Istri Tercinta Tuan Muda

Istri Tercinta Tuan Muda
Ke kantor Kean.


__ADS_3

Happy Reading....


Hari ini tidak jauh berbeda dengan hari kemarin, Kania dan Ras bersiap-siap untuk bekerja dan sarapan bersama dengan suasana yang masih tetap tenang.


Baik Ras ataupun Kania masih sama-sama mempertahankan sikapnya masing-masing, entah siapa yang akan berubah terlebih dahulu? dari cuek dan datar menjadi hangat.


"Aku berangkat," kata Ras berdiri dari kursinya karena telah selesai sarapannya.


Kania hanya menjawabnya dengan deheman kecil dan anggukkan kepala saja sambil fokus pada sarapannya yang belum selesai.


Ras pergi dari rumahnya menuju ke hotel tempatnya bekerja. dia mengendarai mobilnya sendiri seperti sebelumnya.


Saat sedang di perjalanan ponselnya berbunyi dan tercantum nama Papa mertuanya di layar ponselnya, dia segera menjawab panggilan itu karena dia yakin ada hal yang penting yang ingin mertuanya katakan padanya itu.


"Halo Pa," kata Ras mengapit ponselnya dengan bahunya karena tangannya fokus ke setir mobilnya.


'Ke kantorku nanti siang, aku tunggu,' kata Kean di balik telponnya.


"Ada perlu apa Pa?" tanya Ras. tapi, sambungan telponnya sudah terputus.


"Pa," panggil Ras lagi.


Dia kemudian melihat ponselnya ternyata sudah mati, Dia menyimpan kembali ponselnya ke saku jasnya.


"Ada perlu apa, Papa menelponku dan memintaku untuk ke kantornya?" tanya Ras pada dirinya sendiri.


Tidak mau terlalu diambil pusing, Ras pun berhenti memikirkannya, dia akan ke kantor mertuanya nanti siang agar tahu maksud dari Papa mertuanya menelponnya.


Sementara di sisi lain Kania yang baru selesai sarapan langsung keluar dari rumah itu dan saat sampai di depan pintu, dia melihat mobilnya sudah terparkir di depan teras rumahnya.


"Mobilnya sudah siap Nona," kata penjaga itu membungkukkan setengah badannya.


Kania hanya menganggukkan kepalanya dan langsung memasuki mobilnya. dia kemudian menjalankan mobilnya menuju ke gerbang yang telah dibuka oleh penjaga yang lainnya.


Beberapa saat kemudian mobilnya sudah sampai di kantornya dan seperti hari sebelumnya dia memarkirkan mobilnya di parkiran khusus.


Bertepatan dengan Papanya yang baru saja sampai dan turun dari mobilnya.


"Kamu sudah datang Kan," sapa Kean.


"Iya Pa," jawab Kania.


Mereka pun berjalan beriringan menuju ke ruangan mereka, tidak ada percakapan antara Ayah dan anak itu hingga mereka sampai di depan ruangan mereka.


"Mainlah ke rumah Kania, sejak menikah kamu belum sempat main ke rumah," kata Kean saat akan memasuki ruangannya.


"Baru seminggu Pa," kata Kania pada Papanya.


"Iya tetap saja walaupun baru sehari tapi bagi Mama kamu berasa udah lama," kata Kean menatap Kania.


"Iya Pa, nanti Kania akan main ke rumah, saat pulang kerja," kata Kania.


"Baiklah, jangan lupa ajak suami kamu," kata Kean, Kania hanya menganggukkan kepalanya dan masuk ke dalam ruangannya begitupun dengan Kean.

__ADS_1


Saat waktu sudah menunjukkan jam 11 siang Ras keluar dari hotelnya menjalankan mobilnya menuju ke kantor mertuanya.


45 menit perjalanan dari hotel Ras menuju kantor Kean. Ras memarkirkan mobilnya di parkiran biasa dan berjalan menuju ke lobby kantor Kean.


"Saya ingin bertemu dengan Tuan Kean," kata Ras formal.


"Silakan Tuan," kata Resepsionis itu ramah, dia mengira jika yang saat ini berbicara dengannya adalah Ray.


'Bukannya Tuan Ray sudah biasa keluar masuk kantor ini kenapa sekarang harus ijin dulu,' kata Resepsionis itu dalam hatinya.


"Di mana ruangannya?" tanya Ras dingin.


"Eh- anu Tuan, bukankah Anda sudah tau ruangan Tuan dan Nona Muda," kata Resepsionis itu gugup karena tatapan Ras.


"Di mana ruangannya?" Ras menatap Resepsionis itu semakin tajam karena Resepsionis itu terlalu banyak bicara menurutnya.


"Maaf Tuan, ruangannya ada di lantai paling atas, Anda bisa menaiki lift yang sebelah kiri untuk menuju ke ruangan Tuan Kean, ruangannya berada di ujung lorong yang pintunya lebih besar dari pintu yang lainnya, Tuan Ras," jelas Resepsionis yang satunya lagi yang baru selesai menerima telpon dengan menundukkan kepalanya tidak berani melihat Ras.


