
Happy Reading....
Ray menatap Tisha yang saat ini sudah terlelap dengan keadaan tanpa sehelai benangpun di tubuhnya dan hanya ditutupi oleh selimut.
Dia sudah mengenakan pakaiannya dan sedang menatap Tisha, dia melihat noda yang ada di seprai tempat mereka melakukan hubungan suami istri barusan.
Itu artinya dia benar-benar tidak melakukan apapun saat itu, dia benar-benar telah dijebak, dia telah dibodohi oleh seseorang. tapi, kenapa? kenapa ada orang yang ingin menjebaknya.
Siapa yang menjebaknya disaat dia akan menikah dengan Kania, apa itu adalah orang yang membencinya atau membenci Kania?
Sepertinya jika itu orang yang membenci Kania, kecil kemungkinannya karena dia tahu jika Kania dari kecil tidak bebas bergaul jadi tidak mungkin orang yang tidak pernah bergaul seperti Kania memiliki musuh.
"Apa orang itu membenciku sehingga tidak ingin aku bahagia. tapi, siapa aku merasa aku tidak pernah punya musuh selama ini, apa Tisha yang melakukan hal itu? itu juga tidak mungkin karena dia sedang berpacaran dengan Kak Iden."
"Sepertinya aku harus mencari taunya, sial! kenapa di saat seperti itu CCTV di Hotel dalam keadaan tidak berfungsi bukankah itu terlalu kebetulan?" gumam Ray mengacak rambutnya frustasi.
Dia kemudian memejamkan matanya berusaha untuk tertidur, ada sedikit penyesalan dalam dirinya karena dia telah melakukan hal itu dengan Tisha yang ternyata belum pernah dia jamah sebelumnya.
Seandainya dulu dia melakukan tes dan semacamnya mungkin dia masih punya kesempatan untuk meluruskan kesalahan pahaman yang terjadi itu.
Sekarang dia sudah tidak punya pilihan lain selain melanjutkan rencananya tadi yaitu menerima pernikahan ini dengan sukarela.
Karena capek dengan pikirannya dia berusaha menghilangkan pikirannya itu hingga beberapa saat kemudian dia pun terlelap menyusul Tisha yang sudah lebih dahulu tidur.
Tisha menggerakkan tubuhnya dan membuka matanya dia melihat jam di nakas samping tempat tidur sudah pagi.
Tisha mendudukkan dirinya dan sedetik kemudian dia meringis saat merasakan sakit di bagian intinya.
"Kenapa sakit banget, bukankah ini bukan yang pertama, semalam juga sangat sakit," gumamnya sedetik kemudian dia membelalakkan matanya saat menyadari sesuatu.
Dia membuka selimut dan melihat ada noda di seprai itu Artinya ini yang pertama untuknya berarti dulu tidak terjadi apapun diantara dia Ray.
Dia kemudian menangis karena ternyata keyakinannya itu benar, tidak terjadi apapun diantara dia dan Ray.
"Apa kamu menyesal setelah tahu semuanya?" tanya Ray yang sudah membuka matanya.
"Kenapa ada orang yang menjebak kita dengan begitu jahat, tidakkah di berpikir jika apa yang dia lakukan merugikan banyak orang dan menyakitkan banyak hati," kata Tisha dengan suara lirih dia menatap Ray dengan sedih.
"Kenapa kamu tidak mengatakan jika tidak terjadi apapun padamu saat itu," kata Ray menatap Tisha dengan serius.
"Aku sudah mencoba menjelaskannya. tapi, tidak ada yang mempercayainya, mereka lebih percaya dengan apa yang mereka lihat daripada penjelasan dariku," kata Tisha yang kembali menangis dengan lumayan kencang.
"Ssuuttt, diamlah kalau semua orang dengar kamu menangis seperti ini nanti dikira aku menyakitimu," kata Ray menenangkan Tisha yang sedang menangis dengan mengusap bahu polosnya.
"Sebenarnya apa salahku hingga ada orang yang melakukan hal ini padaku," kata Tisha lagi.
Untuk menenangkan Tisha Ray pun memeluk tubuh Tisha yang masih terbalut selimut itu dan mengusap rambutnya Tisha.
"Tenanglah aku akan mencari tau siapa orang yang telah melakukan semua ini," kata Ray.
__ADS_1
"Apa yang akan Kak Ray lakukan jika sudah menemukan orang yang melakukan semua ini?" tanya Tisha menatap Ray dengan serius.
"Entah lah mungkin aku akan menghajarnya jika itu laki-laki dan menghukumnya dengan cara lain jika itu wanita," jawab Ray yang juga menatap Tisha.
"Apa Kak Ray akan mengakhiri pernikahan ini dan kembali pada Kak Kania jika Kakak sudah menemukan bukti jika Kak Ray gak salah?"
