
Happy Reading....
Hari sudah mulai pagi Kania meraba tempat di sampingnya terasa dingin dan kosong, dia kemudian membuka matanya dan langsung duduk kemudian menepuk keningnya karena semalam dia tidak membukakan pintu kamar untuk Ras karena ketiduran.
"Dia pasti tidur di kamar tamu," gumamnya kemudian turun dari ranjang dan merapikannya, setelah itu masuk ke kamar mandi untuk mencuci mukanya dan menggosok giginya.
Setelah selesai dia memutuskan untuk melihat Ras apa sudah bangun atau belum karena sudah siang, sudah waktunya untuk Ras sarapan dan berangkat kerja.
Saat membuka pintu kamarnya dia berjalan beberapa langkah menuju ke kamar tamu yang jaraknya tidak jauh dari kamarnya tapi langkahnya terhenti karena dia melihat Ras sedang tidur meringkuk di sofa tanpa memakai selimut dan hanya memakai bantal sofa.
Kania pun mendekatinya dan melihat Ras pasti kedinginan dan tidak nyaman tidur seperti itu sepanjang malam, padahal semalam dia berniat hanya mengerjai Ras tapi dia malah ketiduran setelah makan malam.
"Ras," kata Kania membangunkan Ras dengan lembut.
Ras langsung membuka matanya dan mendudukkan dirinya sambil mengerjapkan matanya beberapa kali mengumpulkan kesadarannya.
"Yaang kamu udah maafin aku," kata Ras menatap Ras dengan tampang yang menyedihkan.
"Kamu kenapa tidur di sini, kenapa gak tidur di kamar?" Kania malah bertanya tanpa menjawab perkataan Ras terlebih dahulu.
"Aku semalam nungguin kamu bukain pintu dan malah ketiduran," kata Ras masih memasang wajah menyedihkannya.
"Kenapa gak masuk pakai kunci cadangannya aja, setiap kamar 'kan ada kunci cadangannya," kata Kania.
"Iya juga ya, kenapa semalam gak kepikiran, semalam karena kepikiran kamu yang marah jadi gak kepikiran ke situ, kamu sih ngambeknya kelamaan jadi aku semalaman harus tidur di sofa," keluh Ras.
"Yang bikin aku ngambek siapa?" tanya Kania menatap Ras.
"Aku," jawab Ras.
"Berarti salah siapa kalau kamu tidur di sofa."
"Salah aku juga," kata Ras pasrah, 'Ternyata wanita selalu benar itu, benar-benar nyata,' gumamnya dalam hati.
"Tuh tau jadi jangan nyalahin aku, udah sekarang kamu mandi sana kamu 'kan harus kerja," kata Kania.
"Iya aku akan mandi. tapi, kamu sudah maafin aku 'kan?" tanya Ras.
"Iya, ayo bangun kamu harus mandi," kata Kania menarik tangan Ras agar bangun dari sofa yang didudukinya.
"Kalau kamu udah maafin aku, berikan aku ciuman selamat paginya dong," kata Ras berdiri berhadapan dengan Kania.
"Kamu tidak lihat ini dimana, kalau ada pelayan yang lihat bagaimana," kata Kania mencebik.
__ADS_1
"Kalau gitu kita ke kamar yuk, biar lebih leluasa." Ras menarik tangan Kania tapi Kania menghentikannya.
Tanpa aba-aba Kania langsung berjinjit di depan Ras dan memberikan apa yang Ras inginkan setelah memastikan situasinya aman, tidak ada pelayan yang sedang bekerja di lantai itu.
"Sudah, sekarang kamu mandilah aku tunggu kamu di bawah untuk sarapan," kata Kania saat sudah selesai langsung melenggang pergi dari sana karena takut Ras menariknya ke kamar, bisa lain lagi ceritanya kalau dia balik ke kamar apalagi semalam Ras tidak tidur dengannya.
"Masih kurang Yang," kata Ras merajuk.
"Cepat mandi sayang, ini udah siang," kata Kania sambil berjalan menjauh dari Ras.
"Katakan sekali lagi dong Yang," kata Ras antusias karena Kania memanggilnya Sayang.
"Tidak ada siaran ulang," kata Kania menggoda Ras dan langsung menuruni tangga.
