
Ayana membuka keran dan mengambil sedikit air ditelapak tangannya guna membasuh wajah sendunya yang nampak tak bersemangat.
sebuah senyuman simpul berusaha ia singgung didepan cermin, menatap wajahnya sendiri yang kini sudah menjadi seorang ibu.
Ibu
Ibu
Berulang kali ia mengulang kata itu dibenaknya, hingga membuatnya menitikkan air mata yang disamarkan dengan tetesan air yang masih menggenang diwajahnya.
Tak lama berselang seorang perawat keluar dari bilik toilet menuju wastafel, ia berdiri tepat disamping Ayana sambil membasuh tangannya.
Seorang pasien muda diatas kursi roda menarik perhatiannya, wajahnya masih terlihat basah dengan percikan air, perawat tersebut lalu mengambil selembar tisu dan memberikannya kepada Ayana dengan ramah.
"Silahkan"
"Terima kasih" ucap Ayana lemah namun masih berusaha menyinggung sebuah senyuman.
Kemudian seorang perawat lagi kembali keluar dari bilik, ia menyapa rekannya dengan sebuah tepukan dipundak dan melakukan hal yang sama yakni membasuh tangannya.
"Oh iya kau sudah dengar, menantu Bosley sudah sadar" ucap salah satu membuka percakapan.
Kabar mengenai Ayana yang dirawat dirumah sakit itu memang sudah menyebar di seantero rumah sakit.
"Benarkah? oh Poor " timpal perawat satunya dengan menampakkan riak wajah sedih.
Mereka adalah perawat dari departemen Bedah sehingga sama sekali tak mengenali Ayana yang teronggok diatas kursi roda tepat disampingnya.
Ayana yang merasa dibicarakan hanya bisa mengusap wajahnya dengan tisu sambil tertunduk. ia hendak menggerakkan kursi rodanya keluar saat salah satu perawat tersebut kembali membahas dirinya.
"Harusnya ia sadar tiga hari yang lalu, setidaknya ia masih bisa melihat wajah kedua orang tuanya untuk terakhir kali"
Glek.
Ayana menelan saliva kasar, ia mendongakkan kepala dan mengamati dua wanita disampingnya yang sibuk menata ulang riasan wajahnya, kemudian memegang dadanya yang terasa sesak.
"Tapi keluarga Bosley sudah melakukan yang terbaik, mereka bahkan mengadakan upacara pemakaman yang mewah untuk besannya"
"Hufht....padahal pesawatnya berhasil mendarat darurat namun korban jiwa masih belum bisa dicegah"
Apa arti semua ini?
Pemakaman?
Melihat wajah orang tuaku yang terakhir kali?
__ADS_1
Pesawat mendarat darurat?
Ayana meramas bajunya dibagian dada ia merasa ada bongkahan batu yang seakan mencegat nafasnya untuk keluar, kata kata terakhir dari sang ayah tiba tiba saja menggema dikepalanya.
Ayah akan menjemputmu!
Dari arah luar, melihat pasiennya seperti tidak baik baik saja perawat tersebut segera menghampiri Ayana dan memutar kursi rodanya.
"Nyonya....anda tidak apa apa??" tanya perawat Ayana Cemas.
Sementara dua orang perawat yang tadi juga ikut nimbrung.
"Nona..."
"Nona..."
Sepertinya dia butuh oksigen usul salah seorang perawat yang tadi membicarakan orang tua Ayana tanpa tahu jika merekalah penyebab semua ini.
Perawat yang bertugas menjaga Ayana itu segera membawa Ayana yang terlihat terus menunduk sambil memegang dadanya itu keluar dan kembali keruangannya.
.
.
.
Daniel sibuk memimpin rapat, sedangkan Daren yang duduk tak jauh dari Daniel hanya menatap kosong kearah depan.
Tak lama kemudian asisten pribadi Daren masuk dengan tergesa-gesa dan membisikkan sesuatu di telinga atasannya, beberapa menit yang lalu ia memang menerima telepon dari rumah sakit yang mengabarkan mengenai Ayana yang sudah siuman.
Daren Sontak berdiri dan tanpa sepatah katapun ia berlari dan meninggalkan ruangan rapat.
Daniel yang melihat itupun terlonjak, difikirannya adalah kemungkinan Ayana yang sudah sadar atau malah semakin memburuk, ia pun ikut keluar mengikuti Langkah Daren yang sudah tidak nampak dipelupuk matanya. Meninggalkan para peserta rapat yang saling bertukar pandangan bingung dengan kelakuan dua orang petinggi Bosley group itu.
