
Happy Reading....
Saat ini Kania dan Ray sedang duduk dengan saling berhadapan di sebuah meja yang ada di salah satu Restoran yang sudah sering mereka kunjungi, bahkan mungkin sudah menjadi Restoran favorit mereka karena saking seringnya mereka bertemu di Restoran sejak beberapa bulan kenal itu.
Kania sebenarnya meminta Ray untuk bertemu malam itu karena dia ingin mengatakan hal yang menjadi keputusannya mengenai pernyataan Ray tentang kelangsungan hubungan mereka itu.
Kania memakan makanannya yang sudah tersaji di meja makan itu dengan santai dia sebenarnya merasa jantungnya berdebar entah kenapa setiap kali dia berhadapan dengan Ray untuk membicarakan masalah hal yang serius dia selalu merasa gugup.
"Apa kamu ingin mengatakan sesuatu Kan?" tanya Ray menatap Kania dengan serius dan menghentikan aktivitas makannya terlebih dahulu.
Dia heran karena Kania tidak seperti biasanya berinisiatif mengajaknya untuk bertemu dengannya seperti itu.
"Aku memang mau membicarakan sesuatu. tapi, sebaiknya kita selesaikan dulu saja makan malamnya biar bicaranya lebih nyaman," jawab Kania sambil terus memasukkan makanannya ke mulutnya.
Ray menganggukkan kepalanya dan kembali melanjutkan makan malamnya. dia penasaran dengan apa yang akan Kania bicarakan padanya itu.
Setelah beberapa saat kemudian makanan mereka sudah habis dan tiba saatnya untuk Kania membicarakan masalah yang membuatnya merasa gugup itu kepada Ray.
Ditatapnya Ray dengan seksama dan Ray pun membalas tatapan mata yang berwarna hijau keemasan itu, mata yang dari semenjak bertemu selalu terbayang olehnya, mata yang tidak pernah terlupakan olehnya meski sudah sekian lama tidak melihatnya, mata yang membuatnya tidak pernah bosan untuk melihat kilauan-nya itu.
"Aku mau membicarakan tentang pernyataanmu padaku waktu itu tentang hubungan kita," kata Kania menatap Ray dengan serius.
"Jadi, bagaimana? apa jawabanmu?" tanya Ray menegangkan duduknya dan menatap Kania dengan tidak kalah serius.
Ray sudah menantikan Kania membuka suara tentang masalah ini. dia sangat menanti-nanti jawaban Kania tentang hal itu. dengan penuh penasaran menajamkan pendengarannya agar dia tidak salah mendengar saat Kania membuka suaranya.
"Aku mau menjalin hubungan yang lebih serius denganmu," kata Kania tegas dan sangat, sangat jelas di indra pendengaran Ray.
"Serius Kan?" tanya Ray antara percaya dan tidak.
"Iya dan kalau kamu memang benar-benar serius dengan perkataanmu waktu itu, kamu bisa segera mempertemukan orang tua kita," jawab Kania.
Ray yang mendengar hal itu tentu saja merasa sangat senang dia ingin sekali rasanya memeluk tubuh Kania saat itu juga. tapi, dia sadar dia sadar dia boleh melakukan hal itu dia harus menahan dirinya agar tidak membuat Kania berubah pikiran dengan perkataannya barusan.
"Baiklah besok aku akan membawa keluargaku untuk menemui keluarga mu dan kita mengadakan pertunangannya besok," kata Ray enteng dia terlihat sangat antusias.
Mendengar hal itu tentu saja Kania tidak setuju bagaimana bisa semuanya mendadak seperti itu memang Ray pikir mereka mau melakukan apa sampai mendadak seperti itu.
"Kamu gila apa. memang kamu pikir itu hal yang sepele apa, kita harus membicarakan dulu masalah ini dengan orang tua kita dulu," kata Kania setengah kesal.
"Tapi aku sudah tidak sabar. apa kita langsung menikah saja," kata Ray lagi yang sukses langsung mendapatkan tatapan tajam wanita yang berada di depannya itu.
"Ray ini pernikahan bukan permainan. kita harus benar-benar mempersiapkan semuanya dengan matang terlebih dahulu," kata Kania dengan serius berusaha memberikan pengertian kepada pria di depannya.
"Terus sekarang aku harus gimana?" tanya Ray pasrah.
__ADS_1
"Sekarang sebaiknya kita pulang dan kita bicarakan semuanya dengan keluarga kita dulu setelah itu biarkan mereka yang mengatur segalanya," kata Kania.
"Baiklah," jawab Ray menurut karena terlalu antusias dan semangat sampai-sampai dia merasa tidak sabar untuk bisa bersama dengan Kania setiap saat.
"Sekarang ayo, kita pulang dan bicarakan masalah ini dengan keluarga kita," ajak Kania mulai berdiri dari duduknya.
"Baiklah ayo," sahut Ray berdiri juga dari duduknya mengikuti Kania.
