
Happy Reading....
Malam ini sesuai dengan kesepakatan antara Kean dan Ras, mereka akan menyelamatkan Kania malam ini juga, Ras sudah tidak bisa menunggu untuk hari esok.
Mereka mempersiapkan pengawal mereka karena mereka yakin kalau di tempat Thomas pasti akan banyak pengawal juga, Griffin juga ikut serta membatu untuk menyelamatkan Kania.
Mereka bertiga berada di dalam satu mobil dengan diikuti oleh mobil para pengawal mereka yang berjumlah empat mobil.
Saat sudah sampai Kean memerintahkan para pengawalnya untuk melumpuhkan para anak buah Thomas yang berjaga di luar, Griffin juga membantu menangani anak buah Thomas itu, sedangkan Ras dan Kean memasuki rumah itu untuk mencari Kania dan Thomas.
Thomas yang sedang di kamarnya mengerutkan keningnya karena mendengar suara ribut di lantai bawah, baru saja membuka pintu kamarnya untuk memeriksa, pelayannya berlari ke arahnya.
"Tuan di bawah ada suami dan ayahnya non Kania," kata pelayan itu.
"Si*l bagaimana mereka bisa tau tempatku ini," kata Thomas sambil berjalan menuju ke kamar tempat Kania.
Kania yang saat itu sedang duduk termenung di ranjangnya juga mendengar keributan yang terjadi, dia melihat ke arah pintu yang terbuka secara kasar dia beringsut saat melihat Thomas masuk ke kamar itu dengan langkah yang cepat.
"Ayo ikut aku," kata Thomas langsung menarik tangan Kania dengan kasar hingga Kania tertarik hingga turun dari ranjang.
"Gak mau, lepaskan akau," kata Kania berusaha memberontak dan menggelengkan kepalanya.
"Jangan membantah, ayo ikut." Thomas menarik Kania dengan kasar hingga Kania meringis karena tangannya terasa sakit.
Dia mengikuti langkah cepat Thomas dengan terseok, perutnya yang baru saja mendingan setelah tadi terasa sakit, kini terasa sakit lagi hingga dia menghentikan langkahnya dan hal itu membuat Thomas kelas hingga tanpa perasaan dia menarik Kania lagi dan berjalan lebih cepat, dia berniat untuk bersembunyi di tempat rahasianya.
Saat mereka sedang berjalan tiba-tiba saja sebuah pukulan melayang mengenai wajah Thomas yang dilakukan oleh Ras hingga genggaman tangannya di tangan Kania terlepas.
Ras melayangkan pukulannya lagi pada wajah Thomas itu dengan membabi buta, Kean masih berada di lantai bawah menghajar anak buah Thomas yang menghadangnya saat mereka menuju ke lantai atas.
Ras dan Thomas saling serang hingga mereka berdua sama-sama terluka, tidak hanya itu saja dia juga dengan sengaja memprovokasi Ras.
"Kamu mau membawa istri kamu itu, bawalah karena aku sudah tidak penasaran lagi sekarang, aku sudah tau rasanya, iya 'kan sayang," kata Thomas terkekeh sambil melihat Kania yang saat ini sedang dipegang oleh pelayannya.
"Kurang ajar berhenti bicara!" teriak Ras kembali melayangkan pukulan pada wajah Thomas.
Thomas membalas pukulan Ras dia juga menendang perut Ras hingga Ras terjungkal ke lantai Thomas menindih tubuh Ras dan memukul wajahnya berkali-kali.
"Berhenti, jangan memukulnya lagi!" teriak Kania sambil menangis melihat wajah Ras sudah babak belur dan mengeluarkan darah.
"Ya, menangislah sayang, menangis seperti semalam saat kamu berada di bawahku, itu sangat seksi," kata Thomas berbicara dengan menyeringai sambil menatap Ras.
"Semalam aku benar-benar menikmatinya saat dia menangis di bawahku, kamu tau dia benar-benar sangat seksi."
__ADS_1
"Berhenti bicara Thomas!" teriak Kania, dia berusaha berontak dan melepaskan tangannya yang di genggam dengan erat oleh si pelayan.
"Kenapa? apa kamu takut suami kamu akan jijik padamu karena perbuatan kita semalam, tenanglah kalau dia tidak menerimamu lagi kamu bisa menjadi budakku di ranjang," kata Thomas sambil tertawa dengan keras.
Ras menggulingkan dirinya, dia membalik posisinya menjadi menindih Thomas, dia mencekik Thomas dengan kuat, matanya memerah rahangnya mengeras mendengar perkataan kotor dari Thomas itu.
"Berani-beraninya kamu mengatakan hal seperti itu pada istriku, aku tidak akan mengampunimu b*j*ng*n!" Ras bangun dan menarik baju Thomas kemudian mendorongnya hingg keras ke arah dinding.
