
Happy Reading....
Suara deburan ombak dan tiupan angin yang membuat rambut panjang Kania melambai beberapa kali menghalangi wajah Kania yang sedang di foto.
Ya ... saat ini mereka sedang melakukan prewedding mereka dengan menggunakan tema outdoor dan casual.
Kania dan Ray sedang berpose sesuai intruksi dari fotografernya. saat ini mereka sedang melakukan pose di atas batu yang besar cipratan air yang menabrak batu tempat mereka berpose membuat baju mereka sedikit basah.
Kania memang meminta Ray untuk melakukan prewedding mereka dengan tema outdoor dan casual karena dia yang jarang jalan-jalan jadi ingin suasana terbuka dan juga santai untuk preweddingnya.
"Sudah selesai, sekarang kita bisa beristirahat dulu sebelum pulang," kata si fotografernya kepada Ray dan Kania juga kepada para kru yang membantunya.
"Sebaiknya kita ganti baju dulu di Villa," kata Ray langsung disetujui oleh semua orang yang ada di sana.
"Ayo Kan," kata Ray yang sudah turun dari batu itu dan mengulurkan tangannya untuk membantu Kania turun.
Kania pun turun dengan di bantu oleh Ray dan mereka kembali ke villa yang tidak jauh dari lokasi itu.
Lokasi yang sekarang adalah lokasi terakhir mereka setelah sebelumnya mereka sudah melakukan foto prewednya disebuah taman dan alam terbuka lainnya.
Ray dan Kania berjalan di pantai tanpa mengenakan alas kaki dengan tangan saling bertautan.
"Apa setelah ini kita langsung pulang?" tanya Kania kepada Ray.
"Ya, apa kamu mau jalan-jalan dulu?" tanya Ray yang ikut melihat Kania juga.
"Iya, bolehkah?" tanya Kania menganggukkan kepalanya.
"Iya, tentu saja boleh," kata Ray tersenyum dan langsung menular kepada Kania dia juga tersenyum kepada Ray.
Melihat senyuman Kania selalu membuat jantung Ray berdetak lebih cepat dari biasanya dia selalu ingin melihat lengkungan hadir dari bibir indah itu saat mereka bersama.
"Sekarang sebaiknya kita membersihkan diri kita dulu," kata Ray kepada Kania saat mereka sudah sampai di villa.
Kania menganggukkan kepalanya dan berjalan menuju ke sebuah kamar tempatnya mengganti baju sebelumnya.
Kania membersihkan dirinya, setelah itu dia memakai baju santai dan keluar dari kamar. dia melihat semua kru yang membantunya untuk melakukan prewedding sedang membebaskan barang-barangnya bersiap untuk pulang.
"Kita makan dulu, setelah itu kalian boleh kembali duluan, kami akan jalan-jalan dulu. terima kasih untuk bantuannya hari ini," kata Ray yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Iya sama-sama Tuan, Nona," sahut semua orang kepada Ray dan Kania.
"Tuan, Nona apa kalian mau melihat-lihat dulu hasil fotonya biar kalian bisa memilih mana yang bagus dan tidak," kata fotografer yang sedang melihat laptopnya.
Ray dan Kania pun melihat-lihat hasil fotonya di laptop dan mereka memilih foto yang bagus-bagus untuk di cetak dan di sertakan di kartu undangan pernikahan mereka.
Setelah itu mereka semua makan terlebih dahulu makanan yang dimasak oleh pengurus Villa.
Saat semua orang sudah selesai mereka langsung memasukkan barang-barang yang sudah digunakan untuk prewedding, ke mobil mereka.
__ADS_1
Para kru membawa dua mobil. yang satu mobil untuk barang-barang dan satu mobil untuk mengangkut orang-orang yang berjumlah enam orang dengan sopir.
Ray dan Kania pun membereskan barang-barangnya dan memasukkan ke dalam mobil karena mereka akan langsung pulang saat sudah jalan-jalan di pantai nanti.
"Sudah selesai?" tanya Ray kepada Kania saat Kania keluar lagi dari Villa.
"Sudah yuk, sekarang saja nanti keburu terlalu sore," ajak Kania.
Ray menganggukkan kepalanya mereka pun masuk ke dalam mobilnya dan Ray langsung menjalankan mobilnya.
Hanya perlu beberapa menit mereka telah sampai di pantai yang tidak jauh dari lokasi tempat mereka melakukan foto tadi.
Kania turun dari mobil dia langsung berjalan menuju ke air. dia melepaskan sendalnya dan menjinjing-nya.
Dia tersenyum saat air laut itu membasahi kakinya dan berlari mengikuti aliran air itu dengan maju mundur entah sudah beberapa tahun dia tidak bermain air di pantai seperti itu.
