
Happy Reading....
Saat pagi menjelang Kania bangun dan merenggangkan otot-ototnya, dia mengerutkan keningnya saat menyadari jika semalam dia tidur di mobil.
"Apa dia membawaku ke sini? kenapa dia tidak membangunkanku," gumam Kania melihat ke arah Ras yang masih memejamkan matanya.
Tidak mau ambil pusing Kania pun mengangkat bahunya acuh kemudian turun dari ranjangnya dan masuk ke kamar mandi.
Saat keluar dari kamar mandi dia melihat Ras sudah bangun dan sedang duduk di ranjangnya.
"Apa kamu yang membawaku ke sini semalam?" tanya Kania berdiri di samping ranjang.
"Tidak, kamu jalan sendiri," jawab Ras acuh.
"Jangan bohong deh Ras, aku 'kan gak punya kebiasaan tidur sambil jalan," kata Kania memutar matanya.
"Terus kamu pikir siapa lagi yang akan bawa kamu. penjaga rumah ini 'kan gak mungkin kuat bawa badan kamu yang berat itu," kata Ras turun dari ranjangnya dan berjalan menuju ke kamar mandi.
"Tunggu! enak aja kamu bilang aku berat, badanku 'kan kecil kamunya aja yang lemah, lagian siapa yang suruh kamu gendong aku kenapa gak bangunin aku aja!" omel Kania kesal karena di bilang berat, itu artinya secara tidak langsung Ras mengatainya gendut, begitu pikirnya.
"Tidur kamu seperti orang mati," jawab Ras santai.
"Kamu 'kan bisa cubit aku atau apa gitu agar aku bangun atau kamu sengaja ya, gak bangunin aku biar kamu bisa cari-cari kesempatan buat pegang-pegang aku, dasar licik!" omel Kania lagi.
Ras tidak mengindahkan perkataan Kania itu, dia melanjutkan langkahnya memasuki kamar mandi dan hal itu membuat Kania dongkol karena sudah bicara panjang lebar tapi tidak digubris.
Kania masuk ke ruang ganti dan memakai baju kerjanya, kemudian dia keluar lagi dari ruang ganti duduk di meja rias, merias wajahnya dengan riasan tipis.
Saat dia selesai, Ras juga selesai mandinya dan akan masuk ke ruang ganti.
"Biar aku siapkan bajumu sebagai ucapan terima kasih karena kamu sudah membawaku yang tidur di mobil semalam ke kamar," kata Kania berdiri dan menatap Ras.
"Tidak perlu aku bisa menyiapkan bajuku sendiri," kata Ras memasuki ruang ganti.
Kania mengikutinya dia nyelonong masuk ke ruang ganti tanpa menghiraukan penolakan Ras.
"Aku tidak mau punya hutang budi," jawab Kania sambil memilihkan semuanya untuk Ras,
Dia menempelkan beberapa kemeja Ras pada Ras yang sedang berdiri dengan menggunakan jubah mandi.
"Kenapa bajumu berwarna gelap semua," kata Kania sambil memilihkan kemeja untuk Ras.
"Aku tidak suka baju yang terlihat mencolok," jawab Ras santai.
Kania tidak bicara lagi, dia terus hilir mudik bolak-balik mengumpulkan keperluan Ras, dari mulai kemeja, jas, celana, dasi, kaos kaki, sepatu dan jam tangannya.
__ADS_1
"Sekarang pakailah, aku tunggu di meja makan," kata Kania saat semuanya sudah terkumpul.
Dia keluar dari ruang ganti sedangkan Ras menatap barang-barangnya yang sudah tersedia di sofa yang ada di sana. dia tersenyum tipis karena Kania menyiapkan semuanya itu jadi dengan senang hati dia memakai semuanya tanpa pertimbangan lagi.
Setelah semuanya sudah terpasang dia lagi-lagi tersenyum saat melihat bayangan dirinya di depan cermin, dia menyisir rambutnya kebelakang merapikan rambut hingga terlihat rapi dan sempurna.
Setelah semuanya dirasa pas dia keluar dari ruang ganti, Kania sudah tidak ada di sana, dia mengambil ponselnya dan dompetnya kemudian keluar dari kamarnya menuju ke meja makan.
"Aku kira kamu bakal ganti, tidak akan memakai apa yang sudah aku siapkan," kata Kania.
