
Happy Reading....
Setelah setengah jam di kamar, akhirnya Kania keluar dari kamar itu dengan pakaian yang sudah rapi hanya saja rambutnya sedikit basah.
Dia mendudukkan dirinya di sofa seperti sebelumnya, tiba-tiba sebuah senyuman tersungging di bibirnya karena teringat sesuatu.
Dilihatnya sekeliling ruangan luas itu tidak ada tanda-tanda kehadiran Ayu di sana, itu artinya Ayu belum kembali sejak tadi. Atau mungkin Ayu tidak mau kembali ke sana setelah melihat apa yang telah dilakukannya dan Ras tadi.
Mengingat wajah kesal Ayu membuat Kania lagi-lagi terkekeh geli, dia sebenarnya sudah tau jika tadi Ayu sudah kembali dan melihat apa yang dia dan Ras lakukan di sofa. tapi, dia pura-pura tidak tahu hal itu, jadi dia yakin saat ini Ayu sedang kesal karena hal itu.
"Ngelamunin apa sih, sampe serius banget gitu," kata Ras duduk di samping Kania.
Kania mengalihkan wajahnya pada Ras kemudian tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Gak ngelamunin apa-apa kok," jawab Kania santai.
"Oh iya tadi saat aku ke ruanganku, tumben Ayu gak ada di ruangannya, kemana dia di jam kerja seperti ini," kata Ras yang tanpa sadar sudah membuat Kania kesal.
"Kenapa! kamu kangen sama dia." Kania berdecak kesal dan menatap Ras sengit.
"Gak gitu Queen, buat apa aku kangen sama dia. Aku hanya sedikit aneh aja inikan masih jam kerja. tapi, dia malah gak ada di ruangannya." Ras segera meralat omongannya karena mendapatkan tatapan sengit dari Kania.
"Dia aku suruh beli susu karena aku mau minum susu," jawab Kania memalingkan wajahnya dari Ras.
"Queen jangan ngambek dong, aku hanya penasaran saja serius ga ada maksud apa-apa," bujuk Ras.
"Iya, iya, udah diam aku lagi males debat," kata Kania santai lalu memainkan ponselnya.
Ras patuh, dia tidak bicara lagi dan ikut memeriksa ponselnya karena ada pesan singkat dari Griffin yang mengatakan sedang di perjalanan untuk menuju ke Hotelnya itu.
Beberapa menit kemudian Ayu datang memasuki ruangan itu dengan segelas susu di nampan yang dibawanya itu, sudah dia pstikan air untuk menyeduh susu itu adalah air yang baru saja mendidih.
Jika air itu mengenai kulit pasti kulit akan sedikit melepuh. Dengan penuh percaya diri dia mendekati sofa tempat Kania dan Ras duduk.
"Maaf lama Nona, tadi air panasnya habis. Jadi saya memasak dulu airnya," kata Ayu yang sedang berjalan mendekati Kania.
Kania tidak menjawabnya, dia hanya memperhatikan Ayu dengan seksama tiba-tiba saja tanda peringatan dari otaknya berbunyi.
__ADS_1
Dia melihat gerak-gerik Ayu dan dia secara reflek berdiri saat kaki Ayu tersandung kaki meja yang ada di depannya.
Kania bermaksud mengambil nampan Ayu agar gelas yang berisi susu itu tidak tumpah dan mengenainya. tapi, nahasnya gelas itu tetap tumpah hanya saja tumpahnya tidak menghadap ke arahnya tapi malah ke arah Ayu dan ... Pyaaarrr.
Suara gelas beradu dengan keramik terdengar sangat nyarinya hingga membuat Ras yang semula fokus pada ponselnya langsung bangun karena kaget.
"Akhhh, panas!" jerit Ayu saat susu yang masih mengepul itu mengenai kakinya ditambah goersan dari pecahan gelas itu membuatnya kesakitan.
"Queen kamu gak pa-pa?" tanya Ras yang khawatir pada Kania langsung memeriksa seluruh bagian tubuh Kania.
"Gak pa-pa King, hanya tanganku yang terkena sedikit cipratan susu itu," kata Kania memperlihatkan punggung tangannya yang sedikit memerah karena terkena cipratan susu.
"Tangan kamu merah," kata Ras panik dan langsung meniup tangan Kanja yang memerah.
"Kamu!...."
