
Happy Reading....
Ras yang sedang melakukan pekerjaannya di ruang kerja, mengalihkan perhatiannya dari laptopnya ke arah pintu saat mendengar pintu ruangan itu terbuka. Keningnya mengerut saat melihat istrinya memasuki ruangan itu dengan wajah ngantuknya.
"Sayang kenapa bangun lagi?" tanya Ras sambil menatap istrinya yang sedang berjalan ke arahnya.
"Kamu gak ada di kamar jadi aku susul ke sini," jawab Kania sambil menguap.
"Aku masih memeriksa laporan dari anak buahku yang di New York, bentar lagi aku balik lagi ke kamar Yang," kata Ras.
"Ya udah aku tungguin kamu di sini aja," jawab Kania santai.
"Tapi kamu harus banyak istirahat Yang," kata Ras yang khawatir pada keadaan Kania yang belum sepenuhnya sembuh.
"Aku gak mau tidur sendiri, aku selalu mimpi buruk kalau di kamar sendiri," kata Kania dengan suara yang pelan dan menundukkan kepalanya seperti anak kecil yang takut dimarahi oleh ibunya karena melakukan kesalahan.
Ras akhirnya mengerti kenapa akhir-akhir ini Kania tidak pernah mau dia tinggal saat menjelang malam, saat mereka masih di rumah sakit dan kalau pun dia pergi untuk ke kamar mandi saat Kania sedang tidur, dia akan langsung bangun dan memanggil Ras.
"Baiklah kamu boleh nungguin aku di sini, aku tanggung sebentar lagi juga beres," kata Ras dengan nada yang lembut.
Dia mengerti kalau istrinya masih trauma dengan kejadian itu, istrinya terbiasa hidup dengan aman dijaga oleh mertuanya dan dia mendapatkan hal yang seperti itu, hampir dilecehkan pasti bukan hal yang mudah untuknya ditambah Kania tidak pernah dekat dengan pria lain selain keluarganya sebelumnya, rasa trauma itu pantas dia rasakan.
"Eum- itu, bolehkah aku duduk di sana?" tanya Kania dengan ragu menunjuk pangkuan Ras.
Ras menatap Kania yang langsung menundukkan kepalanya setelah mengatakan itu, dia hanya terkekeh dengan kelakuan istrinya yang malu-malu kucing itu.
"Tentu, aku milikmu kamu boleh melakukan apapun yang kamu mau padaku," kata Ras menarik tangan Kania dengan lembut.
Kania langsung menurut, tanpa menunggu lama lagi, dia langsung mendudukkan dirinya di pangkuan Ras dengan posisi menyamping dan melingkarkan tangannya di pinggang Ras, menenggelamkan wajahnya di dada Ras, menikmati aroma maskulin milik suaminya itu.
"Apakah ini berat Ras?" tanya Kania tanpa mengangkat wajahnya.
"Tidak sama sekali," jawab Ras sambil melanjutkan pekerjaannya.
"Baguslah," kata Kania semakin mengeratkan pelukannya.
"Asal jangan banyak bergerak aja Yang, takutnya ada yang terprovokasi kalau kamu banyak bergerak dengan posisi seperti itu," kata Ras lagi tanpa mengalihkan perhatiannya dari laptopnya.
"Siapa yang akan terprovokasi?" tanya Kania dia kemudian menatap Ras dengan bingung.
"Sesuatu yang kamu duduki itu, nanti dia terprovokasi kalau kamu banyak gerak," jawab sambil terkekeh.
Kania yang paham maksud Ras mencubit pinggang Ras hingga si empunya mengaduh kesakitan.
"Dasar omes," kata Kania mencebikkan bibirnya.
"Gak pa-pa omes juga sama istri sendiri ini," jawab Ras.
__ADS_1
"Masih lama gak?" tanya Kania.
"Bentar lagi. kalau mau tidur, kamu tidur duluan aja gih ke kamar."
"Gak mau, aku gak mau di kamar sendirian," kata Kania merajuk.
"Baiklah terserah Tuan putri saja, maunya gimana," kata Ras sambil menghirup wangi dari rambut Kania.
"Ras."
"Hmmmm."
"Rass."
"Iya Sayang," jawab Ras.
"Kamu mau aku buatkan minuman gak?" tanya Kania kembali mendongakkan kepalanya menatap Ras.
"Gak usah ini aku tinggal sedikit lagi," kata Ras.
Setelah itu Kania tidak berbicara lagi, dia memeluk Ras lagi dan memejamkan matanya sambil kembali menghirup aroma Ras.
