Istri Tercinta Tuan Muda

Istri Tercinta Tuan Muda
Iden dan Bella.


__ADS_3

Happy Reading....


Iden sedang dalam perjalanan menuju ke sebuah restoran untuk bertemu dengan Bella Dokter muda yang hampir ditabraknya beberapa bulan yang lalu dan yang merawatnya saat di rumah sakit.


Dia saat ini pergi dengan sopir tidak menjalankan mobilnya sendiri karena kakinya masih terasa sedikit ngilu meskipun dia sudah bisa berjalan dengan baik dan normal.


Mobilnya pun sudah sampai di pelataran Restoran tempatnya membuat janji untuk bertemu dengan Bella, sebelum turun dia merapikan dulu penampilannya.


Iden turun dari mobil dan langsung memasuki Restoran itu, dia menanyakan meja atas nama Bella kepada pelayan di Restoran itu.


"Maaf lama, tadi sedikit macet," kata Iden saat duduk di depan Bella yang sedang memainkan ponselnya.


"Gak pa-pa kok, aku juga belum lama di sini, ini minumanku aja baru datang," jawab Bella tersenyum pada Iden dan menyimpan ponselnya di atas meja.


"Jadi mau cerita apa nih?" tanya Bella pada Iden.


"Kita pesan dulu ya, aku lapar sebenarnya," kata Iden terkekeh.


"Baiklah."


Iden memanggil pelayan dan menyebutkan makanan yang ingin dimakannya begitupun dengan Bella pada pelayan.


"Silakan ditunggu Tuan, Nona," kata pelayan itu saat Iden sudah selesai menyebutkan pesanannya.


"Iya," jawab Bella tersenyum ramah.


Iden melihat Bella dengan seksama wajah yang tirus dengan dagu yang kecil, mata yang kecil dengan bulu mata yang lentik dan lesung pipi dari kedua sisinya yang selalu hadir saat dia tersenyum menambah kesan manis.


Bella juga terlihat dewasa dan pembawaannya yang kalem dan selalu nyambung saat diajak ngobrol oleh Iden, karena asik memandangi Bella sambil melamun, Iden sampai tidak sadar jika Bella sudah memanggilnya beberapa kali.


"Eh iya, maaf tadi aku melamun," kata Iden saat sudah tersadar dari mengagumi Bella.


"Jadi apa yang mau kamu ceritain?" tanya Bella dengan serius dan sesekali menyesap minumannya.


"Ini masalah adikku," kata Iden dengan nada yang sedih.


"Kenapa adik kamu? ada masalah apa, sepertinya masalah yang lumayan rumit, melihat dari tampang mu yang seperti itu." kata Bella.


"Iya cukup rumit, kamu tau gak, ternyata yang menjebak adikku yang satunya dengan pacarku adalah adikku yang satunya lagi," cerita Iden.


"Tunggu, sebenarnya kamu punya adik berapa sih?" tanya Bella yang tidak paham arah perkataan Iden itu.


"Aku punya adik tiga. tapi, bukan adik yang lahir dari Momku, mereka anak Aunty aku tapi aku sudah menganggap mereka adikku sendiri," jelas Iden.


"Oh iya, sekarang aku paham, terus gimana lanjutan ceritanya tadi?" tanya Bella dengan menganggukkan kepalanya paham.


"Jadi ternyata adikku yang bernama Ras itu yang telah menjebak kakaknya yang bernama Ray dengan pacarku," jelas Iden sambil menghela napas.

__ADS_1


"Wah berani juga ya, adikmu itu melakukan hal yang ekstrim seperti itu, apa alasan dia melakukan semua itu?" tanya Bella penasaran.


"Sebenarnya waktu kejadian itu, Ray akan menikah. mungkin Ras ingin menggagalkan pernikahan Ray dengan cara itu."


"dan caranya berhasil, dia menggagalkan pernikahan itu dan dia menikahi wanita yang seharusnya menjadi kakak iparnya," tebak Bella dianggukki oleh Iden.


"Ras sepertinya sudah menyimpan perasaan terhadap istrinya itu sejak lama," kata Iden.


"Inilah alasan kenapa aku tidak mau mengenal yang namanya cinta," kata Bella sambil terkekeh.


"Kenapa?" tanya Iden menatap Bella dengan seksama.


Bella tidak langsung menjawabnya karena pesanan mereka telah datang dia baru mulai bicara lagi saat pelayan sudah selesai menyimpan makanan mereka.


"Karena cinta terkadang merugikan diri kita sendiri dan banyak orang, contohnya adik kamu itu, karena cintanya pada wanita itu dia melakukan hal yang menyakiti saudaranya sendiri," Kata bella sambil mulai memakan makanannya.


"Gak semua cinta seperti itu, tergantung pada orang seperti apa cinta itu hadir," jawab Iden sambil memakan makanannya juga.


Bella hanya mengangkat bahunya acuh dan melanjutkan makannya, setelah makanan mereka habis barulah Bella memulai lagi percakapannya.


