
Happy Reading....
Kania saat ini sedang berjalan-jalan di sekitaran Hotel, dia sudah lama tidak jalan-jalan di Hotel itu. Dia pergi ke ballroom sebentar, setelah itu dia melihat-lihat ke rooftop yang sekarang sudah dibuka menjadi Restoran yang bisa dikunjungi oleh umum tidak hanya untuk pengunjung Hotel itu saja.
Suasana di sana ternyata sangat nyaman, apalagi jika duduk di meja di bagian pembatas rooftop di sana bisa makan sambil melihat gedung-gedung pencakar langit yang ada di sana.
Kania baru saja berniat akan memesan minuman untuk menamaninya menikmati suasana di sana. tapi, ponselnya berbunyi, siapa lagi yang menelponnya, pasti itu Ras.
"Ya Ras, aku lagi di rooftop nih," kata Kania saat menjawab telponnya.
'Kamu kembali ke sini dong Queen, aku kangen,'
Mendengar perkataan Ras dari balik telponnya membuat Kania mengerutkan keningnya, dia melihat jam. Dia dan Ras baru berpisah selama satu jam.
"Ya ampun Ras, kita gak ketemu baru aja satu jam, udah bilang kangen aja," kata Kania berdecak.
'Tapi, aku benar-benar kangen Queen,' kata Ras kini dengan suara manja.
"Aku masih mau di sini, kamu ke sini aja deh,"
'Aku masih ada berkas yang harus diperiksa, ayolah Queen kamu balik ke sini.'
"Iya, iya, aku balik ke sana," kata Kania dengan sedikit kesal.
Sebenarnya apa yang terjadi dengan suaminya itu, sudah beberapa hari sikapnya makin aneh membuat Kania jadi gemas dan merasa itu bukanlah suaminya.
Kania memutuskan untuk kembali ke ruangan Ras karena tidak mau Ras sampai ngambek dan menunjukkan hal yang lebih kekanakan. Saat sedang berjalan menuju ke lift, langkahnya terhenti karena telinganya mendengar ada orang yang sedang menyebut-nyebut namanya dan Ras.
Ada dua orang yang bertugas sebagai Office Girl sedang membersihkan pajangan yang ada di lorong itu sambil bergosip membicarakannya.
"Beneran loh saat aku dengar cerita itu dari yang lainnya aku sempat gak percaya."
"Aku juga gak percaya, ternyata Tuan Ras orang yang seperti itu. Seharusnya dia itu berani berbuat berani bertanggung jawab, bukannya lari dari tanggung jawab gitu aja, aku suka kesel kalau membicarakan tentang pria yang lari tanggung jawab kayak gitu."
"Iya padahal kasian sih Bu Ayu, harus nanggung sendiri akibat dari kelakuan bejatnya Tuan Ras, orang kaya mah emang bebas ya, mau kayak gimana juga dan bersikap seenaknya pada orang kecil seperti kita karena merasa punya kuasa jadi bisa bersikap semena-mena."
__ADS_1
"Iya istrinya juga, sepertinya gak keberatan sama sekali ya, udah jelas punya suami kayak gitu masih aja dibiarin. Seharusnya dia itu bisa merasakan sebagai sesama perempuan dan merasa iba pada Bu Ayu yang harus hamil tanpa suami."
"Boro-boro punya rasa iba, kamu lupa minggu lalu Bu Ayu sampai gak kerja beberapa hari, itu karena ulah Non Kania, dia sengaja menyiramkan kaki Bu Ayu dengan susu yang masih panas, bahkan melemparkan gelasnya sampai hancur."
"Kamu dengar kabar itu dari mana kok aku gak tau, aku kira Bu Ayu kecelakaan aja,"
"Aku tau itu dari OG yang nganterin Bu Ayu ke rumah sakit, awalnya Bu Ayu gak mau cerita. tapi, karena dipaksa olehnya jadi Bu Ayu ceritain semuanya."
"Apa yang dia ceritain?"
"Dia bilang Non Kania marah padanya, karena dia gak mau disuruh untuk menggugurkan kandungannya dan yang lebih parahnya lagi Tuan Ras diam aja tidak membantu Bu Ayu sama sekali."
