Istri Tercinta Tuan Muda

Istri Tercinta Tuan Muda
Apa kamu cemburu.


__ADS_3

Happy Reading....


Kania melenguh saat merasakan sentuhan lembut di pipinya.


"Apa kamu akan tidur sampai nanti siang hemmm," kata Ras yang sudah rapi dan sudah wangi, parfumnya hingga memenuhi indra penciuman Kania.


"Apa ini sudah pagi?" tanya Kania membuka matanya dengan malas.


"Sudah, bangun lah aku sudah menelpon Papa meminta ijin kalau kamu tidak bisa ke kantor hari ini," kata Ras duduk di pinggir ranjang.


"Kenapa kamu bilang kayak gitu ke Papa," kata Kania mendudukkan dirinya dan menahan selimutnya untuk menutupi tubuh polosnya.


"Aku takut kamu kecapean," kata Ras santai.


"Kalau hanya ke kantor saja aku tidak akan capek," kata Kania menatap Ras.


"Yakin? emangnya itu kamu gak sakit apa?" kata Ras menggoda Kania.


"Gak, biasa aja," kata Kania dengan malu.


"Beneran, kalau gitu kita main lagi yuk kayak semalam." Goda Ras lagi menghadirkan semburat merah di pipi Kania.


"Gak mau," kata Kania mencebikkan bibirnya.


"Katanya gak sakit, berarti bisa main sekali lagi dong," kata Ras menaik turunkan alisnya.


"Gak mau! pergi sana aku mau mandi," ketus Kania menggegerkan badannya untuk turun dari ranjang.


"Apa perlu aku gendong?" tanya Ras dengan serius.


"Gak perlu aku bisa jalan sendiri! kamu sudah rapi gini apa kamu akan bekerja?" tanya Kania melihat penampilan Ras dari atas sampai bawah. tapi, Ras hanya memakai celana jeans panjang dan kaos yang di balut jaket. tidak seperti setelan akan bekerja seperti biasanya.


"Tidak, kita harus ke rumah sakit, itu juga kalau kamu gak capek," kata Ras.


"Mau apa ke rumah sakit, siapa yang sakit?" tanya Kania.


"Apa kamu gak tau, jika Kak Iden kecelakaan, Mom tadi nelpon aku katanya Kak Iden dirawat di rumah udah beberapa hari," kata Ras dengan kening mengerut.


"Kapan Kak Iden kecelakaannya, kenapa tidak ada yang memberitahu kita," jawab Kania yang memang tidak tahu jika Iden kecelakaan karena Delvin dan yang lainnya tidak memberitahukan kecelakaan itu pada Ras atau orang tuanya.


Mereka baru memberitahukannya beberapa hari lalu, mereka juga tidak mengatakan jika Iden kecelakaan saat hari pernikahan Ray dan Tisha.


"Daddy Delvin juga baru memberitahu Mom dan Dad dua hari yang lalu," kata Ras.


"Ya udah kalau gitu aku mau mandi dulu," kata Kania sambil berdiri.


"Yakin bisa jalan sendiri," kata Ras lagi yang khawatir.


"Bisalah, kamu tunggu saja di meja makan," kata Kania melangkahkan kakinya secara perlahan menuju ke kamar mandi.


Ras melihat punggung Kania yang memasuki kamar mandi setelah itu dia merapikan tempat tidur, sambil tersenyum karena ingat kejadian semalam, sekarang dia sudah memiliki Kania, dia berharap tidak hanya dirinya. tapi, dengan hatinya juga.

__ADS_1


Ras keluar dari kamarnya sambil membawa keranjang yang berisi pakaian kotor dan saat sampai di lantai bawah dia menyerahkan keranjang pakaian kotor itu ke pelayan untuk dicuci.


Dia mendudukkan dirinya di kursi meja makan lalu membaca koran sambil menunggu Kania turun untuk sarapan.


Setelah hampir satu jam Kania baru datang ke meja makan dengan pakaian yang sudah rapi dan dandanan yang natural.


"Sebaiknya kita langsung sarapan saja udah siang," kata Ras dijawab anggukan oleh Kania.


Selama sarapan mereka tidak mengeluarkan suaranya, hingga sarapannya selesai dan mereka langsung berangkat ke rumah sakit tempat Iden masih di rawat.


Mereka pergi ke rumah sakit dengan diantarkan sopir, saat di mobil Kania dan Ras sama-sama diam hingga beberapa saat kemudian mereka menanyakan hal yang mengganjal di hati mereka.


"Kenapa kamu tidak menghubungi aku selama beberapa hari ini," kata Ras dan Kania secara bersamaan.