Kania pergi ke dapur untuk meminum air putih terlebih dahulu setelah itu dia membantu pelayan untuk menata sarapannya dan Ras di meja makan karena dia tidak bisa memasak akhirnya dia hanya bisa membantu dengan menata makanannya saja.
Beberapa saat kemudian Ras turun dengan sudah memakai pakaian formalnya dia tidak bicara karena sedang menerima telpon dari seseorang dia hanya mendaratkan sebuah kecupan di kening Kania sebelum duduk di meja makan di samping Kania.
Ras mengakhiri panggilannya itu dan menyimpan ponselnya di meja makan, mereke pun memulai sarapannya.
Kania tidak bertanya siapa yang menelpon Ras itu karena Ras akan bicara tanpa dia bertanaya terlebih dulu padanya dan dia yakin yang menelponnya adalah rekan kerjanya atau salah satu karyawannya.
"Gimana kamu sama Kak Iden apa kamu sudah bisa bicara dengannya?" Kania memulai percakapan di tengah sarapannya.
"Aku yakin dia pasti sangat membenciku sekarang," kata Ras terlihat sedih.
"Kak Iden tidak mungkin membencimu kalian bertiga adalah adik yang sangat disayanginya saat ini dia hanya sedikit kecewa dengan apa yang telah kamu lakukan itu, aku yakin dia tidak pernah membencimu dia hanya ingin menunjukkan padamu bahwa apa yang kamu lakukan itu salah, dia ingin kamu mengerti pentingnya menjaga hubungan antara saudara."
"Aku yakin dia tidak menemui mu bukan karena dia masih marah padamu. tapi, dia lagi sibuk dengan pekerjaannya dan juga masalah asmaranya," kata Kania menghibur Ras yang terlihat sedih.
"Darimana kamu tau, tentang itu?" tanya Ras mengerutkan keningnya.
"Kata Mom Laura, aku 'kan sering ke rumah Oma atau ke rumah Dad Delvin kalau lagi bosen dan Mom Laura bilang Kak Iden jarang pulang tepat waktu sekarang, selain sibuk membantu Dad Delvin di kantor Mom Laura juga yakin jika saat ini Kak Iden sedang dekat dengan seorang wanita," kata Kania.
"Beneran seperti itu," kata Ras tak percaya.
"Beneran kalau gak percaya tanya aja sama Mom Laura," kata Kania menganggukkan kepalanya.
"Berarti Kak Iden sudah move on dari Tisha," kata Ras.
"Sepertinya gitu," jawab Kania.
"Syukurlah kalau gitu, semoga Kak Iden menemukan wanita yang mencintainya dengan tulus, aku yakin orang sebaik Kak Iden akan menemukan orang yang baik juga sebagai pasangannya," kata Ras penuh harap.
__ADS_1
"Iya semoga saja," kata Kania, setelah itu tidak ada lagi yang membuka suaranya mereka melanjutkan sarapan mereka hingga selesai.
Setelah selesai sarapan Ras pun berangkat ke Hotel tempatnya bekerja dia diantar oleh Kania sampai di depan pintu rumahnya seperti biasa.
"Kamu hati-hati di jalannya," kata Kania mencium tangan Ras.
"Iya kamu juga hati-hati di rumahnya, jangan melakukan pekerjaan apapun yang membuatmu dan anak kita lelah," kata Ras mengecup kening Kania setelah itu mengusap perut Kania yang masih rata.
Kania hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya.
"Oh iya tadi teman aku yang buka usaha Restoran dengan ku ingin berkenalan denganmu, nanti kita makan siang di Restorannya ya aku akan menjemputmu," kata Ras sebelum memasuki mobilnya.
"Yang tadi telponan sama kamu?" tanya Kania.
"Iya dia Griffin orang yang bekerja sama denganku membuka Restoran di sini, kebetulan dai baru kembali dari negera asalnya jadi dia mau bertemu denganmu," kata Ras.
"Iya udah, nanti siang aku siap-siap," kata Kania.
"Baiklah aku berangkat kerja dulu, ingat pesanku tadi," kata Ras, Kania hanya menganggukkan kepalanya.
Ras pun memasuki mobilnya dan melambaikan tangannya saat mobil berjalan meninggalkan halaman rumahnya.
Kania kembali masuk ke rumahnya dia memanggil Rani untuk menemaninya mengobrol sambil menikmati teh di taman samping rumahnya menikmati udara pagi hari yang masih segar.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1