"Jadi apa rencanamu sekarang?" tanya Bella.


"Maksudnya?" Iden malah balik bertanya karena kurang paham maksud pertanyaan Bella.


"Iya, rencana kamu setelah tau kebenarannya, apa kamu akan meminta adikmu yang dijebak itu untuk menceraikan istrinya," kata Bella.


"Kenapa aku harus melakukan hal itu?" tanya Iden bingung.


"Aku tidak akan melakukan hal itu, aku tidak mungkin menghancurkan rumah tangga adikku sendiri," kata Iden.


"Bukankah kamu masih mencintai mantan kamu itu, atau kamu sudah gak mau padanya karena bekas adikmu," kata Bella mengangkat sebelah alisnya.


"Dia bukan barang, gak ada kata bekas untuk manusia," jawab Iden.


"Kirain kamu nganggepnya gitu," kata Bella terkekeh karena melihat wajah Iden yang serius.


"Aku memang sangat mencintainya. tapi, itu dulu. dengan seiring berjalannya waktu perasaan itu hilang dengan sendirinya dan sekarang aku hanya menganggapnya sebagai adik iparku tidak lebih."


"Secepat itu, bukankah kamu hampir mati kecelakaan karena dia dan sekarang rasanya sulit dipercaya kalau kamu melupakan perasaan kamu padanya secepat itu," kata Bella dengan nada meledek, tidak percaya.


"Mungkin karena perlahan ada seseorang yang tanpa permisi masuk ke hatiku, seseorang yang tidak pernah terduga," kata Iden tersenyum manis dengan pandangan lurus menatap Bella.


"Ohoo siapakah orang itu?" tanya Bella menaik turunkan alisnya menggoda Iden yang terlihat salah tingkah.


"Aku juga belum memastikan perasaanku yang sesungguhnya," kata Iden terkekeh.


"Cepatlah bertindak sebelum keduluan orang lain lagi," kata Bella santai dan menghabiskan minumannya yang masih tersisa di gelasnya.

__ADS_1


"Jika saatnya tiba aku akan langsung mengatakannya pada orang itu," kata Iden menatap Bella yang sedang melihat ke arah lain dengan serius.


Ya ... wanita yang dia sukai saat ini adalah Bella entah kenapa beberapa kali bertemu saat dia sakit dia merasakan sesuatu yang beda saat bersama dengan Bella.


Awalnya dia mengira jika perasaan itu muncul karena dia baru saja patah hati sehingga dia bisa merasa nyaman saat bersama dengan Bella. tapi, semakin ke sini dia semakin merasa nyaman saat berhadapan dan saling bercerita dengan Bella.


"Oh iya, kenapa tadi kamu bilang kalau kamu tidak mau mengenal cinta? apa sebelumnya kamu pernah kecewa atau disakiti oleh pria hingga kamu bicara seperti itu," kata Iden membuat perhatian Bella yang semula ke arah lain teralihkan padanya.


"Apa itu pertanyaan yang harus aku jawab?" Bella malah balik bertanya pada Iden.


"Ayolah, sekarang giliran kamu yang bercerita tentang kamu dan kehidupan kamu, setiap kita bertemu selalu aku yang bercerita, kini giliran kamu yang bercerita," kata Iden.


"Aku tidak pernah menjalin hubungan dengan lelaki manapun karena seperti yang aku bilang tadi aku tidak pernah ingin mengenal yang namanya cinta."


"Alasannya?" tanya Iden penasaran.


"Kenapa kamu pengen tau banget tentang hal itu?" tanya Bella heran.


Iden diam beberapa saat mencari jawaban yang pas, dia tidak mungkin bilang jika dia ingin tahu tentang itu agar dia bisa tahu gimana cara deketin Bella.


"Hanya penasaran saja," jawab Iden berusaha bersikap sesantai mungkin.


"Aku hanya sering melihat aja banyak orang patah hati atau melakukan hal yang tidak masuk akal hanya karena satu kata itu, contohnya kamu dan saudara kamu itu, kamu hampir mati karena patah hati, itu penyebabnya apa? cinta. dan saudara kamu rela melakukan hal yang menyakiti saudaranya sendiri, itu juga karena satu alasan yaitu yang namanya cinta itu," kata Bella bicara dengan lues seperti tidak ada yang ditutupi.


Iden menatap tak percaya pada Bella dia merasa bukan itu alasan yang sebenarnya, kenapa Bella sampai berkata dia tidak mau mengenal yang namanya cinta itu.


"Apa yang akan kamu lakukan jika ada pria yang menyukaimu?" tanya Iden.


"Aku akan memintanya untuk melupakan perasaannya itu dan aku akan menjauh darinya," kata Bella terus terang.


"Apa kamu akan tetap sendiri seperti ini selamanya," kata Iden menatap Bella.


"Ya, aku lebih nyaman seperti ini," jawab Bella santai.


Iden tidak bicara lagi hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pulang karena hari telah larut.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2