
Happy Reading....
Beberapa bulan kemudian....
Kini kini hubungan kedua pasangan itu sudah mulai terbiasa dengan pasangan mereka masing-masing, Ras dan Kania juga semakin dekat meskipun Kania tetap masih belum mau jujur pada Ras jika sebenarnya dia juga sudah mencintai Ras.
Begitu pun dengan hubungan Ray dan Tisha semenjak pulang dari bulan madu, mereka sudah semakin dekat meskipun belum saling mengungkapkan perasaan mereka masing-masing.
Hari ini adalah hari minggu, Kania sudah janjian untuk pergi jalan-jalan dengan Zani dan Tisha, semalam Zani menghubunginya mengajaknya jalan-jalan.
"Apa kamu akan berangkat jalan-jalan sekarang?" tanya Ras yang baru saja memasuki kamarnya dan langsung melingkarkan tangannya di leher Kania yang sedang duduk di depan meja rias.
"Iya, Ras aku belum selesai dandan, jangan ganggu," kata Kania karena Ras terus menciumi pipinya dengan gemas.
"Kamu sebaiknya gak usah dandan sayang, nanti banyak mata pria yang tidak mau berkedip lihat kamu," kata Ras masih mencium pipi Kania berkali-kali.
"Ras kalau kamu kayak gini terus, aku gak selesai-selesai dandannya," kata Kania berusaha bersabar menghadapi suaminya yang kadang kekanakan.
"Bujuk aku dulu," kata Ras yang masih asik dengan aksinya itu.
Kania memutar matanya malas tapi tak urung dia pun mengikuti keinginan Ras itu.
"Suamiku sayang, biarkan aku dandan dengan tenang ya, Zani sama Tisha sudah nungguin aku," kata Kania membujuk Ras dengan suara lemah lembutnya.
"Oke istriku sayang. tapi, berikan aku kiss dulu dong," kata Ras menatap Kania dari pantulan cermin.
Karena ingin cepat, Kania tidak membantah perkataan Ras dia memiringkan kepalanya hingga berhadapan dengan wajah Ras.
Dia langsung mendaratkan sebuah ciuman di bibir Ras, Dia niatnya hanya akan mencium kilas bibir Ras. tapi, Ras tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dia malah menahan tengkuk Kania dan memperdalam ciuman itu.
"Sudah, sekarang kamu bisa lanjutkan lagi," kata Ras tersenyum penuh kemenangan.
"Jangan ganggu lagi," kata Kania setelah dia melanjutkan kegiatannya, sedangkan Ras duduk di pinggir ranjang sambil terus memperhatikan Kania.
Beberapa saat kemudian Kania selesai, dia memasukkan ponselnya ke tasnya.
"Kamu gak mau pakai sopir saja," kata Ras.
"Gak mau, aku bawa mobil sendiri aja," kata Kania bersiap akan pergi.
"Baiklah, kamu hati-hati bawa mobilnya," kata Ras.
"Iya, bukannya kamu juga akan pergi menemui temanmu untuk membahas masalah Restoran," kata Kania.
"Iya aku berangkat sebentar lagi," kata Ras.
"Ya udah kalau gitu aku pergi dulu ya," kata Kania mencium kilas pipi Ras dan langsung pergi.
__ADS_1
Ras hanya tersenyum dengan hal itu, sekarang Kania sudah terbiasa mencium pipinya saat akan pergi, meskipun awalnya harus dipaksa.
Kania menjalankan mobilnya menuju ke sebuah Mall yang Zani dan Tisha sebutkan, hari ini rencananya dia akan mengelilingi Mall untuk berbelanja dan dilanjutkan dengan nonton di bioskop yang ada di Mall itu dilanjutkan dengan makan sebelum pulang.
Kania tentu saja senang karena dia bisa berjalan-jalan dengan sesama perempuan, karena biasanya dia hanya pergi jalan-jalan dengan Papa dan Mamanya ataupun dengan diikuti oleh pengawal dan itu tidak bisa berlangsung lama.
Kania sudah sampai di pelataran Mall itu dia mencari tempat parkir tempat Zani dan Tisha sudah menunggunya.
Saat sudah menemukannya dia memarkirkan mobilnya dan turun dari mobilnya, dia tersenyum pada Zani dan Tisha yang sedang berjalan ke arahnya.
"Maaf ya, Kakak lama tadi ada sedikit gangguan," kata Kania pada Zani dan Tisha yang sudah berada di dekatnya.
"Tidak apa-apa kok, Kak. kita juga belum terlalu lama sampainya," jawab Zani.
"Ya udah kita masuk yuk," kata Kania.
"Ayo, kita mau mulai dari mana?" tanya Zani.
"Kita mulai dari toko baju aja gimana?" kata Kania.
"Ya udah ayok, Kak, Sha," kata Zani antusias menggandeng tangan Kania dan Tisha.
