Istri Tercinta Tuan Muda

Istri Tercinta Tuan Muda
Berkunjung.


__ADS_3

Happy Reading....


Sore harinya Kania dan Ras pergi ke rumah orang tua Kania, Kania berangkat bersama dengan Kean menggunakan mobil masing-masing. Sedangkan Ras akan berangkat dari Hotelnya.


Kania dan Kean sampai lebih dulu di rumahnya dan disambut oleh Kiran yang sudah merindukan Kania.


"Gimana kabarnya Kan?" tanya Kiran sambil memeluk Kania.


"Kania baik Ma, Mama sendiri gimana kabarnya?" tanya Kania membalas pelukan Kiran.


"Mama, baik-baik saja, sekarang kita masuk dulu, sambil nunggu suami kamu," kata Kiran langsung membawa Kania masuk, sedangkan Kean yang sedari tadi berdiri di depan pintu hanya menghela napasnya. karena Kiran sama sekali tidak menyambutnya dan menganggapnya tidak ada.


"Apa dia pikir aku ini makhluk halus apa, sampai tidak terlihat," gerutu Kean sambil memasuki rumahnya.


"Jangan mendumel seperti Pa, Papa kayak perempuan aja sensitif banget, Mama 'kan hanya merindukan Kakak. Jadi wajar kalau dia melupakan Papa," kata Kai yang tiba-tiba saja berada di belakangnya.


"Kamu dari mana?" tanya Kean pada anak bungsunya.


"Kai habis dari samping menikmati udara sore hari sambil bersantai di sana," jawab Kai.


Kean hanya menganggukkan kepalanya dan melanjutkan langkahnya menuju ke Kiran dan Kania.


"Ma, Kania mau mandi dan ganti baju dulu ya, gerah pakai baju kantor seperti ini," pamit Kania pada Kiran saat sudah berada di dekat tangga.


"Ya sudah cepatlah turun lagi sebelum waktu makan malamnya tiba," kata Kiran.


"Iya Ma, Kania gak akan lama kok," Kata Kania setelah itu dia menaiki tangga ke kamarnya.


"Pa, kamu gak mandi?" tanya Kiran heran karena melihat Kean masih berdiri di tidak jauh darinya.


"Kamu belum menyambutku sama sekali," kata Kean terdengar seperti sebuah rajukan. Sedangkan Kiran memutar matanya.


"Oh iya lupa," kata Kiran yang memasang senyuman kepada Kean, dia kemudian mengambil tangan Kean dan menciumnya.


Kean kemudian menciumnya kening Kiran.


"Sudah sekarang mandilah," kata Kiran sedikit mendorong tubuh Kean.


"Mandi bareng yuk," ajak Kean dengan menaik turunkan alisnya.


"Gak mau, aku mau membantu pelayan siapin makan malamnya," kata Kiran akan pergi dari sana.


"Ayolah Ran, udah lama loh kita gak mandi bareng," kata Kean lebih seperti rengekan, dia menahan tangan Kiran.


"Gak mau," jawab Kiran dengan tegas.


"Ayolah Ran," rengek Kean lagi.


"Pa hentikan! rengekan Papa itu terdengar sangat menggelikan dan gak pantes," kata Kai yang dari tadi duduk di sofa dan telinganya terasa gatel karena mendengar Papanya merengek seperti itu.


"Kamu ngapain dengerin obrolan Papa sama Mama kamu, gak sopan," kata Kean pada Kai.


"Papa gak nyadar sekarang bicara di mana," jawab Kai mendengkus.

__ADS_1


"Seharusnya kamu tutup telinga kamu biar kamu gak dengar apa-apa," kata Kean.


"Sudah, kamu itu sudah tua masih saja suka berdebat masalah hal sepele," kata Kiran pada Kean.


Kean memelototkan matanya pada Kiran karena Kiran sudah mengatakan hal yang paling di bencinya.


Dia bermaksud berbicara lagi pada Kiran. tapi, Ras datang menghentikan perdebatan yang tidak penting keluarga itu.


"Assalamu'alaikum Ma, Pa, Kai," sapa Ras berjalan menuju tempat mereka diantarkan pelayan.


"Ras kamu sudah datang," kata Kiran tersenyum mendekati Ras.


Ras menganggukkan kepalanya dan berniat menyalami tangan Kiran tapi, di tahan oleh Kean.


"Jangan bersalaman, bukankah minggu lalu kamu juga menyalami istriku. jadi sekarang kamu tidak perlu bersalaman lagi," kata Kean menarik pinggang Kiran dan melingkarkan tangannya di pinggang Kiran.


Kai menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Papanya itu, sedangkan Kiran menyikut perut Kean yang menurutnya terlalu berlebihan.


Ras hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis menanggapi kelakuan mertuanya itu.


