Istri Tercinta Tuan Muda

Istri Tercinta Tuan Muda
Makan malam ke rumah Vano


__ADS_3

Happy Reading....


Saat ini Kania sedang bersiap-siap untuk pergi ke rumah mertuanya, meskipun sebenarnya dia merasa enggan untuk pergi tapi dia tidak mungkin membuat mertuanya sedih karena menolak permintaannya untuk makan malam bersama keluarga Vano karena dia belum pernah berkunjung sama sekali ke rumah mertuanya itu.


Kania sudah siap dengan penampilannya yang sederhana dia memakai baju setelan berwarna dusty berlengan sampai siku dan celana panjang.


Sedangkan Ras dia memakai celana jeans pendek selutut dan kaos pendek berwarna putih.


"Ayo kita berangkat," ajak Ras yang sudah siap.


"Ayo," jawab Kania menganggukkan kepalanya singkat.


Kania mengambil tas selempang dan memasukkan ponselnya ke tasnya kemudian berjalan mengikuti Ras yang sudah berjalan lebih dulu keluar dari kamar mereka.


Selama di perjalanan Kania dan Ras tidak mengeluarkan suaranya, mereka hanya diam karena sama-sama tidak tahu mau membicarakan apa.


Mereka sudah sampai di depan gerbang rumah Adhitama, Ras memasukkan mobilnya saat gerbang rumah itu terbuka dengan lebar.


Dia menghentikan mobilnya dan melihat ke arah Kania yang terlihat ragu untuk turun dari mobil itu.


Dia turun lebih dulu dari mobilnya dan memutari mobilnya kemudian membuka pintu samping tempat Kania duduk.


"Ayo Kan." Ras mengulurkan tangannya pada Kania.


Kania menatap tangan Ras itu beberapa saat kemudian dia menerima uluran tangan Ras dan menggenggam tangan itu untuk mengurangi kegugupannya.


Ras dan Kania berjalan dengan saling bergandengan tangan memasuki rumah itu.


"Mom," panggil Ras saat memasuki rumah orang tuanya itu.


"Kalian sudah datang?" kata Adelia yang datang dari arah dapur.


"Iya Mom," jawab Ras.


"Bagaimana kabar kalian, kalian baik-baik saja 'kan?" tanya Adelia pada Ras dan Kania.


"Kita baik-baik saja Mom," kata Ras dan Kania lalu menyalami Adelia bergantian.


"Syukurlah, sekarang kita duduk dulu di ruang keluarga sambil nunggu yang lainnya selesai dengan urusan mereka," ajak Adelia menuntun Ras dan Kania untuk ke ruang keluarga menunggu anggota keluarga lainnya.


Ras secara spontan menggenggam tangan Kania lagi dan Kania pun tidak menolaknya dan membiarkannya begitu saja.


Saat berjalan menuju ke ruang keluarga, Ray berjalan menuruni tangga melihat Ras dan Kania berjalan bersama, ditambah tangan Ras yang menggenggam tangan Kania, ada rasa sakit di hatinya karena dia masih mencintai Kania.


Ray melambatkan langkahnya dengan tatapan terpaku pada Kania, begitupun sebaliknya, Kania menatap Ray lumayan lama, Ras yang melihat itu tentu saja tidak nyaman dan sedikit cemburu, dia mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Kania hingga membuat Kania sadar dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain sambil terus berjalan.


"Ray kamu sudah selesai membersihkan dirinya?" tanya Adelia membuat Ray yang semula terfokus pada Kania mengalihkan pandangannya ke arahnya.


Adelia tahu ini pasti tidak mudah, bagi mereka bertiga. tapi, mereka tidak mungkin saling menghindar untuk selamanya karena mereka keluarga akan sering bertemu jadi Adelia ingin mereka membiasakan diri dari sekarang.

__ADS_1


"Sudah Mom," jawab Ras singkat.


Kania dan Ras mendudukkan dirinya dirinya di sofa panjang yang cukup untuk mereka berdua duduki, diikuti Adelia dan Ray duduk dengan posisi yang tidak jauh dari Kania dan Ras.


Tidak ada yang membuka suara di sana, Kania menatap lurus kedepannya dia merasa canggung berada di sana berada satu ruangan dengan pria yang sempat mengisi hari-harinya selama beberapa bulan.


"Bagaimana kabar Oma sama Opa? apa mereka baik-baik saja?" tanya Adelia memecahkan kesunyian yang terjadi di ruangan itu.


Sebenarnya dia sudah tahu jika orang tuanya baik-baik saja karena dia selalu bertukar kabar dengan Mamanya, hanya saja dia bertanya seperti itu agar suasana di ruangan itu tidak terlalu canggung. Apalagi melihat Ray yang terus saja melihat ke arah Kania.


