
Happy Reading....
"Semuanya akan baik-baik saja Sayang, kamu dan anak-anak kita akan baik-baik saja, kamu adalah ibu dan istri yang hebat," bisik Ras di telinga Kania.
Beberapa menit lagi akan dilakukan operasi persalinan Kania.
Ras dari semenjak datang ke rumah sakit memang selalu ada di samping Kania menemaninya, memberikan dorongan pada Kania agar Kania bisa rileks.
Jujur saja saat ini Ras sangat merasa tegang, semakin mendekati waktu persalinan perasaan Ras kian tak menentu, rasa khawatir mendominasi dirinya.
Dia terus berusaha memberikan dorongan pada Kania sambil terus mendoktrin pikirannya juga kalau istri dan anak-anaknya pasti akan baik-baik saja.
"Mas, kita harus segera membawa Mbak Kania ke ruang operasi, waktunya sudah tiba. Dokter lainnya juga sudah siap di sana," kata Dokter Susan dengan hati-hati karena dapat melihat raut wajah tegang Ras.
"Baiklah ayo Dok," jawab Ras dengan suara tegas setelah beberapa kali menarik dan menghembuskan napasnya.
Ras membantu Dokter mendorong ranjang Kania menuju ke ruang operasi, dia menatap lekat wajah Kania yang juga sedang menatapnya.
Ras tersenyum dan mengusap rambut Kania, setelah sampai di depan pintu ruang operasi Ras membungkukkan badannya dan mencium seluruh wajah Kania dengan lembut.
"Aku akan menunggumu di sini, jangan takut. Semuanya akan baik-baik saja, Aku mencintaimu My Queen," bisik di telinga Kania.
Kania tidak menjawab pernyataan Ras itu, dia hanya menganggukkan kepalanya dan berusaha tersenyum pada Ras untuk menenangkan Ras.
Dia tahu suaminya itu sedang berusaha tegar di depannya meskipun hatinya pasti tidak karuan saat ini.
Ras melepaskan genggaman tangannya dari tangan Kania secara perlahan, dia menatap ranjang Kania semakin menjauh dari pandangannya.
"Tolong selamatkan istri dan anak-anakku Dok," kata Ras menatap serius pada Dokter Susan yang akan mulai menutup pintu ruangan itu.
"Kami akan melakukan yang terbaik, Mas bantu dengan doa saja untuk kelancaran operasi ini," kata Dokter Susan tersenyum ramah.
Ras hanya menjawabnya dengan anggukan kepala ringan, tentu saja dia akan membantu dengan doa. Bahkan dari semenjak dia datang ke rumah sakit, hatinya tidak berhenti merapalkan doa untuk kelancaran operasi ini.
Ras melihat lampu di atas pintu ruangan itu mulai menyala, itu artinya operasi sudah di mulai.
'Selamatkan istri dan anak-anakku Ya Rabb,' kata Ras memejamkan matanya.
__ADS_1
Ras tidak bisa mendudukkan dirinya di kursi yang ada di sana, dia terus berdiri di depan pintu itu dengan hati yang tidak berhenti merapalkan doa untuk keselamatan istri dan anak-anak
Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki saling bersahutan mendekat ke arahnya, Ras melihat ke asal suara ternyata kedua orang tua dan mertuanya datang.
"Gimana Kania dan anak-anak kalian?" tanya Kean menatap Ras dengan raut khawatir yang sangat kentara terpancar dari wajannya yang masih segar meskipun usianya sudah mencapai setengah abad.
"Kania masih dioperasi Pa, Ras minta doa-nya dari kalian agar operasi Kania dan anak-anak kami berjalan dengan lancar," kata Ras menatap satu persatu anggota keluarganya itu.
"Tentu kami akan mendoakan yang terbaik untuk mereka, kamu tenanglah mereka pasti akan baik-baik saja," kata Kean menepuk pundak Ras.
Tak lama kemudian terdengar suara tangis bayi dari dalam ruang operasi itu, dari yang awalnya satu menjadi saling bersahutan, Ras mengucapkan syukur karena anak-anaknya telah lahir.
