Istri Tercinta Tuan Muda

Istri Tercinta Tuan Muda
Kita Pernah Berremu.


__ADS_3

Happy Reading....


Kania tengah bersiap untuk pergi makan siang sesuai dengan janjinya bersama Ras tadi pagi, Kania seperti biasanya dia hanya memakai baju yang simpel dan sederhana begitu juga dengan dandanannya.


Saat Kania sedang mengambil tas dan memasukkan ponselnya ke dalam tasnya, Ras datang memasuki kamar dan seperti biasa dia langsung mencium kening Kania.


"Sudah siap?" tanya Ras pada Kania.


"Sudah," jawab Kania.


"Ya udah kita langsung berangkat aja yuk."


Kania menganggukkan kepalanya, mereka pun langsung pergi menuju Restoran yang dikelola oleh Ras dan temannya yang dari luar negeri.


Jarak tempuh dari rumah ke Restoran itu kurang lebih memakan waktu satu jam, setelah satu jam kemudian mobil mereka yang disopiri oleh Ras sendiri itu pun sampai.


Mereka berdua turun dari mobil, Ras berjalan dengan melingkarkan tangannya di pinggang Kania.


"Selamat siang Tuan Ras," sapa para pelayan Restoran itu saat berpapasan dengan mereka.


"Dimana Tuan Griffin?" tanya Ras pada pelayan itu.


"Tuan Griffin sudah menunggu Anda dan Nona di sana." Pelayan itu menunjuk sebuah meja dengan posisi di pojok.


"Ayo kita ke sana," kata Ras sambil melenggang mendekati meja dimana seorang pria sedang duduk di sana.


"Maaf membuatmu menunggu," kata Ras saat sudah sampai di depan meja pria bernama Griffin itu.


"Santai saja, aku kira kamu gak jadi dateng, gimana kabarnya sepertinya sangat baik," kata Griffin menyalami Ras dan berpelukan ala pria bersama Ras.


"Ya begitulah seperti yang kamu lihat," kata Ras terkekeh.


"Oh iya kenalkan, ini istriku," kata Ras memperkenalkan Kania pada Griffin.


Griffin menatap Kania dan tersenyum dia kemudian mengulurkan tangannya pada Kania untuk memperkenalkan dirinya.


"Aku Griffin Cornelius kamu bisa memanggilku Griffin sama seperti Ras memanggilku."


"Kania." Kania dan Griffin pun berjabat tangan sebentar.


"Sekarang sebaiknya kita duduk, aku sudah memesankan makanan untuk kalian sesuai permintaanmu tadi saat di telpon," kata Griffin pada Ras.


"Terima kasih, oh iya bagaimana keluargamu apa semuanya baik-baik saja?" Ras mendudukkan dirinya di kursi diikuti oleh Kania.


"Untuk sekarang semuanya baik," jawab Griffin, dia kemudian melihat Kania lagi.


"Sebelumnya kita pernah bertemu apa kamu ingat," kata Griffin membuat Kania menatap Griffin dengan heran.

__ADS_1


"Mungkin kamu salah orang, aku belum pernah bertemu denganmu sebelumnya," jawab Kania apa adanya.


"Kita benar-benar pernah bertemu masa kamu gak ingat," kata Griffin kukuh.


"Kalian bertemu dimana?" tanya Ras menyela perkataan Griffin dan Kania.


Dia melihat Kania dan Griffin secara pergantian meminta jawaban, Kania mengangkat bahunya karena dia merasa jika dia tidak pernah bertemu dengan pria yang menjadi rekan suaminya itu.


"Di taman kota beberapa bulan yang lalu, aku ingat saat itu kamu sedang memakan ice cream sendirian di bangku taman itu, saat itu aku belum lama di sini," jelas Griffin.


Kania berpikir beberapa saat kemudian dia membuka suaranya lagi.


"Aku lupa," jawab Kania bohong.


Dia sebenarnya ingat dia bertemu dengan Griffin saat dia baru seminggu menikah dengan Ras dan itu pertama kalinya dia bisa pergi sendiri jadi dia memutuskan untuk jalan-jalan dan dia sempat ke taman kota yang tidak terlalu jauh dengan rumahnya sambil memakan ice cream.


Dia sengaja berbohong karena dia tidak ingin Griffin bersikap sok dekat dengannya, meskipun Griffin adalah teman sekaligus rekan kerja Ras dia tidak ingin terlalu dekat atau akrab dengannya.


"Dia memang tidak pernah terlalu mengingat orang yang baru bertemu dengannya," kata Ras pada Griffin.


"Oh gitu, iya gak pa-pa kalau dia gak ingat juga," kata Griffin.