"Oma sama Opa baik-baik saja Mom," jawab Ras.


"Syukurlah, oh iya bagaimana kabar keluargamu Kan?" hanya Adelia pada Kania.


"Alhamdulillah mereka juga baik Mom, seminggu lalu kita juga berkunjung ke rumah Papa, untuk makan malam," jawab Kania.


"Iya syukurlah," jawab Adelia.


Vano datang ke ruangan itu bersama dengan Zani di belakangnya.


"Kalian sudah datang," kata Vano kepada Kania dan Ras, langsung dijawab anggukan kepala oleh Kania dan Ras.


Kania dan Ras berdiri dan langsung menyalami Vano secara bergantian.


"Sebaiknya kita makan malam sekarang karena semuanya sudah berkumpul," kata Adelia mereka semua pun menganggukkan kepalanya.


"Semuanya baik Kak," jawab Zani tersenyum pada Kania.


Kania menganggukkan kepalanya dan ikut tersenyum meskipun hanya sebuah senyuman tipis.


Mereka semua duduk di meja makan Kania duduk di kursi yang tengah, berdampingan dengan Ras yang berhadapan dengan Zani. sedangkan Ray duduk di dekat Vano berhadapan dengan Adelia.


Karena tidak mau di nilai kurang baik oleh mertuanya Kania mengambilkan makanan untuk Ras ke piringnya.


"Terima kasih," kata Ras menatap Kania.


Kania hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis kemudian dia duduk di kursinya.


Apa yang dilakukannya itu tidak luput dari perhatian semua orang yang berada di sana, begitupun dengan Ray yang menatapnya dengan tatapan sendu.


Vano berdehem dengan lumayan keras untuk menyadarkan Ray yang tidak berkedip menatap Kania.


Saat Ray melihat ke arahnya, Vano memberikan tatapan tajam dan sedikit menggelengkan kepalanya.


Ray hanya menghela napas berat dan beralih menatap piring di depannya dan berusaha memakan makanannya yang terasa seret itu saat melewati tenggorokannya karena mengingat perhatian Kania pada Ras barusan.


Semua orang makan dengan tenang, apalagi Kania dia tidak berani melihat ke arah lain selain pada Ras atau pada piring yang masih terisi makanan di depannya.


Dia takut saling bertatapan dengan Ray, entah kenapa saat ini dia masih benar-benar enggan untuk melihat ke arah Ray dan bertatapan dengan Ray secara langsung lagi seperti tadi.

__ADS_1


Dia tahu jika Ray dari tadi terus memperhatikannya, sehingga membuatnya merasa benar-benar canggung berada di sana rasanya dia ingin segera pergi dari sana.


Setelah makan malamnya selesai mereka memutuskan untuk mengobrol sebentar di ruang keluarga.


Ray tidak ikut bergabung dia ijin ke kamarnya dengan alasan ada pekerjaan, sedangkan Zani hanya di sana sebentar dia juga ijin ke kamarnya karena ada tugas dari kampusnya.


"Minggu depan adalah pernikahan Ray dan Tisha," kata Vano saat mereka tinggal berempat.


"Di mana acaranya?" tanya Ras menatap Daddy-nya.


"Di rumah Dimas, Dimas ingin acaranya diadakan di sana," jawab Vano.


"Kenapa gak diadakan di Hotel aja?" tanya Ras.


"Ray tidak mau acaranya terlalu berlebihan dia hanya ingin pernikahan yang sederhana," jelas Adelia.


"Terus bagaimana dengan Tisha? apa dia juga tidak ingin pernikahan yang mewah?" tanya Ras.


"Tisha juga sama, dia ingin pernikahan yang sederhana saja," jawab Adelia lagi.


"Baiklah pukul berapa acaranya akan dimulai?" tanya Ras.


"Acaranya ijab qabulnya masih pagi," jawab Vano.


Ras hanya menganggukkan kepalanya sedangkan Kania hanya menyimak pembicaraan itu dan mereka pun melanjutkan pembicaraan ke pembicaraan lain hingga waktu sudah semakin malam.


Ras berpamitan untuk pulang pada orang tuanya, Ras dan Kania pun pulang menuju ke rumah mereka.


Lagi-lagi mereka hanya diam dan hanya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing, Kania menatap kosong pada jalan di depannya.


"Apa kamu masih mengharapkan bisa bersama dengan Ray?" pertanyaan Ras dengan nada dingin itu membuat Kania tersentak dari lamunannya.


Kania melihat ke arah Ras yang tidak melihatnya sama sekali, dia hanya fokus melihat ke arah jalanan di depannya.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2