
Happy Reading....
Delvin dan Laura sudah sampai di rumah sakit dimana Iden mendapatkan perawatan karena luka yang dialaminya.
Setelah sampai di depan ruangan IGD Delvin berjalan menuju ke seorang bapak-bapak yang mengantarkan Dokter dan Iden tadi yang masih menunggu di sana.
"Maaf apa orang yang baru saja kecelakaan masih di dalam?" tanya Delvin kepada bapak itu.
"Iya Tuan, Mas yang kecelakaan masih ditangani di dalam," Jawabannya dengan sopan pada Delvin.
"Apa Bapak yang mengantarkannya ke sini?" tanya Delvin.
"Iya Tuan." Bapak-bapak itu pun menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih Pak, karena sudah mau mengantarkan anak kami ke rumah sakit," kata Delvin dengan tulus.
"iya sama-sama Tuan, saya sebenarnya hanya mengantarkannya saja yang mengurus segalanya adalah Dokter yang hampir anak Tuan tabrak," jelasnya membuat Delvin dan Laura kaget karena Iden hampir menabrak orang.
"Jadi maksud Bapak anak kami hampir menabrak?" tanya Laura khawatir.
"Iya tadi saya dan saksi yang kebetulan sedang berada di tempat kejadian melihat mobil anak kalian mengemudikan mobilnya dengan kencang, untung saja dia sempat membanting setirnya hingga Dokter yang tadi mau menyebrang tidak sampai ke tabrak," jelasnya lagi.
"Apa yang hampir ditabraknya baik-baik saja Pak?" tanya Delvin.
"Dia baik-baik saja Tuan, bahkan sekarang dia sedang ikut menangani anak kalian di dalam."
Delvin dan Laura menghembuskan napasnya lega karena anaknya tidak sampai melukai orang lain.
"Kalau begitu saya permisi dulu Tuan, Nyonya, karena kalian sudah berada di sini."
"Oh, iya terima kasih karena sudah menolong anak kami, ini ada sedikit ucapan terima kasih dari kami atas bantuan Bapak," kata Delvin memberikan sejumlah uang sebagai ucapan terima kasih.
"Tidak perlu seperti ini Tuan, saya ikhlas menolong anak kalian," kata bapak-bapak itu dengan sopan.
"Tidak apa-apa Pak terima saja, kami tindak tau apa yang akan terjadi pada anak kami jika Bapak dan Dokter itu tidak langsung membawanya ke sini," kata Delvin sedikit memaksa.
Akhirnya Bapak itu pun menerima uang yang Delvin berikan padanya sebagai ucapan terima kasihnya.
"Kalau begitu terima kasih Tuan, semoga anak kalian tidak mengalami hal yang serius dan segera pulih." Bapak itu membungkukkan badannya.
"Aamiin, terima kasih Pak," kata Delvin dan Laura.
Setelah itu dia pun pergi meninggalkan Delvin dan Laura menunggu di depan ruangan itu menunggu kabar dari Dokter yang menangani Iden.
Saat Delvin dan Laura sedang menunggu dengan harap-harap cemas, pintu ruangan itu terbuka dan keluarlah Dokter wanita yang masih muda dari ruangan itu.
"Maaf apa kalian keluarga pasien yang baru saja mengalami kecelakaan?" tanya Dokter yang hampir Iden tabrak.
"Iya bagaimana kondisinya Dok?" tanya Laura langsung berdiri.
"Dia sudah baik-baik saja dia hanya mengalami geger otak ringan. tapi, tulang kakinya mengalami keretakan sehingga beberapa minggu dia harus duduk di kursi roda terlebih dahulu sampai kakinya sembuh," jelas Dokter itu dengan tersenyum ramah pada Delvin dan Laura.
"Syukurlah kalau tidak terlalu serius," kata Delvin lega.
__ADS_1
"Apa kamu adalah orang yang hampir anak kami tabrak?" tanya Laura.
"Iya tapi untungnya Mas...."
"Iden, nama anak kami Iden," jawab Laura memotong perkataan Dokter muda itu.
"Iya untungnya Mas Iden langsung membelokkan mobilnya ke arah samping jadi saya tidak apa-apa," kata Dokter itu.
"Maafkan anak kami yang hampir saja mencelakai Anda Dokter dan terima kasih karena sudah menolong anak kami," kata Laura.
"Tidak apa-apa Nyonya saya juga baik-baik saja dan sudah tugas saya untuk menolong orang yang sedang butuh pertolongan medis," jawab Dokter itu.
Saat Laura dan Dokter itu sedang berbincang keluar lagi seorang dokter laki-laki paruh baya dari ruangan IGD.
"Dokter Bella, Anda masih di sini?" tanya Dokter paru baya kepada Dokter muda yang ternyata bernama Bella.
"Iya Dok, Saya berbincang terlebih dahulu dengan keluarga pasien," jawab Bella tersenyum.