Setelah itu mereka berjalan secara beriringan dengan menyisakan jarak antara mereka. selama beberapa bulan mereka selalu berjalan-jalan atau makan bersama belum pernah lagi terjadi kontak pisik antara mereka selain saat pertemuan pertama mereka saat Ray memperkenalkan dirinya kepada Kania.
Ray selalu ingin membuat Kania nyaman saat berada di dekatnya itulah kenapa dia selalu menahan dirinya agar tidak melakukan hal yang akan membuat Kania merasa tidak nyaman.
"Aku anterin kamu pulang ya," tawar Ray saat mereka sudah berada di area parkiran Restoran itu.
"Tidak perlu Ray, aku 'kan diantarkan sopir," tolak Kania.
"Tapi...."
"Ray sekarang kamu pulanglah dan bicarakan masalah ini kepada orang tuamu terlebih dahulu," kata Kania memotong perkataan Ray.
"Baiklah, kamu hati-hati ya jangan lupa mimpiin aku ya saat tidur nanti," kata Ray dengan memainkan alisnya yang lumayan tebal dan hitam itu.
"Ya selamat malam," kata Kania berjalan memasuki mobilnya yang sudah berada di depannya di bawa oleh sopirnya.
Ray pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya dia membalas lambaian tangan Kania.
Sopir Kania mulai menjalankan mobilnya menjauhi pelataran Restoran itu. sedangkan Ray langsung menuju ke mobilnya dan memasuki mobilnya, dia menjalankan mobilnya untuk pulang ke rumahnya dia tidak sabar untuk mengatakan kabar bahagia ini kepada orang tuanya dan semua keluarganya.
Sepanjang perjalanan dia bersiul dan bersenandung ria dengan senyuman yang tidak luntur dari bibirnya itu.
Beberapa saat kemudian mobilnya sudah sampai di depan gerbangnya dengan tidak sabar dia menekan klakson mobilnya agar penjaga di rumahnya segera membukakan pintu gerbang itu untuknya.
Ray memarkirkan mobilnya asal dia kemudian turun dari mobilnya itu dengan penuh semangat.
"Mom, Dad!" teriaknya saat memasuki rumahnya itu.
Vano, Adelia, Ras dan Zani yang saat itu sedang di meja makan saling menatap dengan kening mengerut karena Ray yang berteriak seperti itu.
"Kenapa Kak Ray?" tanya Zani pada semua orang yang ada di meja makan itu.
"Entahlah," jawab Vano dan Adelia secara bersamaan dengan mengangkat bahunya karena mereka juga merasa heran dengan apa yang Ray lakukan itu.
"Mom, Dad!" teriak Ray lagi, membuat keempat orang yang berada di meja makan pun membangunkan dirinya untuk mencari tau ada apa sebenarnya dengan Ray.
Mereka semua berjalan menuju Ray yang sedang berdiri di ruang tengah dengan tersenyum lebar.
__ADS_1
"Kenapa kamu teriak-teriak seperti itu sih Ray ini 'kan sudah malam," kata Adelia kepada Ray.
Ray berjalan ke Mommynya dia langsung memeluk wanita yang telah mengandungnya, melahirkannya dan merawatnya itu dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya.
"Udah kali Ray peluknya lama banget sih," kata Vano memisahkan Adelia dari Ray hingga pelukan antara Ibu dan anak itu terlepas.
"Ray baru sebentar juga meluk Mommy apanya yang lama sih Dad. dasar posesif," kata Ray menatap Dadynya dengan jengah.
"Kamu kenapa teriak-teriak Ray?" tanya Adelia lagi.
Ray langsung melihat Mommynya lagi dan kembali tersenyum lebar.
"Ray punya kabar gembira Mom, Kania anaknya Tuan Kean. dia menerima Ray. bahkan dia meminta Ray untuk mengajak kalian ke rumahnya untuk menemui keluarganya secara formal untuk membicarakan masalah Ray dengannya," kata Ray dengan antusias.
"Baguslah kalau gitu besok kita ke rumahnya untuk menentukan tanggal pertunangan kalian," kata Adelia yang ikut senang dengan perkataan anaknya.
"Iya Mom," kata Ray menatap satu persatu keluarganya senang.
"Selamat ya akhirnya kamu sebentar lagi menikah dengan wanita yang kamu inginkan," kata Vano menepuk bahu Ray.
"Iya Dad," jawab Ray menganggukkan kepalanya.
"Selamat ya Kak Ray sebentar lagi Kak Ray akan menikah dan Zani akan memiliki Kakak perempuan," kata Zani tersenyum kepada Ray.
"Selamat ya Ray," kata Ras singkat dengan wajah datarnya.
Ray hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas ucapan selamat dari semua keluarganya itu.
Setelah itu mereka masuk ke kamar mereka masing-masing untuk beristirahat dan akan membahas masalah ini besoknya lagi agar lebih santai.
Sementara di sisi lain tepatnya di rumah Kean, Kania juga mengatakan semuanya kepada semua keluarganya dan keluarganya pun tentu saja merasa senang dengan hal itu.
.
.
.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1