Ray yang melihat Kania terlihat seperti anak kecil itu hanya menggelengkan kepalanya. sekarang Kania tidak seperti dia yang biasanya yang selalu terlihat sebagai seorang wanita dewasa yang tegas.
"Ray kamu gak main air," kata Kania.
"Iya aku akan ke sana," kata Ray mulai berjalan mendekati Kania.
Karena sekarang bukan hari libur jadi suasana pantai itu sepi hanya ada beberapa orang yang jaraknya jauh dari mereka. jadi Kania bisa bermain air dengan puas.
Saat Ray mendekat padanya Kania langsung menyipratkan air ke Ray dan langsung Ray balas. hingga akhirnya terjadilah perang air antara mereka berdua.
Kania dan Ray saling kejar di air. pasangan yang sedang di mabuk cinta itu tertawa dengan lepas hingga tanpa terasa langit sudah mulai gelap.
"Udah Ray aku capek," kata Kania dengan napas terengah-engah karena capek saat Ray berhasil menangkapnya.
Dia mendudukkan dirinya di pasir yang kering untuk beristirahat diikuti oleh Ray yang duduk di sampingnya.
"Sudah lama banget aku gak maen air di pantai seperti ini," kata Kania tersenyum kepada Ray.
"Kapan terakhir kali kamu main seperti tadi?" tanya Ray.
"Kalau gak salah saat SMP bersama Mama dan Papa dan juga Kai. waktu itu Kai juga masih kecil," jelas Kania menatap lautan lepas yang sudah terlihat hitam di depannya karena suasana sudah malam.
"Sudah lumayan lama ya, pantesan kamu terlihat sangat senang dan antusias bermain air," kata Ray terkekeh.
"Sekarang kita pulang yuk, sudah malam. Mama dan Papa pasti sudah nungguin aku pulang apalagi tadi aku lupa ngabari mereka kalau aku mau jalan-jalan dulu," kata Kania.
"Aku sudah mengabari mereka tadi," kata Ray.
"Benarkah?" tanya Kania.
Ray hanya menjawabnya dengan anggukkan kepala.
"Syukurlah aku tidak akan kena omelan Mama dan ceramahan Papa saat di rumah nanti kalau gitu," kata Kania terkekeh.
__ADS_1
"Ya udah yuk kita pulang sekarang," ajak Ray berdiri dan membantu Kania berdiri.
"Kamu bawa baju ganti lagi gak?" tanya Ray saat mereka berjalan menuju mobil mereka.
"Nggak," jawab Kania santai.
Ray menghentikan langkahnya dan menatap Kania dengan serius.
"Serius kamu gak bawa baju ganti lagi?" tanya Ray. dijawab gelengan kepala oleh Kania.
"Kenapa gak bawa baju ganti lagi, udah tau mau main air, kalau sampai kamu masuk angin gimana," omel Ray. seperti seorang ibu yang memarahi anaknya karena melakukan kesalahan.
"Aku niatnya gak main air, hanya jalan-jalan saja tapi saat lihat air aku jadi pengen main air," cicit Kania.
"Ya sudah ayo kita ke mobil," ajak Ray menarik tangan Kania dengan lembut.
Ray meminta Kania untuk masuk ke bagian belakang mobilnya. meskipun bingung Kania hanya mengikutinya.
"Kamu pakailah jaket itu agar kamu tidak masuk angin aku akan tunggu di luar," kata Ray menunjuk jaketnya yang ada di samping Kania.
"Bajumu juga basah Ray. kenapa gak kamu saja yang pakai," kata Kania.
"Kulitku masih bisa menahannya, cepatlah kamu lepaskan bajumu yang basah itu," kata Ray.
"Aku dobel aja gak usah ngelepas bajuku," kata Kania.
"Nanti kamu masuk angin baju kamu itu lumayan tebal bakal lama kering, cepatlah aku akan menunggu dari jauh, aku tidak akan mengintip," kata Ray sambil berjalan menjauh dari mobilnya karena tahu jika Kania takut jika dia mengintipnya.
Meskipun itu hal yang mustahil. tapi, dia tahu Kania adalah orang yang selalu waspada di setiap keadaan.
Setelah memastikan Ray sudah jauh, Kania kemudian melepaskan bajunya yang basah dan langsung memakai jaket Ray yang lumayan besar di tubuhnya. setelah itu dia memasukkan baju basahnya ke tas tempat baju-baju kotornya.
Kania keluar dari mobil dan langsung masuk lagi ke mobil bagian depan duduk di kursi samping kemudi. Ray pun ikut masuk dan mulai menjalankan mobilnya.
.
.
.
.
.
.
.
Happy Reading....
__ADS_1