
Happy Reading....
Kania dan Ras keluar dari kamar mandinya dengan bersama-sama dan langsung memakai pakaiannya, Kania lebih dulu keluar dari ruang ganti dengan baju santainya.
Dia mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil sambil membuka gorden dan melihat di luar, matahari sudah lumayan terik, wajar saja sekarang sudah jam sembilan, perutnya juga sudah berbunyi minta diisi.
Kania segera mengakhiri mengeringkan rambutnya dan menyimpan handuknya ke tempat penyimpanan handuk, saat sedang menyisir rambutnya, ponselnya yang ada di nakas samping tempat tidur berbunyi, dia melihat nomor papanya lah yang menelpon.
Kania langsung mengangkatnya dia mendengar suara papanya yayang terdengar sedang kesal saat menanyakan dia sedang di mana.
"Kania di rumah Pa, emangnya kenapa?" tanya Kania dengan alis mengerut.
'Apa, di rumah! ya ampun Kania kamu tau gak Papa sedang nungguin kamu sekarang dan kamu masih di rumah ... Kamu lupa hari ini kamu harus mewakili Papa meeting,' omel Kean, sedangkan Kania hanya mengerutkan keningnya bingung.
"Loh tadi 'kan Ras telpon Papa, untuk mintain ijin Kania," kata Kania.
'Minta ijin ke papa apa? suami kamu itu gak ada nelpon papa untuk minta ijin,' jawab Kean terdengar sambil mendengkus kesal.
Mendengar perkataan papanya Kania menatap Ras yang baru saja keluar dari ruang ganti dengan tatapan kesal, sedangkan Ras yang sempat mendengar perkataan Kania itu, dia langsung tau jika yang menelpon Kania adalah mertuanya.
Ras hanya memasang senyuman dengan menampilkan sederet giginya melihat tatapan kesal Kania, dia baru saja berniat akan mengirimkan pesan pada mertuanya tapi ternyata mertuanya keburu menghubungi Kania duluan.
"Iya maaf pa, terus sekarang gimana? Kania harus ke kantor aja gitu?" tanya Kania pada Kean.
'Tidak perlu, biar Papa suruh Nikko aja,' kata Kean setelah itu langsung mematikan telponnya.
Kania langsung menatap Ras lagi, Ras yang tau istrinya kesal pun mencoba mendekatinya untuk membujuknya.
"Apa! mau bicara apa kamu!" Belum juga Ras bicara, Kania sudah menyembur Ras dengan perkataan yang bernada ketus.
"Maaf Queen, aku gak bermaksud bohong beneran," kata Ras berdiri di depan Kania yang menyilangkan tangannya di dada.
"Gak bermaksud bohong. tapi, kamu udah bohong," kata Kania dengan ketus.
"Iya, iya, maaf deh, jangan marah ya, gimana kalau kita pergi sarapan yuk, perut aku udah keroncongan nih," kata Ras membujuk Kania.
"Ya udah aku juga lapar." Kania pergi dari kamarnya itu karena dia juga sudah lapar jadi dia melupakan kekesalannya.
"Selamat," gumam Ras dengan mengusap dadanya dan menghembuskan napas lega karena Kania tidak jadi marah.
Ras akhirnya mengikuti Kania ke meja makan untuk sarapan yang sudah kesiangan, mereka makan dengan tenang hingga mereka selesai makan.
"Kamu gak ada kerjakan apa King, tumben gak pergi ke Hotel?" tanya Kania disela-sela makannya.
__ADS_1
"Aku lagi gak mood pergi ke Hotel, aku mau sama kamu aja di rumah," jawab Ras tanpa menghentikan makannya.
"Terus tamu kamu yang dari luar negeri itu gimana?" tanya Kania.
"Aku sudah menyuruh anak buah ku untuk menanganinya, lagian hari ini kita gak akan membahas apapun dia juga mengatakan dia ingin bersantai. Jadi aku juga tidak mau mengganggunya," terang Ras membuat Kania hanya merespon dengan sebuah anggukkan kepala.
Setelah mereka selesai makan, mereka memutuskan untuk bersantai di ruang keluarga sambil nonton dan berbincang tentang banyak hal.
Akhir-akhir ini mereka memang agak sedikit jarang melakukan quality time seperti itu karena kesibukan mereka dengan pekerjaannya.
Mereka duduk di sofa dengan Ras yang tidak melepaskan tubuh Kania dari pelukannya, dia melingkarkan tangannya di pinggang Kania dan Kania menyimpan kepalanya di dada Ras.
"King," panggil Kania dengan tatapan matanya yang fokus pada layar tv di depannya.
"Apa," sahut Ras.
"Aku masih kepikiran tentang mimpiku itu," cerita Kania yang masih memfokuskan pandangannya ke tv.
