Istri Tercinta Tuan Muda

Istri Tercinta Tuan Muda
Cinta dan keegoisan.


__ADS_3

Happy Reading....


Terjadi keheningan di mobil yang membawa Kania dan Ras menuju ke rumahnya itu.


"Kenapa kamu bicara seperti itu?" tanya Kania setelah beberapa saat terdiam dengan menatap Ras yang masih fokus pada jalan di depannya.


"Aku bisa melihat di mata kalian yang menunjukkan ingin saling memiliki, apalagi tatapan Ray padamu," kata Ras berusaha tetap tenang.


"Aku dan dia sudah tidak mungkin bersama," kata Kania kembali membenarkan duduknya dan menatap ke arah depan lagi.


"Apa kamu akan kembali padanya jika ternyata Ray tidak bersalah?" tanya Ras masih tanpa melihat ke arah Kania.


"Bukankah tadi aku sudah bilang jika aku dan dia tidak mungkin bersama, meskipun dia tidak bersalah sekalipun," jawab Kania dengan suara yang agak keras tanpa melihat ke arah Ras.


Ras menghentikan mobilnya karena sudah sampai di depan rumahnya, dia berbalik menatap Kania dengan seksama.


"Kenapa? apa karena ada aku," kata Ras serius.


"Aku tidak ingin membahas masalah ini lagi bisakah kamu untuk tidak membahasnya lagi," kata Kania menatap Ras sekilas kemudian membuka pintu mobil dan turun dari mobil.


Ras melihat ada sebuah kesedihan dari tatapan mata Kania, dia menatap Kania yang berjalan memasuki rumahnya.


Dia kemudian turun dari mobilnya dan menyusul Kania memasuki rumahnya, dari ujung tangga dia melihat Kania memasuki kamarnya dia pun segera menaiki tangga dan menuju ke kamarnya.


Saat memasuki kamarnya, dia melihat Kania sedang duduk di ranjang dengan posisi membelakanginya. Kania terlihat sedang mengusap air matanya saat dia memasuki kamarnya.


Tanpa menoleh ke arahnya, Kania langsung bangun dan berjalan menuju ke kamar mandi dan langsung masuk ke kamar mandi, Ras hanya menghela napas gusar dia bingung mau bicara apa saat berhadapan dengan Kania.


Karena ingin membiarkan Kania istirahat, Ras pun kembali keluar dari kamarnya menuju ke ruang kerjanya, dia membuka pintu yang terhubung ke balkon di ruang kerjanya.


Dia berdiri di pagar pembatas balkon itu dan menatap gelapnya langit malam, malam ini langit benar-benar gelap tertutup awan sehingga tidak terlihat cahaya bintang maupun bulan.


Saat sedang asik berselam dengan pikirannya, matanya menangkap sosok kakaknya yang sedang duduk di bangku yang ada di halaman depan rumahnya.


Ras keluar dari rumahnya bermaksud untuk menemui kakaknya Iden yang sedang termenung di kegelapan malam itu.


Dia berjalan secara perlahan ke halaman depan rumah Delvin dengan melewati rumah Oma dan Opa-nya yang hanya ada penjaga yang berkeliling di sana.


"Lagi ngapain Kak?" tanya Ras saat sudah sampai di samping Iden.

__ADS_1


"Hanya sedang cari angin saja Ras," kata Iden melirik sekilas pada Ras, setelah itu dia menatap ke sembarang arah lagi dengan menyandarkan punggungnya di sandaran bangku.


"Kapan Kakak pulang dari luar kota?" tanya Ras mendudukkan dirinya di samping Iden.


"Tadi sore," jawabnya santai.


"Sepertinya Kakak sedang banyak pikiran," kata Ras ikut menyandarkan punggungnya.


"Hemmm, kamu pasti tau apa yang sedang Kakak pikirkan," jawab Iden terkekeh pelan.


"Kakak masih memikirkan masalah Tisha dan Ray?" tanya Ras dengan hati-hati.


Hanya anggukan kepala yang Iden berikan sebagai jawaban atas pertanyaan Ras itu, Ras menghela napas dalam-dalam melihat Kakaknya yang terlihat sedih.


"Apa Kakak membenci mereka?" tanya Ras lagi, kali ini dia menengokkan kepalanya melihat Iden.


"Apa kamu pikir Kakak bisa membenci mereka, Ray adalah adikku, adik yang dari kecil aku jaga dan Tisha wanita itu juga wanita yang aku cintai, bagaimana bisa aku membenci mereka aku hanya kecewa, kecewa pada takdirku, takdir yang membuat aku berada di posisi ini." Iden menatap Ras dengan dalam, terpancar ketidakberdayaan dan pasrah dari sorot matanya.


