Istri Tercinta Tuan Muda

Istri Tercinta Tuan Muda
Kontraksi.


__ADS_3

Happy Reading....


Kania yang sedang tertidur tiba-tiba saja merasa perut dan pinggangnya teramat sakit hingga dia langsung terbangun dari tidurnya.


Dia duduk dengan perlahan dan memijat pinggangnya secara perlahan, karena perkiraan dia akan segera melahirkan dia pun mencoba membangunkan Ras yang sedang terlelap.


"Ki-king bangun," katanya menggoyangkan badan Ras dengan perlahan.


Suaranya terputus-putus karena rasa sakit yang semakin menjadi, ditambah keringat mulai membasahi badannya.


Ras yang mendengar suara Kania langsung membuka matanya, dia segera mendudukkan dirinya saat melihat Kania sedang terengah-engah dan meringis.


"Queen kamu kenapa sakit? Mana yang sakit?" tanyanya dengan wajah panik melihat Kania yang seperti itu.


"Pe-perut aku sakit," jawab Kania sambil mengatur napasnya.


"Sakit, kamu mau melahirkan atau sakit apa?" tanya Ras yang langsung panik.


Dia segera turun dari ranjangnya dan langsung mondar-mandir tidak tahu apa yang harus dilakukan, otaknya tiba-tiba blank.


"Gimana ini? Aku harus ngapain dulu bawa kamu atau nyiapin barang-barang untuk dibawa ke rumah sakit?" tanyanya dengan mondar-mandir.


"Bawa aku dulu aja Ras, aku udah gak tahan, biar nanti barang-barang pelayan yang urus," usul Kania sambil meringis.


"Baiklah ayo." Tanpa menunggu lagi. Ras langsung mengambil kursi roda yang sudah tersedia sebelumnya karena Kania sudah sering merasa kontraksi palsu, jadi Ras sudah persiapan sebelumnya.


Dia menggendong Kania dan mendudukkannya di kursi roda, didorongnya kursi roda itu keluar dari kamar.


"Pelayan! pelayan!" teriaknya dengan suara yang melengking hingga membuat seisi rumah itu penuh oleh suaranya.


Tak lama kemudian pelayan yang tidur di rumahnya, keluar dari kamarnya dan mendekati mereka dengan wajah terkantuk-kantuk.


"Tuan muda, Nona, ada apa?" tanya pelayan itu.


"Bawa barang-barang yang sudah istriku siapkan di ruang ganti sama barang-barang penting milikku dan cepat bawa ke mobil aku akan ke rumah sakit sekarang," kata Ras sambil terus melangkah.


"Nona mau melahirkan?" tanya pelayan itu.


"Udah jangan banyak tanya, cepetan lakukan apa yang aku katakan tadi," kata Ras yang langsung dilaksanakan oleh pelayannya.


Tak lama kemudian dia sampai di depan rumahnya, untung penjaga di rumahnya tidak semuanya tidur, jadi dia bisa langsung  memintanya untuk menyiapkan mobil dan mengantarkannya ke rumah sakit.


Setelah mobilnya siap, dia menggendong Kania untuk masuk ke mobil begitu pun dengan dirinya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian pelayannya datang dengan membawa barang-barang keperluan untuk lahiran Kania dan barang-barang pribadinya seperti ponsel dan dompet.


"Nanti kabari semua orang, aku takut gak sempat." Perintah Ras pada pelayannya.


Setelah mengatakan hal itu dia meminta sopirnya untuk langsung menjalankan mobilnya ke rumah sakit karena Kania sudah terlihat kesakitan.


"Tarik napas Queen, kemudian keluarkan pelan-pelan." Intruksi Ras pada Kania.


Dia sudah diajarkan oleh dokter kandungan Kania tentang apa saja yang harus dilakukannya jika Kania mengalami kontraksi lagi.


Kania mengikuti intruksi yang Ras berikan, sambil sesekali meringis. Satu tangannya memegang tangan Ras dengan kuat sedangkan satu tangannya lagi memegang jok mobil saat kontraksinya datang lagi.


Ras memijat dengan lembut pingang Kania menggunakan sebelah tangannya untuk membuat Kania lebih rileks.


"Percepat sedikit jalannya!" Perintahnya pada sang Sopir.


"Baik Tuan," sahut Sopir itu mulai menambah kecepatan laju mobilnya aga tempat sampai.