Dia tidak sabar menunggu kabar tentang istrinya, dia kembali merapalkan doanya dalam hati untuk istrinya.
Dia kemudian mengalihkan perhatiannya pada orang tuanya, dia berjalan mensejajarkan dirinya dengan Mom-nya. Kemudian langsung memeluk Mom-nya dengan erat.
Adelia mengusap punggung Ras yang bergetar karena menangis, bajunya terasa basah karena air mata Ras itu, dia yakin anaknya menangis karena terharu.
"Selamat karena sekarang kamu sudah menjadi seorang Ayah, tugasmu jadi bertambah sekarang," kata Adelia mengusap pundak Ras.
"Iya Mom, Ras akan selalu berusaha untuk menjadi suami dan Ayah yang baik untuk Kania dan anak-anak kami," jawab Ras menganggukan kepalanya.
Ras menganggukkan kepalanya, dia kemudian mengusap sudut matanya yang basah.
Setelah itu Ras mendekati Daddy-nya dia juga memeluk Daddy-nya hanya saja saat ini dia tidak menangis, Vano membalas pelukan anaknya itu dan menepuk punggung Ras.
"Selamat untuk kelahiran anak-anakmu, kamu harus ingat ini, masalah merawat, menjaga dan mendidik anakmu, bukan hanya tugas Kania sebagai ibunya. Tapi, kamu juga harus ikut serta untuk hal itu karena dalam hubungan rumah tangga kalian harus saling bekerja sama, bukan saling mengandalkan untuk mempertahankan keeraratan hubungan kalian."
"Anak-anakmu juga membutuhkanmu untuk menjaganya, merawatnya dan juga mendidiknya bukan hanya ibunya saja. Peranmu dalam hal itu sama pentingnya," pepatah Vano sama seperti pepatahnya pada Ray sebelumnya.
"Iya Dad Ras akan berusaha untuk hal itu," jawab Ras menganggukan kepalanya.
Tak lama kemudian, terdengar suara pintu dibuka dan mereka langsung mengalihkan perhatian mereka ke arah pintu ruang operasi dan suster keluar dari sana.
"Tuan, anda harus mengadzani anak-anak anda," kata Suster itu.
"Baiklah terima kasih Sus," jawab Ras menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Boleh saya ikut masuk dan mengadzani cucu saya," kata Kean dengan antusias.
"Saya juga mau mengadzani cucu saya," sahut Vano yang tidak ingin kalah.
"Maaf Tuan-Tuan yang boleh masuk hanya satu orang saja, kalian bisa melihat cucu-cucu kalian setelah mereka dipindahkan ke ruang pemulihan," jawab Suster dengan tersenyum ramah.
"Pa, Dad kalian bisa melihat mereka nanti, Ras harus masuk dulu ya," kata Ras pada Kean dan Vano.
"Baiklah aku akan menunggu di sini aja," jawab Kean menghembuskan napasnya.
"Silakan Tuan," kata Suster mempersilahkan Ras untuk memasuki ruang operasi.
Ras langsung dibawa ke arah tiga inkubator yang berisi bayi mungil yang masih merah, sedangkan Kania masih ditangani oleh tim dokter yang terhalang oleh sebuah penghalang.
Ras menatap dengan takjub anak-anaknya itu yang tengah anteng.
"Yang mana yang pertama Sus?" tanya Ras pada suster.
"Yang pertama yang ini Tuan, berjenis kelamin laki-laki, yang kedua yang ini berjenis kelamin perempuan dan yang terakhir yang ini berjenis kelamin laki-laki juga," jelas Suster itu.
"Jadi anakku dua laki-laki dan satu perempuan?" tanya Ras dengan wajah berbinar bahagia.
"Iya Tuan," jawab Suster.
Tidak menunggu lagi, Ras mengambil anaknya yang telah Suster ambil dari inkubator dan langsung melantunkan adzan dan iqomah tepat di telinga anaknya satu persatu.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....