
Happy Reading....
Keesokan harinya, Kania diundang oleh salah satu klien perusahaan untuk menghadiri acara resepsi pernikahan anak kliennya itu, Kania pergi bersama dengan mamanya untuk mewakili Kean.
Dia akan berangkat dari rumah mamanya, setelah pulang kerja dia langsung ke rumah mamanya. dia juga memutuskan untuk langsung nginep di rumah mamanya karena saat dia pulang dari acara itu pasti malam.
Kania dan Kiran didandani oleh perias yang bekerja di salon Adelia, Kania juga memesan baju dari butik Adelia karena tidak sempat untuk mencari baju yang cocok untuknya.
Kini Kania sudah siap dengan mengenakan baju model, Middle Dress berwarna peach yang dipadukan dengan flat shoes yang berwarna senada dengan bajunya juga dengan tasnya yang berukuran kecil.
Kania sengaja memakai flat shoes karena kalau pakai heels dia takut akan membahayakan dirinya, dia juga tidak akan bisa bergerak dengan lebih leluasa jika dia memakai heels.
Kiran juga sudah selesai bersiap-siap mereka memutuskan untuk langsung pergi karena sudah malam, sebelumnya Kiran sudah berpamitan terlebih dahulu pada Kai yang sedang di kamarnya.
"Gimana masala Ras di sana?" Kiran memulai pembicaraan di tengah perjalanan mereka.
"Ras masih berusaha mengumpulkan bukti untuk diserahkan pada polisi di sana, Ras curiga ada yang sengaja ingin menjatuhkan nama baik Hotelnya," jelas Kania.
"Dunia bisnis memang tidak sesederhana yang terlihat, saling menjatuhkan, meraup keuntungan dengan cara yang salah adalah hal yang sudah biasa dalam dunia bisnis," kata Kiran.
"Iya Ma, sepertinya apa yang terjadi pada perusahaan dan Villa papa juga bukan sebuah kebetulan semata," kata Kania.
"Iya, sekarang papa kamu dan om Nikko juga sedang mencari akar permasalahannya," kata Kiran.
"Apa papa punya musuh Ma?" tanya Kania menatap mamanya dengan serius
"Terkadang meskipun kita tidak ingin memiliki musuh pun dengan berusaha selalu bersikap baik terhadap orang disekitar kita. tapi, akan selalu ada orang yang tidak ingin melihat kita bahagia," kata Kiran penuh makna.
Kiran tidak mungkin menceritakan jika keluarganya memang sedang ditargetkan dari dulu oleh orang yang bahkan sampai sekarang tidak diketahui. dia tidak ingin Kania kepikiran masalah itu.
Kania menganggukkan kepalanya paham maksud mamanya itu, memang benar sebaik apapun kita berusaha untuk tidak memiliki musuh, orang yang tidak senang dengan keberhasilan kita pasti ada disekitar kita.
Mobil mereka sudah sampai di tempat diadakannya resepsi pernikahan itu, saat memasuki tempat itu mereka disuguhkan dengan dekorasi yang mewah juga elegan.
Mereka mengucapkan selamat kepada pengantin baru dan juga orang tua kedua mempelai yang merupakan klien Kean.
"Selamat untuk pernikahan putrinya Tuan, Nyonya," kata Kiran pada klien yang memiliki acara itu.
"Iya sama-sama Nyonya dan Nona Kania, terima kasih atas kehadirannya, sungguh suatu hal yang membahagiakan kalian bisa menghadiri acara ini," kata pemilik acara.
"Sama-sama Tuan, saya datang ke sini karena suami saya tidak bisa menghadirinya jadi saya dan anak saya yang menggantikannya," jawab Kiran berusaha tersenyum ramah.
"Semoga masalah yang menimpa tuan Kean segera terselesaikan."
__ADS_1
"Aamiin terima kasih Tuan, kalau begitu saya dan anak saya permisi dulu Tuan," pamit Kiran.
"Iya silakan Nyonya, Nona, semoga kalian menikmati pesta ini."
Setelah beramah tamah dengan yang mempunyai acara Kiran dan Kania duduk disalah satu meja yang tersedia di sana.
Saat mereka sedang berbincang sambil memakan kudapan yang tersedia di sana. Radit dan Siska mendatangi meja mereka.
"Kiran, Kania, apa kabar," sapa Siska pada mereka.
"Siska, Radit kalian di sini juga?" Kiran bangun dari kursinya dan cipika-cipiki dengan Siska disusul oleh Kania yang melakukan hal yang sama.
"Iya mereka kenalan aku jadi aku juga diundang ke sini," jawab Radit.
"Oh ya, syukurlah kalian datang jadi kita ada temennya juga tidak hanya berdua saja di sini," kata Kiran yang sudah kembali mendudukkan dirinya.
