Istri Tercinta Tuan Muda

Istri Tercinta Tuan Muda
Belum Dikaruniai Anak


__ADS_3

Happy Reading....


Dua Tahun Kemudian....


Waktu ke waktu terus berlalu, sekarang usia pernikahan Ras dan Kania sudah mencapai dua setengah tahun, mereka menjalani biduk rumah tangga mereka dengan penuh kebahagian. tapi, sayang Kania merasa kebahagiaan yang dirasakannya itu belumlah lengkap karena dia belum juga mendapatkan kabar baik.


Kania tentu saja sering merasa sedih dengan hal itu karena dia sudah sangat mengharapkan memiliki anak setelah Dokter mengatakan jika dia sudah boleh hamil lagi. tapi, Tuhan memintanya untuk lebih bersabar lagi dengan belum memberikannya kesempatan untuknya kembali hamil lagi.


Kania termenung di balkon kamarnya menatap langit yang gelap tangannya memegang pagar balkon itu, Dia memikirkan kenapa sampai saat ini dia masih belum juga hamil padahal dia sudah melakukan pemeriksaan dan Dokter mengatakan tidak ada masalah dengan rahimnya, semuanya baik-baik saja.


"Kenapa melamun di sini sih My Queen, aku panggil dari tadi sampai gak kedengaran," kata Ras yang memeluk Kania dari belakang dan menyimpan dagunya di pundak Kania.


"Aku hanya sedang menikmati udara malam aja, kamu udah selesai mandinya?" tanya Kania mengusap punggung tangan Ras.


"Sudah, kamu lagi ngelamunin apa sampai aku panggil-panggil kamu gak dengar?" tanya Ras membalikkan tubuh Kania menghadap padanya.


"Nggak lagi ngelamunin apa-apa, aku hanya sedang menikmati angin malam saja," jawab Kania memasang senyuman.


"Jangan bohong, aku tau kamu sedang melamun tadi, ngelamunin apa hemmm?" tanya Ras merapikan rambut Kania yang tertiup angin dan menyimpannya di belakang telinganya.


Ras menatap mata Kania dengan dalam dia tahu jika Kania sedang memikirkan sesuatu, terlihat dari matanya yang sedang sedih meskipun bibirnya tersenyum.


"Kamu masih memikirkan masalah anak?" tebak Ras yang langsung membuat raut wajah Kania menjadi sedih.


Kania langsung memeluk Ras, saat ini pembahasan tentang anak selalu menjadi hal yang sangat sensitif untuknya.


"Aku 'kan sudah bilang jangan terlalu memikirkan hal itu, itu hanya akan menyakitimu," kata Ras mengusap punggung Kania.


"Tadi aku pergi ke tempat senam ibu hamil, melihat perut mereka membuncit dan pembicaraan ibu-ibu hamil di sana tentang perkembangan janin mereka membuat aku ingin seperti mereka," cerita Kania masih membenamkan wajahnya di dada Ras.


"Kita menikah sudah hampir tiga tahun dan aku belum hamil juga," kata Kania dengan suara lirih.


"Kita menikah baru saja hampir tiga tahun, pasangan lain ada yang sudah menikah puluhan tahun belum juga di kasih kepercayaan untuk memiliki anak, kita juga hanya perlu berusaha dan bersabar, semua itu hanya masalah waktu saja," kata Ras menghibur Kania.


"Tapi, aku ingin di rumah ini jadi rame karena suara tangisan bayi," kata Kania menatap Ras.

__ADS_1


"Itu pasti akan terjadi, kita hanya perlu bersabar, kamu jangan terlalu memikirkan masalah itu lagi aku gak mau kamu ujung-ujungnya sakit karena terlalu banyak berpikir seperti itu."


"Umurku sekarang hampir dua puluh delapan tahun, umur segini udah seharusnya punya dua anak," kata Kania cemberut.


"Mau tiga anak pun sekalian aku kasih, kamu tenang aja," kata Ras santai.


"Kamu bisa gak sih serius sedikit," kata Kania mencebikkan bibirnya karena Ras masih bersikap santai.