"Tidak ada waktu untuk nyari yang lain lagi," jawab Ras santai dan mulai memakan sarapannya.
Kania pun memulai sarapannya, mereka sarapan dengan tenang hingga sarapannya selesai.
Mereka kali ini keluar dari rumah secara beriringan. Tapi, Kania tidak melihat mobilnya di depan teras rumahnya.
"Apa belum ada yang mengantarkan mobil yang biasa aku pakai?" tanya Kania pada penjaga.
"Tidak ada Nona," jawab penjaga itu menundukkan kepalanya.
"Kenapa Papa belum nganterin mobilnya," kata Kania menekuk wajahnya.
"Kamu bisa pakai mobil yang lainnya, di garasi 'kan masih ada," kata Ras santai.
"Gak mau mobil di sana tidak cocok untukku," kata Kania.
Baru saja dia akan menjawab pernyataan Ras, ponselnya berbunyi, Papanya menelponnya.
"Kenapa mobilnya belum diantarkan juga sih Pa," kata Kania saat mengangkat telponnya, tidak membiarkan Kean berbicara lebih dulu.
'Maaf Papa lupa, Papa suruh sopir buat anterin ke sana sekarang ya,' kata Kean dari balik telpon.
"Gak perlu langsung anterin ke kantor saja Kania mau bareng Ras aja," setelah itu dia langsung mematikan telponnya.
"Yuk kita berangkat," ajak Kania mendahului Ras menuju ke mobilnya.
Ras tidak berbicara dia hanya mengikuti Kania dan mulai melajukan mobilnya menuju ke kantor Kean.
"Apa kamu pernah punya pacar Ras?" tanya Kania membuka percakapan di dalam mobil itu tanpa melihat ke arah Ras dan fokus melihat keluar jendela mobilnya.
"Kenapa kamu menanyakan hal itu?" tanya Ras sambil fokus pada setir mobilnya.
"Aku hanya ingin tau saja," kata Kania santai.
"Aku belum pernah pacaran," kata Ras santai.
__ADS_1
"Serius?" tanya Kania tidak percaya.
"Iya," jawab Ras.
"Gak heran sih, lagian wanita lain juga pasti akan berpikir berulang kali untuk menyukaimu," kata Kania santai.
"Maksudnya?" Ras melihat sekilas pada Kania dan mengerutkan keningnya.
"Siapa yang mau pacaran sama laki-laki datar kayak kamu," jawab Kania meledek.
"Kamu sendiri bagaimana? kamu juga gak pernah pacaran 'kan," kata Ras dengan nada meledek.
"Siapa bilang aku pernah 'lah pacaran sama...." Kania tidak meneruskan perkataannya yang akan mengatakan jika dia sempat pacaran setelah bertunangan dengan Ray meski hanya sebentar.
Mengingat tentang Ray, Kania kembali ingat kekecewaannya dia kembali membisu selama perjalanan itu.
Begitupun dengan Ras dia terus memfokuskan perhatiannya pada setir mobilnya.
Dia tidak lagi membuka suaranya dia tahu jika Kania ingat tentang Ray lagi.
Mobilnya sampai di kantor Kean, Kania turun dari mobilnya dan langsung berjalan begitu saja memasuki kantornya tanpa berpamitan pada Ras terlebih dahulu.
Ras yang melihat Kania seperti itu hanya menghela napas beratnya, dia tahu jika Kania sudah memiliki perasaan terhadap Ray dan perasaan itu masih ada dalam hatinya.
Terbukti dengan perubahan Kania saat dia akan menyebutkan nama Ray, dia yang awalnya biasa saja menjadi bad mood.
Setelah melihat Kania menghilang di lobby kantornya, Ras menjalankan mobilnya menuju ke Hotelnya.
Dia berharap dia bisa masuk secara bertahap ke dalam hati Kania seperti Ray yang bisa masuk ke hati Kania. Terlepas dari apa yang akan terjadi di masa depan dia tidak perduli.
Dia sebenarnya bisa saja bersikap lebih baik dan menunjukkan perasaannya pada Kania. Tapi, dia takut Kania malah akan menganggap dirinya sama seperti Ray dia tidak ingin Kania mencintainya karena dia sama dengan Ray, dia ingin Kania mencintainya karena dirinya yang seperti ini.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....