
Happy Reading...
Setelah hampir seminggu libur dari rutinitasnya di tempat kerja kini Kania dan Ras sudah harus kembali beraktivitas seperti biasanya.
Kania mengambil tasnya saat dirasa penampilannya sudah rapi, Dia melihat ke arah Ras yang keluar dari ruang ganti dengan penampilan yang sudah rapi dari ujung kepala sampai ujung kaki dia terlihat sempurna.
"Aku ingin membawa mobil sendiri, aku tidak ingin pakai sopir atau dikawal oleh pengawal di sisiku." Kania bicara dengan tatapan serius terhadap Ras.
Bukan meminta ijin tapi itu seperti sebuah perkataan yang tidak mau di tolak.
"Kamu tidak perlu khawatir aku akan membeli mobilku sendiri, aku masih punya simpanan dari gajiku," kata Kania lagi karena Ras tidak menyahut perkataannya.
"Bukan masalah mobil yang aku permasalahkan, apa kamu yakin kamu bisa menjaga dirimu sendiri, mengingat selama ini kamu selalu didampingi oleh para pengawal," kata Ras dengan menatap Kania datar.
"Aku akan baik-baik saja," kata Kania dengan yakin.
"Ya udah kalau gitu, kamu pilihlah mobil yang ingin kamu pakai di garasi, minta kunci mobilnya ke penjaga rumah ini," kata Ras santai dan membalikkan badannya berjalan menuju pintu kamar itu untuk keluar.
Kania tersenyum dengan itu dia akhirnya bisa pergi kemanapun sendirian tanpa merasa risih lagi karena terus diikuti seperti sebelumnya.
Dia keluar dari kamar mengikuti Ras untuk pergi sarapan sebelum pergi bekerja. suasana hatinya lumayan baik sekarang sehingga dia tidak terlalu memasang wajah datarnya.
Mereka berdua sarapan dengan tenang tidak mengeluarkan lagi suaranya hingga sarapan mereka selesai.
Ras segera pergi dengan mobilnya yang sudah disediakan di depan pintu oleh penjaga rumahnya.
"Nona Anda mau memakai mobil yang mana?" tanya penjaga itu pada Kania saat mereka berada di garasi mobil yang berada di bagian samping rumah itu.
Di sana ada empat mobil dengan model yang berbeda tatapan Kania tertuju pada satu mobil sedan berukuran kecil yang sepertinya pas untuknya, mobil itu berwarna merah cerah.
"Mobil ini terlihat masih mengkilat apa ini mobil baru?" tanya Kania melihat mobil itu dengan seksama.
"Iya Nona mobil itu baru sampai di sini dua hari yang lalu, kata Tuan Muda mobil itu kado pernikahannya dari salah satu temannya," kata penjaga itu.
"Apa aku boleh memakainya, sepertinya mobil ini lebih cocok untukku," kata Kania menatap penjaga itu.
"Tentu saja Nona Anda bisa memakai mobil yang Anda inginkan," kata penjaga itu tersenyum pada Kania.
"Benarkah, apa tuanmu tidak akan marah kalau aku memakai mobil barunya," kata Kania dengan ragu.
"Saya yakin tidak akan Nona, karena warna mobilnya ini tidak terlalu Tuan Muda sukai jadi pasti dia tidak akan memakainya," jelas penjaga itu membuat Kania tersenyum senang.
"Baiklah, mana kunci mobilnya aku harus segera berangkat," kata Kania sumringah.
Penjaga itu memberikan kunci mobilnya kepada Kania dan Kania menerimanya dengan senang hati, dia memasuki mobil yang hanya bisa di tumpangi oleh dua orang itu.
__ADS_1
"Mobil yang nyaman, bukankah mobil ini mobil keluaran terbaru dan baru diperjual belikan beberapa unit saja, sepertinya teman Ras itu benar-benar teman yang baik sehingga memberikan hadiah semewah ini padanya," kata Kania memperhatikan desain di dalam mobil itu.
Setelah puas menelisik setiap sudut mobil itu. dia pun mulai menghidupkan mobilnya, dia menjalankan mobilnya untuk keluar dari garasi dengan sangat hati-hati dan keluar dari gerbang rumah itu.
Dia memang sudah bisa menyetir karena dia memaksa papanya untuk membiarkannya menjalankan mobilnya sendiri sesekali dan papanya mengijinkannya dengan catatan sopirnya tetap ikut dengannya.
Dia benar-benar menikmati perjalanannya itu setelah 25 tahun kini dia bisa merasakan rasanya bebas, pergi sendiri, menjalankan mobilnya sendiri dan dia bisa pergi kemanapun yang dia inginkan kedepannya.
"Bebas benar-benar menyenangkan, tidak ada yang ngintilin atau memata-matai pergerakan yang aku lakukan," kata Kania tersenyum lebar.
Mobil sedan berwarna merah itu membelah jalanan yang lumayan padat oleh para pengendara yang akan memulai aktivitasnya.
