Istri Tercinta Tuan Muda

Istri Tercinta Tuan Muda
Permintaan maaf Ras.


__ADS_3

Happy Reading....


Hari ini Ras datang ke perusahaan Daddy-nya dia datang ke sana bukan tanpa alasan. tapi, dia datang ke sana bertujuan untuk menemui Ray dia ingin meminta maaf pada Ray secara langsung.


Sebenarnya, sebelumnya dia sudah berusaha menghubungi saudaranya itu untuk mengajaknya bertemu, dia ingin berbicara dengan saudara itu hanya berdua, bukannya tidak berani datang ke rumah secara langsung dan menemuinya. tapi, dia tidak mau orang tuanya melihat pertikaian antara dirinya dan Ray lagi.


Dia tidak ingin melihat Momnya lebih sedih lagi karena pertengkaran antara dia dan Ray, sudah seminggu setelah kejadian itu, dia belum bisa bertemu dengan Kakak-kakaknya, baik Ray maupun Iden selalu menghindar darinya.


"Apa Ray ada di ruangannya?" tanya Ras pada Sekretarisnya Ray.


"Ada Tuan," jawab Sekertaris itu dengan ramah.


Ras langsung memasuki ruangan Ray dia melihat Ray sedang serius dengan laptopnya, dia belum menyadari keberadaan Ras di sana.


"Sampai kapan kamu akan menghindari aku seperti itu," kata Ras yang membuat Ray langsung melihat ke arahnya.


"Ngapain kamu ke sini?" tanya Ray memasang wajah marahnya.


"Bukankah sudah beberapa kali aku bilang kalau aku ingin minta maaf padamu," kata Ras yang tanpa dipersilahkan untuk duduk, dia langsung mendudukkan dirinya di depan Ray.


"Ayolah Ray, aku mohon maafkan aku, semuanya tidak seperti yang kamu pikirkan."


"Tidak seperti yang aku pikirkan? heh, maksudmu aku sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri bukti kejahatanmu dan kamu bilang itu semua tidak seperti apa yang aku pikirkan, apa kamu pikir aku sebodoh itu untuk tau mana yang benar dan mana yang bukan," kata Ray menatap Ras dengan tatapan tajam.


"Video itu tidak sepenuhnya benar, aku tidak menjebakmu aku hanya memanfaatkan situasinya saja saat itu."


"Apa kamu pikir aku akan percaya dengan perkataanmu yang ngarang itu, aku tidak punya waktu untuk mendengar celoteh tidak penting darimu itu, sekarang kamu pergilah," usir Ray pada Ras.


"Aku akan membuktikan jika aku tidak sepenuhnya salah disini, aku pastikan aku akan membawa pelaku yang sebenarnya ke hadapanmu secepatnya agar kamu percaya kalau aku tidak sepenuhnya salah di sini," kata Ras dengan yakin.


"Apa kata maafku begitu penting untukmu," kata Ray sudah lebih tenang dan menatap Ras dengan serius.


"Ya, karena aku tidak ingin Mom sedih terus dengan melihat kita berseteru seperti ini," kata Ras menatap Ray penuh harap.


"Apa kamu mau menyerahkan Kania padaku demi kata maaf dariku itu," kata Ray membuat Ras marah dia langsung berdiri dari duduknya dan menarik kerah Ray.

__ADS_1


"Jangan sembarangan bicara Raymond, apa kamu pikir Kania adalah barang yang bisa diperebutkan begitu saja, apa kamu tidak memikirkan perasaan Tisha jika seandainya dia mendengar perkataanmu itu," kata Ras dengan tatapan tajamnya.


"Kenapa Ras, kenapa kamu bisa bahagia dengan Kania sedangkan aku harus terikat dengan pernikahan yang tidak pernah aku inginkan, kamu tidak adil, kamu adalah orang yang paling jahat Ras, seharusnya yang saat ini berada di sisi Kania adalah aku! seharusnya anak yang Kania kandung itu anakku, kamu lepaskan saja Kania aku tidak perduli dengan keadaannya sekarang, aku akan menerima dia dan anak itu seperti anakku sendiri" kata Ray menatap Ras dengan tatapan sendu.


Ras melepaskan cengkeraman tangannya di kerah baju Ray dan menatap Ray sambil beberapa kali menghela napas panjang untuk menenangkan perasaannya.


