
Happy Reading....
Pagi harinya Ras sudah bangun lebih dulu, dia juga sudah meminta pelayan di rumahnya untuk mengantarkan baju ganti ke rumah sakit dan dan saat ini dia sudah rapi dengan baju santainya dan sedang menunggu Kania bangun.
Beberapa saat kemudian Kania akhirnya membuka matanya dan dia langsung disuguhi suaminya yang sedang duduk manis di sampingnya dengan memasang sebuah senyuman.
"Selamat pagi sayang," katanya dengan senyuman yang masih terpasang di wajahnya.
Kania tidak memperdulikannya dia memasang wajah acuhnya dan akan turun dari ranjangnya untuk ke kamar mandi.
"Mau kemana?" tanya Ras menahan gerakan Kania.
"Ke kamar mandi," jawab Kania datar.
"Aku anter ya, takutnya kamu jatuh," katanya dengan nada yang sedikit khawatir.
"Gak perlu," jawab Kania singkat dan langsung turun dari ranjangnya.
Ras mengikutinya dari belakang karena takut Kania terpeleset dan jatuh.
"Kenapa kamu mengikuti aku masuk," kata Kania menatap Ras galak karena Ras mengikutinya memasuki kamar mandi.
"Tapi, aku takut kamu jatuh Kan," kata Ras tanpa dosa.
"Aku bisa jaga diri aku sendiri, kamu pergilah," kata Kania menunjuk Ras supaya keluar.
"Kamu gak usah malu ya, aku tungguin di sini aja nanti kalau kamu jatuh gimana?" kata Ras masih kukuh berdiri di tempatnya tidak mau keluar.
"Aku bisa sendiri keluar," kata Kania menatap Ras tegas.
"Tapi...."
"KELUAR!" Kania memotong perkataan Ras dengan suaranya yang lumayan nyaring karena kesal dengan Ras yang kukuh padahal dia sudah gak tahan mau buang air.
"Tapi nanti...."
Karena sudah tidak sabar Kania pun mendorong Ras agar keluar dari kamar mandi dan langsung menutup pintu kamar mandi dengan keras, Ras sampai kaget karena posisi wajahnya dan pintu hanya berjarak beberapa senti hingga hampir saja wajah babak belur karena mencium pintu kamar mandi itu.
"Kan, kamu hati-hati ya jalannya awas nanti lantainya licin," kata Ras sambil mengusap wajahnya.
"Hampir aja nyium pintu," gumamnya setelah itu dia mengambil pakaian untuk Kania yang dianterin oleh pelayannya tadi.
Jika kondisi Kania baik-baik saja rencananya siang ini dia akan membawa Kani pulang lagi.
__ADS_1
"Kan, ini baju kamu," kata Ras sambil mengetuk pintu kamar mandi.
Kania membuka sedikit pintu kamar mandinya dan hanya mengeluarkan tangannya saja untuk mengambil baju gantinya.
Saat Kania masih di kamar mandi Ras memainkan ponselnya dan beberapa saat kemudian suster memasuki ruangan itu untuk mengantarkan sarapan.
"Tuan ini sarapan untuk Ibu Kania," kata Suster itu.
"Iya terima kasih, Sus," kata Ras.
"Apa ada yang Anda butuhkan lagi Tuan?" tanya Suster itu dengan ramah.
"Apa istri saya bisa pulang sekarang?" tanya Ras.
"Saya kurang tau Tuan, nanti biar Dokter memeriksa keadaan Ibu Kania terlebih dahulu," jawab Suster.
"Kapan Dokternya akan ke sini?" tanya Ras lagi.
"Sepertinya sebentar lagi," jawab Suster itu, setelah itu suster pun pamit pada Ras dan pergi dari sana.
Tak lama setelah suster itu pergi Kania keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah ganti. Ras berniat akan memapah Kania berjalan. tapi, Kania langsung menghentikannya.
"Aku bisa sendiri," kata Kania pada Ras yang akan berjalan mendekatinya, Ras akhirnya hanya diam dan menganggukkan kepalanya singkat. dia hanya melihat Kania yang sudah mendudukkan dirinya di tempat tidurnya.
"Aku ingin pulang," kata Kania tanpa melihat ke arah Ras.
"Aku ingin pulang ke rumah Papa," perkataan Kania membuat mata Ras membelalak tak percaya, dia langsung duduk di ranjang Kania dan memegang tangan Kania.
"Kan, aku tau aku sudah salah. tapi, aku mohon kita bicarakan dulu semuanya dengan tenang ya, jangan langsung ambil keputusan seperti itu, aku melakukan semua itu karena aku sudah mencintaimu dari dulu, dari sebelum Ray dan kamu bertemu lagi, kamu juga harus pikirkan anak kita Kan, dia membutuhkan keluarga yang utuh, aku mohon jangan seperti ini ya, aku gak mau kamu pergi," kata Ras panjang lebar dia menatap Kania dengan memasang tatapan memohonnya.
