
Happy Reading....
Melihat Kania sudah memasuki lift Ras berbalik menuju ke ruangannya untuk mengambil kunci mobilnya yang tertinggal di mejanya.
Dia menatap Ayu yang masih dengan santainya berdiam diri di ruangan itu setelah menyaksikan perdebatan antara Ras dan Kania.
Ras menatapnya dengan tajam, seandainya saja Ayu itu adalah pria mungkin saat ini Ras sudah memukulinya habis-habisan karena sudah menjadi penyebab dia dan Kania ribut seperti ini.
"Aku tidak akan pernah melepaskan mu, camkan itu!"
Setelah mengatakan itu Ras pergi dari ruangan itu untuk menyusul Kania yang sudah pergi, sedangkan Ayu, menatap punggung Ras dengan memasang wajah acuh dan mengusap air matanya dengan kasar.
Sementara itu Kania yang sudah sampai di lantai dasar langsung melanjutkan langkahnya menuju ke mobilnya yang dipakainya tadi saat ke sini.
Dia tidak memperdulikan tatapan heran dari pengunjung atau pegawai di Hotel itu karena dia berjalan dengan cepat sambil menangis, dia hanya ingin segera pergi dari sini.
Kania langsung masuk ke mobilnya yang sedang menunggunya di depan lobby dan meminta sopirnya untuk menjalankan mobilnya pergi dari sana.
Selama di dalam mobil Kania menangis, dia merasa kecewa terhadap Ras yang berbohong padanya, dia juga dengan apa yang telah dikatakannya pada Ras tadi.
Dia kembali memikirkan tentang perkataannya yang meminta pisah dari Ras, bagaimana kalau Ras benar-benar meninggalkannya.
Dia merasa labil saat ini, dia tidak ingin pisah dengan Ras. tapi, dia juga tidak bisa menerima kalau Ras benar-benar berselingkuh dan sampai membuat wanita lain hamil.
Dia tidak mungkin mau dimadu tapi dia juga tidak mungkin membiarkan Ras lepas dari tanggung jawabnya kalau anak yang dikandung sekretarisnya itu adalah anaknya Ras.
Kania menyandarkan punggungnya di sandaran jok mobil, dia memijat pelipisnya yang terasa berdenyut sambil bertanya-tanya dalam hati kenapa Ras melakukan itu? apakah benar Ras melakukan hali itu? di belakangnya.
'Jadi ini alasan kenapa akhir-akhir ini aku merasa tidak tenang,' kata hatinya.
Kania tiba-tiba teringat kejadian sekitar satu bulan yang lalu, dimana Ras pulang sangat larut dan sikap aneh Ras belakangan ini, membayangkan Ras tidur dengan wanita lain membuat hati Kania terasa berdenyut nyeri.
"Pak, anterin aku ke rumah Daddy ya," kata Kania pada sang Sopir.
"Baik Nona," kata Sopir itu nurut.
Kania memilih pergi ke rumah mertuanya untuk bercerita pada mertuanya terlebih dahulu, dia tidak ingin pulang ke rumah saat perasaannya kacau seperti ini, dia juga tidak ingin pulang ke rumah orang tuanya karena mereka pasti khawatir, apalagi papanya bisa membuat masalah tambah rumit karena papanya pasti tidak akan tinggal diam kalau sampai tau masalah ini.
Masalah ini belum pasti kebenarannya, Kania tidak ingin ambil resiko saat masalahnya belum pasti, jadi dia memutuskan untuk pergi ke rumah mertuanya terlebih dahulu untuk menenangkan dirinya di sana.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, akhirnya mobilnya pun sampai di rumah Adelia dan Vano. Penjaga rumah itu membukakan gerbang rumah itu setelah melihat mobilnya datang.
__ADS_1
Kania turun dari mobil tanpa bicara apapun lagi pada sopirnya. Dia ingin segera berbicara dengan mertuanya untuk membuat perasaannya lebih tenang.
"Non Kania," sapa salah satu pelayan di rumah itu saat membukakan pintu untuk Kania.
Pelayan itu sempat heran saat melihat penampilan Kania yang tidak terlihat baik-baik saja, dia yakin Kania habis menangis karena pipinya masih terlihat basah oleh sisa-sisa air matanya.
"Mom, ada di rumah gak Bu?" tanya Kania dengan suara serak pada pelayan itu.
"Ada Non, nyonya lagi di ruang keluarga sama non Tisha dan bayinya," jawab pelayan itu.
Kania langsung menuju ke ruang keluarga menemui mertuanya, di ruang keluarga Adelia sedang berbincang dengan Tisha yang terlihat sedang menyusui anaknya.
Tisha memang sudah melahirkan seminggu yang lalu dan dia melahirkan seorang anak perempuan.