Beberapa saat kemudian mobilnya sudah memasuki area kantor milik Papanya dia memarkirkan mobilnya di basement khusus untuk Papanya dan keluarganya.
"Selamat pagi, Nona muda, selamat atas pernikahan Anda," kata sapaan dari setiap karyawan yang berpapasan dengannya saat menuju ke lantai tempat ruangannya.
Kania hanya menjawab sapaan setiap karyawan itu dengan anggukan kepala singkat dan hanya memasang wajah datarnya.
Dia tahu sikapnya itu sudah biasa bagi mereka, dia memang sudah dianggap orang yang sombong oleh para bawahan Papanya karena dia tidak pernah berbicara ataupun menjawab sapaan mereka dengan ramah.
Dia tidak perduli akan pendapat orang lain padanya, dia lebih nyaman dengan bersikap seperti tanpa harus pura-pura baik, sopan sedangkan hatinya tidak sesuai dengan apa yang terlihat, dia lebih suka apa adanya tanpa harus berpura-pura.
Dia berjalan dengan santai keluar dari lift, saat liftnya sudah sampai di lantai khusus untuk ruangannya dan ruangan Papanya.
"Ke ruangan Papa sekarang," kata Kean setelah itu langsung menutup lagi telponnya tanpa menunggu jawaban Kania.
"Kebiasaan, lawan bicaranya belum bicara sudah dimatikan," gerutunya pada sang Papanya itu.
Tidak ingin membuat papanya menunggu Kania pun keluar dari ruangannya dan langsung menuju ke ruangan papanya.
Dia mengetuk pintu ruangan itu terlebih dahulu dan baru membuka pintu saat sudah dipersilahkan untuk masuk.
"Ada apa Pa?" tanya Kania saat sudah berada di depan meja kerja Papanya.
"Kamu pelajari berkas-berkas ini dan pilih salah satu yang menurutmu cocok untuk menjalin kerjasama dengan perusahaan kita," kata Kean memberikan beberapa berkas pada Kania.
"Bukankah tugas ini biasanya diberikan pada Om Nikko Pa, Kania belum memahami banyak tentang hal seperti ini," kata Kania menatap Papanya dengan serius.
"Kamu harus belajar untuk itu Kan, kerjakanlah dan berikan hasilnya pada Papa dan Om Nikko biar nanti kita pertimbangkan lagi," kata Kean tidak ingin ada bantahan.
"Baiklah, kalau gitu Kania kembali dulu ke ruangan Kania Pa," pamit Kania.
"Iya pergilah," kata Kean.
Kania pun keluar dari ruangan Kean dan mulai mempelajari setiap berkas dari berbagai perusahaan yang mengajukan kerjasama dengan perusahaan Papanya.
__ADS_1
Dia membaca setiap kata di berkas-berkas itu dengan seksama dan mencatat setiap poin penting dari setiap berkas itu untuk menimbang hasil akhir, perusahaan mana yang lebih baik untuk bekerja sama dengan perusahaannya.
Saat waktu sudah menunjukan sudah saatnya untuk makan siang Kania menemukan satu berkas yang menurutnya lebih unggul dari berkas-berkas yang lainnya dan cocok untuk bekerjasama dengan perusahaan Papanya.
Kania kembali ke ruangan Papanya dia memberikan berkas itu kepada papanya dan menjelaskan poin penting dari perusahaan itu dan keunggulan perusahaan itu sehingga akan cocok bekerjasama dengan perusahaan papanya.
"Baiklah kamu makan sianglah dulu," kata Kean kepada Kania saat Kania sudah selesai dengan tugasnya.
"Baiklah Pa, Kania mau makan siang dulu ya," pamit Kania.
"Ya," kata Kean.
Kania keluar dari ruangan papanya dan langsung mengambil tasnya, dia berencana akan makan siang di luar kantor.
Dia kembali menjalankan mobilnya dan pergi ke restoran yang tidak terlalu jauh dari kantornya dan langsung memesan makanan untuk makan siangnya.
Setelah makanannya datang langsung menyantap makanan itu dengan lahap sambil sesekali matanya melihat sekeliling restoran tempatnya makan itu.
Dia sengaja duduk di sisi jendela agar bisa melihat keluar restoran itu melihat lalu lalang pergerakan di siang hari yang terik itu.
Makanannya pun telah habis begitupun minumannya dia mengusap perutnya dengan perlahan karena merasa kenyang.
"Masih ada waktu, aku mau jalan-jalan sebentar, sebelum kembali ke kantor," kata Kania berdiri dari duduknya dan berjalan menuju ke kasir untuk membayar makanannya.
Setelah selesai membayar makanannya dia langsung menuju ke parkiran Restoran itu dan memasuki mobilnya.
Kania menjalankan mobilnya dengan terus berkeliling mengerikan jalanan kota itu, saat ini seperti seorang yang baru saja datang ke kota itu saking tidak pernahnya dia bebas seperti itu.
"Apa aku harus mengucapkan terima kasih padanya karena telah memberikan aku kebebasan seperti ini?" tanyanya pada diri sendiri.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1