HIASAN RANJANG KAKAK IPAR

HIASAN RANJANG KAKAK IPAR
Ban 102


__ADS_3

Daniel memegang kedua pundak Ayana sambil tertunduk dalam dengan mata yang berkabut, beberapa kali ia terdengar mendesah penuh penyesalan. Membuat Ayana mengira jika suaminya mungkin tidak senang dengan kehamilannya atau kah pria itu sangat bahagia namun tidak tahu bagaimana cara menunjukkannya.


"Daniel...." Panggil Ayana.


Sontak Daniel menatap Ayana dengan mata yang memerah, ada air mata yang tertahan disana namun enggan untuk keluar.


"Bukankah kau meminum pil pencegahnya baby?"Tanya Daniel hati hati, ia tak ingin membuat istri yang paling ia cintai dengan sepenuh hati dan jiwanya itu tersinggung sedikitpun.


Ayana menatap sendu kearah Daniel, tak perlu menjawab karena ia yakin Daniel tahu kalau ia sudah berhenti meminumnya.


"Kau tidak senang dengan kehamilanku?" kali ini Ayana yakin tebakannya tidak salah, ia tak bisa melihat binaran yang dipancarkan dua manik Daniel dengan kabar bahagia ini.


Daniel memijit pelipisnya seraya tertawa miris, setelahnya ia kembali menangkup wajah mungil Ayana dan mengecup kedua mata istrinya yang mulai basah karena buliran air mata.


Daniel lalu kembali mendekap tubuh Ayana penuh rasa damba, ia benar benar tidak bisa melihat Ayana kembali merasakan rasa sakit, luka diwajahnya saja sudah membuat hatinya seperti teekoyak hingga tak berbentuk, ditambah lagi ia akan melewati masa persalinan yang kembali akan mengancam nyawanya.


"Aku aku....tidak bisa melihatmu menderita Ayana, mengandung dan melahirkan akan membuatmu merasa sakit"


"Hemmm?" Kini Ayana mendongakkan kepalanya, dan meberi sapuan lembut dirahang Daniel yang dipenuhi bulu bulu halus, "Mengapa kehamilan membuatku menderita? Aku bahagia bisa mengandung benih darimu lagi"


"Aku takut kehilanganmu Ayana,"


"Kau tidak akan kehilanganku sayang aku berjanji akan tertawa dan bahagia selama masa kehamilan, asalkan kau mau menemaniku melewatinya hemm"


Daniel masih belum menunjukkan kebahagiaannya hingga akhirnya Ayana terlelap didalam pelukannya, wanita itu lelah mengeluarkan segala bujuk rayu agar Daniel bisa berbahagia dan menerima kehamilannya.


.


.


Kabar kehamilan Ayana menjadi kebahagiaan terbesar bagi Nyonyà Bosley, jika Ayana berencana menghabiskan masa kehamilan dengan kembali ke Maldives, namun tidak bagi Nyonya Bosley, ia terang terangan menentang hal itu, ia memohon kepada Ayana agar menantunya itu mau tinggal setahun lagi sebelum kembali kepersembunyiannya.

__ADS_1


Setidaknya hingga cucu keduanya lahir.


Awalnya Ayana keberatan, bagaimana mungkin ia menghabiskan waktu lebih lama lagi di negara yang sama dimana Darren berpija, namun karena pada dasarnya Ayana adalah wanita berhati lembut dan tidak tega menolak permintaaan sang mertua yang juga pernah menyakiti hatinya akhirnya ia setuju saja.


Sementara Daniel begitu sangat Over dengan kehamilan Ayana kali ini, ia lebih lemah dibanding saat mengandung yang pertama kalinya, Ayana lebih mudah mual dan lelah hingga ia harus banyak beristirahat Daniel benar benar tidak tahan melihat penderitaan Ayana, apa lagi ia harus lebih banyak bermain solo demi kondisi Ayana dan sang calon buah hati.


"Ayana ayo gugurkan anak ini!" Ucap Daniel Pada Ayana yang kini tengah menikmati aroma tubuh Suaminya, Ayana begitu nyaman saat berada dalam dekapan Daniel.


Wanita berwajah pucat itu sontak mendongak dengan sorot mata sendu namun menyimpan Amarah. Ayana tak menyangka kalimat itu keluar dari bibir suaminya.


"Apa yang barusan kau katakan?" Kini bulir air mata Ayana sudah tak tertahankan, hati ibu mana yang tidak mencelos saat suaminya sendiri yang notabene ayah dari Janin dalam kandungannya memberikan saran sejahat itu.


"Aku menginginkanmu bukan sebagai istri yang mencetak anak, aku menginginkanmu sebagai pasangan hidup yang akan kubuat bahagia selama lamanya, aku tidak membutuhkan Anak Ayana, apalagi anak itu menyakitimu"


"Daniel!" Sentak Ayana, "Terima kasih sudah sangat mencintaiku, aku tak tahu bagaimana hidupku didunia ini jika tak ada dirimu, akupun sangat sangat mencintaimu, tapi bukan berarti kau bisa berfikiran egois seperti itu, itu Jahat Daniel" Ayana membawa tangan Daniel keatas perutnya yang masih rata.


