Istri Tercinta Tuan Muda

Istri Tercinta Tuan Muda
Penjelasan #1


__ADS_3

Happy Reading....


Kean dan Kiran memutuskan untuk ikut ke rumah sakit karena mereka juga menghawatirkan Kania.


"Kami juga akan ikut ke rumah sakit," kata Kean.


"Baiklah ayo," kata Vano langsung melangkahkan kakinya menuju ke mobilnya.


"Kai kamu pulanglah duluan, ikut dengan sopir Tuan Vano," kata Kean pada Kai.


Kai hanya bisa menganggukkan kepalanya pasrah dia tidak ingin berdebat saat kondisinya seperti ini.


Kean dan Kiran pun mengikuti Vano dan Adelia memasuki mobilnya, mobil mereka berjalan saling beriringan.


Vano menanyakan, ke rumah sakit mana yang Ras akan membawa Kania, pada sopir yang membawa Kania dan Ras.


Sedangkan Ras saat ini sedang mendekap erat tubuh Kania yang di pangkuannya dengan hati yang harap-harap cemas menunggu reaksi Kania nanti setelah mendengar kebenarannya.


"Aku harap kamu tidak berpikiran untuk meninggalkan aku sayang, karena kamu sudah mengetahui semua ini, aku tau apa yang aku lakukan ini salah. tapi, aku tidak ingin kehilanganmu," gumamnya menatap dan mengusap wajah Kania yang tidak sadarkan diri itu dengan lembut.


Ras meminta sopir untuk menuju ke rumah sakit yang paling dekat dengan rumahnya karena khawatir dengan keadaan Kania.


Beberapa menit kemudian mobilnya sampai di depan rumah sakit, dia segera membawa Kania keluar dari mobilnya.


"Tuan, Anda bisa menidurkannya di sini," kata Suster yang mendekatinya dengan mendorong brankar.


Ras langsung meletakkan tubuh Kania dengan sangat hati-hati karena takut menyakiti Kania.


Dia ikut mendorong brankar itu tanpa melepaskan tangan Kania dari genggamannya.


"Dokter bisakah saya ikut masuk?" tanya Ras saat sudah sampai di depan ruang rawat.


"Sebaiknya Anda menunggu di sini saja Tuan," jawab Dokter laki-laki itu tersenyum ramah.


"Baiklah, tolong cepat tangani istri saya," jawab Ras pasrah dan membiarkan suster menutup pintu ruangan itu.


"Semoga kamu tidak apa-apa, kamu harus baik-baik saja sayang," gumamnya sambil berdiri di depan pintu ruangan itu mengintip dari kaca kecil yang ada di pintu.


Tak lama kemudian orang tua dan mertuanya datang, Ras melihat ke empat orang itu dengan berusaha memasang wajah biasa saja.


"Bagaimana keadaan Kania?" tanya Kean dengan wajah datarnya.


"Dia sedang diperiksa, Pa," jawab Ras.

__ADS_1


Tidak ada yang membuka suaranya lagi, mereka sama-sama diam, mereka mendudukkan dirinya di kursi yang ada di depan ruangan itu.


Sementara Ras masih berdiri di depan ruangan itu dengan khawatir, selain khawatir dengan keadaan Kania dia juga khawatir dengan apa yang akan Kania lakukan padanya saat dia bangun nanti.


Adelia menatap punggung anaknya yang membelakanginya, itu dengan tatapan bercampur aduk, antara sedih, kecewa dan tak percaya.


Sebenarnya dia ingin menanyakan kebenarannya pada anaknya itu. tapi, dia tahu saat ini bukanlah waktu yang tepat karena dia melihat anaknya terlihat khawatir.


Dokter pun keluar dari ruangan itu, membuat semua orang yang ada di sana langsung berdiri dan mendekati Dokter untuk menanyakan keadaan Kania.


"Bagaimana keadaan anak saya Dok?" tanya Kiran.


"Pasien tidak apa-apa, tidak ada yang serius, dia hanya kelelahan dan sedikit syok saja, nanti setelah dia sadar saya akan menanyainya beberapa hal untuk memastikan kondisinya lagi," jelas Dokter itu membuat semuanya bernapas lega.


"Bolehkah kami masuk Dok?" tanya Kean.


"Boleh. tapi, saya harap kalian harus tenang karena saat ini pasien sedang butuh istirahat," kata Dokter.


"Baiklah, terima kasih Dok," kata Kean.


"Iya, sama-sama, tolong panggil saya saat pasien sudah sadar," kata Dokter itu dijawab anggukkan kepala oleh semuanya.


