
Happy Reading....
Sementara di sisi lain yaitu di rumah Vano Tisha yang baru sampai di rumah, langsung pamit pada Zani untuk menemui Ray di kamarnya karena mobil Ray sudah terparkir di sana, itu artinya Ray memang langsung pulang ke rumahnya.
Saat memasuki kamarnya, dia tidak melihat keberadaan Ray, dia hanya melihat kamarnya sudah berantakan.
"Sepertinya Kak Ray melampiaskan kemarahannya di sini juga," gumam Tisha sambil menghela napasnya.
Dia menyimpan tasnya di atas meja rias dan melangkahkan kakinya menuju pintu balkon yang terbuka.
Dari pintu balkon dia melihat Ray sedang duduk di lantai dengan posisi menundukkan kepalanya dan menyimpan kedua tangannya di atas kepalanya.
Buku jari-jari tangan Ray terlihat terluka, melihat hal itu Tisha memasuki kamar lagi dan mengambil kotak obat untuk mengobatinya.
"Aku sedang ingin sendiri, pergilah!" kata Ray yang menyadari kehadiran Tisha di sana.
Tisha tidak mendengarkan perkataannya itu, dia terus melangkah mendekati Ray, "Tapi Kak...."
"Aku bilang pergi Sha! aku sedang ingin sendiri aku tidak ingin diganggu!" kata Ray mulai mengangkat kepalanya menatap Tisha.
"Tapi tangan Kak Ray terluka," kata Tisha bersikeras.
"Aku baik-baik saja."
Tisha tidak mendengarkan perkataan Ray itu dia malah ikut duduk di samping Ray dan mengambil tangan Ray untuk mengobatinya.
"Aku bisa sendiri, PERGILAH!" Bentak Ray pada Tisha dan menarik tangannya dari genggaman Tisha dengan kuat.
"Aku akan pergi setelah mengobati lukanya!" jawab Tisha dengan suara yang keras.
Sebenarnya saat ini dia ingin sekali menangis, belum lagi hilang sedihnya saat melihat sikap acuh Ray padanya saat di rumah Ras dan Kania sekarang dia juga harus menerima bentakan dari pria yang tidak lain adalah suaminya itu.
"Aku hanya ingin mengobati lukanya saja setelah itu aku akan langsung pergi dari sini," kata Tisha berusaha bicara seperti biasa meskipun sebenarnya matanya sudah terasa panas dan air matanya ingin segera keluar.
Ray akhirnya tenang, dia tidak bicara lagi dan membiarkan Tisha membersihkan lukanya dan mengobatinya, Ray menatap Tisha yang sedang serius itu.
Dia sadar tidak seharusnya dia membentak Tisha, istrinya itu tidaklah salah apa-apa.
Tisha sudah selesai mengobatinya dan langsung berdiri dan akan pergi dari sana. tapi, Ray menahan tangannya.
"Makasih Sha, maaf untuk yang barusan," kata Ray memegang pergelangan tangan Tisha.
"Iya gak pa-pa Kak, Kak Ray istirahatlah, Sha mau tidur di kamar Zani," kata Tisha tanpa melihat Ray karena dia sudah tidak kuat menahan tangisnya.
Tisha langsung pergi dari sana meninggalkan Ray yang masih menatap punggungnya yang semakin menjauh dari sana.
__ADS_1
TOK... TOK... TOK...
Tisha mengetok pintu kamar Zani dan beberapa saat kemudian pintu kamar itu terbuka, Zani membuka pintu kamarnya dengan sudah berganti baju dengan baju tidur.
"Sha, ada apa? kamu belum istirahat?" tanya Zani heran.
Tisha tidak menjawabnya dia langsung masuk ke kamar Zani sambil menangis, tanpa bicara lagi Zani langsung menutup kembali pintu kamarnya dan mengikuti langkah sahabatnya dia tahu sahabatnya itu tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja.
"Kamu kenapa Sha? apa Kak Ray nyakitin kamu? kamu diapain sama dia di pukul, di tampar atau diapain bilang aja sama aku jangan takut aku akan aduin sama Mom atau Dad nanti Biar Kak Ray dimarahi sama mereka," cerocos Zani sambil mengikuti Tisha duduk di ranjangnya.
"Aku gak diapa-apain Zan," kata Tisha dengan suara yang terputus-putus karena sambil menangis.
"Terus kenapa kamu nangis seperti ini, bukankah tadi kamu baik-baik saja," kata Zani heran sambil mengusap punggung Tisha untuk menenangkannya.
"Aku hanya sedih aja liat kondisi Kak Ray, saat ini dia pasti sedih saat mengetahui semuanya, aku sedih juga karena Kak Ray terlihat masih sangat mencintai Kak Kania. Zan apa aku kurang cantik ya, sam-sampai Kak Ray masih belum bisa mencintai aku," kata Tisha sambil menatap Zani dengan tangisan yang belum berhenti.
"Kalau kamu sendiri gimana? apa kamu sudah mulai mencintai Kak Ray?" tanya Zani dengan tatapan serius pada Tisha.