"Kamu itu bicara apa sih, kamu mau kita pisah gitu hah!" kata Kania menarik tangannya dari Ras dan menatap Ras tajam.
"Kok jadi aku sih, tadi katanya kamu mau pulang ke rumah Papa kamu, itu artinya kamu yang mau pergi 'kan kamu mau kita pisah," kata Ras dengan memasang wajah polosnya.
"Aku mau pulang ke rumah Papa karena aku kangen masakan Mama, kenapa kamu jadi membahas tentang pisah segala," kata Kania dengan nada ketus.
Mendengar perkataan Kania itu, tanpa aba-aba Ras langsung memeluk erat tubuh Kania, tadi dia berpikir jika Kania ingin pergi dan ingin berpisah dengannya.
"Rasheed lepas, aku tidak bernapas, kamu mau membunuhku hah!" kata Kania sambil mendorong tubuh Ras.
"Maaf, maaf apa aku menyakitimu, aku sangat senang karena tadi aku berpikir kamu akan ninggalin aku karena sudah tau kebenarannya," kata Ras senang dia menangkup wajah Kania dengan kedua tangannya.
"Enak saja aku pergi dalam keadaan hamil seperti ini sedangkan kamu nanti bebas cari wanita lain, bukankah itu keenakan untuk kamu," kata Kania santai dan melepaskan tangan Ras dari wajahnya.
__ADS_1
Dia tidak berpikiran untuk pergi dari Ras karena hatinya secara tidak sadar sudah terikat dengan hati Ras, apalagi sekarang dia sedang hamil, dia tidak mungkin menjauhkan anaknya dari ayahnya, sebagai orang yang pernah tahu bagaimana kehidupan tanpa seorang ayah, tanpa orang tua yang lengkap tentu dia tahu bagaimana rasanya dan dia tidak ingin anaknya sampai mengalami hal yang sama, meskipun jika seandainya dia memilih pergi dari Ras, anaknya tidak akan kekurangan kasih sayang dari orang-orang yang disekitarnya. tapi, tetap saja. adanya keluarga yang utuh adalah keinginan terbesar setiap orang.
Dia tahu Ras salah, dia sama sekali tidak membenarkan apa yang Ras lakukan itu. tapi, pergi darinya bukanlah cara terbaik untuk menghukumnya atas kesalahannya itu, toh semuanya sudah terjadi dia tidak bisa mengembalikan semuanya seperti sediakala, sekarang dia hanya bisa berharap agar semua orang yang terluka karena Ras sebelumnya bisa menemukan kebahagiaan mereka masing-masing begitupun dengan dia dan Ras.
"Aku lapar," kata Kania masih memasang wajah acuhnya dia ingin memberikan pelajaran pada suaminya itu.
"Baiklah sekarang sarapan dulu ya, sebelum Dokternya datang lagi untuk memeriksa kamu lagi," kata Ras mengambil sarapan yang suster antarkan tadi.
"Aku suapi ya," kata Ras mengarahkan satu sendok berisi bubur ke mulut Kania.
Kania menurut karena sebenarnya dia benar-benar lapar dari kemarin dia belum makan sama sekali, hanya minum air putih terus menerus.
Kania menghabiskan semua makanannya tanpa sisa, Ras mengambilkan air minum untuknya setelah selesai dia kembali istirahat sambil menunggu Dokter.
"Ada yang kamu inginkan lagi?" tanya Ras yang dengan setia duduk di kursi yang ada di samping ranjang Kania.
"Gak ada," jawab Kania singkat tanpa melihat ke arahnya dan sibuk dengan ponselnya.
"Ada yang sakit gak? biar aku pijat," tanya Ras.
"Gak ada kamu diamlah, jangan bawel ganggu tau gak," kata Kania dengan ketus.
"Iya baiklah sekarang aku akan diam," kata Ras menurut, dia hanya diam sambil melihat Kania yang sedang serius dengan ponselnya hingga Dokter pun datang.
Dokter memeriksa Kania dan ternyata Kania baik-baik saja dan sudah diperbolehkan untuk pulang mereka pun mengabari keluarganya tentang kabar itu agar keluarganya tidak khawatir.
Sesuai keinginan Kania dia pulang terlebih dahulu ke rumah Kean karena dia merindukan masakan Mamanya.
Selama di rumah itu Kania mengabaikan keberadaan Ras, dia hanya sibuk mengobrol dengan Mamanya dan para pelayan sedangkan Ras dianggap tidak ada di sana.
Ras tidak berani protes dengan hal itu dia hanya bisa pasrah karena dia tidak ingin Kania marah dan akan berakibat buruk pada kesehatannya dan calon anak mereka.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....