"Kamu boleh menghukum aku dengan cara apapun Ray, kamu bisa memukulku sekarang untuk melampiaskan kekecewaan yang kamu rasakan itu. tapi, jangan pernah sekali pun kamu meminta hal yang mustahil itu, aku tekankan sekali lagi padamu. aku sangat mencintai Kania dan aku tidak akan pernah melepaskan Kania untuk siapapun, aku tau ini tidak adil bagimu. tapi, kamu harus bisa menerima semua itu, saat ini juga Kania sedang hamil anakku lupakanlah perasaanmu itu," kata Ras dengan nada yang tenang.


"Satu lagi Ray, saat ini kamu sudah memiliki Tisha, kamu harus bisa menjaga perasaannya lupakan Kania dan terimalah Tisha jangan menyakitinya karena di sini dia tidaklah salah, dia juga hanyalah korban," kata Ras.


Mendengar perkataan Ras, Ray terkekeh dia menatap Ras dengan tatapan mengejek.


"Kamu bisa bicara seperti itu karena di sini kamulah antagonisnya dan kami berempat hanya korban dari keserakahan mu itu Ras, jangan berkata sok bijak di depanku karena perkataan prekataanmu itu hanya membuatku semakin muak, sekarang kamu pergilah jangan buat aku emosi lagi dengan kehadiran kamu di sini," usir Ray pada Ras.


Ras hanya bisa menghela napas dalam, saat ini Ray tidak akan mengerti dengan apapun yang akan dia katakan karena masih diliputi oleh emosi.


"Baiklah sekarang aku akan pergi dan aku akan menemuimu lagi saat aku sudah menemukan pelaku sebenarnya," kata Ras setelah itu pergi dari ruangan itu dan Ray sama sekali tidak memperdulikan perkataannya itu karena dia beranggapan jika saat ini Ras hanya sedang membual untuk lolos dari kesalahannya.


Sementara di sisi lain Tisha sedang menangis di kamar mandi yang tidak jauh dari ruangan tempat Ray itu, dia baru saja mendengar pembicaraan antara Ray dan Ras.


"Tidak aku tidak boleh nangis terus seperti ini, kalau Kak Ray memang belum bisa lupain Kak Kania kenapa gak aku saja yang menghapus semua tentang Kak Kania dari hati Kak Ray," kata Tisha menghapus air matanya dan merapikan kembali penampilannya.


"Siang Kak," sapa Tisha memasang senyumnya saat memasuki ruangan Ray.


"Sha, kamu udah lama datang?" tanya Ray setengah kaget, dia takut Tisha mendengar obrolan dia dan Ras.


"Tidak Sha baru aja datang, kenapa emangnya gitu?" tanya Tisha pura-pura tidak ada apapun.


"Gak pa-pa ada apa kamu ke sini?" tanya Ray lega karena berpikiran jika Tisha tidak mendengarkan obrolannya tadi.


"Ini aku mau makan siang bareng Kak Ray, aku yang masak loh, meskipun dibantu pelayan," kata Tisha terkekeh.


"Baiklah ayo, kita makannya di sofa aja," kata Ray bangun dari kursi kerjanya menuju sofa.


Tisha menata makanannya di meja yang ada di sana dan menyiapkan untuk Ray terlebih dahulu. mereka pun makan siang bersama dengan tenang.

__ADS_1


"Gimana masakannya Kak?" tanya Tisha penuh harap.


"Enak, untuk yang masih belajar ini cukup enak," jawab Ray apa adanya.


Tisha sedikit merasa terhibur dan melupakan kesedihannya karena Ray memuji masakannya itu, dia tersenyum manis pad Ray.


"Syukurlah kalau makanannya enak," kata Tisha dengan tersenyum manis.


"Kamu gak kuliah?" tanya Ray heran karena biasanya jam segini Tisha masih kuliah.


"Kuliah. tapi, cuma ada satu kelas jadi gak lama makanya bisa masak terus langsung ke sini," kata Tisha.


"Lain kali kalau ada kuliah kamu gak usah masak atau anterin makanan seperti ini nanti kamu capek," kata Ray penuh perhatian meskipun seperti perhatian seorang kakak terhadap adiknya.


"Sha gak capek kok Kak, Sha seneng malah bisa makan siang bareng Kak Ray seperti ini," kata Tisha yang masih mempertahankan senyumannya itu.


"Ya udah sekarang terusin makannya, biar cepat gede," kata Ray dengan kekehan di akhir kalimatnya.


"Kak, Sha bukan anak kecil lagi," kata Tisha memasang wajah merajuknya.


"Iya, iya kamu udah gede," kata Ray, obrolan mereka seperti obrolan kakak dan adik.


Meskipun hanya seperti itu Tisha sudah merasa senang dia dan Ray kembali dekat setelah beberapa hari hubungan mereka sempat dingin dan kaku karena kebenaran itu.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2