
Daren mengantar kembali Ayana ke apartemenya dan membiarkan gadis itu menikmati waktu sendiri yang diinginkannya.
Ayana merebahkan tubuh diatas ranjang dengan semua tumpukan paper bag di samping kiri dan kananya, semua ini membuatnya semakin bingung gaun atau dress apa yang harus ia kenakan besok.
Ayana meraih ponsel dari dalam tas kecilnya dan melakukan panggilan ke jepang,
tut...
tut...
"Mosi mosi...Ayana chan...."
"Iya ibu...apa kabar?"
"Ibu baik baik saja, bagaimana pekerjaanmu?" beberapa waktu lalu Ayana sudah memberitahu ibunya jika ia sudah diangkat menjadi karyawan tetap, untuk itu ibunya menyerah dengan segala bujuk rayunya untuk membuat putri semata wayangnya itu kembali secepatnya ke Jepang, ia memutuskan untuk menunggu 2 atau 3 tahun lagi, biarkan ia menikmati pekerjaannya dan mengundurkan diri ketika pengalaman yang ia dapat sudah mumpuni.
"Pekerjaanku baik baik saja bu hemmm ibu....."
"Suaramu terdengar hendak mengatakan sesuatu, ada apa sayangku?"
"Ibu bagaimana jika seseorang melamarku?"
"Melamarmu??....." sejenak hanya ada keheningan, ibu diseberang panggilan terdengar mendesah sementara Ayana menggigit kukunya gugup, "Jangan bercanda dengan ibumu yang sudah tua ini Ayana..".
"Aku tidak bercanda ibu"
__ADS_1
" Ayana..Apa ia orang Amerika"
"Heem..."
Hufhf........ibu Ayana menghela nafas panjang dan berat, sudah cukup lama ia terpisah dari putrinya yang hanya pulang ketika libur semester, kini ia bahkan mengijinkannya tinggal lebih lama lagi, lalu sekarang? menikahi pria bule? apa anak itu benar benar ingin menetap disana dan hanya akan menjadikan tanah airnya sebagai tempat liburan?.
"Ayana chan....! kau tak ingin melihat ayah dan ibumu menua? sebentar lagi ibu dan ayah akan pensiun, ibu ingin melihatmu dan anak anak mu tumbuh di Osaka, bukan di negeri orang. kecuali jika suami mu kelak mau ikut bersamamu !"
"I...bu....." Ayana sedikit merengek, orang yang akan ia nikahi bukanlah orang yang bisa diajak pindah sesuka hatinya, kakinya terikat dengan sebuah tanggung jawab besar.
"Baiklah coba ceritakan mengenai pria yang berani beraninya melamar putri cantik ibu"Ibu Ayana terdengar meluluh, hati ibu mana yang bisa acuh dengan keinginan anaknya.
"Bu...ia adalah pria yang baik yang pernah aku kenal selain ayah, sangat baik , ia bahkan bisa menerimaku yang seperti ini dan mengerti keadaanku"
"Heh...kau terdengar seperti sudah mengenal banyak pria, yang ibu tahu kau sangat pemalu jika bertemu pria. Dan lagi menerimamu? keadaanmu? apa yang tidak bisa diterima dari putri ibu, kau cantik dan baik, dan kita bukan keluarga dengan keadaan yang menghawatirkan, mengapa kau merasa begitu rendah diri sayangku?"
"Kenapa kau kembali?" Ayana bangun dari tudurnya dan duduk di tepi ranjang dan sedikit menjauhkan ponsel dari wajahnya.
"Ayana...Ayana..." panggil ibunya diseberang telepon karena tak lagi mendengar suara putrinya.
"Apa itu orang tuamu?" Tanya Daren, Ayana mengangguk membenarkan, " Biarkan aku bicara" Daren membuka telapaknya dan meminta ponsel Ayana, namun gadis itu enggan tuk memberikan.
"Please....aku akan menyelesaikan semuanya untukmu Baby..." ucap Daren meyakinkan, kali ini Ayana menuruti permintaan Daren dan membiarkan pria itu berbicara dengan ibunya.