Ras benar-benar melampiaskan kemarahannya yang sudah tersimpan selama seminggu itu, dia terus memukulinya tanpa ampun hingga wajah Thomas nyaris tidak terlihat karena darah yang keluar dari wajahnya.
"Berhenti memukulinya atau aku akan mendorongnya," kata pelayan mengancam Ras, hingga Ras berhenti memukuli Thomas yang sudah lemas tergeletak di lantai.
"Lepaskan istriku," kata Ras menatap tajam pelayan itu sambil melangkah mendekatinya.
"Jangan mendekat atau aku benar-benar akan mendorongnya," ancam pelayan yang saat ini sudah berdiri di ujung tangga.
"Lepaskan dia, aku akan melepaskanmu dari hukuman asal kamu melepaskannya," kata Ras mencoba bernegosiasi dengan si pelayan sambil melangkah sedikit demi sedikit.
"Kamu pikir aku percaya hah, aku tidak akan melepaskannya," kata pelayan itu sambil memundurkan langkahnya sedikit menuruni anak tangga.
"Aku tidak akan mengingkari perkataanku asal kamu mau melepaskan istriku," kata Ras lagi berusaha tenang.
"Aku bilang jangan mendekat kamu mau aku mendorongnya agar dia jatuh ke bawah," kata pelayan itu sambil mengambil ancang-ancang mendorong Kania.
Pelayan itu menuruni anak tangga dengan cara mundur dia juga membawa Kania bersamanya sebagai sandera, sedangkan di sisi lain Kean sudah mengalahkan anak buah Thomas yang menghadangnya.
Ras yang melihat Kean memberinya isyarat pun mengerti, dia terus mengajak pelayan itu berbicara untuk mengalihkan perhatian pelayan itu
Saat sudah dekat dengan pelayan itu Kean segera menarik Kania dengan sekali tarikan dan pegangan pelayan itu terlepas dari Kania. tapi sayang karena keseimbangan pelayan itu yang tidak seimbang, pelayan itu jatuh berguling sampai di lantai bawah.
"AHHHHKKKHHH," teriak pelayan itu dan langsung tidak sadarkan diri tergeletak di lantai.
"Pa, Kania takut," kata Kania memeluk Kean dan menumpahkan air matannya di pelukan Kean.
"Tenanglah semuanya sudah selesai, kamu tidak perlu takut lagi," jawab Kean.
Ras bernapas lega karena istrinya baik-baik saja, dia membiarkan Kania dengan Kean terlebih dahulu dan tak lama kemudian polisi datang dengan Griffin untuk membereskan masalah di sana.
Saat sedang menumpahkan rasa harunya di pelukan Kean, Kania tiba-tiba saja kembali meringis dan memegang perutnya.
"Kan, kamu kenapa?"
"Yang, kamu kenapa?" tanya Kean dan Ras secara bersamaan mereka tampak khawatir, Ras mendekati Kean dan Kania.
__ADS_1
"Perut Kania sakit Pa," kata Kania dengan suara lemah dan langsung pingsan.
Ras melihat ada darah di kaki Kania yang terbalut piyama berwarna biru muda itu.
"Pa Kania berdarah," kata Ras panik sambil menunjuk kaki Kania.
"Kania pendarahan ayo bawa ke rumah sakit," kata Kean panik.
Tanpa bicara lagi Ras langsung membopong tubuh Kania dan langsung membawanya ke mobil diikuti oleh Kean.
"Griffin tolong urus yang di sini, aku mau ke rumah sakit," kata Kean pada Griffin yang berada tidak jauh darinya.
"Iya Kak, kalian pergi saja aku akan mengurus yang di sini," jawab Griffin.
Kean menganggukkan kepalanya dan menyusul Ras memasuki mobil untuk ke rumah sakit, Kean duduk di depan, di samping sopir.
"Kan, bangun sayang, kamu harus baik-baik saja maafkan aku karena telat menjemputmu," kata Ras mengecup kening Kania.
Ras melihat ke arah paha Kania darahnya semakin banyak. posisi Kania direbahkan kursi dengan kepala di simpan di pangkuan Ras.
"Pa, apa anak kami akan selamat?" tanya Ras dengan pelan pada Kean.
"Semoga saja," jawab Kean kurang yakin.
Ras tidak bicara lagi dia memejamkan matanya dan mendaratkan beberapa kali kecupan di kening Kania.
Kean melihat Kania dari kaca spionnya, dia menghela napasnya berat, bukan hanya Ras yang merasa bersalah dia pun merasa bersalah karena merasa tidak bisa menjaga anak dan calon cucunya dengan baik.
Mobil mereka akhirnya sampai di rumah sakit, Ras tidak mau menidurkan Kania di brankar yang dibawa suster, dia menggendong Kania sampai ke ruangan Kania akan mendapatkan penanganan.
Ras dan Kean tidak bersuara, mereka sama-sama diam menunggu Kania diperiksa, sebelumnya Kean sudah meminta sopirnya untuk menghubungi Kiran dan orang tua Ras.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....