Istri Tercinta Tuan Muda

Istri Tercinta Tuan Muda
Berbicara dengan Kean.


__ADS_3

Ras dan Kean duduk dengan saling berhadapan jarak mereka terhalang oleh meja kerja Kean.


"Apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Kean menatap Ras dengan serius.


"Ras yakin Papa pasti sudah tau apa yang ingin Ras bicarakan dengan datang ke sini?" kata Ras yang menatap Kean dengan tak kalah serius.


Kean tidak mengeluarkan suaranya dia hanya menatap lurus pada Ras, suasana di ruangan itu kembali hening, hingga akhirnya Ras membuka lagi suaranya.


"Ras yakin kejadian semalam, Papa sudah mengetahuinya dan Papa juga pasti tau jika itu bukanlah sebuah kebetulan," kata Ras.


"Ras datang ke sini untuk bertanya apa ada orang yang menargetkan keluarga Papa?" tanya Ras menatap dalam wajah Papa mertuanya.


Kean menghela napasnya mendengar perkataan menantunya itu, dia kemudian menganggukkan kepalanya.


"Ya, itu bukanlah sebuah kebetulan dan kejadian seperti itu bukan hanya sekali terjadi dan bukan hanya pada Kania. tapi, pada seluruh keluarga kita." jelas Kean.


"Itulah alasannya kenapa Papa selalu menempatkan pengawal di sekitar Kania, Kaindra dan mertuamu, dari dulu Papa sama Aunty Katya sudah beberapa kali hampir celaka semenjak orang tua Papa meninggal dan Papa yakin jika itu bukanlah sebuah kebetulan semata," jelas Kean menatap Ras dengan serius.


Kemudian dia bangun dari kursinya dan berdiri di dekat jendela melihat keluar jendela.


"Dulu Kakek dan Nenek Kania dan Kai meninggal karena kecelakaan, meskipun polisi mengatakan jika itu adalah murni sebuah kecelakaan. tapi, Papa yakin itu bukan murni sebuah kecelakaan, karena aku tau Papaku adalah orang yang selalu berhati-hati dalam segala hal, dia tidak mungkin melakukan hal yang membahayakan dirinya apalagi saat itu dia sedang bersama dengan Mamaku, wanita yang sangat dicintainya."


Kean membalikkan lagi badannya dan kembali mendudukkan dirinya di depan Ras.


"Apa Papa masih belum menemukan dalangnya?" tanya Ras. Dan Kean pun menggelengkan kepalanya.


"Anak buah Papa selalu kehilangan jejak saat orang itu bertindak, Papa yakin dia bukan orang yang sembarangan, dia tidak pernah meninggalkan celah untuk Papa mengetahui siapa dirinya dan apa maksud dari perbuatannya itu?" kata Kean.


"Apa Papa tau jika sebelumnya orang tua Papa mempunyai musuh," kata Ras.


"Papa tidak pernah tau jika Kakek Kania memiliki musuh. tapi, jika orang yang iri dengan keberhasilan Kakek Kania mungkin saja ada dan Papa masih belum mengetahuinya," Jelas Kean.


"Mungkin juga ini ada hubungannya dengan masa lalu Kakek Kania atau bisa jadi ini ada hubungannya dengan masalah keluarga Kakek Kania dulu, perlu kamu tau Kakek Kania dulu memiliki masalah keluarga yang cukup rumit," sambung Kean lagi.


"Itu artinya sebelum kita mengetahui orang itu, Papa dan keluarga Papa masih dalam posisi yang tidak aman, orang itu mungkin akan berusaha untuk mencelakai kalian lagi," kata Ras terdapat sedikit kekhawatiran dari sorot matanya.


Ya ... tentu saja dia merasa khawatir apalagi ini menyangkut keselamatan Kania, semalam saja jantungnya serasa hampir lepas dari tempatnya saat mendengar kabar dari anak buahnya jika Kania hampir saja celaka apalagi jika sampai itu kejadian dia tidak tahu akan sehancur apa hatinya.


"Itulah sebabnya kita harus lebih waspada lagi karena Papa yakin orang itu pasti tidak akan diam saja sekarang, Papa yakin kesabarannya sudah mulai habis sekarang," kata Kean dijawab anggukkan kepala oleh Ras.


"Sebaiknya untuk beberapa saat kamu ajaklah dulu Kania untuk jalan-jalan pergilah berbulan madu kalian belum bulan madu, Dia juga sepertinya sangat ingin pergi ke tempat yang ingin dikunjunginya." Perkataan Kean membuat Ras menatap Kean dengan tak percaya.


"Bolehkah Ras membawa Kania pergi Pa?" tanya Ras dengan sedikit antusias.

