Istri Tercinta Tuan Muda

Istri Tercinta Tuan Muda
Saling Membuka hati.


__ADS_3

Happy Reading....


Kania saat ini sedang duduk di sofa yang ada di ruang keluarga, dia sedang mengoleskan salep pada tangannya yang terluka.


"Nona muda tangan Anda kenapa? kenapa bisa terluka seperti itu?" tanya salah satu pelayan yang masih muda yang mengantarkan teh dan cemilan untuk Kania.


"Terkena minyak karena mau masak telur tadi malam," jawab Kania sedikit malu karena para pelayan pasti sudah melihat bekas kekacauan yang dilakukannya tadi malam.


"Kenapa tidak menghubungi kami saja Nona kalau Anda mau sesuatu," kata pelayan itu sambil berdiri di samping sofa yang Kania duduki.


"Takut ganggu karena semalam sudah sangat larut banget," kata Kania.


"Padahal gak pa-pa Nona kita selalu ada yang gantian buat jaga dan gak tidur karena takut Nyonya atau semuanya membutuhkan kita saat malam," jelas pelayan itu.


"Benarkah seperti itu, terus pelayan yang malam tidak tidur gimana? kasian 'kan kalau siang harus kerja juga," kata Kania.


"Yang malamnya jaga, siangnya dia bisa istirahat sepuasnya saat pelayan lain sudah bangun Nona," jawab pelayan itu.


"Oh baguslah kalau seperti itu, apa itu perintah dari Oma dan Opa?" tanya Kania penasaran.


"Tidak, itu perintah dari kepala pelayan karena beliau takut kita semua keasikan tidur sehingga saat Nyonya atau yang lainnya nelpon ke paviliun gak ada yang datang. jadi Bu Patmi meminta kita untuk bergantian, setiap malamnya dua pelayan harus berjaga dan tidak tidur," jelas pelayan itu.


"Oh gitu ya, oh iya nama kamu siapa dan umur kamu berapa tahun?" tanya Kania.


"Nama saya Rina Nona umur saya 26 tahun Nona," jawab pelayan itu.


"Wah umurnya cuma beda sedikit denganku, duduklah aku ingin ngobrol, bosen juga setiap hari libur sendiri gak ada teman ngobrol," perintah Kania.


"Tapi Nona saya takut Nyonya dan Tuan besar marah karena saya tidak bekerja," kata Rina tidak enak.


"Tidak apa-apa mereka tidak akan marah, duduklah," kata Kania.


Pelayan itu pun mendudukkan dirinya di lantai yang dilapisi karpet, Kania langsung menyuruhnya untuk duduk di sofa.


"Tidak Nona saya di sini saja," tolak Rina.


"Ya sudah deh terserah kamu aja," kata Kania.


Akhirnya Rina pun menemani Kania yang sedang menonton dan meminum teh-nya dia bercerita tentang dirinya karena Kania menanyakan kehidupannya Kania dan Rina banyak mengobrol.


Rina berpikiran ternyata istri dari Tuan mudanya itu tidak seperti yang terlihat, sebelumnya dia menganggap jika Nona mudanya itu adalah wanita yang sedikit sombong karena dia selalu memasang wajah judesnya.


Kania lumayan senang karena ada teman ngobrol, di saat libur seperti itu, biasanya saat libur dia selalu diam di kamarnya dan mempelajari tentang pekerjaannya.

__ADS_1


Ras yang baru selesai mandi setelah jogingx menyusul Kania ke ruang keluarga dan melihat Kania sedang berbicara dengan salah satu pelayan di sana.


"Tuan muda," kata Rini saat melihat Ras berjalan memasuki ruang keluarga, dia berdiri dan membungkukkan badannya.


"Buatkan aku kopi," perintah Ras dan mendudukkan dirinya tidak jauh dari Kania.


"Baik Tuan muda." Rina pun pergi ke dapur untuk membuatkan kopi untuk Ras.


"Bagaimana luka di tanganmu?" tanya Ras pada Kania yang sedang meminum teh-nya.


"Sudah mendingan, tadi juga sudah diolesi salep lagi," jawab Kania menunjukkan telapak tangannya pada Ras.


"Baguslah kalau sudah tidak apa-apa," kata Ras.


Kania hanya menganggukkan kepalanya sambil memakan cemilan yang di sediakan oleh pelayan.


Beberapa saat kemudian Rina kembali dengan membawa secangkir kopi untuk Ras, dia menyimpan kopinya di meja dan langsung pamit pergi dari sana meninggalkan Kania dan Ras berdua.


