Istri Tercinta Tuan Muda

Istri Tercinta Tuan Muda
Menerima.


__ADS_3

Happy Reading....


Di kediaman Vano....


Setelah acara pernikahan mereka selesai, Ray dan Tisha langsung pergi ke rumah Vano sesuai dengan permintaan Adelia.


Semenjak sore Ray dan Tisha tidak saling bicara sama sekali, mereka seperti orang asing yang baru dipertemukan padahal mereka dari kecil sudah sering bertegur sapa. tapi, karena keadaan yang memaksa mereka menjadi pasangan membuat mereka sama-sama canggung dan seperti orang asing.


Tok.... Tok....


"Kak Ray, Sha, Mom dan Dad minta kalian untuk turun, waktunya makan malam," kata Zani dari balik pintu kamar Ray.


"Kamu turunlah duluan," kata Ray tanpa mengalihkan perhatiannya dari kertas-kertas yang sejak tadi dipegangnya.


Tisha menganggukkan kepalanya dan turun dari ranjang yang sedari tadi didudukinya sejak selesai membersihkan dirinya.


Dia berjalan menuju pintu dan tersenyum pada Zani sahabat yang sudah menjadi adik iparnya itu.


"Mana Kak Ray?" tanya Zani.


"Kak Ray masih ada pekerjaan," jawab Tisha tersenyum.


"Oh ya udah kalau gitu kita duluan aja ke meja makannya yuk," ajak Zani.


"Iya."


Mereka pun berjalan dengan beriringan menuju ke meja makan dimana Vano dan Adelia sudah menunggu.


"Kemana Ray?" tanya Adelia pada Zani dan Tisha yang baru saja mendudukkan dirinya di kursi meja makan.


"Kak Ray masih ada pekerjaan katanya jadi dia akan menyusul," jawab Tisha tersenyum.


"Oh, ya udah kita makan saja duluan biarkan nanti dia menyusul," kata Adelia.


Mereka pun makan malam tanpa Ray yang saat ini masih berada di kamar.


Sebenarnya dia tidak sedang melakukan pekerjaan apapun, dia hanya sedang memikirkan Kania, tadi siang dia selalu memperhatikan Kania yang sepertinya sudah semakin dekat dengan Ras dan itu membuat hatinya lagi-lagi terasa sakit.


"Apa kamu sudah menerima pernikahan itu Kan? apa kamu memang sejak awal tidak memiliki perasaan yang kuat terhadapku sehingga dengan mudahnya kamu menerima Ras," gumam Ray dengan kesedihan yang teramat.


Dia tahu ini salah. tapi, hatinya tidak bisa dia kendalikan meskipun dia sudah berusaha menghapus bayang-bayang Kania dalam hati dan pikirannya, Kania seolah betah berada di dalam pikiran dan hatinya.


Beberapa bulan kebersamaan mereka yang telah mereka lalui menyisakan jejak yang kuat dala hidupnya hingga tidak mudah dia menghapus jejak itu.

__ADS_1


Beberapa saat bergelung dengan pikirannya Ray mendengar pintu kamarnya di buka dan ternyata Tisha sudah memasuki kamar lagi entah berapa lama dia sudah melamun.


"Kak Ray, kata Dad di tunggu di ruang kerja ada yang ingin Dad bicarakan dengan Kakak," kata Tisha hanya menatap Ray sekilas setelah itu menundukkan kepalanya.


Ray hanya berdeham kecil setelah itu bangun dari duduknya dan pergi dari kamar itu.


Setelah kepergian Ray, Tisha merebahkan tubuhnya, bebenah untuk tidur karena sudah mulai mengantuk.


Ray berjalan menuju ke ruang kerja dimana Daddynya sedang menunggunya, Ray sudah bisa menduga dengan apa yang akan Daddynya bicarakan padanya.


"Dad ada perlu apa?" tanya Ray saat memasuki ruangan kerja itu.


"Duduklah," kata Vano menunjuk sofa yang tidak jauh dengannya menggunakan isyarat matanya.


Ray menuruti perintah Daddynya dan mendudukkan dirinya di sofa yang Daddynya tunjuk.


"Kenapa kamu tidak makan malam?" tanya Vano menatap Ray dengan serius.


"Ray belum lapar," jawab Ray santai.


"Sampai kapan kamu akan seperti itu, kamu lihat bahkan Ras yang baru bertemu dengan Kania beberapa kali saja bisa langsung menerima pernikahannya, seharusnya kamu pun bisa menerima pernikahan ini dengan baik karena kamu sudah mengenal Tisha dari saat dia masih kecil dulu," kata Vano menatap Ray dengan serius.


"Apa Dad pikir Ray ingin berada di posisi ini Dad, perlu kalian tau Ray sudah mencobanya tapi Ray belum bisa...."