Setelah pendengar perkataan Resepsionis itu Ras pergi dari sana menuju ke lift yang ditunjukkan oleh Resepsionis itu untuk menuju ke ruangan Kean.


"Tuan Ras?" kata Resepsionis yang satunya dengan bingung.


"Iya dia itu Tuan Ras, bukan Tuan Ray, dia suami Nona Kania," jelas temannya.


"Loh bukannya Nona Kania menikah dengan Tuan Ray," katanya tak percaya karena saat pernikahan anak atasannya itu dia sedang pulang ke kampungnya jadi dia tidak tahu apa yang tengah terjadi.


"Tuan Ray ketahuan tidur sama perempuan lain sehari sebelum pernikahan mereka," kata Resepsionis itu dengan pelan.


"Serius?" tanya temannya dengan tidak percaya.


Saat lift sudah sampai, Ras keluar dari lift dan berjalan menuju ke ruangan Kean.


Kania yang baru keluar dari ruangan Kean kaget melihat Ras berada di sana.


"Kamu sedang apa di sini?" tanya Kania pada Ras.


"Papa mau membicarakan sesuatu padaku," jawab Ras akan melewati Kania.


"Tunggu," kata Kania menahan tangan Ras dengan memegang pergelangan tangan Ras.


"Apa yang mau Papa bicarakan padamu?" tanya Kania menatap Ras serius.


Jarak mereka kini lumayan dekat, Ras tidak langsung menjawabnya, dia hanya fokus melihat wajah Kania yang sedang bertanya padanya.


"Hey jawablah, apa yang mau Papa bicarakan padamu?" tanya Kania lagi membuat Ras tersadar.


"Aku tidak tau, mungkin masalah pekerjaan," jawab Ras sekenanya.


"Benarkah masalah pekerjaan?" tanya Kania ragu.


"Aku juga belum tau pasti," jawab Ras menatap Kania juga.


"Kalau Papa bahas tentang aku kamu jangan ikutin kemauannya," kata Kania menatap Ras dengan tatapan tegas.

__ADS_1


"Maksudnya?" tanya Ras dengan alis mengerut.


"Kalau Papa minta kamu untuk menyediakan pengawal atau sopir untukku kamu harus menolaknya," kata Kania menatap Ras galak.


"Apa untungnya untukku jika aku menolak keinginan Papa," kata Ras santai.


"Pokoknya kalau kamu sampai mengikuti keinginan Papa awas saja," kata Kania dengan nada mengancam dan tatapan mata yang tajam.


"Terserah aku mau berbuat seperti apa," kata Ras datar.


"Dasar tidak bisa diajak bicara baik-baik," kata Kania mencebikkan bibirnya.


"Pergilah apalagi yang kamu tunggu!" ketus Kania.


"Ini...." Ras mengangkat tangannya yang masih di pegang oleh Kania.


Kania langsung menghempaskan tangan Ras dari genggamannya dengan kasar dan langsung pergi begitu saja dari sana dengan menekuk wajahnya.


Dia sudah tau jika Papanya memanggil Ras, pasti karena masalah dia yang tidak dikawal lagi sekarang.


Ras hanya tersenyum tipis melihat Kania yang seperti itu, setelah itu dia mengetuk pintu ruangan Kean dan memasang wajah datarnya lagi.


Saat mendapatkan ijin untuk masuk dia pun masuk ke dalam, dimana Kean sedang duduk di kursi kerjanya dengan tangan yang memegang sebuah berkas.


"Aku kira kamu akan datang nanti," kata Kean menyimpan berkas yang di tangannya ke meja kerjanya.


Dia menyandarkan punggungnya dan menatap Ras yang sedang berjalan kearah mejanya dengan serius.


"Pekerjaan Ras sudah tidak terlalu banyak jadi Ras ke sini sekarang," kata Ras.


"Duduklah," perintah Kean pada Ras.


Ras menurut dia langsung duduk di depan meja Kean bersebrangan dengan Kean.


"Apa yang ingin Papa bicarakan dengan Ras?" tanya Ras langsung ke intinya.


"Apa maksud kamu membiarkan Kania pergi sendiri seperti itu tanpa pengawal bahkan tanpa sopir, kamu tau hal itu bisa saja bahaya untuknya,"


"Kamu tau 'kan seperti apa aku menjaganya selama ini dan sekarang kamu membiarkannya begitu saja seperti itu, kalau kamu tidak mampu untuk membayar pengawal atau Sopir, kamu tenang saja aku yang akan membayarnya," kata Kean panjang lebar.


Ras tidak langsung bicara dia hanya mendengarkan apa saja yang akan Kean katakan padanya.


"Aku masih mampu membayar pengawalnya dan sopir untuk menjaganya dengan baik dan memastikan bahwa dia akan selalu baik-baik saja," kata Kean menatap Ras dengan tatapan tajam sedangkan yang di tatapnya hanya memasang wajah datarnya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2