Kania menatap Ras yang sedang melihat layar televisi, dia ingin mengatakan suatu hal pada Ras. tapi, dia merasa ragu.


"Eumm Ras," panggil Kania pelan.


Ras menjawabnya dengan berdeham kecil dan meminum sedikit demi sedikit kopi yang masih panas itu.


"Kenapa?" tanya Ras masih asik menikmati sedikit demi sedikit kopinya.


"Bisakah kita bersikap layaknya suami istri?" pertanyaan Kania membuat Ras kaget.


Ras langsung mengalihkan perhatiannya pada Kania mencari tahu apa Kania benar-benar mengatakan hal itu.


"Maksudku gini, kita sama-sama tidak tau akan terjebak dengan situasi seperti ini. tapi, bukankah tidak ada salahnya jika kita mulai untuk menerima pernikahan ini dan berusaha saling membuka hati kita satu sama lain," kata Kania menatap Ras dengan serius.


Dia sudah memikirkan hal ini selama beberapa hari dia dan Ras tidak mungkin terus seperti ini mungkin dia dan Ras harus mencoba dulu lebih dekat dan menerima pernikahan ini.


'Hatiku sudah terbuka sepenuhnya untukmu Kan, hanya saja kamu tidak tau akan hal itu, apa ini artinya kamu sudah mau mulai membuka hatimu untuk pernikahan ini, untukku juga,' kata Ras terbesit kebahagiaan di hatinya mendengar perkataan Kania barusan. tapi, sekarang dia bingung harus memberi tanggapan seperti apa atas pernyataan Kania itu.


"Aku tau pasti tidak mudah untukmu untuk menerima pernikahan ini begitupun dengan aku. tapi, aku tidak ingin kita seperti ini terus, jadi bisakah kamu mulai semuanya dari awal anggap saja sekarang aku sedang memintamu untuk menjadi pacarku," kata Kania.


"Bukankah biasanya laki-laki yang menembak wanita," kata Ras berusaha menahan tawanya mendengar perkataan Kania.


"Apa bedanya, mau laki-laki atau perempuan duluan sama aja 'kan" kata Kania cuek.


"Ya bedalah, kalau perempuan yang nembak duluan itu terkesan kurang pantas," kata Ras menatap Kania dengan serius.

__ADS_1


"Terus gimana dong," kata Kania polos.


"Apa kamu benar-benar serius dengan perkataanmu itu?" tanya Ras memastikan.


"Iya aku benar-benar serius," kata Kania menganggukkan kepalanya dengan yakin.


"Baiklah kalau gitu mari kita mulai dari pacaran dulu tapi harus aku yang nembak kamu duluan, bukan kamu yang nembak aku," kata Ras sedikit terkekeh.


"Baiklah, kapan kamu nembak aku?" tanya Kania.


"Sabarlah, eummm gimana kalau nanti malam kita makan malam di luar," ajak Ras.


"Baiklah," jawab Kania langsung setuju.


Kania sudah memutuskan untuk mulai membuka hatinya lagi, dia berharap dia tidak salah untuk kedua kalinya membuka hatinya untuk pria.


Sementara Ras berasa terbang ke langit ke tujuh dengan apa yang terjadi barusan dia tidak menyangka akan secepat ini Kania akan mau mencoba membukakan hatinya untuknya.


'Apa aku sedang bermimpi?' tanya Ras dalam hatinya.


Dia sedikit mencubit tangannya untuk memastikan bahwa apa yang terjadi barusan bukanlah mimpi dan dia yakin jika ini bukan mimpi karena dia bisa merasakan sakit, dia melirik ke arah Kania yang sedang meminum teh-nya.


Dia senyum-senyum sendiri sambil terus menyesap kopinya, dia berusaha untuk tidak menunjukkan kebahagiaan yang berlebihan itu di depan Kania.


Tiba-tiba saja dia terpikir untuk memberikan Kania sesuatu yang indah saat makan malam nanti dia harus memberikan kesan yang tidak pernah Kania lupakan.


'Sepertinya aku harus mempersiapkan semuanya dari sekarang,' gumam Ras dalam hatinya.


Ras sedang memikirkan kira-kira bagaimana caranya dia menyatakan perasaannya pada Kania nanti malam agar Kania terkesan.


Ras dan Kania sibuk dengan pemikirannya masing-masing, Ras sibuk memikirkan cara untuk nembak Kania dan Kania sibuk untuk meyakinkan hatinya jika saat ini dia sudah melakukan hal yang benar, melupakan apa yang sudah terjadi dan mencoba menata masa depannya.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2