"Tuan, Nyonya ini adalah Dokter Ortopedi yang membantu saya menangani anak kalian," kata Bella.
"Terima kasih karena sudah menyelamatkan anak saya Dokter," kata Delvin pada Dokter Ortopedi itu.
"Ini sudah tugas kami sebagai Dokter Tuan," jawab Dokter.
"Apa Dokter Bella sudah menjelaskan bagaimana kondisi pasien?" tanya Dokter itu pada Bella.
"Sudah Dok," jawab Bella.
"Iya silakan Dokter, sekali lagi terima kasih," kata Delvin, setelah itu Dokter paru baya pun pergi dari sana.
"Saya juga permisi dulu Tuan, Nyonya, nanti akan ada suster yang mengatur kepindahan pasien ke ruang rawat, nanti saya akan memeriksanya lagi," pamit Bella.
"Iya silakan Dokter, terima kasih," kata Delvin dan Laura.
Bella hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum, setelah itu dia pergi meninggalkan Delvin dan Laura di depan ruangan itu.
Bella berjalan menuju ke ruangannya untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu. Dia membuka jas yang melapisi tubuhnya.
Dia mengambil baju yang biasa dia pakai untuk baju gantinya dan segera memasuki kamar mandi yang berada di ruangannya untuk membersihkan dirinya.
Karena baju yang dikenakannya terkena noda darah Iden. jadi dia harus segera menggantinya sebelum ada pasien yang lainnya.
Sementara itu di sisi lain suster keluar dari ruang IGD mendorong ranjang Iden yang belum sadar.
Laura mengikuti suster itu dengan mendorong brankar yang Iden tempati, sedangkan Delvin pergi ke bagian administrasi untuk mengurus administrasi Iden.
"Kira-kira kapan anak saya sadar Sus?" tanya Laura saat mereka sudah sampai di ruang rawat Iden.
"Sekitar satu atau dua jam lagi pasien pasti akan sadar Nyonya," jawab suster.
"Baiklah terima kasih Sus," kata Laura.
"Iya sama-sama Nyonya, saya permisi dulu Nyonya jika ada apa-apa Anda bisa memanggil Dokter Nyonya," pamit suster.
__ADS_1
"Iya terima kasih Sus," kata Laura tersenyum.
Dia mendudukkan dirinya di kursi yang berada di samping ranjang tempat anaknya, dia mengusap pelan kening anaknya yang terbalut dengan perban itu.
Wajah Iden mulai membiru karena lebam akibat benturan yang terjadi saat kecelakaan, di kaki sebelah kanannya juga dipasang gips untuk melindungi kakinya agar lebih cepat pulih.
"Kenapa kamu sampai seperti ini sih Den, kenapa kamu membahayakan dirimu seperti ini, kalau kamu kenapa-napa gimana coba. anak Mom sama Daddy cuma kamu satu-satunya," kata Laura menangis.
Dia menggenggam tangan besar Iden yang tidak terpasang jarum infus, dia benar-benar takut kehilangan anak satu-satunya itu.
"Iden tidak apa-apa, kamu tenang saja," kata Delvin yang sudah berdiri di belakang Laura dan mengusap punggungnya.
"Iya aku juga yakin dia pasti baik-baik saja, hanya saja aku sedih melihatnya seperti ini," kata Laura menatap Delvin.
"Kalau kamu sedih dia pasti akan ikut sedih, kamu tau 'kan kalau Iden berusaha menutupi kesedihannya dari kita agar kita tidak sedih," kata Delvin lagi.
Laura menganggukkan kepalanya kemudian menghapus air matanya, dia berdiri dan berjalan menuju ke sofa mendudukkan dirinya di sofa diikuti oleh Delvin.
Beberapa saat dalam keheningan hingga tiba-tiba ponsel Delvin berbunyi memecahkan keheningan di ruangan itu. Delvin melihat ternyata yang menelponnya adalah Alex. Delvin pun menjawab panggilan dari Papanya itu.
"Iya Pa," kata Delvin.
'Vin, kamu dimana kenapa gak ada di rumah, Iden juga gak ada di rumah?' tanya Alex melalui telponnya.
"Papa sama Mama sudah pulang?" tanya Delvin.
'Sudah kita semua sudah pulang karena acaranya sudah selesai, barusan Papa bertanya pada pelayan dan mereka bilang kalian bertiga belum ada yang pulang,'
"Delvin di rumah sakit, Iden kecelakaan,"
'Apa! kenapa kamu gak bilang dari tadi,'
"Delvin gak mau membuat kalian khawatir,"
'Kita akan segera ke sana kirimkan alamat rumah sakitnya,'
"Iya. tapi, Papa sama Mama jangan dulu cerita ke yang lainnya nanti mereka khawatir," kata Delvin setelah itu sambungan teleponnya terputus.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1