Dokter itu pun pamit diikuti suster yang sudah selesai dengan tugas-tugasnya.


"Sebaiknya kalian masuk duluan saja, nanti kami akan menyusul," kata Vano pada Kean dan Kiran.


"Ikut kami," kata Vano pada Ras tanpa melihatnya.


Ras menurut, dia mengikuti langkah orang tuanya menuju ke tempat yang agak jauh dari ruangan Kania.


Vano menghentikan langkahnya disebuah lorong yang sepi, dia membalikkan badannya dan tanpa aba-aba langsung melayangkan sebuah tamparan pada pipi Ras.


PLAAKK....


"Dad," kata Adelia dengan suara yang pelan dan serak menahan tangis.


Dia tahu anaknya salah. tapi, dia tetap sedih melihat anaknya yang sudah babak belur mendapatkan tamparan dari suaminya lagi, rasa sayangnya sebagai ibu terhadap anaknya lebih besar dari rasa kecewa yang dirasakannya.


"Aku tidak pernah menyangka hal seperti ini dilakukan oleh anakku, aku tidak pernah menyangka anakku melakukan hal serendah itu hanya untuk mendapatkan seorang wanita, apa kamu tau akibat dari apa yang kamu lakukan itu, berapa banyak hati yang kamu sakiti hanya demi ambisi dan keegoisanmu itu, apa kamu tidak berpikir terlebih dahulu akibat dari apa yang akan terjadi sebelum kamu melakukan itu," kata Vano menatap Ras dengan tatapan tajam.


Ras hanya menundukkan kepalanya dia tidak berani menatap mata Daddynya, dia tidak sanggup menatap kekecewaan dari mata Daddynya itu.


"Kamu benar-benar sudah membuat Dad, kecewa dengan apa yang kamu lakukan itu dan Dad yakin tidak hanya Dad yang kecewa. tapi semua orang juga pasti kecewa dengan semua ini termasuk Kania, mungkin saja saat Kania sadar dia akan langsung meminta berpisah darimu."

__ADS_1


Mendengar perkataan tajam dari Daddynya Ras mengangkat wajahnya menatap Daddynya dengan menggelengkan kepalanya.


"Tidak Dad, Kania tidak boleh pergi dari Ras, Ras tidak akan membiarkannya pergi," kata Ras menggelengkan kepalanya dan menatap Vano.


"Apa kamu pikir kamu masih pantas mengatakan itu setelah apa yang terjadi," kata Vano datar setelah itu dia pergi dari sana meninggalkan Ras dan Adelia.


Setelah Vano pergi Adelia menjatuhkan dirinya di kursi besi yang berada di sana.


Dia menundukkan kepalanya dengan punggung yang bergetar karena menangis.


"Mom," panggil Ras menjatuhkan dirinya di lantai dan bersimpuh di depan Adelia.


Beruntung waktu sudah malam dan tidak ada orang yang berlalu lalang di lorong itu hingga tidak ada orang yang menyaksikan adegan keluarga itu.


"Kenapa Ras? kenapa kamu melakukan ini?" kata Adelia dengan suara yang bergetar.


"Maafin Ras, Mom, Ras salah," kata Ras menatap matanya dengan tatapan sendu pada Adelia.


"Mom tidak butuh kata Maaf darimu, orang yang pantas mendapat permintaan maaf darimu adalah kakak-kakak kamu, Tisha dan Kania karena mereka yang paling kamu rugikan bukan Mom, Sekarang yang Mom mau dengar darimu adalah sebuah penjelasan," kata Adelia dengan tatapan tegas.


"Apa Mom akan percaya jika Ras mengatakan yang sebenarnya?" tanya Ras mengambil tangan Adelia yang berada di pangkuannya dan menggenggamnya dengan erat.


"Bahkan disaat semua orang, tidak ingin mendengarkan penjelasanmu, Mom masih di sini karena ingin mendengar penjelasan secara langsung dari mulutmu," kata Adelia.


Dia masih tidak yakin jika Ras sampai tega menjebak Ray dan dia ingin mendengar penjelasan dari Ras secara keseluruhan.


Ras tidak langsung bicara, dia menghela napasnya terlebih dahulu sebelum kembali bicara.


"Ras memang salah. tapi, Ras tidak menjebak Ray, Mom, Ras hanya memanfaatkan keadaannya saja karena Ras ingin bersama Kania," jelas Ras membuat Adelia menatapnya dengan tatapan bingung.


Adelia menatap dalam mata Ras, dia tahu Ras tidak mungkin membohonginya.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2