Mendengar perkataan Tisha, Ray tidak menjawabnya dia hanya diam.
Ya ... dia sendiri bingung apa yang akan dilakukannya jika dia bisa membuktikan bahwa dia tidak bersalah.
"Pergilah mandi terlebih dahulu, aku mau membereskan dulu ranjangnya." Ray melepaskan pelukan antara dia dan Tisha dan mengalihkan pembicaraan.
Melihat reaksi Ray atas pertanyaannya membuat Tisha sedih. Dia kemudian melingkarkan selimutnya di tubuhnya dan turun dari ranjang kemudian berjalan dengan pelan ke kamar mandi.
Sedangkan Ray menggulung seprai dan menyimpannya di keranjang baju kotor dia mengambil seprai bersih dari lemari dan memasangkannya kembali di kasurnya.
Tisha keluar dari kamar mandi dengan jubah mandi dan handuk kecil yang melingkar di kepalanya.
"Aku mau mandi dulu, kamu turunlah lebih dulu," kata Ray yang sudah selesai merapikan tempat tidur mereka.
"Iya Kak," jawab Tisha.
Tisha memasuki ruang ganti, sedangkan Ray memasuki kamar mandi.
Tisha keluar dari ruang ganti dengan sudah memakai pakaian yang lengkap dan penampilan yang sudah rapi, dia langsung keluar dari kamarnya menuju ke dapur.
Dia melihat mertuanya sedang menata makanan untuk sarapan di meja makan, padahal dia berniat ingin membantu membuat sarapan.
"Sudah Mom, maaf ya, Sha kesiangan jadi gak bantuin membuat sarapan," kata Tisha tersenyum dengan menampilkan sederet gigi rapinya.
"Gak pa-pa sudah ada pelayan ini, Mom juga cuma bantuin menatanya saja di meja makan," kata Adelia.
"Duduklah sambil nunggu yang lainnya turun," kata Adelia.
Tisha pun menganggukkan kepalanya dan duduk di kursi, bersebrangan dengan Adelia.
"Kenapa mata kamu agak bengkak dan merah Sha, apa kamu habis nangis?" tanya Adelia menatap Tisha dengan serius.
"Tidak Mom, tadi kayaknya karena kelamaan mandi diguyur dengan air dari shower jadi matanya merah," jawab Tisha.
"Gimana semalam, apa kalian melakukannya?" tanya Adelia penasaran.
"Maksudnya Mom?" tanya Tisha tidak mengerti.
"Melakukan hubungan itu, masa kamu gak ngerti sih," kata Adelia.
Mendengar perkataan Adelia tentu saja Tisha malu hingga pipinya terlihat bersemu.
Melihat reaksi menantunya dia pun tahu jawabannya meskipun Tisha tidak menjawabnya dan dia bersyukur akan hal itu.
__ADS_1
"Apa Ray belum bangun?" tanya Adelia mengalihkan pembicaraan.
"Sudah Mom, Kak Ray sedang mandi," jawab Tisha.
Adelia menganggukkan kepalanya, beberapa saat kemudian Zani datang dengan penampilan yang sudah rapi karena dia akan ke kampus hari ini.
"Pagi Mom, pagi Sha," kata Zani sambil mendudukkan dirinya di kursi.
"Pagi Zan," jawab Adelia dan Tisha bersamaan.
"Kamu kuliah Zan," kata Tisha.
"Iya, kamu tau 'kan aku hanya ijin sehari saja gak kayak kamu bisa ijin seminggu," kata Zani cemberut.
"Kamu 'kan gak ada kepentingan yang lainnya lagi, Zan. Jadi ngapain kamu ijin kuliah," kata Adelia.
"Iya deh iya, Zani juga tau kalau Sha ijin seminggu karena pasti capek 'kan." Zani menggoda Tisha dengan mengedipkan satu matanya.
"Apaan sih Zan," kata Tisha malu.
Beberapa saat kemudian Ray dan Vano datang dengan beriringan menuju ke meja makan.
"Pagi Dad, pagi Kak," sapa Zani pada Vano dan Ray yang sedang berjalan menuju meja makan.
"Pagi Dad," sapa Tisha.
"Pagi," jawab Vano tersenyum dan mendudukkan dirinya di meja makan.
Mereka pun langsung memulai sarapannya karena sudah waktunya untuk sarapan.
"Mom dan Dad sudah siapkan paket bulan madu untuk kalian," kata Vano membuat Ray dan Tisha langsung menghentikan kegiatan sarapannya dan menatap Vano.
"Apa itu harus Dad?" tanya Ray.
"Harus, karena itu untuk membuat hubungan kalian semakin dekat," jawab Adelia yang terdengar tidak ingin ada bantahan.
Ray dan Tisha pun tidak ada pilihan lain selain menyetujuinya. Mereka menganggukkan kepalanya dan kembali melanjutkan sarapannya.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....