"Kania kamu kenapa?" tanya Adelia yang melihat kedatangan Kania dan melihat kondisi Kania yang tidak baik-baik saja.
"Mom." Kania langsung menjatuhkan dirinya di sofa tepat di samping Adelia dan langsung memeluk Adelia dengan erat.
Kania menangis di pelukan Adelia untuk melampiaskan kesedihannya terlebih dahulu untuk membuat hatinya tenang.
Adelia dan Tisha saling bertatapan bingung dengan apa yang terjadi pada Kania karena mereka baru kali ini melihat Kania sampai nangis seperti itu di depan mereka.
Adelia tidak bertanya dulu, dia membiarkan Kania menumpahkan kesedihannya dulu hingga Kania merasa tenang, Adelia mengusap punggung Kania dengan penuh kasih sayang.
Adelia tidak membedakan kasih sayang baik untuk anak-anaknya atau pun kedua menantunya, dia menyayangi anak dan menantunya dengan sama rata.
Setelah puas menumpahkan air matanya, Kania mulai melepas pelukannya dari Adelia dan memberikan jarak antara mereka, dia menatap Adelia dan mengusap pipinya yang basah karena air mata itu dengan tangannya.
"Jadi ada masalah apa? apa Ras melakukan kesalahan sampai kamu seperti ini, dia nyakitin kamu?" tanya Adelia menatap Kania dengan khawatir.
"Kania bingung mau cerita ke siapa Mom. Kania juga tidak bisa menahannya sendiri masalah ini," kata Kania dengan sisa tangisnya.
"Apa yang Ras lakukan sama kamu?" tanya Adelia semakin khawatir, dia khawatir anaknya menyakiti Kania.
Kania menghela napasnya terlebih dulu, setelah dirasa sudah cukup tenang barulah dia mulai menceritakan semuanya, apa yang terjadi di Hotel.
Dia menceritakannya secara rinci tanpa ada yang kurang atau lebih. Adelia mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Kania dengan serius.
"Terus sekarang apa yang kamu inginkan? apa kamu benar-benar ingin hubungan kalian berakhir?" tanya Adelia dengan hati-hati.
Mendengar pertanyaan itu tentu saja Kania menggelengkan kepalanya, meskipun tadi dia mengatakan ingin berpisah dengan Ras, itu hanya di mulutnya saja, perkataan itu keluar tanpa dia pikirkan dulu.
__ADS_1
"Kania nyesel bilang gitu sama Ras tadi. tapi, juga Kania gak tau harus gimana kalau benar anak itu adalah anaknya Ras," kata Kania sambil menangis lagi.
Rasanya baru kali ini dia menangis karena suatu hal sampai segitunya, biasanya kalau dia lagi sedih dia selalu bisa mengontrol kembali emosinya. tapi, sekarang dia sulit mengendalikan emosinya itu.
"Apa kamu yakin kalau Ras mengkhianati kamu dan anak itu adalah anak Ras?" tanya Adela sambil mengusap lengan Kania.
"Aku gak yakin Mom. tapi, sebulan yang lalu Ras sempat pulang hampir subuh dan sikap Ras jadi aneh semenjak kejadian itu, seolah ada yang Ras sembunyikan dari Kania," cerita Kania.
"Aneh gimana?" tanya Adelia.
Kania akhirnya menceritakan kembali semuanya apa yang terjadi selama sebulan terakhir ini, bagaimana sikap Ras dan Ayu juga tentang kecurigaannya pada mereka.
"Kania tadi sebenarnya berharap kalau Ras membantah hal itu, kalau seandainya Ras mengatakan dengan yakin kalau dia tidak melakukan hal itu di belakang Kania dan bilang dengan tegas kalau anak itu bukan anaknya Kania pasti akan mempercayainya. tapi, melihat Ras tidak membantah saat Kania bertanya membuat Kania kecewa," jelas Kania menatap Adelia.
"Ya udah kalau gitu kamu tenangkan saja dulu dirimu di sini, setelah kamu sudah merasa baikan dan benar-benar tenang kamu bisa bicarakan lagi dengan Ras tentang masalah ini dari hati ke hati," kata Adelia menenangkan Kania
"Bolehkah Kania di sini dulu sampai kania merasa baikan? Kania tidak berani pulang ke rumah karena takut masalah ini semakin runyam kalau Papa tau tentang masalah yang belum jelas ini," kata Kania.
"Tentu saja kamu boleh tinggal di sini dulu sampai kamu tenang, ini juga adalah rumah kamu," kata Adelia dengan tersenyum dan mengusap ujung kepala Kania.
"Terima kasih Mom," kata Kania memeluk Adelia.
Dia merasa beruntung memiliki mertua yang super pengertian padanya dan bisa dijadikannya tempat bercerita seperti ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1