Istri Tercinta Tuan Muda

Istri Tercinta Tuan Muda
Terbongkar.


__ADS_3

Happy Reading....


Ras saat ini sedang berhadapan dengan Ayu yang sedang berdiri di depan meja kerjanya sambil menangis, Ayu menatap Ras dengan matanya yang terus mengeluarkan air mata.


Ayu bicara dengan terputus-putus, sedangkan Ras menatapnya dengan gusar, menatap tatapan mata Ayu yang penuh dengan kesedihan.


"Awalnya saya tidak ingin mempermasalahkan tentang ini Tuan. tapi, sekarang kejadiannya berbeda dia telah hadir di sini, saya tidak mungkin diam saja," kata Ayu sambil mengusap perutnya.


"Bukankah waktu itu sudah aku katakan kalau aku tidak akan bertanggung jawab, aku tidak ingin menyakiti istriku," kata Ras dengan tegas.


"Terus saya harus bagaimana Tuan, saya tidak mungkin mengugurkan anak ini," kata Ayu dengan suara yang sudah serak.


"Aku tidak memintamu untuk menggugurkannya, kamu bisa mengurusnya. tapi, aku tidak akan bertanggung jawab dengan menikahimu, aku akan memberikan biaya untukmu dan untuknya asal kamu tidak memberitahukan masalah ini pada istriku," kata Ras kukuh dengan pendiriannya.


Mendengar perkataan Ras yang masih tetap dengan pendiriannya membuat Ayu menatapnya dengan sinis.


"Aku tidak pernah menyangka jika Anda adalah orang yang tidak memiliki hati dan perasaan, bagaimana mungkin Anda mengatakan itu dengan begitu mudahnya, Anda harus ingat anak ini adalah darah daging Anda sendiri, kenapa dengan mudahnya Anda mengatakan itu," kata Ayu dengan menatap tajam Ras.


"Aku tidak pernah mengharapkan anak itu, aku tau kamu sengaja menjebakku waktu itu dan aku benar-benar tidak yakin kalau itu adalah anakku," jawab Ras masih berusaha mengontrol dirinya.


"Baiklah kalau Anda memang tidak ingin bertanggung jawab maka aku tidak akan segan-segan untuk memberitahukan masalah ini pada semua orang terutama istrimu, kita lihat apa yang akan istrimu lakukan ketika tau suaminya sudah tidur dengan wanita lain bahkan akan memiliki anak dari wanita lain," ancam Ayu menantang Ras.


Mendengar ancaman itu membuat Ras geram dan tidak bisa mengontrol emosinya lagi, dia bangun dari kursinya dan menggebrak meja hingga terdengar suara yang sangat nyaring karena hal itu.


"JANGAN KURANG AJAR KAMU YA! KAMULAH YANG TELAH MENJEBAKKU!" teriak Ras dengan lantang.


Rahang Ras terlihat mengeras, bahkan urat-urat di lehernya terlihat menonjol menandakan dia benar-benar marah saat ini, hingga membuat Ayu sedikit menciut.


"Seharusnya kamu merasa bersyukur karena aku mau memberikan biaya untuk hidupmu, di saat aku belum yakin jika anak itu adalah anakku atau bukan, sekarang terserah kamu, mau menerima syaratku itu atau pergi jauh-jauh dari hidupku untuk selamanya, asal kamu tau sekuat apapun kamu memaksaku untuk menikahinm aku tidak akan pernah mau melakukan itu," kata Ras dengan tatapan lurus ke Ayu yang masih mematung di tempatnya.


Saat Ras dan Ayu sedang sibuk dengan argumennya tiba-tiba saja terdengar suara benda jatuh dari arah pintu hingga membuat perhatian Ras dan Ayu teralihkan pada pintu.


Ras menegang saat melihat ke asal suara itu, jantungnya serasa mau lepas dari tempatnya, bahkan untuk bernapas pun rasanya sangat sulit. Keringat dingin mulai keluar dari tubuhnya.


Tatapannya bertabrakan dengan tatapan syok dari wanita yang tidak lain adalah istrinya, Kania di ambang pintu, dengan sebuah tempat makan yang sudah tergeletak di lantai.


Karena terlalu fokus dengan pembicaraannya dengan Ayu, dia sampai tidak menyadari kedatangan Kania di sana.


"Qu-Queen," kata Ras dengan suara pelan, nyaris seperti bisikkan dengan tatapan lurus ke Kania yang juga tengah menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.

__ADS_1


Dia berjalan memutari meja kerjanya untuk menuju Kania yang juga tengah berjalan menuju ke arahnya dengan tatapan lurus padanya tanpa berkedip.


Mata Kania sudah mulai basah dengan air mata, dia berjalan dengan perlahan menuju ke arah Ras.