"Apa kau tak bisa merasakannya? Didalam sini ada makhluk hidup yang hadir karena cinta kita yang sangat kuat, dia memiliki nyawa Daniel dia kelak akan menjadi bayi kecil yang lucu, tapi mengapa kau setega itu...." Ayana tak bisa bisa melanjutkan katakatanya, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya lalu menagis tersedu sedu.


"Maafkan aku Ayana, aku yang bodoh dan berfikiran sempit" Daniel sudah membawa kembali tubuh Ayana kedalam dekapannya, ia mengelus dan mengecup pucuk kepala istrinya itu hingga terlelap dengan mata yang sembap.


.


.


.


Hari minggu pagi yang sangat cerah, semua keluarga Bosley memutuskan untuk menghabiskan hari libur di paviliun saja karena hari ini Nyonya Bosley mengatakan akan mengundang seorang tamu penting untuk mengunjungi Kediamannya, ia adalah Pelukis yang sangat terkenal dengan karya karyanya dan memutuskan untuk menjadi bagian dari galery seni yang dikelola Nyonya Bosley.


Daniel dan Darren berkuda bersama dipagi hari, mereka berdiskusi ringan mengenai perusahaan dan performa kuda yang mereka tunggangi. Dulu mereka begitu dekat dan akrab, namun karena Ayana hubungan keduanya begitu dingin, kini mereka seperti memulai dari awal lagi. Meski rasanya ada sebuah batu sandungan bernama cinta yang menjadi penghalang diantara mereka.


Sementara di taman Ayana dan Georgina tertawa gembira melihat Ryuu yang antusias bermain dengan Cihuahua pemberian Daddy Darrennya, sesekali Ayana dan Georgina berdiri bersamaan untuk menolong Ryuu saat terjatuh karena mengejar anjing kecilnya.

__ADS_1


"Kau jangan terlalu banyak bergerak Ayana, tidak baik untuk kehamilan yang masih sangat muda" Georgina menarik tangan Ayana saat wanita itu berdiri dan hendak kembali membantu Ryuu.


"Duduklah, biar aku yang menjaga Ryuu, kau cukup melihatnya saja hemm" Bujuk Georgina dengan senyum yang merekah sempurna. Ia lalu mendudukkan Ayana pada sebuah kursi taman lalu mengelus perut rata Ayana.


"Terima kasih Georgi" timpal Ayana tulus.


setelah kembali membantu Ryuu Georgina duduk di debelah Ayana sambil mengamati putra mereka.


Ayana sangat menyukai Georgina begitupun sebaliknya, Ayana menemukan kasih sayang seorang kakak perempuan dari Georgina, dan Georgina merasa memiliki adik kecil yang harus ia lindungi dimasa kehamilannya.


Namun saat Ayana mengingat hal yang diminta Georgina dan belum bisa ia penuhi rasanya begitu sesak, padahal wanita itu benar benar mencurahkan kasih sayang yang tulus untuk dirinya.


"Ada apa Ayana?"tanya georgina seraya menatap wajah Ayana yang tiba tiba berubah sendu.


"Georgina, maafkan aku" ucap Ayana pilu


"Hei kenapa kau meminta maaf?" Georgina merangkul bahu Ayana sementara satu tangannya membelai rambut Ayana lalu menyelipkannya di daun telingan ibu muda satu anak itu.


Perhatian Georgina terkadang membuat Ayana geram jika mengingat Darren yang tega tak memperlakukannya sebagai istri yang sesungguhnya. Padahal wanita itu sangat sempurna dengan perangainya yang dewasa dan penyayang.


"Aku merasa bersalah, karena diriku Darren....."


"Sudahlah, aku akan berusaha sendiri, jika aku tahu hal itu justru membebanimu aku tak akan memberitahu mu saat dirumah sakit, harusnya aku yang merasa bersalah Ayana, padahal aku tidak tahu sedalam apa luka yang ditorehkan Darren namun dengan entengnya aku memintamu memaafkannya" jelas Georgina, kini iapun berwajah sendu.


Mereka berdua menghela nafas berat bersamaan.


"Aku akan berusaha Georgina, tunggulah sedikit lagi, karena sesungguhnya aku masih dalam proses menata perasaanku"


Senyum Georgina mengembang, mendengar penuturan Ayana, walau ia merasa sangat Egois, namun sebagai seorang Istri Georgina tidak tahan setiap kali menatap wajah Darren hanya ada rasa bersalah yang ia temukan disana.


"Terima kasih Ayana dan maafkan aku" Georgina memeluk Ayana, " oh iya bukankah Ibu meminta kita menyambut tamunya nanti siang, ayo masuk sepertinya sebentar lagi"

__ADS_1


__ADS_2