Melihat tatapan mata Iden, Ras merasa hatinya bergetar karena merasa bersalah, mungkin dia sudah menyakiti empat hati sekaligus karena keegoisannya.


Hati Ray, hati Tisha, hati Iden dan hati Kania. tersakiti karena peristiwa itu dan dia hanya diam menyaksikan semua itu dan menikmati semua itu.


"Mungkin untuk beberapa saat aku sempat membenci mereka meskipun aku tidak tau apa yang terjadi sebenarnya. tapi, sekarang aku sudah mulai bisa menerimanya, meskipun aku masih sedikit merasa kecewa."


Ras hanya menganggukkan kepalanya tanpa suara, dia tidak bisa mengeluarkan suaranya.


"Kakak pasti akan datang, sebagai Kakak mereka," kata Iden tersenyum pahit.


"Apa Kakak yakin?" tanya Ras menatap Iden dengan serius.


"Tentu saja, walau bagaimanapun Ray adalah adikku," kata Iden tersenyum lagi setelah itu dia berdiri dari duduknya.


"Istirahatlah Ras, Kakak juga mau istirahat dari tadi belum istirahat," kata Iden menepuk pundak Ras.


"Iya Kak," jawab Ras.


Iden pun pergi dari sana meninggalkan Ras yang hanya termenung menatap punggungnya yang semakin menghilang dari balik pintu rumahnya.


Kakaknya itu adalah Kakak terbaik untuk dia dan kedua saudaranya, dari kecil Iden selalu lebih mengutamakan mereka bertiga menjaga mereka layaknya adik kandungnya sendiri. bahkan sekarang, saat semua ini terjadi, dia masih tidak membenci Ray.

__ADS_1


"Bukan Ray yang seharusnya kalian benci, mungkin aku lebih pantas kalian benci karena aku hanya jadi penonton dan menjadi bagian dari kekacauan yang terjadi pada kalian," gumam Ras mendongakkan kepalanya dan memejamkan matanya.


Jujur dia sebenarnya sedih melihat kesedihan Ray dan Iden apalagi Kania. tapi, dia juga tidak bisa mengorbankan cintanya untuk saudaranya meskipun awalnya dia sudah berusaha.


Ras berdiri dan berjalan dengan gontai menuju ke rumahnya, dia memasuki kamarnya, terlihat Kania sudah memejamkan matanya, dia duduk di samping Kania menatap wajah tenang Kania seperti kebiasaannya akhir-akhir ini sebelum tertidur.


"Salahkah jika aku terlalu mencintaimu hingga aku tidak mau melepaskanmu meskipun aku sudah berusaha," gumamnya dengan pelan.


Meskipun banyak orang yang mengatakan jika batas dari cinta yang sesungguhnya adalah ketika kita bisa melepaskan orang yang kita cintai untuk bahagia dengan kebahagiaannya. tapi, tidak menurut Ras dia ingin memiliki cintanya, ingin bersama dengan cintanya, meskipun dengan sejuta keegoisan di dalamnya.


Bukankah dia sudah berusaha melakukan hal itu. tapi, ternyata takdir seolah berpihak padanya agar dia bisa bersama dengan cintanya meski harus banyak orang yang tersakiti karena hal itu.


Sekarang dia hanya bisa berdoa agar orang yang saat ini merasa tersakiti bisa menemukan kebahagiaan mereka masing-masing seperti dirinya yang sudah menemukan kebahagian dengan berada di sisi Kania meskipun belum bisa memiliki Kania seutuhnya.


Ras mendaratkan sebuah kecupan di kening Kania, Kania melenguh dan membenarkan posisi tidurnya, Ras awalnya menyangka jika Kania akan bangun hingga dia mematung di tempatnya. tapi, dia bernapas lega karena Kania tidak bangun.


Dia pergi ke kamar mandi untuk menggosok giginya dan mengganti bajunya di ruang ganti.


Ras keluar dari ruang ganti dengan bertelanjang dada seperti biasanya, dia hanya memakai celana tidur panjang yang menutup tubuhnya.


Setelah mematikan lampu dia merebahkan tubuhnya dan memakai selimut hanya sebatas pinggangnya setelah itu memejamkan matanya dan tertidur.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung....


Selamat beristirahat kakak-kakak semuanya, bagi yang membacanya malam.

__ADS_1


Bagi yang membacanya pagi-pagi selamat beraktivitas.


Jangan lupa selalu tinggalkan jejaknya, di tiap bab kalau bisa mah ya kakak semuanya🥰


__ADS_2