Kania dan Ras berpandangan untuk beberapa detik, hingga akhirnya Ras membuka suara lagi.


"Aku gak telpon kamu karena aku sibuk, aku ingin segera membereskan pekerjaanku, biar bisa cepat pulang," kata Ras.


"Yakin sibuk kerja, bukan sibuk tebar pesona sama perempuan-perempuan di sana," kata Kania ketus.


Mendengar perkataan Kania itu Ras menatap Kania dan kemudian terkekeh.


"Apa kamu cemburu, sampai berpikiran jika aku di sana tebar pesona, tanpa tebar pesona pun, aku yakin banyak yang menyukaiku," kata Ras menggoda Kania.


"Dasar terlalu percaya diri, lagian siapa juga yang cemburu," kata Kania mencebikkan bibirnya dan memutar matanya.


"Beneran nih gak cemburu." goda Ras lagi.


"Kamu sendiri kenapa gak nelpon aku?" tanya Ras.


"Males buat apa telpon kamu," kata Kania datar.


"Padahal aku sangat menunggu telpon darimu," kata Ras dengan serius.


"Apa kamu tidak merindukan aku Kan?" tanya Ras penuh harap.


"Biasa aja," jawab Kania santai.


Ras kembali memasang wajah murungnya, Kania melirik ekspresi Ras itu lewat ekor matanya.


'Apa dia tidak berpikir, jika aku tidak merindukannya untuk apa aku menerima gitu aja permintaannya semalam, dasar gak peka,' gerutu Kania dalam hati.


Kania dan Ras kembali diam hingga mobil yang membawa mereka pun telah sampai di depan rumah sakit.


Kania dan Ras turun dari mobilnya dan langsung masuk ke ke rumah sakit itu dengan beriringan.


Ras langsung menuju ke ruang


rawat Iden, dia sudah tahu dimana ruangannya karena Adelia yang memberitahunya saat di telpon tadi pagi.


Saat sedang berjalan tiba-tiba saja Ras memelankan langkahnya dan menajamkan penglihatannya dia fokus melihat seorang wanita yang memakai jas Dokter sedang berbicara dengan seorang suster.

__ADS_1


Saat semakin dekat Ras terus menatap wanita itu dan secara kebetulan wanita itupun melihat ke arah Ras.


Wanita yang tidak lain adalah Bella, wanita yang hampir Iden tabrak. Bella yang semula memasang wajah biasa aja tiba-tiba terlihat tegang saat melihat Ras yang sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


Dia hanya mematung di tempatnya tidak menggeser sedikit pun tubuhnya dengan tatapan lurus ke arah Ras juga.


Sedangkan Kania yang melihat Ras menatap wanita yang asing yang sepertinya Dokter itu pun mengerutkan keningnya karena tatapan Ras pada Dokter itu.


Kania berdeham lumayan keras dan Ras pun langsung mengalihkan perhatiannya pada Kania yang sedang memasang wajah tidak bersahabat.


"Cepatlah jalannya, dimana ruangannya," kata Kania memasang wajah datarnya.


Ras menggandeng tangan Kania dan melewati Bella yang juga sudah mengalihkan perhatiannya ke arah lain.


"Betah banget kayaknya lihat Dokter muda dan cantik itu," sindir Kania sambil melepaskan tangannya dari genggaman Ras.


"Kamu cemburu ya," kata Ras sambil terkekeh.


"Siapa yang cemburu, aku hanya risih aja liat kamu menatap Dokter itu sampai lupa berkedip, apa kamu mengenalnya? atau ... dia mantan kamu?" tanya Kania yang entah kenapa dia merasakan hatinya tak nyama saat mengatakan hal itu.


"Aku gak kenal sama dia," jawab Ras.


Kania menyipitkan matanya dan menatap Ras dalam, dia tidak percaya jika Ras tidak mengenalnya, kenapa tatapan Ras seperti menunjukkan bahwa dia sudah mengenal wanita itu.


"Kamu pikir aku bodoh, tatapan kamu itu tidak menunjukkan jika kamu tidak mengenalnya, atau kamu menyukainya?" tanya Kania dengan nada kesal.


"Kamu lucu kalau lagi cemburu gitu," kata Ras yang malah mengalihkan pembicaraan.


"Aku bilang, aku tidak cemburu," kata Kania dengan penekanan.


"Baiklah, baiklah, kamu tidak cemburu," kata Ras dengan terkekeh.


"Sekarang jangan cemberut oke, nanti aku disangka jahatin kamu sama yang lainnya karena kamu cemberut kayak gitu," sambungnya lagi dan menggenggam tangan Kania lagi.


Mereka sudah sampai di depan ruang rawat Iden dan langsung memasukinya.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2