__ADS_1


"Ya, bawalah dia ke tempat yang ingin dia tuju agar dia tidak terlalu kepikiran tentang masalah semalam dan dia bisa melupakan sejenak tentang pekerjaannya," kata Kean.


"Baiklah nanti Ras akan membahasnya dengan Kania," kata Ras menganggukkan kepalanya.


"Tapi, ingat kamu jangan lengah, jangan memberikan mereka yang berniat mencelakai Kania, celah untuk berhasil dengan niatnya," kata Kean kembali serius.


"Pasti Pa, Ras tidak akan sampai lengah, Ras akan berusaha semampu Ras untuk menjaga Kania," jawab Ras dengan yakin.


"Sekarang kamu pergilah, kamu pasti ada hal yang harus dikerjakan," kata Kean mengusir Ras.


"Baiklah Pa, kalau gitu Ras pergi dulu Pa," kata Ras bangun dari duduknya dan membungkukkan setengah badannya untuk berpamitan.


Ras melangkahkan kakinya menuju ke pintu ruangan itu, dia membuka pintu dan keluar dari ruangan Kean.


Sedangkan Kean membalikkan kursinya dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi sambil menerawang melihat lagi ke jendela besar yang memperlihatkan pemandangan di luar gedung itu.


Entah siapa sebenarnya orang yang selalu berniat mencelakai keluarganya, dia sampai saat ini belum menemukan titik terang dari masalah ini.


"Apa itu keluarga Papa dulu? tapi, jika orang itu benar keluarga Papa kenapa dia sampai setega itu membunuh keluarganya sendiri, bahkan Papa tidak pernah lagi mencari masalah dengan keluarganya dulu," gumam Kean.


Saat sedang menerawang Kean mendengar ketukan di pintu ruangannya, dia pun mempersilahkan orang itu untuk masuk.


"Taun, orang yang semalam anak buah kita tangkap sudah mau membuka suara," kata Nikko berdiri di samping meja kerja Kean.


"Apa katanya?" tanya Kean tanpa melihat Nikko.


"Anak buah kita sudah merekamnya Tuan," jawab Nikko dengan sopan.


Kean pun membalikkan kursinya melihat Nikko yang sedang menyodorkan ponselnya pada Kean.


Kean melihat ke layar ponsel itu, nampak seorang pria yang masih lebih muda darinya sedang diikat dengan wajah yang hampir babak belur karena sudah diberi pelajaran oleh anak buah Kean.


'Aku tidak tau orang itu siapa, dia hanya mengirimkan aku foto wanita itu dan memintaku untuk memata-matainya dan mencelakakannya saat ada kesempatan,'


'Apa kamu pernah bertemu dengannya?'


"Tidak, dia hanya menelponku saja, tidak pernah menemuiku, bayaran untukku pun langsung ditransfernya,'


'Laki-laki atau perempuan orang berbicara denganmu lewat telpon itu?'


'Perempuan terdengar dari suaranya, sepertinya wanita yang umurnya sekitar 40 tahunan,'


Kean mengembalikan ponselnya ke Nikko dan menatap Nikko dengan serius.

__ADS_1


"Apa dia bicara yang sebenarnya?" tanya Kean pada Nikko.


"Sepertinya begitu Tuan, karena anak buah kita sudah beberapa kali mengancamnya dan jawabannya tetap seperti itu," jelas Nikko.


"Apa kalian sudah menghubungi nomor yang selalu menghubunginya?" tanya Kean lagi


"Sudah Tuan. tapi, nomornya tidak aktif Tuan," jelas Nikko.


"Berikan nomor itu pada Kai, sekarang sudah saatnya dia menunjukan kemampuannya untuk melacak, jangan hanya sembunyi-sembunyi seperti itu," kata Kean dengan tegas.


"Baik Tuan."


"Kamu kembalilah ke ruanganmu," kata Kean


"Baik Tuan, permisi." Nikko membungkukkan setengah badannya setelah itu melangkah keluar dari ruangan Kean.


Kean memang sudah tahu jika anak laki-lakinya selama ini diam-diam belajar cara melacak dan membobol beberapa sistem keamanan maupun memulihkannya. hanya saja selama ini pura-pura tidak mengetahui hal itu.


Kini dia ingin menguji anaknya seberapa mampu dia melacak seseorang hanya dengan sebuah nomor ponsel yang bahkan sudah tidak aktif.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung....


Maaf jika ada yang typo ya para pembaca semuanya.


Selamat malam dan selamat beristirahat para pembaca setia.


Tetaplah di sini dan jangan lupa dukungannya, Terima kasih untuk yang sudah memberikan dukungan😘😘

__ADS_1


__ADS_2