"Ya tuhan, mereka benar-benar gak punya hati ya, padahalkan Bu Ayu sama sekali tidak meminta Tuan Ras untuk tanggung jawab. tapi, kenapa mereka melakukan hal kejam itu pada Bu Ayu."
"Iya, mungkin itu alasannya kenapa Nona Kania dulu keguguran dan belum hamil juga sampai sekarang itu mungkin karma karena dia dan Tuan Ras bukan orang yang baik."
"Aku kira mereka orang yang baik, ternyata mereka hanya orang kaya yang menggunakan kekuasaan untuk berbuat seenaknya, semoga saja mereka cepat-cepat dapat karma lebih."
Kedua OG terus berbicara dengan tangan yang mengerjakan tugasnya, mereka tidak menyadari orang yang mereka bicarakan sedang berdiri di belakangnya.
Kania mematung di tempatnya mendengar setiap kata yang keluar dari mulut kedua OG itu, jadi ini yang terjadi di belakangnya para pegawai suaminya menyumpahinya dan suaminya.
Kania menghela napas dalam-dalam untuk menenangkan hatinya, setelah dirasa tenang dia mulai melanjutkan langkahnya menuju ke lift, dia tidak perlu membuang-buang energinya untuk menegur kedua OG itu karena kalau dia melakukan itu dia hanya akan menambah namanya semakin jelek di mata para pegawainya.
Dia hanya perlu menyingkirkan sumber dari masalahnya, agar namanya kembali baik-baik saja, cukup sudah dia bersabar beberapa waktu ini. Dia kira Ayu mau menyerah dan pergi dengan sendirinya. tapi, ternyata dia salah besar, Ayu malah semakin menjadi.
Dia seperti ular berbisa yang dengan senantiasa menyebarkan racunnya untuk mencari dukungan dengan membuat namanya dan suaminya semakin buruk di mata para pegawainya.
Kania keluar dari lift saat lift sudah berhenti di lantai tempat ruangan kerja Ras. dia melirik Ayu dengan tajam saat melewati ruangan Ayu.
Di ruangannya Ayu sedang serius dengan pekerjaannya tidak menyadari jika saat ini dia sedang mendapat tatapan mematikan dari Kania.
Kania mendengkus dan melanjutkan lagi langkahnya menuju ke ruangan Ras, dia langsung duduk di sofa dengan kasar dan menghembuskan napas kasar untuk menghilangkan kekesalan di hatinya.
"Kenapa Queen?" tanya Ras yang melihat raut wajah Kania berubah, tidak seperti saat dia keluar tadi.
__ADS_1
"Aku lagi kesal," sahut Kania cemberut.
"Kesal kenapa? sini duduknya di sini," kata Ras meminta Kania untuk mendekat padanya dan menepuk pahanya.
Kania menurut, dia mendekati Ras dan duduk di pangkuan Ras kemudian menyandarkan kepalanya di dada Ras.
"Kenapa hmm?" tanya Ras mengusap punggung Kania.
"Ras apa kamu sudah berhasil mengumpulkan bukti-bukti tentang Ayu?" Kania tidak menjawab Ras dan malah balik bertanya.
Dia mengangkat wajahnya menatap Ras kini juga telah menatapnya dengan heran karena Kania tiba-tiba saja membahas masalah Ayu.
"Sudah, apa kamu punya rencana untuk memberikan dia pelajaran secepatnya?" tanya Ras dijawab anggukkan oleh Kania.
"Aku rasa kita tidak bisa menunda-nundanya lagi, dia akan semakin besar kepala dan nama baikmu pasti akan semakin buruk jika kita tetap membiarkannya berlama-lama di sini, aku kira dia bisa dengan sadar pergi tanpa masalah. tapi, ternyata dia lebih suka dengan masalah," kata Kania.
"Baiklah aku akan memberikannya pelajaran," kata Ras. tapi, Kania menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak, biar aku saja, aku punya rencana untuk membuat dia menyesali perbuatannya dan membersihkan nama baik kita di depan pegawai kita dengan sekaligus," kata Kania dengan yakin.
"Kamu yakin?" tanya Ras menatap Kania dengan intens.
"Sangat yakin," jawab Kania penih keyakinan.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....