"Itu hanya mimpi, jangan dipikirkan terus," kata Ras berusaha sesantai mungkin.
"Iya aku harap itu memang hanya mimpi saja, aku harap hubungan kita tidak diuji dengan kehadiran orang ketiga," kata Kania.
"Aku gak tau apa aku bisa bertahan atau tidak kalau seandainya sampai ada orang ketiga diantara kita, aku harap kamu juga tidak pernah berpikiran untuk membiarkan orang ketiga masuk diantara kita, kalau kamu memang tidak mencintaiku lagi kamu katakan dengan terus terang, agar aku bisa secara perlahan mundur, aku gak akan bisa menerima sebuah kebohongan," jelas Kania masih tanpa melihat Ras.
Dia berniat akan bicara pada sekretarisnya itu untuk tidak mengatakan apapun pada Kania, dia tidak ingin Kania salah paham saat mengetahui hal itu dan pergi darinya.
Biarkan dia egois lagi sekarang, dia mungkin tidak punya hati dan perasaan setelah melakukan hal itu pada perempuan lain dan dia tidak mau tanggung jawab.
Ya ... dia memang tidak punya hati untuk orang lain karena semenjak mengenal Kania hati dan perasaannya hanyalah milik Kania, dia tidak ada hati atau perasaan untuk orang lain lagi karena hati dan perasaannya telah dimiliki Kania, tidak akan bisa dia berikan pada orang lain lagi.
"Kenapa diam?" tanya Kania heran dia mendongak melihat wajah Ras.
"Tidak pa-pa aku hanya lagi mikirin pekerjaanku saja," jawab Ras tersenyum manis.
"Kalau kepikiran pekerjaan kenapa gak pergi kerja aja, kenapa sok-sok'an tidak pergi kerja," ketus Kania menjauhkan dirinya dari Ras.
"Iya deh iya, aku gak bakal mikirin pekerjaan lagi, aku hanya akan mikirin kamu aja gimana?" kata Ras terkekeh sambil menarik hidung Kania lagi dengan gemas. Dia selalu gemas saat istrinya itu merajuk seperti itu, itu terlihat lucu menurutnya.
"King sakit! ... kenapa sih kebiasaan banget suka narik-narik hidung aku semaunya saja," kata Kania mengusap hidungnya.
"Salahkan kamu sendiri yang buat aku gemas, jadi pengen makan kamu rasanya," kata Ras sambil mengusap hidung Kania yang merah.
"Queen kita ke kamar lagi yuk," kata Ras lagi dengan menatap Kania penuh maksud.
__ADS_1
"Kamu gak liat ini baru jam berapa, ini siang bolong King, jangan aneh-aneh deh," kata Kania memukul pelan tangan Ras yang masih mengusap hidungnya. Dia sudah tau maksud dari ajakan suaminya itu, melihat tatapan suaminya dia tahu jika tatapan itu adalah tatapan ketika Ras sedang menginginkannya.
"Apa salahnya sih Queen kalau ini siang," kata Ras masih menatap Kania.
"Tadi kita baru aja ngelakuin itu tadi," kata Kania.
"Kamu ingin cepat-cepat punya anak 'kan? siapa tau dengan kita lebih sering ngelakuin itu, kesempatan untuk jadinya juga banyak," bujuk Ras.
Kania menatap Ras dengan serius dia memikirkan apa yang Ras katakan itu, dia berpikir apa yang Ras katakan itu sepertinya ada benarnya juga.
Bukankah dia ingin segera memiliki anak, mungkin yang Ras katakan itu ada benarnya juga, semakin sering mereka melakukan itu mungkin akan semakin banyak juga peluang untuk dia cepat hamil.
"Baiklah ayo, gendong tapi ke kamarnya," kata Kania dengan manja.
Mendapatkan lampu hijau dari, Kania tentu saja Ras tidak menyia-nyiakannya karena takut Kania berubah pikiran lagi, dia langsung membawa Kania ke gendongannya.
Ras menggendong Kania seperti koala dengan Kania dan Ras saling berhadapan dan Kania melingkarkan kaki di pinggang Kania.
Ras berjalan dengan santai menuju ke kamarnya, di jam seperti itu rumahnya memang sepi karena para pelayan sedang beristirahat.
"Jangan ada yang menggangguku dan istriku, kalau ada yang mau menemui kami bilang saja aku dan istriku sedang istirahat tidabhan," kata Ras saat berpapasan dengan seorang pelayan.
"Baik Tuan muda," jawab pelayan itu dengan menundukkan kepalanya canggung melihat kedua majikannya itu.
Ras melanjutkan langkahnya menuju ke kamarnya dia ingin menghabiskan waktu seharian ini bersama dengan Kania tidak ingin diganggu oleh siapa pun.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1