Tisha tidak langsung menjawabnya dia hanya diam sambil menatap Zani.
"Kamu sendiri masih bingung 'kan sama perasaan kamu yang sebenarnya, aku bisa lihat dari tatapan mata kamu pada Kak Iden saat tadi kita di rumah Kak Ras," perkataan Zani membuatnya bungkam ya ... tidak dipungkiri meskipun dia sudah mulai mencintai Ray. tapi, perasaan itu untuk Iden masih ada.
"Kamu sama Kak Ray sebenarnya sama, sama-sama belum bisa lepas dari bayang-bayang masa lalu kalian," kata Zani lagi.
Tisha sudah menghentikan tangisnya dan menundukkan kepalanya, "Aku sudah mulai mencintai Kak Ray. tapi, rasa untuk Kak Iden pun masih ada Zan."
"Tapi sekarang kebenarannya sudah terbukti, apa Kak Ray akan meninggalkan aku dan bersama Kak Kania lagi?" tanya Tisha pada Zani.
"Aku pastikan itu tidak akan terjadi," kata Zani dengan yakin.
"Kenapa kamu bisa se yakin itu?"
"Karena aku tau sikap dan watak kakak-kakakku, aku bisa melihat jika Kak Ras sangat mencintai Kak Kania dan sepertinya Kak Kania pun sudah mulai membuka hati untuk Kak Ras, begitupun sebaliknya dengan Kak Ray dia sudah mulai menerima kamu,"
"Tapi, Kak Ray terlihat frustasi saat mengetahui kebenaran itu, gimana kalau akhirnya dia memaksa Kak Ras untuk melepaskan Kak Kania," kata Tisha.
"Aku rasa semua itu tidak mungkin terjadi, mungkin Kak Ray hanya kecewa saja dengan apa yang Kak Ras lakukan itu, lagian jika itu terjadi aku yakin Kak Ras tidak mungkin melepaskan Kak Kania meskipun Kak Ray memaksanya."
"Coba deh kamu pikir kenapa Kak Ras harus repot-repot melakukan semua itu jika ujung-ujungnya dia menyerahkan Kak Kania pada Kak Ray, bukankah dengan dia nekat melakukan hal itu, itu artinya dia begitu sangat mencintai Kak Kania ... lagian Mom dan Dad juga pasti tidak akan membiarkan hal itu terjadi," jelas Zani.
Tisha tidak bersuara lagi dia hanya menatap kosong ke arah depannya. setelah beberapa saat kemudian saat Tisha terlihat lebih baik Zani pun kembali bersuara lagi.
"Udah jangan terlalu banyak berpikir, sebaiknya kamu bersih-bersih sana dan ganti baju, pakai baju aku kalau kamu gak mau ke kamar kalian lagi," kata Zani.
"Kayaknya aku tidur di sini aja deh untuk nenangin pikiran dan membiarkan Kak Ray sendiri dulu," kata Tisha.
__ADS_1
"Ya udah mandi sana, dari tadi belum mandi bau tuh badan kamu," kata Zani mengusir Tisha.
"Iya, iya, ini aku juga mau mandi, dasar bawel," kata Tisha setelah itu dia bangun dan berjalan menuju ke kamar mandi.
Saat Tisha sedang di kamar mandi pintu kamarnya diketuk dari luar dia pun membuka pintunya.
"Mom udah pulang?" tanya Zani saat membuka pintu kamarnya dan ternyata Adelia yang mengetuknya.
"Iya Mom baru aja nyampe, apa Tisha ada di sini?" tanya Adelia khawatir.
"Ada Mom, dia lagi mandi," jawab Zani.
"Oh iya syukurlah, Mom takut Ray menyakitinya," kata Adelia menjadi lega.
"Nggak Mom, Tisha hanya sedikit sedih aja, oh iya bagaimana keadaan Kak Kania?" tanya Zani.
"Dia baik-baik saja, dia hanya kelelahan dan sedikit syok, ditambah dia sedang hamil," jawab Adeli tersenyum.
"Kak Kania hamil Mom?" tanya Zani dengan antusias.
"Iya, Mom lanjut ceritanya besok aja ya, sekarang Mom mau ke kamar dulu, mau istirahat, kamu sama Tisha segeralah istirahat," kata Adelia sambil pergi dari sana.
"Iya Mom, selamat malam," kata Zani setelah itu dia menutup pintu kamarnya.
"Mom sudah pulang Zan?" tanya Tisha yang sudah rapi dengan baju tidur milik Zani yang pas di tubuhnya.
"Iya, kamu tau gak, kalau Kak Kania hamil," kata Zani sambil mulai merebahkan tubuhnya diikuti Tisha.
"Beneran, syukurlah kalau gitu," kata Tisha ikut senang.
"Iya jadi sekarang kamu jangan berpikiran yang macam-macam lagi, ayo kita tidur."
"Iya Zan," Tisha ikut menarik selimutnya untuk tertidur, dia berharap hari esok semuanya kembali menjadi baik.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....