
Happy Reading....
Kania masih berusaha meminta Ras untuk memakan makanannya, hingga akhirnya Ras pun membuka mulutnya menerima suapan dari Kania.
Ras berusaha mengunyah makanan itu dengan perlahan meskipun perutnya terasa bergejolak. Namun, tetap dia paksakan.
"Enak 'kan?" tanya Kania sambil tersenyum pada Ras.
Ras tidak membuka suaranya, dia sedang berusaha menahan agar makanan itu bisa ditelannya, meskipun rasa makanan itu sangat tidak enak menurutnya.
Semakin lama semakin dipaksakan Ras semakin tidak bisa menahannya lagi, dia segera bangun dari kursi sambil menutup mulutnya dengan tangannya agar tidak muntah di sana.
Kania yang masih asik menikmati makanannya tersentak kaget karena mendengar Ras bangun dari kursi dengan tiba-tiba hingga suara geseran kursi terdengar sangat keras.
"King kamu ke...." Kania tidak melanjutkan perkataannya karena Ras sudah lebih dulu berjalan dengan cepat ke dapur.
Karena merasa khawatir Kania pun berdiri dan menyusul Ras ke dapur, di sana Ras sedang membungkuk di depan wastafel dan sedang memuntahkan isi perutnya yang belum terisi apapun.
"Ya ampun King, kenapa bisa sampai kayak gini sih? maaf ya seharusnya aku gak maksa kamu buat makan," kata Kania menyesal sambil memijat tengkuk Ras.
"Ini bukan salah...." Ras tidak mampu menyelesaikan perkataannya karena kembali muntah.
"Kita ke rumah sakit sekarang ya," ajak Kania tidak dihiraukan Ras karena belum selesai muntah.
"Ayo kita ke rumah sakit sekarang," ajak Kania lagi saat Ras sudah selesai memuntahkan isi perutnya.
"Iya," jawab Ras dengan suara lemah.
"Baiklah, kamu tunggu di sini dulu. Aku mau ngambil tas sama ponselku dulu," kata Kania sambil membantu Ras duduk di kursi, meja makan.
Ras hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari perkataan Kania itu.
Kania pergi ke kamar untuk mengambil tas-nya setelah mendapatkan tas dan memasukkan barang-barang pentingnya ke dalam tas, dia keluar lagi dari kamarnya menuju ke meja makan tempat di mana Ras menunggunya.
"Ayo, kamu bisa jalan sendiri gak?" tanya Kania dijawab anggukkan kepala oleh Ras.
"Ya udah, kita langsung berangkat aja."
Ras dan Kania akhirnya menuju ke luar dari rumahnya dan meminta sopir untuk mengantarkan mereka ke rumah sakit.
Mereka segera menaiki mobil setelah mobilnya terparkir di depan mereka.
"Masih mual?" tanya Kania dijawab gelengan lemah oleh Ras.
"Cuma lemas aja," jawab Ras dengan mata terpejam.
__ADS_1
"Itu pasti karena kamu belum makan apapun dan terus muntah," kata Kania melirik Ras sekilas dan kembali melihat ke arah jalan lagi.
Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan antara mereka di perjalanan itu, mereka sama-sama diam selama di perjalanan.
Mobil yang mereka tumpangi akhirnya sampai di rumah sakit, tanpa menunggu lagi Kania dan Ras pun turun dari mobilnya dan langsung berjalan memasuki rumah sakit.
Kania melakukan pendaftaran terlebih dahulu, setelah itu dia membawa Ras ke tempat peraktek dokter yang akan memeriksa kondisi Ras.
Karena masih ada pasien di dalam ruangan dokter itu, mereka pun duduk di kursi tunggu yang tersedia di depan ruangan dokter.
"Tuan Rasheed," kata Suster keluar dari ruangan itu, memanggil nama Ras.
Kania langsung mengajak Ras untuk masuk dan Ras menurut, dia melangkah dengan langkah perlahan karena merasa lemas.
"Apa keluhannya Mas, Mbak?" tanya Dokter saat Ras dan Kania sudah duduk di kursi yang berhadapan dengannya.
"Sudah seminggu lebih suami saya muntah terus Dok, sama gak nafsu makan. Tadi saya coba paksa untuk makan, malah dimuntahkan lagi," jelas Kania pada Dokter pria paruh baya itu.
"Apa sebelumnya, sempat makan sesuatu atau Mas ada alergi terhadap sesuatu?" tanya Dokter itu menatap Kania dan Ras.
"Tidak Dok, saya tidak pernah makan yang aneh sebelumnya, saya juga tidak memiliki alergi terhadap apapun," jawab Ras.