"Huuuuhh ... Sakit Ras," gumam Kania dengan lemah keringat semakin bercucuran membasahi keningnya.


Matanya terpejam menahan rasa sakit itu, dia masih berusaha mengatur napasnya naik turun.


Rasa sakit di pinggangnya kian terasa, seolah tulang-tulang pinggangnya akan patah karena rasa sakit itu.


"Bagaimana kalau aku nanti gak kuat King, kamu tetap akan merawat anak-anak kita dengan baik 'kan? Kamu akan menyayangi mereka 'kan?" Kania menatap dalam mata Ras yang juga sedang menatapnya.


"Jangan bicara yang aneh-aneh kayak gitu Queen, kamu dan anak-anak kita pasti akan baik-baik saja. Kamu akan baik-baik saja dan kita bisa membesarkan anak-anak kita bersama," kata Ras menangkup kedua pipi Kania.


"Jangan pernah mengatakan hal seperti itu Queen, kamu adalah wanita yang kuat, kamu istri dan ibu terbaik untukku dan anak-anak kita," Ras menyatukan kening mereka.


Mendengar perkataan yang keluar dari mulut Kania membuatnya teras sesak, melihat raut kesakitan Kania membuat dia ingin menggantikannya, merasakan rasa sakit itu, mendengar ringisan dari istrinya membuat telinga terasa berdengung.


Dia berusaha tetap terlihat baik-baik saja saat ini, dia tahu bagaimana rasanya perjuangan seorang ibu saat merasakan kontraksi seperti seluruh tulang ditubuhnya patah.


Seperti urat-urat dalam tubuhnya putus saat kontraksi itu datang, meskipun dia tahu hanya dari buku yang dia baca. Tapi, membayangkannya saja membuat bulu kuduknya meremang.


"Aku hanya takut King ak...."


"Sssuuttt, jangan memikirkan hal yang membuatmu takut, bayangkan saja ketika anak-anak kita lahir nanti. Kita bisa mengurus mereka bersama, bermain bersama dan rumah kita pasti akan sangat ramai dengan suara tangis dan tawa mereka. Juga suara ribut mereka karena berantem, pasti akan menyenangkan bukan?" kata Ras berusaha menghibur Kania.


Beberapa saat kemudian Kania kembali memegang erat tangannya bahkan kuku-kuku Kania terasa menusuk permukaan kulit tangannya.


Rasa sakit di tangannya tidak dia hiraukan sama sekali karena dia sibuk mengelap keringat di wajah Kania dengan sebelah tangannya.

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan yang terasa sangat lama menurut Ras, akhirnya mobil mereka telah sampai di depan rumah sakit, dia segera turun dan kembali menggendong Kania menuju pintu masuk rumah sakit itu.


"Sus tolong," kata Ras memanggil Suster dan dengan segera Suster itu membawakan berankar untuk Kania.


Ras langsung menidurkan Kania di berankar dan membantu mendorong barankar itu bersama dengan Suster.


"Apa dokter Susan ada di tempat?" tanya Ras pada Suster.


"Kami akan segera menghubunginya Tuan," jawab Suster.


"Cepatlah hubungi dokter Susan istriku sudah sangat kesakitan," kata Ras.


"Iya Tuan, Anda tenang saja dokter Susan pasti akan segera datang ke sini," jawab Suster menenangkan Ras.


Ras tidak melepaskan tangannya dari genggaman Kania, dia sesekali mencium tangan Kania hingga berankar sampai di ruang penanganan, menunggu kedatangan para dokter yang akan membantu proses persalinan Kania.


"Kamu akan baik-baik saja, tenang saja aku akan selalu ada di sampingmu kamu tidak sendiri Sayang," kata Ras mengusap rambut Kania yang sudah basah oleh keringat.


Kania hanya menjawab perkataan Ras dengan anggukkan kepala lemah, dia tidak memiliki energi untuk menjawab perkataan Ras itu.


"Kita harus menunggu dulu dokter Tuan untuk langkah selanjutnya," kata Suster yang baru selesai memasang infus pada Kania.


"Baiklah terima kasih Sus," jawab Ras menganggukkan kepalanya.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung....


Maaf ya kalau ada kesalahan dengan tulisan di atas harap maklum aku gak banyak tahu tentang tatacara rumah sakit dan sebagainya😆


Ini hanya berdasarkan ekspetasi aku saja😌

__ADS_1


__ADS_2