
Happy Reading....
Di saat Ras dan Kania sedang menikmati makan malam mereka dan memulai hubungan mereka dan menerima satu sama lainnya.
Berbeda dengan di lain tempat pasangan yang dipersatukan oleh takdir tanpa mereka harapkan sedang merenung mengenang saat-saat bersama pasangan mereka sebelumnya.
Mereka adalah Ray dan Tisha, saat ini mereka sedang sama-sama merenungi nasib yang seolah tidak berpihak pada mereka.
Ras sedang duduk di kursi yang ada di balkon kamarnya sambil melihat foto Kania yang selalu di ambilnya diam-diam saat mereka bersama.
Dia menatap foto itu dengan sendu, seandainya waktu bisa di putar, mungkin saat itu dia tidak akan mau menghadiri acara itu meskipun adiknya merengek padanya.
Seandainya dia tidak datang pada saat itu mungkin kini dia sudah hidup bahagia bersama Kania.
"Kenapa harus seperti ini Tuhan, bukankah engkau tau seberapa besar rasa cintaku padanya, tapi kenapa? kenapa engkau menghadirkan masalah ini hingga aku tidak bisa bersamanya," gumamnya dengan lirih dan serak pertanda dia sedang benar-benar menahan rasa sakit di hatinya.
Saking seriusnya menatap wajah Kania di ponselnya dia tidak menyadari jika Adelia memasuki kamarnya dan sedang berdiri di belakangnya.
Mendapatkan usapan lembut di pundaknya, Ray langsung menengokkan kepalanya dan melihat Mom-nya yang sedang menatapnya dengan tatapan iba.
"Mom," katanya dengan suara pelan.
"Kamu masih menyimpan foto-fotonya?" tanya Adelia mendudukkan dirinya di kursi yang berhadapan dengan Ray.
Ray hanya menjawabnya dengan anggukkan kepala samar.
Adelia menghela napas dalam, dia bisa melihat kesedihan anaknya itu.
"Kamu harus melupakan perasaanmu itu Ray, perasaan itu hanya akan menyiksamu jika terus mempertahankannya," kata Adelia menatap Ray dengan serius.
"Ray gak bisa Mom, Ray gak bisa melupakannya begitu saja, perasaan Ray sudah terlanjur dalam padanya," kata Ray menatap mata Momnya dengan serius, dia menatap Adelia dengan tatapan mata terluka.
"Mom tau itu, tapi kamu harus ingat beberapa hari lagi pernikahan kamu dan Tisha, Mom tidak ingin anak-anak Mom menyakiti perasaan wanita," kata Adelia.
"Tapi Ray, gak bisa Mom, bagaimana kalau kita melihat dari rekaman CCTV Hotel, Ray yakin kalau Ray gak melakukan apapun Ray ingin menemukan pelaku yang sebenarnya," kata Ray.
Adelia kembali menghela napasnya dan menggenggam tangan Ray untuk menenangkan Ray.
"Mom sudah meminta Ras untuk memeriksa CCTV nya tapi dia mengatakan jika CCTV di Hotel sedang rusak dan tidak berfungsi," jelas Adelia.
"Kenapa bisa kebetulan seperti itu Mom," kata Ray heran.
__ADS_1
"Kata Ras CCTV di lantai itu sudah tidak berfungsi sejak seminggu sebelum kejadian itu karena jarang ada yang ke lantai itu Ras tidak langsung memperbaikinya," kata Adelia.
Ray menghela napas gusar dia menatap kosong ke sembarang arah.
"Mau tidak mau, siap tidak siap kamu harus menerima pernikahan ini dan kamu harus mulai membuka hati kamu untuk Tisha yang akan menjadi istrimu nanti, ingatlah, meskipun kamu merasa jika kamu tidak melakukan apapun pada Tisha, kalian tetap sudah tidur di ranjang yang sama tanpa pakaian, kalian pasti sudah saling menyentuh hal yang seharusnya tidak kalian sentuh, meskipun dalam keadaan sadar atau tidak," kata Adelia dengan tegas.
Dia tahu anaknya tidak bisa menerima semua ini tapi dia tidak ingin anaknya lepas dari tanggung jawab begitu saja.
Setelah mengatakan hal itu Adelia bangkit dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar Ray meninggalkan Ray dengan kesedihan di hatinya.
Sementara di sisi lain Tisha juga melakukan hal yang sama dengan Ray, setiap waktu di saat sendiri yang dilakukannya hanyalah menggeser-geser layar ponselnya yang memperlihatkan gambar dirinya dan Iden yang selalu bahagia.