"Kamu belum mencobanya Ray." Vano memotong perkataan Ray, "Kamu sama sekali belum mencobanya, dengan kamu masih menyimpan semua yang berhubungan dengan Kania itu artinya kamu sama sekali belum mencobanya," kata Vano dengan tegas.


"Kamu pasti tau apa yang akan Mom kamu rasakan saat tau anak-anaknya mengingatkan dia pada masa lalu yang sudah dia lupakan, pikirkan seberapa sedihnya saat dia melihat anak-anaknya tidak bisa menerima istri mereka dan memperlakukan istri mereka dengan baik, seperti yang pernah terjadi padanya dulu, kamu tau Dad sudah berusaha mengganti kesedihan yang pernah Mom kalian rasakan dulu dan Dad tidak akan diam saja jika kalian kembali mengingatkan dia tentang masa lalunya," kata Vano dengan tegas.


Ray mematung beberapa saat di depan pintu dia menarik napas panjang dan menghembuskannya.


"Ray akan berusaha menerima pernikahan ini dan memperlakukan Tisha dengan baik," jawab Ray tanpa membalikkan badannya.


Dia melanjutkan langkahnya, membuka pintu ruangan itu dan keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang campur aduk.


Dia tahu apa yang Dadnya katakan itu adalah benar, Momnya pasti akan kecewa jika dia tidak memperlakukan Tisha dengan baik.


Beberapa minggu yang lalu Momnya menceritakan tentang masa lalunya padanya dan Ras.


Mendengar cerita Momnya itu tentu saja dia dan Ras tidak menyangka akan hal itu, Momnya ternyata pernah menikah dengan orang yang mereka kenal sebagai sahabat Daddynya yaitu Dion.


Momnya juga menceritakan bagaimana pernikahan mereka yang berjalan selama setahun lebih itu, pernikahan yang tidak baik-baik saja.


Oleh sebab itu Momnya meminta dia dan Ras untuk menerima pernikahan mereka dan menerima pasangan mereka karena Momnya tahu bagaimana rasanya tidak dianggap dan dia tidak ingin baik Kania maupun Tisha mengalami hal yang sama.

__ADS_1


Ray berdiri di depan pintu kamarnya dia meyakinkan hatinya terlebih dahulu jika dia harus memulai semuanya, karena benar apa yang Dad dan Momnya katakan meskipun dia menutup hatinya untuk Tisha dan mempertahankan Kania semuanya percuma.


Pada kenyataannya dia dan Kania sudah tidak mungkin bersama dan dia harus menerima Tisha yang saat ini adalah istrinya.


Setelah beberapa saat berpikir dia akhirnya membuka pintu kamarnya dan dia dapat melihat Tisha yang masih belum tertidur.


"Kenapa belum tidur?" tanya Ray mendudukkan dirinya di ranjang bersebelahan dengan Tisha.


Tisha kembali mendudukkan dirinya dan menundukkan kepalanya.


"Barusan aku mau tidur. tapi, mendengar suara pintu terbuka aku jadi kebangun lagi Kak," kata Tisha.


"Apa kamu bisa menerima pernikahan ini?" tanya Ray to the poin menatap Tisha dengan serius.


Mendengar perkataan Ray, Tisha mengangkat wajahnya dan melihat Ray yang juga tengah menatapnya.


"Sha tidak punya pilihan selain menerima semua ini, Sha yakin Kak Ray pun juga pasti seperti itu 'kan?" Tisha menatap Ray dengan serius.


"Ya, kita memang tidak punya pilihan, kita sama-sama terjebak dengan permainan ini, permainan yang entah siapa dalangnya," kata Ray menghela napas beratnya.


"Kamu tau bagiku kebahagiaan Mom adalah segalanya, jika dengan melihat kita bisa menjadi seperti pasangan yang semestinya membuatnya senang maka aku akan melakukannya," kata Ray menatap Tisha dalam.


Tisha menatap Ray dengan bingung, dia belum paham arah pembicaraan Ray.


"Aku akan berusaha memperlakukanmu selayaknya istriku dan aku harap kamu bisa memperlakukan aku selayaknya suamimu," kata Ray yang tahu kebingungan Tisha.


"Sha juga akan berusaha menjadi istri yang baik dan memperlakukan Kak Ray dengan baik," kata Tisha merasakan sedih di hatinya.


Itu artinya dia harus menghilangkan Iden dalam hatinya untuk selamanya dan menganggap Iden kakaknya seperti Ray menganggapnya kakak, sekarang dia adalah istri Ray dia harus membuka hatinya untuk itu, dia berharap dia bisa menerima Ray sepenuhnya seperti Mamanya dulu yang bisa menerima Papanya sepenuhnya.


Mendengar perkataan Tisha Ray mendekatkan dirinya pada Tisha dan Tisha hanya pasrah dengan apa yang Ray lakukan padanya.


Dalam hati mereka sama-sama berusaha meyakinkan dirinya jika apa yang saat mereka lakukan adalah sesuatu yang sangat benar dan yang seharusnya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2