
Happy Reading....
Kania dan Ras sudah hampir dua minggu berada di Kyoto Jepang. sudah hampir semua tempat mereka datangi.
Dari mulai beberapa kuil terkenal di sana yang memiliki sejarah, tempat wisata yang menyajikan pemandangan yang asri dan tempat-tempat yang berada di tengah kota itu sendiri.
Malam ini adalah malam terakhir mereka berada di sana karena besok mereka akan pulang ke tanah air, Kania sudah puas berada di sana hampir dua minggu dia juga puas berkeliling di sana seperti keinginannya.
Saat ini mereka sedang berada di menara Kyoto, salah satu landmark ikonik kota Kyoto. Menara Kyoto setinggi 131m berlokasi tepat di depan Stasiun Kyoto. Dari ruang observatorium di ketinggian 100m di atas langit, Di sana jiga kita bisa menikmati panorama kota Kyoto yang begitu spektakuler.
"Sudah puas jalan-jalannya?" tanya Ras pada Kania yang sedang menikmati pemandangan kota itu dari ketinggian.
"Sudah, aku tidak akan penasaran lagi sekarang," kata Kania tersenyum kepada Ras.
"Syukurlah kalau kamu merasa puas, sekarang sebaiknya kita pergi dari sini, pengunjung lainnya juga sudah mulai pergi, tempat ini pasti akan segera tutup," kata Ras merapikan rambut Kania yang menghalangi wajahnya.
"Baiklah, kita juga harus istirahat besok kita sudah harus pulang," kata Kania dengan menganggukkan kepalanya.
"Apa kamu tidak ingin pergi ke tempat lain lagi?" tanya Ras.
"Tidak aku sudah merindukan keluarga kita," kata Kania melingkarkan tangannya di lengan Ras.
"Baiklah lain kali kita akan berjalan-jalan lagi kalau perlu kita keliling dunia," kata Ras mengusap ujung kepala Kania.
Kania menganggukkan kepalanya, mereka pun berjalan untuk pergi dari tempat itu.
Ras dan Kania memasuki mobil Hotel tempatnya menginap yang disewanya.
"Ras kita makan malam di Restoran Hotel aja ya, jangan di kamar terus bosen," kata Kania saat mobil mereka telah berhenti di depan pintu masuk Hotel itu.
"Iya ayo," kata Ras turun dari mobilnya dan menyerahkan kunci mobilnya ke security yanga berjaga di sana.
Kania dan Ras berjalan dengan beriringan, Ras seperti biasa, dia melingkarkan tangannya di pinggang Kania dan Kania melingkarkan tangannya di lengan Kania.
Semenjak berada di sana sikap Kania jadi semakin baik pada Ras, dia juga selalu bersikap dan berprilaku layaknya pasangan lainnya dan Ras senang dengan hal itu.
Dia senang karena dengan adanya bulan madu ini hubungannya dan Kania jadi semakin dekat, dia juga bisa melihat jika Kania sudah mulai memiliki sebuah perasaan padanya.
Mereka telah sampai di Restoran yang berada di Hotel tempatnya menginap, Restoran di Hotel itu lebih privat karena Restoran itu hanya khusus untuk pengunjung Hotel.
Di Restoran itu juga menyediakan makanan yang halal jadi tidak heran banyak orang yang muslim memilih menginap di hotel itu.
Ras memanggil pelayan di sana dan menyebutkan menu makanan yang ingin dia dan Kania makan.
"Kan, apa kamu akan percaya jika aku mengatakan kalau aku sudah menyukaimu sejak lama lebih dari yang kamu bayangkan?" tanya Ras menatap Kania dengan tatapan serius.
__ADS_1
Dia menggenggam tangan Kania yang berada di atas meja, Kania menatap Ras dengan alis mengerut karena tidak percaya dengan perkataan Ras.
"Maksudnya?" tanya Kania heran.
"Iya aku sudah menyukaimu sejak lama dan sekarang aku benar-benar ingin berterus terang jika aku benar-benar mencintaimu, aku tidak perduli saat ini apakah kamu sudah mencintaiku atau belum bagiku asal kamu berada di sampingku itu sudah lebih cukup," kata Ras.
Mendengar perkataan Ras dadanya bergetar karena detakannya yang semakin meningkat, dia bahkan bisa mendengar detak jantung sendiri lebih keras dari biasanya.
Kania menatap Ras dengan seksama dia sebenarnya ingin mengatakan jika saat ini dia juga sudah mencintai Ras. tapi, entah kenapa bibirnya seakan susah untuk terbuka.
Entah kenapa dia tidak bisa mengeluarkan suaranya yang dia lakukan hanyalah menatap Ras tanpa berkedip.