Daniel mengemudikan mobilnya sendiri dengan kecepatan penuh menuju rumah sakit, membelah jalanan ramai kota Los Angeles.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" geram Dokter Obgyn pada salah satu perawat yang bertugas menjaga Ayana, wanita itu hanya bisa tertunduk di samping Ayana yang sudah setengah duduk diatas tempat tidurnya dan terlihat berusaha mengatur nafasnya, matanya berkabut dengan warna merah saga berusaha mencerna apa yang baru saja didengarnya.
"Nyonya Daren Bosley, saya akan memeriksa anda"
Brukk....
Ayana menepis tangan dokter yang ingin menempelkan stetoskop didadanya hingga benda itu terjatuh dilantai.
"Ti..vi..aku ingin melihat Tivi...tidak tidak...ponsel...berikan ponsel mu padaku" ucap Ayana dengan suara dan tubuh bergetar.
"Nyonya...anda harus tenang"
__ADS_1
"PONSEL!!!" Teriak Ayana gusar.
Dokter Obgyn yang mulai memahami kondisi Ayana mendekati tubuh wanita itu dan masih berusaha menenangkannya. Sambil melirik tajam kearah perawat, dokter itu bisa menebak jika Ayana sepertinya sudah mengetahui kondisi orang tuanya. Padahal keluarga Bosley meminta dengan sangat agar jangan sampai Ayana mengetahuinya.
Perawat yang ditatap tajam itu hanya bisa mengelengkan kepalanya, karena ia pun tak tahu apa apa.
Brak.....
Pintu dibuka dengan kasar, Daren segera menghambur masuk dan memeluk tubuh Ayana yang masih berontak.
"Baby...Ayana, tenangkan dirimu!" Daren mendekap tubuh Ayana yang masih menggeliat dalam kungkungannya sambil menghujami pucuk kepala Ayana dengan ciuman bertubu tubi.
"Daren....aku harus melihat berita, aku tidak akan percaya sampai melihatnya sendiri" ujar Ayana.
"Tidak sayang jangan seperti ini " Air mata Daren pun ikut Luruh, ia sadar Ayana mungkin sudah mengetahui segalanya.
"Lepaskan aku!!" Ayana semakin berontak, tubuh yang tadinya lemah tiba tiba saja bisa mendorong Daren sehingga hampir terjatuh.
Brak!
Untuk yang kedua kalinya pintu ruangan tersebut dibuka dengan kasar.
Daniel masuk disusul Adam Lee, yang sengaja mengikuti mobil Daniel tadi.
"Daniel!!" Panggil Ayana lirih.
Melihat Daniel mendekati istrinya Daren tak bisa mencegah, tungkainya serasa melemah menyadari Ayana yang kemungkinan akan sangat membencinya.
"Jangan mendekat!!" cegah Ayana pada Daniel yang ingin memeluknya.
Akhirnya pria itu beringsut, mundur perlahan sambil mengangkat kedua tangannya.
Ayana kembali merasa sesak didada saat hendak kembali bertanya, "Aku mendengar seseorang di toilet membicarakan mengenai kedua orang tuaku yang sudah tiada, apa pesawat? Pemakaman? Apa maksudnya? Jelaskan!!!? " Teriak Ayana tak karuan.
Melihat kedua pria dihadapannya bergeming dengan wajah seakan takut membuat Ayana bisa menebak jika semua yang didengarnya benar adanya.
"Daren" Ayana memukul dadanya kuat, "Aku yang bersalah disini! Aku yang melakukan dosa besar! Aku yang hampir membunuh anakku! Aku yang melukai kalian semua! Aku yang wanita murahan dan hina! Kenapa?? Kenapa tuhan menghukum orang tuaku! Hah?, Arghhhhmmmm" Tangisan Ayana semakin terdengar pilu dan menyayat hati, semua yang berada diruangann itu hanya bisa terdiam dan ikut menitikkan air mata, menyaksikan betapa sakit derita yang dirasakan seorang anak yang kehilangan kedua orang tuanya bahkan disaat ia tidak bisa membuka mata.
Mendengar jeritan Ayana Daren hanya bisa berlutut pasrah dengan berderai air mata.
Sementara di dekat pintu Adam membuang pandangannya tak tega melihat kondisi Ayana yang memilukan.
Sementara Daniel kembali mencoba mendekap tubuh Ayana yang bergetar hebat karena isakannya. Kali ini tidak ada penolakan dari wanita itu.
"Maafkan Aku Ayana" Bisik Daniel
"Harusnya aku yang mati!" Jerit Ayana kuat, membuat Daniel semakin mempererat pelukannya.
__ADS_1
Ayana masih berusaha melepaskan pelukan Daniel namun pria itu tidak membiarkannya hingga akhirnya tekanan demi tekanan yang menghujam tubuh Ayana membawanya kembali kealam bawah sadarnya, tubuhnya terkulai lemah didalam dekapan pria yang sudah memberinya seorang putra itu.