Griffin adalah pria yang memliki kulit putih tinggi badan yang sama dengan Ras, rambutnya tidak berwarna hitam legam tapi berwarna coklat terang dengan mata berwarna hazel. dia memang terlihat bukan orang Indonesia meskipun dia fasih berbahasa Indonesia.


Griffin dan Ras mengobrol masalah pekerjaan, Griffin sesekali bertanya pada Kania dan Kania pun menjawabnya seperlunya saja. Hingga makanan mereka pun telah sampai dan mereka memulai makan siangnya dengan tenang.


"Siapa? jangan bilang istriku ini mirip dengan mantanmu," kata Ras menatap Griffin dengan mata menyipit.


"Tidak, bukan mantan aku. tapi, mendiang adikku, Nona Kania persis seperti adikku, hanya saja bedanya adikku orang yang cerewet gak bisa diam tidak sekalem Nona Kania," kata Griffin wajahnya menjadi sedih.


"Sudah berapa lama dia meninggal?" tanya Kania yang jadi penasaran.


"Dua tahun yang lalu, dari semenjak lahir ada kelainan pada jantungnya, meskipun orang tuaku sudah berusaha melakukan berbagai macam cara untuk kesembuhannya. tapi, takdir tidak berpihak padanya, dia meninggal saat usianya menginjak 22 tahun," kata Griffin.


"Sudahlah kenapa aku jadi cerita panjang lebar seperti ini, sekarang sebaiknya kita lanjutkan dulu saja makannya," kata Griffin lagi sambil terkekeh dan melanjutkan makannya.


Kania dan Ras pun tidak bicara lagi mereka segera menghabiskan makanan mereka, begitupun dengan Griffin.


"Nona Kania apa orang tuamu asli orang Indonesia?" tanya Griffin pada Kania.


"Untuk apa Anda menanyakan hal itu?" tanya Kania menatap Griffin dengan curiga.


"Tidak, jangan salah paham aku hanya penasaran saja, kamu sepertinya bukan keturunan asli orang Indonesia," kata Griffin.


"Dia memang bukan murni keturunan Indonesia, Papa dan Mama mertuaku sama-sama campuran," jawab Ras karena tahu Kania tidak nyaman berbincang terlalu banyak dengan Griffin.


"Oh pantesan, Oh iya aku lupa aku meminta ke sini karena sekalian mau memberikan laporan tentang keuntungan Restoran ini, bentar aku ambil dulu laporannya di ruanganku, aku lupa membawanya tadi," kata Griffin bangun dari kursinya.

__ADS_1


Ras menganggukkan kepalanya setelah Griffin menjauh dia melihat Kania dan mulai berbicara dengannya.


"Kenapa, apa kamu bosen?" tanya Ras sambil menggenggam tangan Kania.


"Tidak, hanya saja aku merasa kurang nyaman saat berhadapan dengan Tuan Griffin," kata Kania menatap Ras.


"Kenapa, apa ada yang salah dengannya," kata Ras heran.


"Entahlah, aku juga tidak tahu yang jelas aku merasa tidak nyaman saja."


"Itu mungkin karena kamu baru bertemu dengannya dan kamu jarang berinteraksi secara langsung dengan banyak orang jadi kmu merasa seperti itu, dia orang baik kok," kata Ras .


"Mungkin iya, ini karena aku jarang berinteraksi dengan orang banyak sebelumnya," kata Kania.


Beberapa saat kemudian Griffin datang dengan sebuah berkas di tangannya dan dia duduk kembali berhadapan dengan Ras.


"Ini salinan berkasnya kamu bisa menyimpannya dan ini juga salinan yang akan aku simpan, siapa tau kamu mau memeriksanya juga," kata Griffim.


"Tidak perlu aku percaya padamu," kata Ras.


"Terima kasih atas kepercayaannya yang telah mau bekerja sama denganku, kalau tidak ada kamu aku tidak tau bakal jadi seperti apa aku berada di tempat asing seperti ini," kata Griffin terlihat tulus.


"Jangan bicara seperti itu kita 'kan teman, bukankah sesama teman kita harus sling membantu," kata Ras.


"Ya aku beruntung memiliki teman sepertimu meskipun kita belum lama berteman. tapi, kamu sudah banyak membantuku."


"Sudahlah, jangan bicara seolah kita orang asing, oh iya aku harus pulang karena masih ada hal yang harus aku kerjakan, lain kali aku akan mengundangmu untuk makan malam di rumahku," kata Ras berdiri.


"Iya pasti aku akan datang berkunjung ke rumah kalian," kata Griffin tersenyum.


Kania ikut berdiri, Ras pun pamit untuk pulang pada Griffin, setelah itu dia dan Kania pergi dari sana.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2