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan, aku mengatakan itu karena aku ingin kamu tau jika aku mencintaimu dan aku tidak ingin berpisah denganmu meskipun hanya sebentar saja," kata Ras mengusap tangan Kania dan tersenyum kepada Kania.
"Ras sebenarnya aku juga...." perkataan Kania terpotong karena makanan mereka sudah datang.
"Sudah jangan terlalu dipikirkan dan jangan merasa terbebani aku mengatakan hal itu hanya ingin kamu tau tentang perasaanku yang sebenarnya, aku tidak menuntutmu untuk mencintaiku juga sekarang, aku hanya ingin minta satu hal darimu bisakah kamu tetap berada di sisiku?" tanya Ras dengan tatapan lembut, menatap dalam netra Kania yang jernih berwarna hijau keemasan itu.
Kania tidak mengeluarkan suaranya lagi dia hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pernyataan Ras itu.
"Sekarang makanlah kita harus segera istirahat," kata Ras yang masih tersenyum.
Kania menganggukkan kepalanya lagi dan mereka pun memulai makan malamnya dengan tenang.
Setelah makanan mereka habis, mereka memutuskan untuk segera ke kamar mereka dan istirahat.
'Apa kamu baik-baik saja?' tanya Kania berbicara dengan bahasa Inggris.
Kania membungkukkan badannya dan mengulurkan tangannya bermaksud untuk membantu anak itu berdiri.
Anak laki-laki itu tidak berbicara dan tidak menerima uluran tangan Kania, dia hanya menatap Kania dengan mata yang mengedip beberapa kali.
Kania merasa gemas dengan anak itu, anak itu sangat tampan dengan pipinya yang cubhi dan pupil mata yang kecil.
"Sepertinya dia tidak mengerti apa yang kamu katakan," kata Ras yang berdiri di samping Kania.
Tak berselang lama ada seorang wanita yang usianya seusia Kania berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke anak itu.
Wanita itu memanggil anak itu dan membantunya berdiri, wanita itu melihat ke arah Kania dan Ras secara bergantian dan membungkukkan badannya sambil mengucapkan kata maaf kepada Kania.
'Tidak apa-apa, tadi dia terjatuh karena tidak sengaja menabrakku,' jawab Kania tersenyum ramah.
'Sekali lagi maafkan anak saya Nona,' kata si ibu wanita itu.
Anak itu terus menatap Kania dengan wajah polosnya dan Kania pun tersenyum kepada anak itu. tapi, anak itu langsung menyembunyikan tubuhnya di kaki ibunya.
__ADS_1
Kania terus menatap anak dan ibu yang semakin menjauh dari tempatnya berdiri.
"Anak itu lucu banget dan juga tampan," kata Kania melihat Ras.
"Anak kita nanti pasti akan lebih lucu dan lebih tampan dari anak itu, anak kita nanti akan jadi pria tertampan nomor satu di dunia," kata Ras.
Kania hanya memutar matanya malas mendengar perkataan Ras yang terlalu berlebihan menurutnya.
"Jangan berlebihan, ayo aku ingin segera istirahat," kata Kania masuk ke dalam lift terlebih dahulu.
"Aku gak berlebihan, aku jadi gak sabar ingin segera memiliki anak," kata Ras menatap Kania.
"Kita berdoa saja semoga dia segera hadir," jawab Kania menatap Ras dan tersenyum.
Ras pun ikut tersenyum dan menganggukkan kepalanya, mereka keluar dari lift saat liftnya sudah sampai di lantai kamar mereka.
Kania dan Ras memasuki kamar mereka dan membersihkan dirinya dengan bergantian terlebih dahulu, setelah itu mereka merebahkan tubuhnya di ranjang.
"Aku lupa belum membereskan barang-barang kita," kata Kania yang akan terlelap dan kembali membuka matanya saat, ingat jika dia belum membereskan barang-barang mereka.
Kania akan bangun lagi dan berencana membereskan barang-barang mereka terlebih dahulu sebelum tidur.
"Besok saja, besok aku bantuin kamu membereskannya, sekarang sudah malam istirahatlah, lagian besok juga kita penerbangannya siang, jadi masih banyak waktu," kata Ras menahan tubuh Kania yang akan bangun.
"Tapi...."
Ras langsung membungkam mulut Kania beberapa saat hingga akhirnya dia melepaskannya.
"Besok saja, kamu sudah terlihat lelah," kata Ras lagi.
Akhirnya Kania pun pasrah dia pun kembali merapatkan tubuhnya dengan tubuh Ras dan mulai menyembunyikan wajahnya di dada Ras.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....