"A-aku bisa jelaskan ini," kata Ras saat mereka sudah berhadapan.


Ras berusaha memegang tangan Kania. tapi, Kania menepisnya dan menatapnya dalam seolah meminta penjelasan tentang apa yang didengarnya barusan itu.


"Apa itu benar?" tanya Kania dengan suara yang bergetar karena dia tidak mampu menahan tangisnya.


"Aku bisa jelaskan Queen sem...."


"Jawab Rasheed! ya atau tidak, apa yang aku dengar barusan itu apa benar dia sedang hamil anak kamu!" kata Kania memotong perkataan Ras dengan nada suara yang naik satu oktaf.


"Semua tidak seperti yang kamu pikirkan di...."


"Aku hanya butuh jawaban Ya atau TIDAK, Rasheed," kata Kania penuh penekanan.


Ras tidak mampu berkata lagi, mulutnya seolah sulit untuk terbuka lagi, dia hanya bisa menatap Kania yang saat ini sedang menatapnya dengan tatapan terluka, sedih dan kecewa.


"Ya atau Tidak?" tanya Kania lagi karena masih belum mendapatkan jawaban dari Ras.


Melihat jawaban Ras, Kania perlahan memundurkan tubuhnya dengan kepala menggeleng tidak percaya dia kemudian mendudukkan dirinya di sofa dan mulai terisak.


Isakkan tangis yang mampu membuat hati Ras terasa tercabik-cabik, isakkan yang mampu membuat Ras seolah sedang tertimpa benda yang sangat berat dan besar hingga dia rasanya tidak bisa bernapas.


Ras berusaha mendekati Kania, dia berniat ingin memeluk tubuh rapuh Kania yang sedang bergetar karena tangisan itu.


"BERHENTI!" teriak Kania saat menyadari Ras berjalan mendekatinya.


"Jangan menyentuhku dan jangan mendekatiku b*j*ngan" kata Kania mengangkat wajahnya dan menatap Ras dengan tajam.


Matanya memerah karena amarah, tatapan penuh kebencian dia layangkan pada Ras, hingga membuat jantung Ras seolah diremas oleh tangan tak kasat mata melihat tatapan itu.


Kania berdiri dari duduknya, ditatapnya Ras yang kini tengah menatapnya sendu dengan air mata yang tidak berhenti mengalir di pipinya.


"Kenapa ... Kenapa kamu melakukan ini Ras, kenapa kamu membohongiku, apa karena aku belum bisa hamil juga sehingga kamu bermain gila di belakangku?" tanya Kania dengan suara bergetar.


"Tidak seperti itu, aku mohon dengarkan penjelasan aku dulu," kata Ras dengan menggelengkan kepalanya membantah perkataan Kania.

__ADS_1


"Apa yang mau kamu jelaskan lagi sekarang Ras, kebohongan apa lagi yang mau kamu katakan untuk menutupi setiap kebohongan mu yang lainnya!"


"Aku tidak akan berbohong ak...."


"Cukup Ras, aku sudah tidak bisa menerima kebohongan mu lagi, sudah cukup," kata Kania yang memotong perkataan Ras lagi.


Kania menatap Ras dan Ayu secara bergantian, Dia mengusap air mata di pipinya dengan kasar oleh tangannya, dia menghela napasnya dalam sebelum akhirnya berbicara kembali.


"Aku mau kita pisah, kita sebaiknya mengakhiri ikatan rumah tangga kita sampai di sini."


Perkataan yang terlontar dari mulut Kania bagaikan petir yang menyambar Ras di siang bolong, Ras menatap tak percaya pada Kania.


Dia menggelengkan kepalanya dengan setitik air mata yang mulai jatuh di pipinya, dia tidak ingin kehilangan Kania, dia tidak akan bisa berpisah dengan Kania.


"Tidak Queen, jangan katakan itu, kamu tidak boleh pergi, kamu harus selalu di sisiku," kata Ras dengan cepat berjalan ke arah Kania dan memeluk Kania.


Kania berontak, mencoba melepaskan dirinya itu dari pelukan Ras. tapi, Ras masih memeluknya dengan erat.


"Lepaskan Ras," kata Kania sambil memberontak.


"Tidak, aku tidak akan melepaskanmu," kata Ras memeluk Kania dengan erat.


Kania terus berusaha melepaskan dirinya hingga akhirnya dia berhasil melepaskan diri dari Ras dan mendorong Ras hingga tubuh Ras terpental ke lantai.


Kania langsung melangkahkan kakinya pergi dari ruangan itu, sedangkan Ras berusaha bangun dan mengejarnya sambil memanggil Kania tapi Kania tidak menghiraukannya dan terus melangkahkan kakinya meninggalkan Ras yang terus memanggil namanya.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2