"King jangan marahin dia, kamu gak liat tangannya dan kakinya luka karena terkena susu itu dan terkena pecahan gelas," kata Kania menghentikan Ras yang ingin memarahi Ayu.
Meskipun dia sedikit kesal karena dia yakin kalau Ayu sengaja ingin mencelakainya. tapi, dia baik-baik saja dan malah Ayu yang terkena sial karena ulahnya sendiri.
Ras menelpon seseorang dengan menggunakan telpon yang berada tidak jauh dari tempat Kania dan Ayu sedang berdiri.
"Kamu lihat. Ketika kamu berniat buruk maka kamu sendiri yang menerima keburukkan itu, aku minta sebaiknya kamu menyerah dan pergi dari kehidupan aku dan suami aku. Atau kalau kamu tetap mau bekerja di sini aku tidak akan mempermasalahkannya asal kamu hilangkan niat burukmu itu untukku dan suamiku," kata Kania menatap Ayu dengan serius.
"Kalau aku tidak mau?" tanya Ayu mengangkat wajahnya menantang.
"Kamu hanya akan menyakiti dirimu sendiri, karena sampai kapan pun kamu tidak akan mungkin bisa mencapai apa yang kamu inginkan itu," kata Kania apa adanya.
Bukankah itu memang sebuah kenyataan, sekuat apapun Ayu berusaha untuk mengusik kehidupannya dan Ras pada akhirnya dia tidak akan mencapai tujuannya.
"Kenapa Anda begitu percaya diri Nona Kania, bagaimana jika tujuanku tercapai. Suamimu itu berpaling darimu dan dia datang padaku," kata Ayu penuh percaya diri.
Mendengar kepercayaan diri Ayu, Kania terkekeh dan memberikan tatapan mengejek pada Ayu, dia tidak perduli jika Ayu tersinggung atau merasa direndahkan olehnya saat ini dia hanya ingin segera sadar.
"Apa yang kamu punya hingga kamu berani berkata seperti itu?" tanya Kania mengejek.
"Apa kamu tidak liat saat ini aku sedang hamil dan ini adalah anak tuan Ras, aku yakin saat ini tuan Ras hanya belum bisa menerima semua ini. tapi, dengan seiring berjalannya waktu aku yakin tuan Ras akan menerima anak ini dan aku, apa lagi Non Kania saat ini belum bisa memberikannya anak, apa Non Kania yakin jika tuan Ras tidak akan berpaling?" Ayu menatap Kania dengan tatapan mengejek.
__ADS_1
"Teruslah bermimpi selagi masih ada waktu. tapi, ingat tidak akan lama lagi kamu akan menangis karena kamu harus bangun dari mimpimu itu," kata Kania arogant.
Dia memang sengaja memprovokasi Ayu, agar Ayu menunjukkan sifat aslinya dan sekarang Kania sudah melihat sifat aslinya itu.
"Kita lihat saja nanti Nona, apa anda masih bisa bersikap arogan dan sombong seperti itu jika mimpiku itu jadi kenyataan," kata Ayu semakin berani menantang Kania.
"Baiklah, aku akan melihatnya nanti," kata Kania terkekeh. Dia berusaha bersikap baik-baik saja meskipun hatinya sedikit tersentil karena perkataan Ayu yang membahas masalah anak dan kehamilan.
Ras mulai mendekati Kania dan Ayu, dia melihat kaki Ayu terlihat memerah dan berdarah karena terkena pecahan gelas tadi.
"Sebentar lagi akan ada orang yang mengantarkanmu ke rumah sakit," kata Ras santai.
"Terima kasih Tuan," kata Ayu tersenyum tipis dan membungkukan badannya.
"Lain kali hati-hati, kamu hampir saja mencelakai istriku," kata Ras datar.
Ayu mengumpat dalam hatinya, apakah Ras tidak punya hati, sudah jelas istrinya baik-baik saja dan di sini dialah yang terluka. tapi, Ras sama sekali tidak memiliki rasa iba padanya padahal barusan dia senang karena Ras sempat melihatnya.
Kania duduk di sofa dengan memasang wajah datarnya, tak lama kemudian ada dua orang yang datang mereka memakai baju Office Girl.
Salah satu dari mereka memapah Ayu untuk pergi dari ruangan itu dan satu lainnya membersihkan sisa pecahan Gelas tadi.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1