
Happy Reading....
Mobil Ras telah sampai di salah satu rumah sakit yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Hotelnya, dia mondar mandir dengan cemas di depan ruangan tempat Kania mendapatkan penanganan.
Dia meraba saku celananya mencari ponselnya dan ternyata ponselnya tidak ada di sana dia yakin, dia meninggalkan ponselnya di ruangannya karena saking paniknya dengan keadaan Kania dia sampai melupakan hal itu untung saja dompetnya ada di sakunya, bisa ribet kalau dia melupakan dompetnya.
Ras tidak ambil pusing tentang ponselnya itu, dia bisa mengurus masalah itu nanti saja saat kabar Kania sudah baik-baik saja, dia mendudukkan dirinya di kursi berusaha untuk tenang dan berdoa semoga istrinya baik-baik saja.
Tak lama kemudian Dokter yang memeriksa Kania keluar, Ras langsung bangun dan menanyakan keadaan Kania pada Dokter laki-laki paruh baya itu.
"Bagaimana keadaan istri saya Dok? dia baik-baik saja 'kan? tidak ada yang serius 'kan Dok?" pertanyaan beruntun itu Ras layangkan pada Dokter yang saat ini sedang memasang senyumannya.
"Istri Anda tidak apa-apa Pak, dia hanya alergi saja, sepertinya istri anda salah makan hingga membuat alerginya timbul," jelas Dokter.
"Apa istri Saya perlu dirawat Dok?" tanya Ras.
"Tidak perlu Pak, setelah infusnya habis istri Bapak sudah boleh pulang, saya akan memberikan resep obatnya saja untuk mengatasi dampak alerginya itu," jelas Dokter itu membuat Ras manggut-manggut mengerti.
"Oh iya satu lagi, nanti sebaiknya istri Anda diberi makanan yang teksturnya lembek karena tenggorokannya pasti akan saat dia menelan makanan yang bertekstur kasar," jelas Dokter itu lagi.
"Baiklah terima kasih Dok," kata Ras bernapas lega karena kondisi Kania tidak terlalu serius.
Setelah Dokter itu pamit, Ras memasuki ruangan tempat Kania itu, suster yang saat itu masih berada di sana langsung pamit undur diri pada Ras dan keluar dari sana.
Ras mendekati ranjang dan duduk di kursi yang ada di samping ranjang Kania, dia mengambil tangan Kania dan menggenggamnya sambil sesekali menciumnya.
Ras menatap wajah Kania yang belum terjaga karena pengaruh obat yang Dokter berikan padanya, jadi dia masih memejamkan matanya.
Dia berpikir kenapa Kania bisa sampai seperti ini, setahunya Kania hanya alergi terhadap makanan yang berbahan jamur, bukankah tadi dia tidak memesan makanan yang berbahan jamur.
Apakah ada seseorang yang sengaja membuat Kania seperti ini. tapi, siapa? atau koki di Hotelnya tidak sengaja menambahkan bahan makanan jamur ke makanannya dan Kania tadi.
Saat Ras sedang berselancar dengan pikiran dan pertanyaan-pertanyaan di benaknya suara lenguhan pelan dari Kania menyadarkannya dan dia langsung melihat Kania sudah mulai membuka matanya.
Ras bangun dari duduknya dan tersenyum pada Kania yang langsung menatapnya, dia tersenyum lega karena Kania membalas senyumannya.
"Syukurlah kamu udah sadar Queen, kamu mau minum?" tanya Ras dijawab anggukan oleh Kania.
Ras mengambil air putih yang sudah tersedia di nakas samping ranjang Kania, dia kemudian membantu Kania untuk sedikit mendudukkan dirinya agar Kania bisa minum dengan mudah.
__ADS_1
"Mana yang sakit?" tanya Ras penuh perhatian sambil membenarkan kembali tidur Kania.
"Aku sudah baik-baik saja, hanya sedikit lemas saja," jawab Kania menenangkan Ras.
"Kamu tau, aku benar-benar khawatir tadi, aku takut ada hal yang serius denganmu," kata Ras mencium punggung tangan Kania.
"Aku baik-baik saja, hanya saja alergiku tiba-tiba kumat," jawab Kania menatap Ras dan mengusap punggung tangan Ras yang menggenggamnya dengan tangan yang lainnya.
"Apa kamu hanya alergi terhadap bahan makanan jamur saja?" tanya Ras menatap Kania dengan serius.
"Iya, aku hanya alergi tehadap makanan bermacam jamur saja, kenapa emangnya?" tanya Kania heran.
"Tidak ada, hanya saja aku heran tadi aku sama sekali tidak memesan menubmakanan yang ada jamurnya, terus kenapa alergi kamu bisa kambuh?" tanya masih menatap lurus pada Kania.