"Aku dengar Villa dan perusahaan Kean sedang ada masalah," kata Radit menatap Kiran dan Kania secara bergantian.
"Iya kita sedang tertimpa sedikit masalah," jawab Kiran menghela napas.
"Semoga saja masalahnya segera selesai," kata Radit.
"Iya Aamiin, oh iya kalian datang berdua aja, kemana suami kamu tidak ikut ke sini?" tanya Radit pada Kania.
"Oh gitu ya." Radit menganggukkan kepalanya.
"Gimana kamu Kan, udah ada tanda-tanda akan punya baby belum?" tanya Siska.
"Alhamdulillah udah Tan, jalan tiga bulan," jawab Kania tersenyum.
"Syukurlah semoga semuanya baik-baik saja ya, tidak ada masalah sampai waktunya melahirkan ... gak kerasa kamu udah mau jadi ibu aja, padahal rasanya baru kemarin aku mengasuhmu dan bermain denganmu saat kamu masih kecil," kata Siska membuat Radit dan Kiran tersenyum teringat masa lalu.
"Iya Sis, waktu terasa berlalu begitu cepat," kata Kiran.
Disela perbincangan mereka, Kania bangun dari duduknya dan berpamitan pada Kiran dan yang lainya untuk pergi ke toilet, Kiran pun mengiyakannya.
Kania pergi dari sana meninggalkan meja tempatnya semula dan menuju ke toilet yang jaraknya berada lumayan jauh dari tempatnya duduk.
Selepas kepergian Kania, Kiran kembali melanjutkan berbincang dengan Radit dan Siska, hingga mereka lupa waktu dan melupakan Kania yang sudah lama pergi ke kamar mandi dan tidak juga kembali.
"Kenapa Kania lama ya, pergi ke kamar mandinya," kata Kiran dengan heran.
"Iya kenapa dia lama, apa terjadi sesuatu pada Kania," kata Radit yang juga heran.
__ADS_1
"Aku akan memeriksanya," kata Kiran bangun dari kursinya, tiba-tiba saja perasaannya tidak enak dia khawatir pada Kania.
Kiran pun langsung menuju ke toilet, saat memasuki toilet itu keadaannya sepi seperti tidak ada seorang pun di sana.
"Kania," panggil Kiran tapi tidak mendapatkan jawaban dia membuka satu persatu pintu toilet yang bejumlah tiga pintu dan semuanya kosong.
Perasaannya semakin tidak karuan, dia mengeluarkan ponselnya yang ada di tasnya dan mencoba menghubungi Kania sambil berjalan keluar dari toilet.
Karena suasan lorong menuju ke toilet itu sepi Kiran bisa mendengar suara nada dering dari ponsel Kania yang ada di tas kecil yang tergeletak dilantai ujung lorong toilet itu yang terhubung dengan jalan untuk keluar dari arah belakang tempat itu.
Kiran mengambil tas Kania dan keluar dari sana tidak terlihat tanda-tanda kehadiran Kania di sana, perasaannya semakin tak menentu dia memutuskan untuk kembali ke tempat acara dan menuju meja tempatnya duduk tadi.
Siska yang melihat Kiran kembali dengan wajah yang terlihat panik pun menjadi heran, dia berdiri dan bertanya pada Kiran saat Kiran sudah berada di dekatnya.
"Ada apa Ran, kenapa wajah kamu terlihat panik seperti itu, mana Kania?" pertanyaan beruntun dari Siska membuat Kiran semakin kacau.
"Kan-Kania Sis, Dit, Kania," kata Kiran dengan suara terbata.
"Tenanglah dulu, cerita pelan-pelan saja ada apa sama Kania?" tanya Radit menenangkan Kiran yang terlihat kacau.
"Kania hilang, barusan aku memeriksa ke toilet tapi dia tidak ada di sana, aku hanya menemukan tasnya sudah tergeletak di lorong toilet, aku takut terjadi sesuatu pada Kania." Kiran tidak bisa membendung lagi air matanya dia takut terjadi sesuatu pada anak dan calon cucunya itu.
"Tenanglah, kita coba periksa dari CCTV di tempat ini siapa tau kita akan mendapatkan petunjuk," kata Radit menenangkan Kiran.
"Aku mau keluar, di luar ada pengawal yang selalu menjaga kita," kata Kiran teringat pada para pengawalnya.
"Ya udah kamu dan Siska temui para pengawal itu mudah-mudahan mereka bisa menemukan Kania, aku akan mencoba ke ruang keamanan untuk memeriksa CCTV untuk mencari petunjuk," kata Radit.
Kiran menganggukkan kepalanya, dia keluar dengan digandeng oleh Siska. dia menanyakan pada sopirnya terlebih dahulu apa dia melihat Kania atau tidak dan sopirnya tidak melihatnya.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....