"Sebaiknya kamu mandilah dulu di kamar Kania, kamu bisa memakai baju Kai dulu siapa tau baju Kai ada yang pas untukmu ... Kai kamu carilah bajumu untuk Kak Ras," kata Kiran Ras dan Kai menganggukkan kepalanya.


"Baiklah kalau gitu Ras mau mandi dulu Ma, Pa," pamit Ras.


"Iya, Mama tunggu kalian di meja makan," kata Kiran.


"Iya Ma," jawab Ras.


Saat Ras dan Kai sudah pergi, Kiran menjauhkan dirinya dari Kean dan menatap Kean dengan jengah.


"Mandilah Pa, kita harus makan malam," kata Kiran.


"Ayolah kita...."


"Tidak mau! cepat mandi sekarang!" kata Kiran memasang wajah galak.


"Iya, iya aku mandi," kata Kean pasrah dan berjalan menuju ke kamarnya.


Kiran menggelengkan kepalanya melihat kelakuan suaminya itu yang banyak tingkah.


"Dasar si tua banyak tingkah," gerutu Kiran.


"Aku mendengarnya Ran, aku belum tua, mau bukti hah!" kata Kean memutar kembali badannya melihat Kiran dengan tatapan tajam.


"Tidak, aku hanya asal bicara kamu mana ada tua, masih segar bugar gitu, sekarang sebaiknya kamu cepat mandi aku mau membantu pelayan siapin makan malam," kata Kiran sambil berjalan menuju dapur menjauh dari Kean.


Kean mendengkus kemudian melanjutkan langkahnya menuju ke kamarnya untuk mandi, dia selalu merasa jika dirinya belum tua meskipun memang dia sudah setengah abad tapi dia terlihat tidak jauh berbeda dari saat anak-anaknya masih kecil dulu.


Ras saat ini sedang berdiri di depan pintu kamar Kania, dia sedang menunggu adik iparnya untuk mengambilkan baju ganti untuknya.


"Kenapa kamu berdiri di situ?" tanya Kean yang akan ke kamarnya dan melihat Ras berdiri di depan pintu kamar Kania.


"Ras nunggu Kai ngambilin dulu baju ganti untuk Ras Pa," jawab Ras.

__ADS_1


Kean menganggukkan kepalanya dan kemudian memasuki kamarnya yang tidak jauh dari kamar Kania.


Kai keluar dari kamarnya dengan satu setel baju di tangannya.


"Ini Kak, baju ini belum Kai pakai karena Mama belinya kegedean, kayaknya di Kak Ras bakal cukup," kata Kai menyerahkan baju di tangannya.


"Terima kasih Kai," kata Ras tersenyum dan menerima baju dari Kai.


"Iya sama-sama Kak, kai mau balik lagi ke bawah ya," pamit Kai.


Ras menganggukkan kepalanya dan Kai pun pergi dari sana, setelah Kai pergi Ras memasuki kamar Kania.


Ras memperhatikan seluruh kamar itu, kamar yang didominasi warna putih itu lumayan luas dan terdapat peralatan yang lengkap di kamar itu.


Pintu kamar mandi terbuka, memperlihatkan Kania yang hanya memakai handuk yang panjangnya hanya setengah paha, keluar dari kamar mandi.


Ras memasang wajah datarnya melihat penampilan Kania itu, sedangkan Kania terlihat sangat kaget karena dia tidak mengira akan ada Ras di kamarnya.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Kania kaku dia memegang erat handuk di dadanya.


"Mau mandi," jawab Ras santai dia berjalan mendekati Kania membuat Kania semakin waspada dengan mempererat pegangan tangannya pada handuknya.


"Mau ngapain kamu?" tanya Kania menatap Ras dengan tajam.


Ras tidak menjawabnya dia hanya berjalan semakin mendekati Kania dengan ekspresi wajah yang susah ditebak.


"Jangan macam-macam ya Ras, aku akan teriak," kata Kania.


Ras mengerutkan keningnya dan terus melangkah semakin mendekati Kania, sedangkan Kania semakin kaku berdiri di tempatnya kakinya seolah susah untuk digerakkan.


"Menyingkirlah, kamu menghalangi jalanku, aku mau memakai kamar mandi ini untuk mandi," kata Ras dengan santainya sambil berdiri di depan Kania yang sedang memasang wajah kakunya.


Kania menggegerkan sedikit tubuhnya ke samping memberikan jalan untuk Ras agar dia bisa masuk ke kamar mandi.


Setelah Ras memasuki kamar mandi Kania merutuki dirinya yang sempat berpikiran macam-macam tentang Ras.


"Apa yang kamu pikirkan itu Kania, kamu gak sadar apa saat ini kamu berdiri di depan pintu kamar mandi, kamu menghalangi jalannya, dia berjalan untuk ke kamar mandi bukan untuk mendekatimu," gerutunya pada dirinya sendiri sambil berjalan menuju ke ruang ganti.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2