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan yang penting sekarang aku udah baik-baik saja. Oh iya Dokter gak nyuruh aku buat nginep di sini 'kan?" tanya Kania.
"Tidak, Dokter bilang kalau nanti setelah infusnya habis kamu bisa pulang, kamu hanya perlu meminum obatnya secara teratur saja," jelas Ras.
"Syukurlah kalau gitu," sahut Kania dengan menganggukkan kepalanya.
Mereka akhirnya menghabiskan waktunya di sana dengan berbicara bahkan kadang juga saling merayu, meskipun Ras sudah meminta Kania untuk beristirahat tapi Kania menolaknya karena dia tidak merasa ngantuk.
Ras segera menggendong Kania meskipun Kania mengatakan jika dia bisa berjalan tapi Ras tetap kukuh ingin menggendong Kania, dia juga menolak tawaran suster untuk membawa Kania dengan kursi roda.
Kania akhirnya menurut dengan apa yang Ras lakukan itu, dia tidak mau berdebat dengan suaminya itu, meskipun dia merasa sedikit malu dengan orang-orang yang melihatnya atau mencuri pandang padanya dan Ras.
Ras tidak memperdulikan sekitarnya, dia dengan alangkah ringannya, melangkahkan kakinya membawa Kania keluar dari rumah sakit itu, sedangkan Kania menyembunyikan wajahnya di dada Ras karena sedikit malu bertatapan dengan orang yang berpapasan dengannya dan Ras.
Mereka telah sampai di depan lobby rumah sakit itu dan tak lama kemudian mobil mereka yang dikendarai sopirnya datang menghampiri mereka.
Tanpa menunggu lama lagi, Ras langsung menurunkan Kania ke jok mobil dengan sangat lembut dan hati-hati karena takut menyakiti Kania.
"Terima kasih My King," kata Kania tersenyum manis saat Ras sudah menurunkannya.
"Sama-sama My Queen," jawab Ras mendaratkan sebuah kecupan manis di kening Kania.
Sepertinya beberapa waktu saja tidak melakukan hal yang sederhana tapi romantis seperti itu membuat mereka merasa ada yang kurang, hingga mereka selalu menyempatkan melakukan hal seperti itu disetiap kesempatan yang ada meskipun saat ini posisi Ras masih berada di luar mobil.
Ras memasuki mobilnya dari sisi lain, setelah itu sopirnya mulai menjalankan mobilnya menuju ke rumah mereka, Ras sebelumnya sudah meminta pegawainya yang tadi mengantarkan dia dan Kania ke rumah sakit untuk mengambil ponselnya dan tas Kania yang tertinggal di ruangannya dan memintanya untuk mengantarkan ke rumah.
__ADS_1
"Apa kita langsung pulang Tuan muda?" tanya Sopir sambil melihat Ras sekilas dari kaca spion.
"Ya, langsung pulang saja istriku harus istirahat lagi," jawab Ras.
"Baik kalau gitu Tuan," jawab Sopir itu.
Selama di perjalanan, Kania tidak mengeluarkan suaranya. Dia memejamkan matanya sambil menikmati usapan lembut tangan Ras di kepalanya yang sedang menyender di dada Ras.
Perilaku Ras yang sederhana seperti itu selalu membuatnya merasa nyaman, membuatnya jadi merasa selalu istimewa ketika berada di dekat Ras.
Dia juga sudah mulai merasa ketergantungan terhadap Ras, dia selalu merasa ada yang kurang saat dia berjauhan dengan Ras dan tidak menikmati sentuhan lembut dan perhatian penuh kasih sayang dari suaminya itu.
Menghirup aroma tubuh Ras sekarang, seolah sudah menjadi candu baginya, candu yang membuatnya selalu membutuhkan itu untuk menenangkan dirinya.
Tidak hanya itu, sekarang semua yang ada di dalam diri Ras adalah hal yang dibutuhkannya, dia semakin tidak ingin kehilangan suaminya itu, suaminya yang selalu menatapnya penuh damba dan penuh cinta, suaminya yang selalu sabar menghadapi berbagai macam sikapnya yang terkadang tidak menentu.
Kania sempat berpikir bagaimana jadinya jika Ras pergi dari hidupnya, apa yang akan terjadi padanya yang sudah terlanjur ketergantungan dengan kehadiran suaminya itu, sepertinya jawabannya adalah Kania tidak sanggup.
Dia adalah orang yang tidak mudah menaruh hati pada orang lain, dia adalah orang yang susah merasa nyaman berada di dekat orang lain dan dia juga adalah orang yang susah untuk menghilangkan atau melupakan apa yang sudah dirasakan dalam hatinya.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung....
Gak akan lama lagi Ayu akan mulai menunjukkan wujud aslinya nih🤫
Ada yang penasaran gak? yuk ramein kolom komentarnya😉
__ADS_1