"Baiklah kalau gitu kita mulai periksa saja ya," kata Dokter itu.
Kania dan Ras menganggukkan kepalanya, Ras mulai berjalan mengikuti Dokter ke sebuah ranjang untuk memeriksa keadaan Ras.
"Tidak ada masalah dengan Mas-nya, semuanya baik-baik saja," jelas Dokter setelah memeriksa Ras.
"Terus kenapa suami saya bisa seperti itu Dok?" tanya Kania heran.
"Saya juga merasa aneh Mbak, barusan saya periksa semuanya baik-baik saja, pencernaannya baik, lambungnya juga tidak ada masalah," jawab Dokter sambil berjalan ke mejanya diikuti oleh Ras.
"Beneran tidak ada masalah dengan saya Dok?" tanya Ras menyakinkan lagi.
"Iya memang tidak ada masalah dengan Mas," jawab Dokter dengan yakin.
"Terus kenapa dong suami saya? Tapi Dok akhir-akhir ini juga sikap suami saya jadi agak aneh," kata Kania menatap Dokter itu dengan serius.
"Aneh bagaimana kalau boleh tau?" tanya Dokter.
"Suami saya mood-nya jadi gak menentu dan banyak lagi sikap-sikapnya yang aneh. Seperti kadang manja, suka ngambek gak jelas sama kadang dia suka memakai apa yang saya pakai, contohnya sabun, sampo dan parfum," jawab Kania membuat Dokter manggut-manggut mengerti.
"Kalau boleh tau kapan Mbak-nya terakhir datang bulan?" tanya Dokter itu membuat Kania dan Ras bingung.
Kania melihat kalender yang berada di ujung meja Dokter itu, dia kemudian membelalak tak percaya karena dia sudah telat datang bulan selama dua minggu.
__ADS_1
"Saya sudah telat datang bulan Dok," kata Kania menatap Dokter setelah itu menatap Ras.
"Berarti kalau tidak salah perkiraan yang bermasalah bukanlah Mas-nya. Tapi, Mbak-nya yang bermasalah kayaknya," kata Dokter membuat Kania menatapnya dengan serius.
"Sebaiknya kalian coba periksa ke dokter obgyn," saran dari Dokter itu.
"Apakah ada kemungkinan istri saya hamil Dok?" tanya Ras dengan wajah yang terlihat senang.
"Semoga saja. Karena dari yang saya periksa, Mas baik-baik saja tidak ada masalah dengan kesehatan Mas, gejala-gejala yang terjadi pada Mas seperti seorang wanita yang sedang dalam kondisi morning sickness," jelas Dokter.
"Tapi, kenapa suami saya yang mengalami itu, bukakah biasanya wanitalah yang mengalami hal semacam itu?" Kania menatap heran Dokter itu.
"Itu biasa dinamakan dengan kehamilan simpatik, untuk lebih jelasnya nanti bisa kalian bicarakan dengan dokter spesialis Obgyn tentang masalah itu," jelas Dokter itu lagi.
"Baiklah kalau gitu terima kasih untuk waktunya Dok, kami akan langsung pergi ke dokter Obgyn kalau gitu," jawab Ras yang sudah tidak bisa menyembunyikan kesenangannya.
Ras sudah sangat bahagia mendengar perkataan Dokter itu, meskipun itu belum tentu kebenarannya.
Berbeda dengan Kania yang menatap Ras dengan tatapan sedih, dia takut kalau dia tidak hamil dia takut akan membuat Ras kecewa lagi karena melihat Ras yang sudah terlihat bahagia.
"Iya Mas, Mbak. Semoga kalian dapat kabar yang baik." Doa Dokter langsung diamini oleh Ras.
Ras dan Kania pergi dari ruangan dokter itu dengan perasaan yang berbeda, Ras dengan perasaan senang dan penuh harap, sedangkan Kania dengan perasaan tak yakin dan takut.
Selama diperjalanan menuju ke tempat peraktek dokter spesialis Obgyn Kania sama sekali tidak mengeluarkan suara dan Ras memegang tangannya dengan erat.
Mereka duduk di kursi tunggu yang tersedia di depan ruang peraktek dokter spesialis Obgyn karena banyak ibu-ibu hamil yang sedang menunggu di depan ruangan itu.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung....
Selamat malam para pembaca story Kania dan Ras, masih nungguin kah? kalau masih nungguin makasih banget karena bersedia nunggu😍
__ADS_1
Aku minta maaf karena kemarin dua hari gak bisa up, akunya lagi ada kendala jadi gak bisa up, tolong dimaafin ya pembaca yang baik hati dan tidak sombong da baik pisan 🤣🙏