Dia menikmati saat-saat berada di dekat Ras seperti ini, dia takut kejadian tempo hari terjadi lagi, dia ingin selalu berada di dekat Ras, memeluknya, menghirup aroma yang Ras miliki, dia ingin selalu seperti itu bersama Ras.
Saat Kania asik dengan lamunannya, Ras sudah selesai dengan pekerjaannya, dia mematikan dan menutup laptopnya.
"Aku bisa jalan Ras," kata Kania yang langsung melingkarkan tangannya di leher Ras.
"Tanggung, sekalian aja aku gendong sampai ke kamar."
Kania tidak bicara lagi, dia menatap Ras dengan seksama, melihat wajah Ras yang nyaris sempurna menurutnya.
"Aku tau aku memang tampan, tenang saja kamu bisa menikmati ketampananku ini sepuasnya seumur hidupmu," kata Ras mencubit hidung Kania hingga membuat Kania meringis.
Mereka telah sampai di kamar dan Ras sudah menidurkan Kania di ranjangnya.
"Sakit Ras," kata Kania dengan bibir mengerucut lucu, menurut Ras.
Ras langsung menciumnya dengan gemas dan sedikit bermain di sana jika saja Kania tidak segera menghentikan aksinya itu mungkin dia sudah kelepasan.
"Ras ingat kata Dokter aku belum benar-benar sembuh, kamu harus menahan diri," kata Kania membuat Ras menghela napas kecewa.
Dia sebenarnya sudah sangat merindukan istrinya itu, bayangkan saja sudah berapa lama dia tidak menjamah istrinya, terakhir kali dia menjamah istrinya saat dia akan pergi ke New York.
"Hampir saja aku kelepasan," kata Ras langsung memakai selimut dan menyelimuti Kania juga.
Kania yang tau Ras kecewa pun memeluk Ras untuk menenangkannya.
__ADS_1
"Saat nanti Dokter sudah mengatakan kalau kita sudah boleh melakukan itu, kamu bisa melakukannya sepuasnya." Hibur Kania membuat kekecewaan Ras menghilang.
"Benarkah, sepuasnya?" tanya Ras menatap Kania serius dengan mata yang berbinar.
"Iya, sepuasnya," kata Kania mengulum senyum.
Ras langsung mencium seluruh wajah Kania lagi dengan gemas dia kemudian memeluk Kania dengan erat. tapi, tetap lembut tidak menyakiti Kania.
"Baiklah aku akan sabar menunggu saat itu tiba, sekarang tidurlah udah malam," kata Ras.
"Iya selamat malam My King," kata Kania sambil menyembunyikan wajahnya karena malu telah memanggil Ras dengan panggilan sayangnya.
"Apa, apa, apa, katakan sekali lagi dong," kata Ras dengan antusias.
"My King," kata Kania seperti berbisik tapi masih terdengar jelas oleh Ras.
"Selamat malam juga My Quen," kata Ras sambil mencium ujung kepala Kania lagi.
Malam itu pun mereka tertidur dengan lelap dan saling memeluk tidak terlepas, seolah ada lem yang menjadi perekat tubuh mereka, inilah yang namanya selalu ada hikmah di balik kejadian yang menyedihkan.
Kejadian beberapa waktu lalu adalah jalan untuk membuat hubungan mereka menjadi lebih baik lagi, kejadian itu adalah cara agar Kania sadar jika dia sangat membutuhkan Ras di hidupnya, kejadian itu juga membuat dia sadar jika dia mencintai Ras.
Dia mencintai suaminya yang telah lebih dulu mencintainya, dia tidak lagi memikirkan ego atau memikirkan gengsinya untuk mengakui jika dia telah mencintai Ras sepenuhnya.
Harapan mereka berdua sama. sama-sama berharap cinta mereka akan terus tumbuh dan semakin kuat meskipun akan banyak cobaan yang menguji cinta mereka berdua kedepannya.
Mereka berharap agar mereka bisa tetap teguh saling bergandengan tangan melewati jalan kehidupan mereka berdua hingga tibalah waktunya hanya ajal lah yang memisahkan raga mereka dan cinta mereka tetap bertahta di hati mereka masing-masing.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung....
Para pembacanya semuanya boleh kasih kritikan dan saran ya, biar aku tau apa kekurangan ceritaku ini dan bisa memperbaikinya tapi degan bahasa yang sopan pastinya ya.😉
Makasih buat yang masih setia di sini Love buat kalian semua🥰😘
__ADS_1