Tisha tidak banyak bicara pada Kania karena sejujurnya dia masih merasa canggung saat berhadapan dengan Kania.
Disaat mereka bertemu saat Ras dan Kania berkunjung ke rumah Vano, Tisha tidak berani memulai pembicaraan duluan dengan Kania.
Mereka bertiga masuk ke sebuah toko baju dan mulai mencari baju yang cocok untuk mereka, setelah menemukan beberapa baju yang cocok untuk mereka, mereka pun mencoba baju-baju itu dan membeli yang paling pas untuk mereka.
"Kak, temani kita nyari gaun yuk, lusa kita akan menghadiri acara ulang tahun teman kita," kata Zani saat mereka keluar dari toko baju itu.
"Tadi gak ada yang cocok emang?" tanya Kania heran.
"Gak ada," jawab Zani tersenyum lebar menampilkan sederet giginya.
"Kamu juga tidak menemukan yang cocok barusan?" tanya Kania pada Tisha.
"Tidak Kak, barusan aku hanya beli baju buat sehari-hari sama buat pergi ke kampus aja," jawab Tisha tersenyum tipis.
"Baiklah ayo. tapi, setelah itu kita ke toko sepatu ya Kakak, mau beli sepatu," kata Kania.
"Oke Kak," jawab Zani mengacungkan jempolnya, setelah itu mereka pun pergi ke butik untuk membeli gaun.
Kania pun ikut memilih beberapa gaun untuknya sendiri karena barusan dia tidak membeli gaun, dia hanya membeli beberapa dress dan baju formal untuk bekerja.
Setelah menemukan gaun yang cocok, mereka pun keluar dari butik itu dan langsung menuju ke toko sepatu.
Mereka terus memutari Mall itu dan entah sudah berapa toko yang mereka masuki sehingga mereka merasa kelelahan dan memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu sebelum pergi ke bioskop untuk menonton.
__ADS_1
Mereka beristirahat di sebuah Restoran yang masih ada di Mall itu, Zani pergi ke toilet terlebih dahulu sedangkan Tisha dan Kania, langsung menuju ke meja yang kosong dan memesan makanan dan minuman mereka sekaligus untuk Zani.
Mereka tidak memesan makanan yang berat, mereka hanya memesan makanan ringan karena rencananya sehabis nonton mereka akan ke Restoran yang katanya baru buka beberapa bulan dan Zani ingin mencobanya.
"Gimana hubungan kamu sama Ray, apa semuanya baik-baik saja?" tanya Kania membuka percakapan antara dirinya dan Tisha.
"Alhamdulillah baik Kak," jawab Tisha tersenyum.
"Maaf untuk semua yang terjadi, Kak, aku sama Kak Ray juga dijebak," jelas Tisha menatap Kania.
"Apa kamu bicara yang sebenarnya?" tanya Kania.
"Iya Kak, aku sama Kak Ray, tidak melakukan apapun, saat itu kami benar-benar dijebak gak tau oleh siapa, aku gak ngerti kenapa aku bisa tiba-tiba ada di kamar Kak Ray saat itu," jelas Tisha menatap Kania dengan serius.
Kania menatap Tisha dengan serius mencari sebuah kebohongan dari perkataan Tisha.
"Apa kamu benar-benar tidak ingat bagaimana kamu bisa di kamar Ray, saat itu?" tanya Kania.
Tisha menggelengkan kepalanya dia memang benar-benar tidak sadar kenapa dia bisa ada di kamar Ray, karena yang dia ingat malam itu dia merasa sedikit pusing hingga akhirnya dia pun pamit untuk pergi ke kamarnya pada Ras dan Zani.
"Sebaiknya kita lupakan saja masalah itu, aku tidak pernah marah pada kalian. mungkin, jika merasa kecewa iya. tapi, sekarang aku sadar mungkin aku dan Ray bukan jodoh, mungkin aku harusnya sama Ras, begitu pun kamu. mungkin kamu memang tidak ditakdirkan berjodoh dengan Kak Iden dan jodoh kamu adalah Ray, sekarang yang bisa kita lakukan adalah menjalani hidup kita sekarang sebagai mana mestinya," kata Kania menatap Tisha.
"Aku yakin semuanya memang sudah diatur oleh yang maha mengatur segalanya. karena jika kita memang tidak berjodoh dengan pasangan kita sebelumnya tanpa adanya masalah itu pun kita tetap tidak akan berjodoh. dan Allah akan memisahkan kita dengan cara lain."
"Iya Kak, semoga Kak Kania sama Kak Ras selalu bahagia," kata Tisha tersenyum.
"Ya, begitu pun dengan kamu semoga kamu dan Ray juga selalu bahagia," kata Kania.
Mereka sama-sama tersenyum dan merasa lega, tidak ada lagi kecanggungan yang terjatuh antara Kania dan Tisha.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1