Istri Tercinta Tuan Muda

Istri Tercinta Tuan Muda
Jalan-jalan


__ADS_3

Happy Reading....


"Tapi, kayaknya tidak perlu, lagian gimana caranya aku ngucapin terima kasih padanya, nanti dia malah jadi ke ge-eran lagi," gumamnya lagi sambil terus memutar setir mobilnya ke kanan dan ke kiri.


Saat sampai di kantornya Kania langsung mengerjakan lagi pekerjaannya hingga waktu pulang pun tiba.


Dia keluar dari ruangannya bertepatan dengan Kean yang juga keluar dari ruang kerjanya.


"Kamu belum pulang Kan?" tanya Kean pada Kania.


"Kalau udah pulang Kania gak akan ada di sini Pa." Kania menjawab pertanyaan Papandayan.


"Papa 'kan hanya berbasa-basi Kan," kata Kean dengan mencebikkan bibirnya karena anaknya itu tidak pernah mau berbicara yang manis-manis saat bersamanya.


Kania memang tidak seperti anak perempuan lainnya yang bermanja-manja kepada orang tuanya, sikapnya yang teramat cuek itu membuat dia terlihat seperti anak yang tidak menyayangi orang tuanya padahal sebenarnya tidak seperti itu.


Kania tentu saja sangat menyayangi orang tuanya apalagi Mamanya karena dia ingat jelas bagaimana kehidupan Mamanya yang berjuang sendiri merawat dan menjaganya di saat mereka belum bertemu dengan ayahnya.


Hanya saja dia bukan tipe orang yang selalu mengungkapkan apa yang dirasakannya dengan kata-kata.


Dari kecil dia sudah memiliki sikap yang cuek dan tidak terlalu suka banyak bicara jika menurutnya tidak terlalu penting.


"Lagian pertanyaan Papa aneh," kata Kania santai.


"Baiklah, baiklah, ayo kita ke parkiran bersama," ajak Kean Kania hanya menganggukkan kepalanya dan mengikuti langkah Kean.


"Sopir Ras sudah jemput kamu?" tanya Kean saat mereka berada di lift.


"Kania gak pakai sopir," jawab Kania santai.


"Apa Ras mengantar, jemputmu?" tanya Kean menatap Kania yang berada di sampingnya.


"Tidak, Kania pergi sendiri dan menyetir sendiri," kata Kania sangat sedangkan Kean sudah menatapnya horor sesuai dengan perkiraannya papanya pasti akan bereaksi berlebihan tentang hal itu.


"Kania bisa jaga diri Pa, Papa tenang saja lagian sekarang Kania sudah memiliki suami jadi yang lebih berhak atas Kania adalah suami Kania," kata Kania santai.


"Meskipun kamu sudah memiliki suami Papa tetap Papa kamu, Papa masih tetap punya hak untuk menjaga kamu apalagi suami kamu itu tidak menjagamu dengan baik, pokoknya Papa akan mengirimkan sopir dan pengawal untukmu lagi," kata Kean.


"Tidak! Papa jangan pernah melakukan itu lagi, Kania gak mau diikuti lagi, sekarang orang lebih berhak mengatur Kania adalah suami Kania bukan Papa!" tolak Kania dengan suara lumayan keras.


Dia tidak perduli jika saat ini mereka sedang jadi bahan tontonan seluruh karyawan di kantor itu, dia tidak ingin Papanya membuatnya merasa terkurung lagi.


"Tapi, Papa tidak ingin kamu kenapa-kenapa Kania," jawab Kean dengan tegas.


"Tidak akan terjadi apa-apa Pa, selama ini juga tidak pernah terjadi apa-apa pada Kania, Papa hanya terlalu menakuti hal yang tidak jelas," kata Kania.


"Tapi Papa takut...."


"Jangan menakuti hal yang belum tentu terjadi Pa, kalau Papa sampai mengirimkan orang untuk mengikuti Kania lagi, Kania tidak akan pernah mau bertemu dengan Papa lagi!" Ancaman Kania membuat Kean pasrah.


"Baiklah, Papa tidak akan ikut campur lagi dengan hidupmu," kata Kean pasrah.


"Kania akan baik-baik saja Pa, percayalah," kata Kania sudah kembali tenang.


Kean hanya menganggukkan kepalanya pasrah, dia tidak ingin anaknya melakukan ancamannya itu. Mungkin untuk sekarang dia lebih baik membiarkan Kania melakukan apa yang diinginkannya.


"Apa yang kalian lihat!" kata Kean menatap tajam para karyawan yang menonton perdebatan antara dia dan Kania itu.


Semua karyawannya itu hanya menundukkan kepala takut dan mulai berhamburan pergi dari sana untuk pulang.

__ADS_1


"Ayo kita pulang," ajak Kean pada Kania.


Mereka pun berjalan menuju ke parkiran dengan bersamaan dan memasuki mobil mereka masing-masing.


"Kania pulang dulu ya Pa," pamit Kania membuka kaca mobilnya.


"Iya Hati-hatilah jangan kebut-kebutan," kata Kean.


"Iya Pa." Setelah itu Kania menjalankan mobilnya meninggalkan area parkiran itu.