"Kon'nichiwa mama, hanasu no wa daren desu" (Halo mama ini Daren yang berbicara ) ucap Daren dengan bahasa Jepang yang Fasih, sejak mengenal Ayana Daren memang berusaha keras mempelajarinya.
__ADS_1
"Gunakan bahasa inggris, ibuku memahaminya!" Seru Ayana setengah berbisik seraya mengulum senyuman melihat betapa serius kekasihnya itu.
"Oh..okay, ibu...aku adalah kekasih Ayana Daren Bosley"
"Oh..iya Aku ibu Ayana, Nanami kimura, apa kabar?"
Dua orang yang baru saling berbincang itu terdengar begitu akrab, Daren sangat pandai mengambil hati nyonya Kimura dengan memuji caranya membesarkan Ayana sehingga tumbuh menjadi gadis cantik dengan perangai sempurna, tentu saja wanita tua disebarang telepon itu merasa tersanjung, lama berbincang perlahan ibu Ayana mulai merasa jika Daren adalah pria yang tepat bagi Ayana dan putrinya yang pemalu itu beruntung mendapatkan Daren, akan tetapi kekawatiran Nyonya Kimura tidak selesai sampai disitu, ia masih berharap jika setelah menikah Ayana Dan Daren bisa menetap di Osaka, Jepang.
Daren terlihat menunduk dan mulai berfikir, hingga akhirnya ia tahu apa yang harus dilakukan.
"Ibu aku akan mengirim pesawat pribadi ke Jepang satu jam lagi," Daren lalu melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, ia bisa menghitung pesawat itu akan tiba pukul 7 esok pagi dan 7 jam kemudian orang tua Ayana akan berada di Amerika tepat saat pertunangan akan dilangsungkan.
Nyonya Bosley terdengar gelagapan menanggapi Ajakan Daren hingga tak tahu harus menjawab apa, pesawat pribadi? apa benar kekasih Ayana orang yang sanggup melakukan hal itu? namin dengan segala bujuk rayu dan kelihaian Daren nyonya Kimura menyetujuinya dan akan berangkat ke Amerika besok pagi bersama ayah Ayana.
...****...
Daniel, menyesap rokoknya dalam sambil menikmati suasana malam dari atas balkon kamarnya, ia duduk disebuah kursi dengan dua kaleng bir kosong yang sudah terkulai diatas meja dihadapannya. mengingat wajah Ayana Dan Daren membuatnya ingin melewati malam ini dalam ketidak sadaran di dalam pengaruh alkohol.
Tak lama kemudian ponselnya bergetar, ia menerima sebuah pesan dari Madrid, beberapa foto dan sebuah pesan teks Aku sudah menyelesaikan tugasku tuan, hubungi aku lagi jika membutuhkan bantuan.
Daren mendesah tak percaya, bukan soal fotonya! karena sudah lama ia menduga jika hal seperti ini pasti akan terjadi, tapi ia merasa usahanya sudah sia sia, saat malam pertamanya bersama Ayana di Maldives ia memang meminta bantuan seorang detektif di Madrid untuk mencari kesalahan yang mungkin saja diperbuat Lauren, ia ingin mencari celah agar bisa dengan mudah menceraikan wanita itu dan menikahi Ayana, tapi kini semuanya sudah terlambat.
"Dasar wanita ******!" umpat Daniel melihat foto Lauren yang tengah mencium bibir seorang pria yang ia tahu adalah model perusahaannya, sementara foto lain memperlihatkan mereka yang hendak masuk kedalam kamar hotel sambil saling merangkuk mesra.
Daniel menaruh kembali ponselnya dengan gusar, entah mengapa ia lebih cemburu melihat Ayana dan Daren ketimbang Lauren dan pria lain.
__ADS_1
Dikepalanya hanya dipenuhi wajah wanita itu tatkala ia tersenyum, murung, takut semua berpadu menjadi racun yang siap merusak otaknya, Daniel merasakan nafas dan Jantungnya semakin cepat, pengaruh alkohol yang tidak seberapa itu berhasil menstimulasi fikirannya jika ia harus bertemu Ayana malam ini juga.