Tisha menggeser layar ponselnya dengan air mata yang mengalir di pipinya dan kadang tersenyum saat layar menunjukkan pose lucu dirinya dan Iden.
Tisha dan Iden sudah menjalin hubungan dua tahun. lebih tepatnya saat dia kelas dua SMA sosok Iden yang penyayang dan selalu mementingkan orang lain apalagi adik-adiknya membuat Tisha mengaguminya secara diam-diam.
Dia tidak menyangka ternyata Iden memiliki perasaan yang sama padanya hingga akhirnya mereka menjalin hubungan.
Mereka tidak menyembunyikan hubungan itu dari keluarganya dan orang-orang terdekatnya dan semua orang mendukung hubungan mereka.
Dua tahun yang mereka lalui benar-benar terasa sangat indah, Iden tidak hanya jadi pacar tapi dia juga jadi kakak dan guru untuk Tisha.
Tisha dan Zani lebih sering meminta Iden untuk mengajari mereka belajar ketimbang meminta bantuan pada Ray apalagi Ras.
"Aku kangen Kak, aku tidak ingin seperti ini," tangis Tisha pecah saat dia ingat beberapa hari yang lalu Iden menemuinya.
...FLASHBACK...
"Kak, Tisha gak mau seperti ini," kata Tisha menatap Iden dengan sedih.
Saat ini mereka sedang duduk di bangku yang ada di taman tempat biasa mereka bersama entah untuk bersantai atau untuk belajar.
"Kamu harus menerimanya Tis, Kakak yakin Ray juga akan menerimanya dan akan menyayangimu lebih dari Kakak menyayangimu," kata Iden yang berusaha sekuat tenaga menahan kesedihan di hatinya agar tidak muncul ke permukaan dan membuat Tisha semakin sedih.
"Tisha sangat mencintai Kak Iden, Tisha gak mungkin menikah dengan Kak Ray," kata Tisha dengan air mata yang sudah mulai berjatuhan di pipinya.
"Sstttt kamu harus bisa melupakan perasaan itu Tis, hilangkan perasaan itu dalam hatimu dan coba buka hatimu untuk Ray," kata Iden mengusap kedua pipi Tisha dengan lembut.
Percayalah dia bicara seperti dengan hati yang terasa di remas oleh tangan tak kasat mata, sungguh sakit. tapi, dia harus tetap terlihat tegar.
"Sekarang kita pulang ya," ajak Iden sambil berdiri.
__ADS_1
Tisha pun berdiri dan mengikuti langkah Iden memasuki mobilnya, selama di perjalanan, baik Tisha maupun Iden hanya diam tidak ada yang membuka suaranya.
Iden menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang rumah Dimas, rumah yang hanya berjarak beberapa meter dari rumah Vano, rumah Dimas memeng berada di komplek yang sama dengan Vano.
"Turunlah, kamu harus istirahat," kata Iden berusaha tersenyum.
Tisha hanya menganggukkan kepalanya dan tanpa suara membuka mobilnya.
"Tis, mulai sekarang kamu harus menganggapku sebagai Kakakmu ya," kata Iden mengusap ujung kepala Tisha dengan lembut seperti yang biasa dia lakukan saat mereka habis pergi bersama.
Tisha menganggukkan kepalanya dengan air mata yang terus mengalir semakin deras di pipinya dan turun dari mobil Iden.
...FLASHBACK END...
"Aku gak mau kayak gini, aku gak bisa Kak," kata Tisha dengan tangisan yang semakin keras dia memukul-mukul dadanya untuk melampirkan kesedihannya.
Maira dan Dimas yang saat itu akan beristirahat kaget mendengar tangisan anak perempuan mereka, mereka bergegas menerobos masuk ke kamar Tisha dan menenangkan Tisha.
"Tenanglah Nak, jangan seperti ini," kata Maira ikut sedih dengan keadaan anaknya.
"Sha gak mau seperti ini Ma, Sha mencintai Kak Iden Sha gak mau menikah dengan Kak Ray, tolong Sha Ma, Pa, Sha gak mau," kata Tisha menatap Dimas dan Maira dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.
Maira dan Dimas tidak berkata apapun, Maira hanya memeluk anaknya dengan erat untuk menenangkan anaknya itu, mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
Tisha menumpahkan tangisannya di pelukan Mamanya dan Dimas mengusap punggung anaknya agar anaknya bisa lebih tenang.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1
Gimana sih pendapat kalian tentang cerita ini, berikan masukannya dong tentang cerita ini bila ada kekurangan agar aku bisa memperbaikinya lagi🤗
SELAMAT ISTIRAHAT SEMUANYA 😘