"Kamu tidak tau, Papa sangat takut sesuatu yang buruk terjadi pada kamu ataupun Mama dan adikmu," kata Kean menatap mobil Kania yang semakin menghilang dari pandangannya.


"Aku harus bicara dengan Ras, berani-beraninya dia membiarkan Kania gitu aja dasar tidak bertanggung jawab," kata Kean pada dirinya sendiri.


Meskipun dia mengatakan tidak akan ikut campur dengan kehidupan anaknya. tapi, tetap saja dia tidak bisa diam saja membiarkan anaknya tanpa pengawasan seperti itu.


Dia berharap ketakutan-ketakutan yang dirasakannya itu hanyalah ketakutannya saja dan tidak akan pernah terjadi, hal yang tidak diinginkannya itu terjadi pada keluarganya.


Kean meminta sopirnya untuk pergi dari parkiran kantornya menuju ke rumahnya. Dia berencana akan meminta Ras untuk menemuinya dan berbicara masalah Kania dengan serius.


Sementara di sisi lain Kania tidak langsung pulang ke rumahnya dan Ras, dia berencana akan jalan-jalan terlebih dahulu karena hari masih terang.


Dia bersenandung mengikuti alunan lagu yang diputarnya melalui ponselnya.


Mobilnya berhenti di sebuah taman kota yang tidak terlalu jauh dari jarak menuju ke rumahnya.


Setelah mobilnya terparkir dia turun dari mobilnya dan menghirup udara sebanyak-banyaknya, dia berjalannya menuju ke tempat pedagang ice-cream dan membeli satu ice cream yang rasa vanila coklat.


Dia duduk di kursi yang lumayan panjang yang berada di taman itu sambil melihat orang-orang yang ada di sekitarnya, sedang menikmati waktu sorenya dengan bersantai sama seperti dirinya, ada yang sedang sendirian ada yang bersama pasangannya ada juga beramai-ramai bersama teman-temannya.


Bagi orang lain mungkin hal ini adalah hal yang biasa tidak ada yang spesial. Tapi, bagi Kania hal ini adalah hal yang paling dia impikan selama ini, bebas melakukan apapun tanpa merasa canggung dengan tatapan orang yang menatapnya aneh karena selalu diikuti oleh para pengawal, seperti anak raja saja.


"Boleh, duduk saja," jawab Kania santai dan kembali mengalihkan perhatiannya ke arah lain.


Pria itu mendudukkan dirinya di bangku yang Kania duduki, dia duduk di ujung kursi itu hingga menyisakan jarak antara mereka.


"Kamu sering ke sini?" tanya pria itu melihat ke arah Kania yang fokus pada objek di depannya dengan memakan ice cream dan memasang wajah datarnya.


‌"Tidak, aku baru ke sini hari ini," jawab Kania tanpa melihat pria di sampingnya itu.



‌"Oh aku kira kamu sudah sering ke sini," kata pria itu tersenyum ramah meskipun Kania tidak melihat ke arahnya.



‌Kania tidak menggubris pria di sampingnya itu, dia hanya memakan ice creamnya dengan tenang hingga icecream di tangannya telah habis.



‌Karena merasa cukup untuk mainnya hari ini dia pun memutus untuk pulang karena langit sudah mulai gelap.



‌Kania berdiri dari duduknya hingga membuat pria di sampingnya itu melihat ke arahnya dengan alis terangkat.



‌"Apa kamu akan pulang?" tanya pria itu ikut berdiri

__ADS_1



‌Kania tidak menjawabnya dia melangkahkan kakinya dengan tenang meninggalkan pria itu yang menatapku heran karena baru kali ini dia bertemu dengan wanita yang tidak menganggapnya seperti itu.



‌Kania membuang cangkang ice creamnya ke tempat sampah terlebih dahulu, setelah itu dia masuk ke mobilnya, sedangkan pria tadi melongo di tempatnya melihat sikap Kania yang seperti itu.



‌"Wanita yang aneh," kata pria itu melihat Kania sudah pergi dengan mobilnya.



‌Kania menghentikan mobilnya tepat di depan pintu rumahnya, dia memberikan kunci mobilnya ke penjaga di sana agar mobilnya diparkiran di tempat semula.



‌"Apa Ras sudah pulang?" tanya Kania pada pelayan yang membukakan pintu untuknya.



‌"Sudah Nona muda, Tuan muda baru saja sampai," jawab pelayan itu.



‌Kania pun melanjutkan langkahnya menuju ke kamar, saat masuk ke kamar dia melihat Ras sudah mandi dan memakai baju santai, dia sedang duduk di sofa.



‌"Kenapa kamu pulangnya telat?" tanya Ras tanpa melihat ke arah Kania yang memasuki kamar.



‌"Aku jalan-jalan dulu sebentar," jawab Kania sambil berjalan menyimpan tasnya di meja riasnya dan memasuki kamar mandi.



‌Ras mendengar suara gemericik air di kamar mandi dia yakin jika Kania sedang mandi di dalam sana.



‌Ras kembali menyibukkan dirinya dengan laptopnya memeriksa setiap laporan dari anak buahnya yang dia percaya untuk menangani bisnis hotelnya yang berada di luar negeri.


‌.


.


.


.


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2