sudah sebanding dengan Bosley Elektronik yang dipimpinnya.
"Berapa lama Kau di India?"
__ADS_1
"Entahlah mungkin sekitar 1 minggu" jawab Daren.
Daniel tengah menghitung berapa hari ia akan menghabiskan waktu bersama Ayana dan calon anaknya, ia menyinggung senyum smirk dibibirnya tak sabar ingin memeluk Istri adiknya itu, selama 6 bulan ini ia hanya bisa melihat Ayana di Balkon kamarnya, ia tahu wanita itu juga sudah memupuk rindunya selama ini kepadanya.