"Aku juga serius, dengar ini baik-baik bukankah aku sudah sering bilang ada atau tidaknya anak diantara kita, bagiku itu sama aja karena yang terpenting bagi aku adalah kamu selalu ada di sisiku bersama denganku, itu sudah jauh lebih cukup bagiku, kalau masalah anak itu bisa kita pikirkan nanti lagi aja," kata Ras menatap Kania dengan serius.


"Kalau aku sampai gak hamil juga gimana?" tanya Kania.


"Kita bisa mengadopsi anak yang kurang beruntung di luaran sana apa susahnya," jawab Ras.


Kania tidak menjawab lagi dia hanya menundukkan kepalanya. Dia berpikir seandainya waktu itu dia tidak keguguran mungkin saat ini anaknya sudah besar, sudah memanggilnya mama.


"Sudah sebaiknya kita masuk, nanti kamu masuk angin kalau terus-terusan di luar seperti ini, ini juga sudah malam," kata Ras menggandeng tangan Kania dengan lembut Kania pun menurut mereka memasuki kamarnya.


Mereka merebahkan tubuhnya di ranjang, Ras memeluk Kania dan Kania mulai memejamkan matanya berusaha untuk tertidur.


Dia bukan tidak terlalu memikirkan masalah itu, dia hanya berusaha untuk terlihat santai saat Kania mulai membahas masalah keturunan, padahal sesungguhnya jauh di dalam lubuk hatinya yang terdalam dia tentu saja ingin memiliki anak juga.


Dia selalu membayangkan menggendong anaknya dan bermain dengan anaknya. tapi, dia tidak mau menunjukkan semua itu di depan Kania, dia tidak ingin membuat Kania semakin sedih, dia hanya bisa berusaha untuk menghibur Kania.


Apalagi saat melihat saudaranya yang sebentar lagi akan memiliki anak, dia tentu saja ingin seperti itu juga.


Ya ... saat ini Tisha memang sedang hamil besar dan hanya tinggal menghitung minggu menunggu kelahirannya dan tadi siang Kania mengantar Tisha pergi untuk senam hamil.


Ras jadi ingat saat Kania tahu jika Tisha hamil dia tidak bicara beberapa hari, dia terlihat sangat sedih apalagi setiap jadwal bulanannya datang.


"Aku yakin kita pasti akan segera memilikinya kita hanya perlu bersabar saja," gumamnya sambil mencium puncak kepala Kania dan mengeratkan pelukannya.


...****************...


Pagi hari sama seperti hari-hari biasanya, Kania bangun tidur dan segera bersiap untuk pergi ke kantor dan menyiapkan keperluan suaminya setelah itu baru membangunkan Ras.

__ADS_1


"My King bangun, ini udah siang," kata Kania mengusap lengan Ras dengan perlahan.


Ras masih belum membuka matanya Kania yang tau Ras hanya pura-pura tidur seperti biasanya pun melakukan hal yang biasa dia lakukan untuk membuat Ras bangun.


Dia mendaratkan sebuah kecupan singkat di bibir suaminya itu hingga membuat Ras langsung membuka matanya dan tersenyum pada Kania.


"Kebiasaan banget sih, kenapa gak langsung bangun aja," kata Kania mencebikkan bibirnya.


"Karena kalau belum mendapatkan itu darimu nutrisi di hatiku belum terpenuhi," jawab Ras membuat Kania memutar matanya malas.


"Sudah cepat ayo bangun? kita harus segera berangkat," kata Kania menarik tangan Ras agar bangun.


Ras bangun dengan patuh dia menurunkan dirinya dari ranjang dan langsung masuk ke kamar mandi sedangkan Kania dia duduk di meja rias untuk berdandan.


Mereka langsung menuju ke meja makan saat sudah selesai bersiap untuk sarapan, mereka sarapan dengan tenang dan langsung berangkat ke tempat kerja.


Ras mengantarkan Kania pergi ke kantor Kean terlebih dahulu, setelah itu barulah dia menuju ke Hotelnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


Hai para Reader maaf kalau ceritanya gak nyambung sebenarnya saat ini aku lagi bleng gak tau mau nulis apa ini juga aku paksain banget buat nulis, maaf ya kalau udah ngecewain kalian dengan ceritanya yang acak-acakan gini🙏🏼


__ADS_2